Home / Fantasi / Sembilan Ekor Untuk Sebuah Dendam / Bab 6 Hilangnya delapan ekor miliknya

Share

Bab 6 Hilangnya delapan ekor miliknya

last update Last Updated: 2026-02-12 21:06:49

Hae-rin merintih kesakitan, satu ekornya telah lepas, pria tua yang berdiri disamping Kang Yi segera mengambil kekuatan ekor Hae-rin dan memindahkan ke salah satu artefak yang berbentuk kipas.

Artefak kipas itu kini memiliki kekuatan magis, cahaya hijau mengelilingi kipas itu.

Slinggg

Tebasan kedua memotong kembali ekor Hae-rin, Kang Yi masih berdiri teguh memegang pedangnya yang sudah berlumuran dar*h Hae-rin.

"Aakhhhhh"

Kini jeritan Hae-rin terdengar semakin menyakitkan, hingga tubuhnya terlihat bergetar, tangannya mengepal erat Manahan rasa sakit yang ia rasakan.

Ekor kedua itu disimpan dalam artefak cermin tua. cahaya merah terlihat mamancar dari cermin itu

"Kang Yi..hen..tikan" ucap Hae-rin lirih

"Kamu bisa membunuhku, tolong hentikan, ini sangat menyakitkan"

"Sakit...tolong hentikan"

Hae-rin sudah memohon berbelas kasih agar Kang Yi tidak melanjutkan aksinya, namun bagi Kang Yi semua itu hanya angin lalu, pandanganya sudah gelap karena tipu muslihat pria tua itu.

"Kamu harus manahannya Hae-rin, ini demi kebaikanmu, setelah ini kita akan bersama-sama dan hidup bahagia"

Uhukkk

Hae-rin memuntahkan seteguk dar*h, racun yang ada ditubuhnya kini sudah menjalar ke jantungnya.

"Aku menyesal karena percaya padamu Kang Yi, aku ingin pergi"

"Tidak! jangan katakan itu, kita punya ikatan takdir" balas Kang Yi

"Kamu akan mendapatkan karmamu Kang Yi"

Dengan tangan gemetar Kang Yi kembali memotong ekor Hae-rin hingga ke delapan,

semua ekornya dipindahkan ke sebuah artefak mulai dari kuas tulis, kalung giok, lukisan kuno dan cincin giok. Rasa bersalah dan sakit terlihat jelas diwajah Kang Yi, dengan tangannya sendiri ia telah menyakiti perempuan yang sangat ia cintai. setiap Jeritan yang Hae-rin keluarkan terasa menusuk jantungnya.

" Maaf Hae-rin, aku melakukan ini karena aku mencintaimu"

"Bertahanlah ini yang terakhir, aku janji tidak akan menyakitimu lagi"

Saat Kang Yi mengayunkan pedangnya dan akan memotong terakhir ekor miliknya, Hae-rin berubah menjadi bentuk gumiho, dengan sisa tenaga yang ia miliki, Hae-rin berlari sangat cepat dan merubah dirinya menjadi cahaya untuk melarikan diri.

Kang Yi yang melihat itu begitu panik, ia menyimpan pedangnya dan berlari menyusul Hae-rin namun semua sudah terlambat, Hae-rin telah hilang.

"Hae-rin!!" teriak Kang Yi begitu keras

Tubuhnya terlihat lunglai tak bertenaga, pria tua yang terlihat licik itu menghampiri Kang Yi.

"Jendral, tenangkan dirimu, Hae-rin pasti akan kembali"

"Pergi pria tua!! ini semua karena ulahmu, kamu yang menyuruhku melakukan ini, lihatlah Hae-rin telah pergi dariku"

"aku akan membunuhmu!"

Kang Yi mencengkram erat l*her pria tua itu, hingga pria tua itu terasa t*rcekik, pria tua itu terus meronta ronta meminta untuk dilepaskan

"Hentik..an, Jen...dral aku bi..sa membu..at Hae-rin kem..bali" ucap pria tua itu terbata bata

mendengar Hae-rin bisa kembali, Kang Yi melepaskan pria tua itu

"uhukk..Uhukk" pria tua merasa bisa bernafas kembali

"Katakan!"

"Jendral bisa menyimpan semua artefak ini di aula leluhur, dan melakukan doa setiap hari, Hae-rin akan kembali karena ia tidak bisa jauh dari delapan ekor miliknya, jika ia berjauhan ma..ka.."

"Maka apa?, cepat katakan!"

"Maka ia akan m*ti"

"lancang! kamu mendoakannya mati"

"Ampun jendral, hamba tidak berani, tapi ini adalah kenyataan"

"Berikan semua artefak itu"

"Ini Jendral" dengan tangan gemetar pria tua itu memberikan artefak yang sudah memiliki kekuatan magis dari ekor Hae-rin.

Kang Yi berjalan ke aula leluhur, langkahnya gontai, air mata yang terus mengalir membasahi pipinya, saat sampai di aula leluhur dengan kehati-hatian Kang Yi menata semua artefak itu disatu meja. ia kemudian berlutut dan berdoa agar Hae-rin cepat kembali.

"Hae-rin maafkan aku, aku begitu bodoh hingga menyakitimu seperti ini, kembalilah aku akan menerimamu meskipun kamu bukan seorang manusia, kumohon kembalilah Hae-rin"

"Aku sungguh menyesal, kumohon kembalilah Hae-rin"

Disudut tempat yang gelap, sang kakek telah menyaksikan semua kejadian itu, senyum licik dan kepuasan terukir jelas diwajahnya.

Sedangkan ditempat lain di sebuah hutan yang belum terjamah oleh manusia, Hae-rin dalam bentuk gumiho meringkuk di sebuah goa dalam kondisi yang sangat lemah dan penuh luka, ia terus mengeluarkan air mata karena rasa sakit yang ia rasakan.

Setetes demi setetes air matanya jatuh mengenai luka pada tubuhnya, dengan kekuatan magisnya luka itu perlahan mulai hilang, namun kekuatan mana dalam tubuhnya sangatlah lemah, ia kehilangan banyak kekuatan karena delapan ekor miliknya kini telah hilang dan hanya tersisa seekor saja.

air matanya terus mengalir

Hae-rin menangis dalam kesedihan yang mendalam, dihianati orang yang sangat ia percaya sekaligus cintai adalah pukulan berat baginya.

Tiba tiba mata birunya berubah menjadi merah, tubuhnya memancarkan aura dingin yang sangat terasa. kemudian ia melolong seperti srigala. Suaranya menggema dalam hutan yang sunyi itu.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Sembilan Ekor Untuk Sebuah Dendam   Bab 6 Hilangnya delapan ekor miliknya

    Hae-rin merintih kesakitan, satu ekornya telah lepas, pria tua yang berdiri disamping Kang Yi segera mengambil kekuatan ekor Hae-rin dan memindahkan ke salah satu artefak yang berbentuk kipas. Artefak kipas itu kini memiliki kekuatan magis, cahaya hijau mengelilingi kipas itu. Slinggg Tebasan kedua memotong kembali ekor Hae-rin, Kang Yi masih berdiri teguh memegang pedangnya yang sudah berlumuran dar*h Hae-rin. "Aakhhhhh" Kini jeritan Hae-rin terdengar semakin menyakitkan, hingga tubuhnya terlihat bergetar, tangannya mengepal erat Manahan rasa sakit yang ia rasakan. Ekor kedua itu disimpan dalam artefak cermin tua. cahaya merah terlihat mamancar dari cermin itu "Kang Yi..hen..tikan" ucap Hae-rin lirih "Kamu bisa membunuhku, tolong hentikan, ini sangat menyakitkan""Sakit...tolong hentikan" Hae-rin sudah memohon berbelas kasih agar Kang Yi tidak melanjutkan aksinya, namun bagi Kang Yi semua itu hanya angin lalu, pandanganya sudah gelap karena tipu muslihat pria tua itu. "Ka

  • Sembilan Ekor Untuk Sebuah Dendam   Mencuri Delapan Ekornya

    Setelah bertemu dengan pria misterius itu Yong-hwa merenungkan dirinya didalam kamar, ia meresapi perkataan dari pria itu seolah memberikan isyarat untuk menyampaikan pesan kepadanya"Apa yang dimaksud pria itu?""Apa ini ada hubungannya dengan Gumiho itu?"Yong-hwa masih sangat penasaran dengan perkataan dari pria itu, ia belum bisa melepaskan simpul dihatinya mengenai masalah dengan gumiho yang berada di samping Jendral Kang YiDalam hati Yong-hwa ia semakin bertekad untuk segera menjauhakn Jendral Kang Yi dengan makhluk jahat itu.Malam kedua perjalanan menuju Ibukota berjalan dengan lancar tanpa ada serangan dari kawanan srigala seperti malam sebelumya Pagi ini mereka melanjutkan perjalanan kembali ke Ibukota, Jendral Kang Yi memimpin perjalananDitandu Hae-rin duduk dengan tenang dengan banyaknya makanan buah segar yang sudah disiapkan sebelum perjalanan ini dimulai kembaliHae-rin begitu senang sehingga secara tidak sengaja ekornya muncul meskipun hanya sesaat dan Kang Yi menge

  • Sembilan Ekor Untuk Sebuah Dendam   Terbongkarnya Identitas Gumiho

    Malam setelah peristiwa penyerangan kawanan srigala telah berlalu, kondisi Kang Yi pulih dengan begitu cepat setalah Hae-rin memberikan energinya untuk menyembuhkan luka-lukanya, Hae-rin yang berubah wujud menjadi rubah putih setelah menyelamatkannya kini masih meringkuk disamping tempat tidurnya, Kang Yi dengan sabar menunggu Hae-rin kembali ke wujud manusianya, dan meminta penjelasan padanya.Saat menunggu lama akhirnya Hae-rin kembali kewujud aslinya.Namun hal tak terduga terjadi, Yong hwa kembali masuk ke tenda pribadi Kang Yi, ia melihat semua yang terjadi"Jendral.." ucap Yong-hwa hwa terbata-bataKang Yi menoleh dengan rahang mengeras, Yong hwa terpaku ditempat dengan tubuh gemetar.Hae-rin yang menyadari wujud aslinya telah terbongkar, tubuhnya menjadi berkeringat dingin, kemudian ia menarik diri sedikit menjauh, menarik dirinya ke sudut tempat tidur.Hae-rin diam membisu tidak mengucapkan sepatah katapun, namun Kang Yi tau ada ketakutan besar dimata Hae-rin yang tidak bisa

  • Sembilan Ekor Untuk Sebuah Dendam   Wujud Gumiho

    Jantung Hae-rin bedegup dengan kencang saat mendengar suara Kang Yi memanggilnya, tubuhnya terasa dingin, ia merasa identitasnya sebagai gumiho sudah terbongkar, namun takdir berkata lain. Kang Yi datang ke tendanya dengan wajah kawatir untuk memberikan informasi bahwa srigala menyerang tenda yang lain, srigala ini sangat bringas seperti tidak terpengaruh dengan bunga Marigold."Hae-rin, dengar kamu harus tetap berada ditenda, jangan pernah keluar tanpa seizinku""Ada apa Kang Yi? Apa terjadi hal buruk?""Srigala itu menyerang dengan sangat bringas ke tenda prajurit yang lain, aku akan turun tangan, kamu tetep disini, di depan ada Sang-min yang menjagamu, ingat Jangan pernah keluar, mengerti?""Hemm" Hae-rin membalas Kang Yi keluar dengan tergesa, sebelum benar-benar pergi Hae-rin masih mendengar Kang Yi bercara dengan Sang-min untuk melindunginya.Tiga puluh menit telah berlalu namun Kang Yi belum kembali, Hae-rin merasa kawatir, instingnya mengatakan terjadi hal buruk dengan Kang Y

  • Sembilan Ekor Untuk Sebuah Dendam   Kembali Ke Ibukota

    Hae-rin yang sudah satu Minggu berada ditenda Jendral Kang Yi, ia merasa sedikit demi sedikit bisa beradaptasi, disana ia diperlakukan dengan sangat baik dan masa itu juga kakinya sudah sembuh dengan sempurna.Setiap pagi ia melihat Kang Yi melatih semua prajuritnya, pria yang terlihat garang dan tegas bersama prajuritnya namun saat bersama dirinya menjadi pribadi yang sangat berbeda, lembut dan pengertian.Hae-rin menghampiri mereka, membawa seteko air untuk membantu menghilangkan dahaga, Hae-rin membawa minuman itu untuk Jendral Yi."Tuan, ini minuman untukmu" ucap Hae-rin lembutJendral Yi menerima minuman itu dengan senang hati,"Terima Kasih Hae-rin"Gleg..gleg..gelgAir itu turun membasahi tenggorokan Kang Yi, Hae-rin yang melihat itu terpesona akan sosok manusia fana yang ada didepannya ini."Kakimu sudah lebih baik Hae-rin?" "Sudah, tuan Kang""Syukurlah, baiklah ikutlah denganku dan hal penting yang harus aku bicarakan padamu"Hae-rin mengangguk sebagai balasan, Kang Yi kemu

  • Sembilan Ekor Untuk Sebuah Dendam   Bertemu Manusia Fana

    Yoon Hae-rin adalah siluman rubah berekor sembilan (Gumiho) yang hidup abadi. Parasnya yang cantik memikat banyak kaum lawan jenisnya di alam perinya.Suatu hari Hae-rin yang berada di dunia fana mengalami kecelakaan, salah satu ekornya terluka, ia bersandar dibawah pohon yang lebat, kondisinya yang lemah butuh waktu untuk memulihkan diri dengan sendirinya.Ia menampakan wujudnya sebagai manusia, berpakaian sutra berwarna putih gaya jaman kuno yang terlihat klasik namun menawan, wajahnya yang sangat cantik memikat, kulitnya seputih porselen yang berkilau, menarik perhatian seseorang pria yang berada tidak jauh dari tempatnya.Pria itu tampak seperti bangsawan berpakaian mahal yang terbuat dari sutra, wajah yang tegas dan rupawan, duduk dengan gagahnya diatas kuda yang ia tunggangi.Rasa penasaran membuat pria itu mendekat, saat jarak mereka semakin dekat, pria itu dapat mencium aroma wangi dan segar yang ada pada wanita didepannya ini."Wanita ini sungguh menawan" ucap pria itu lirih

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status