เข้าสู่ระบบHae-rin yang sudah satu Minggu berada ditenda Jendral Kang Yi, ia merasa sedikit demi sedikit bisa beradaptasi, disana ia diperlakukan dengan sangat baik dan masa itu juga kakinya sudah sembuh dengan sempurna.
Setiap pagi ia melihat Kang Yi melatih semua prajuritnya, pria yang terlihat garang dan tegas bersama prajuritnya namun saat bersama dirinya menjadi pribadi yang sangat berbeda, lembut dan pengertian. Hae-rin menghampiri mereka, membawa seteko air untuk membantu menghilangkan dahaga, Hae-rin membawa minuman itu untuk Jendral Yi. "Tuan, ini minuman untukmu" ucap Hae-rin lembut Jendral Yi menerima minuman itu dengan senang hati, "Terima Kasih Hae-rin" Gleg..gleg..gelg Air itu turun membasahi tenggorokan Kang Yi, Hae-rin yang melihat itu terpesona akan sosok manusia fana yang ada didepannya ini. "Kakimu sudah lebih baik Hae-rin?" "Sudah, tuan Kang" "Syukurlah, baiklah ikutlah denganku dan hal penting yang harus aku bicarakan padamu" Hae-rin mengangguk sebagai balasan, Kang Yi kemudian menyuruh Sang-min meneruskan tugasnya memimpin latihan fisik bersama prajuritnya. Kang Yi yang memiliki postur tinggi dan gagah langkahnya lebar dan sangat cepat, Hae-rin yang berada dibelakang berlari kecil untuk mengimbangi langkah Kang Yi. Saat tiba di tenda, nafas Hae-rin terdengar kasar naik turun seperti selesai berlari. "Kamu tidak apa Hae-rin, kamu seperti terlihat kelelahan" "Tidak apa tuan, jadi apa yang ingin tuan bicarakan?" " Panggil saja Kang Yi, aku tidak suka kamu memanggilku dengan sebutan tuan didepan namaku" "Apakah tidak masalah, itu kurang sopan" "Tidak masalah, aku lebih senang kamu hanya memanggilku Kang Yi" "Kang Yi" ucap Hae-rin lirih "Baiklah kita kembali ke bahasan utama, hal yang ingin aku bicarakan denganmu adalah, dua hari lagi rombongan kita akan kembali ke Ibukota, jadi aku berencana membawamu ke Ibukota, apakah kamu keberatan?" "Tidak Kang Yi, aku tidak keberatan selama itu bersamamu" "Syukurlah aku senang mendengarnya" Kang Yi secara spontan memeluk erat Hae-rin Pelukan itu membuat tubuh Hae-rin membeku, desiran aneh terlintas dihatinya, ia tidak tau harus membalasnya seperti apa. Moment yang sangat manis itu harus segera berakhir saat Sang-min tiba-tiba menerobos masuk ketenda mereka. "Jendral..." Ucapan Sang-min terpotong saat melihat pemandangan didepannya itu Kang Yi yang mendengar suara Sang-min dengan segera melepaskan pelukannya bersama Hae-rin, kemudian ia menoleh dengan wajah garang seperti seekor harimau yang akan memakan mangsanya. Sang-min datang disaat yang tidak tepat, dalam hati ia berkata, "Tamatalah riwayatku, aku menganggu tuan yang sedang bermesraan dengan nona Hae-rin" "Maaf tuan, hamba tidak melihat apapun" ucap Sang-min sambil berbalik kebelakang "Ada apa Sang-min?" " Waktunya makan siang tuan, semua prajurit sudah menunggu tuan" " Baiklah, kita kesana, sebelum itu kamu harus lari seratus putaran sebelum makan siang, ini hadiah untukmu" Dengan sangat lesu Sang-min menjawab, "Baik tuan" Sang-min sangat menyesal karena telah menganggu moment manis sang tuannya itu. Kang Yi membawa Hae-rin keluar dan berkumpul dengan prajurit yang sudah menunggu disana, makanan sudah disajikan dengan sempurna, Hae-rin tidak bisa makan selain buah buahan, untuk itu Kang Yi memerintahkan bawahannya untuk menyediakan buah-buahan segar yang banyak. Saat pertama kali datang ditenda ini, Kang Yi membawakan makanan sepotong daging rusa panggang dipiring dan pelengkapnya, terlihat lezat untuk manusia fana namun untuk Hae-rin itu sangat menjijikan seperti makan kaumnya sendiri, ia menjadi mual dan muntah melihat itu. Hae-rin mengatakan bahwa ia tidak bisa makan danging, ia hanya bisa makan buah. Semenjak itu Kang Yi selalu memberikan dan menyediakan buah segar untuknya. Hae-rin duduk manis disamping Kang Yi, makan buah segar yang sudah ia sediakan, kang Yi yang melihat itu merasa lucu dan menggemaskan, hari demi hari ia selalu terpikat dengan wanita disampingnya ini. "Tuan, dimana Sang min? Apakah tidak ikut makan bersama kita?" Tanya Yong-hwa " Dia sedang menerima hadiah dariku" Mendengar itu, semua prajurit terdiam, hadiah dari sang jendral bukalah hadiah yang seperti dibayangkan, mereka merasa miris dan prihatin dengan nasib yang diterima Sang-min. Dua hari kemudian.. Rombongan Jendral Kang Yi berkemas dan meyiapkan perbekalan untuk kembali ke Ibukota, sudah enam bulan lamanya mereka menjaga perbatasan dihutan belantara ini untuk mencegah dan memberantas pemberontakan, kini saatnya mereka harus kembali. Kang Yi melihat Hae-rin sudah siap berdiri anggun dan cantik seperti biasanya, tetapi raut wajahnya terlihat kawatir, meski hanya sesaat Kang Yi dapat menangkap itu dengan jelas. Kang Yi menghampirinya, membawanya ketandu, dan berkata dengan suara yang menenangkan, "Aku selalu menjagamu, tidak perlu takut dan kawatir, sekarang masuklah ketandumu, rombongan kita akan segera berangkat" Hae-rin mengikuti dengan patuh, di dalam tandu ia duduk dengan tenang Disamping tandunya ia mendengar Kang Yi memberikan instruksi ke semua prajuritnya, "Segera berangkat, kita kembali ke Ibukota" ucap Kang Yi lantang Sorak ramai dari prajurit mengawali langkah mereka menuju Ibukota. Rombongan dari Jendaral Kang Yi kembali ke Ibukota, suara langkah kuda bergema meninggalkan area tenda mereka, perjalanan menuju Ibukota membutuhkan waktu tiga hari dua malam, waktu yang terbilang lama dan jarak tempuh yang jauh. Kang Yi sedikit kawatir dengan Hae-rin, ia takut Hae-rin tidak nyaman selama perjalanan, untuk itu setelah beberapa meter ia selalu bertanya Hae-rin apakah baik-baik saja. Prajurit yang melihat sikap sang jendral tersenyum geli sendiri. Tuanya sudah tergila-gila dengan nona Hae-rin. "Hae-rin, apa kamu merasa tidak nyaman, kita akan beristirahat jika kamu lelah?" "Tidak Kang Yi, aku baik-baik saja, kita jangan menunda perjalanan demi diriku" "Kamu harus melapor jika kurang nyaman" Hae-rin membalas dengan anggukan kepala Perjalanan pun dilanjutkan, waktupun terus berjalan, hari terlihat mulai gelap, Kang Yi memerintahkan prajuritnya untuk membangun tenda agar mereka bisa bermalam disana. Setelah mendapatkan instruksi dari sang Jendral, dengan sangat cekatan mereka membangun tenda dengan waktu satu jam. Malam pun tiba, lolongan serigala menjadi melodi malam itu yang membuat bulu kuduk mereka merinding. Kang Yi sudah menyiapkan bunga Marigold untuk mengusir hewan srigala itu. Kang Yi membawa bunga itu ketenda tempat dimana Hae-rin bermalam. Saat Hae-rin mencium bau bunga itu, tubuhnya terasa panas, inting hewanya keluar, ia ingin berubah wujud menjadi gumiho namun sebisa mungkin ia tahan, ia tidak menyukai bunga Marigold itu namun dengan terpaksa menerimanya agar Kang Yi tidak curiga bahwa ia sebenarnya bukan manusia. "Hae-rin, ini bunga Marigold untukmu, ini akan melindungimu dari serangan srigala" "Terima kasih Kang Yi" ucap Hae-rin dan menerima itu dengan tangan gemetar Kang Yi menyadari itu, namun ia salah menduga jika Hae-rin mungkin takut dengan serangan srigala. " Aku akan melindungimu di depan, sekarang istirahatlah" Kang Yi meninggalkan Hae-rin seorang diri di tenda, Hae-rin sudah menahan dirinya untuk tidak berubah wujud dihadapan Kang Yi, beberapa menit kemudian Hae-rin berubah menjadi Gumiho namun hanya sesaat, ia memastikan Kang Yi tidak melihat apa yang terjadi, Hae-rin kemudian menghancurkan bunga itu dengan kekuatannya magic nya. Namun.. " Hae-rin"Di sebuah ruangan tertutup Kang Dae Ho bersama guru spiritualnya melakukan suatu ritual yaitu membuat jimat pelindung dari sang gumiho, sebuah gelang yang terbuat dari benang merah yang direndam dari d*rah hati manusi*.Hari sebelum ritual Kang Dae ho, pria tua itu menyuruh semua kepala keluarga Kang untuk memberinya d*rah hati mereka masing-masing, tujuh cabang keluarga Kang yang masih berdiri kokoh melakukan semua yang diminta pria tua itu meskipun dengan tanda tanya besar.Pengambilan d*arah hati mereka sangatlah beresiko dan hal ini terbilang sesuatu yang aneh dan tabu untuk manusia jaman modern saat ini, sehingga mereka meminta bantuan dokter profesional yang bisa di percaya untuk menjaga rahasia.Ritual itupun dilakukan, guru spiritual mulutnya terlihat terus bergerak seperti mengucapkan sebuah mantra, udara di sekitar terasa menjadi lebih dingin dari biasanya, hingga sebuah cahaya tiba-tiba menyinari gelang yang di rendam d*rah itu dan secara perlahan meredup,"Semuanya sudah
Lee Dae-in istri dari Kang Jae Hoon masih terus memohon dan bersujud dibawah kaki pria tua itu, memohon belas kasihan dan pertolongan dari sang Penatua, alih-alih mendapatkan pertolongan Kang Dae ho malah memutuskan hubungan keluarga Kang Jae Hoon dengan keluarga Kang, pria tua itu mengatakan Kang Jae Hoon sekeluarga adalah aib dan parasit yang harus ia singkirkan, ia tidak ingin kejayaan yang telah dibangun klan Kang selama ratusan tahun runtuh karena kebodohan yang telah dilakukan keluarga Kang Jae Hoon,"Pergilah dari sini, aku masih memberimu muka untuk tidak menyeretmu keluar dengan paksa Dae-in""Kakek kumohon selamatkan kami, kami adalah keluargamu" ucap Lee Dae-in yang menangis meraung dibawah kaki pria tua ituKehormatan dan harga diri Lee Dae-in yang selama ini dijunjung tinggi kini telah hilangKeluarga lain yang hadir disana melihat semua itu mencemooh dalam hati mereka,"Tunggu surat pemutusan hubungan resmi dariku, pulanglah!""Tidak kek, kakek tidak bisa melakukan ini d
Hae-rin tampak ragu untuk mengatakannya, jemarinya memainkan ujung baju sementara matanya menatap lekat ke arah Seung-min, "Sebenarnya saat Jin-woo mengajakku ke ruang pribadinya untuk memperlihatkan koleksi barang kuno miliknya,...." lanjut Hae-rin dengan suara yang nyaris berbisik, "Aku melihatnya. Aku melihat kuas kuno itu di dalam sebuah kotak kaca kedap udara, diletakkan seperti sebuah pusaka suci." "Jadi kamu sudah melihatnya Hae-rin?" Hae-rin mengangguk sebagai balasan Seung-min terdiam sesaat, ia mencerna apa yang sedang terjadi, ia mengumpulkan kepingan puzel dari cerita leluhurnya, sesuatu yang membuatnya bingung adalah mengapa Jendral Kang Yi menyuruh leluhurnya mencari artefak kuno itu padahal benda itu telah disimpan sendiri oleh keluarganya, bahkan sekarang menjadi warisan di keturunannya. "Jadi benar benda itu berada di keluarga Kang, akan sulit jika mengambil benda itu di tangan mereka. Tapi Hae-rin ada hal yang membuatku bingung dan penasaran" "Apa?"
Kang Dae-ho, pria tua yang rambutnya telah memutih sepenuhnya, duduk bersila dikursi kebesaranya dengan mata terpejam. Pria tua itu salah satu dari tiga Penatua tertinggi, tugasnya bukan lagi mengurusi bisnis, melainkan menjaga denyut spiritual keluarga mereka yang berada di artefak kuno itu. Tiba-tiba, matanya terbuka lebar. Pupil matanya bergetar hebat. "Kemalangan ini..." bisiknya dengan suara parau yang gemetar. Pria tua itu merasakan pemilik asli dari kekuatan Artefak kuno itu telah muncul, selama ratusan tahun keluarga Kang secara turun temurun tidak pernah mengalami kemalangan ataupun kemuduran dalam hal apapun, keluarga Kang berdiri kokoh bagaikan batu karang, kekayaan mereka melimpah, pengaruh politik yang besar dan mempunyai keturunan yang luar biasa. PYARRR Bunyi gelas pecah Kang Dae-ho murka saat mendengar berita yang telah disampaikan pelayan pribadinya mengenai kemalangan yang terjadi di Keluarga Kang Jin Woo, "Panggil Kang Jae-hon segera menghadap kepadak
Ribuan komentar negatif membanjiri kolom komentar tayangan live itu, terlihat Kang Jin Woo babak belur karena mendapatkan beberapa bogem dari temannya sendiri dan beberapa dari mereka segera menolong Min-Ji yang sudah tak sadarkan diri, mereka segera membawa Min-ji ke rumah sakit, hasil pemeriksaan bahwa milik wanita itu ada sobekan yang lumayan besar hingga harus mendapatkan jahitan, wanita itu juga mendapatkan luka seperti luka cambuk ditubuhnya, kondisinya benar-benar memperihatinkan. Mereka yang melihat secara langsung kondisi Min-ji mengutuk apa yang dilakukan Kan Jin Woo kepadanya. Malam itu harusnya menjadi moment bahagia berubah menjadi badai besar yang datang untuk Kang Jin Woo. Pagi itu hujan deras mengguyur ibu kota, seolah ikut merasakan kesedihan yang Kang Jin Woo rasakan. di dalam mobil yang terparkir di depan mansion milik Hae-rin, pria itu menatap ponselnya melihat berita panas yang terjadi antara dirinya dengan Min-ji, kemaren malam ia lepas kendali karena rangsan
Kang Jin Woo mengantarkan Hae-rin pulang ke mansion milik wanita itu, ia merasa khawatir dengan kondisi sang pacar yang tiba-tiba mengalami demam yang secara mendadak, Sang mama yang melihat Hae-rin dalam gendongan seorang pria, merasa ada sesuatu yang tidak beres, dan dugaanya benar, putri kesayangannya sedang sakit demam, "Kenapa dengan putriku, apa yang terjadi? tanya sang mama khawatir "Tante maaf, Hae-rin sedang demam, ia meminta untuk dibawa pulang" "Segera bawa ke kamarnya" Sang mama menunjukan dimana letak kamar Hae-rin, Kang Jin Woo menaruh Hae-rin di atas ranjangnya dengan pelan, pria itu tidak segera pergi, ia masih disana menunggu Hae-rin dengan cemas, Sang mama meminta kepala pelayan memanggil dokter pribadi miliknya untuk segera ke mansion, mereka dalam satu ruangan dengan suasana canggung, kang Jin Woo dengan sopan memperkenalkan dirinya, "Maaf tante, perkenalkan saya Kang Jin Woo, pacar Hae-rin" "Nak Jin Woo, salam kenal, nak apa yang terjadi dengan Ha







