Share

Kembali Ke Ibukota

last update Last Updated: 2026-01-16 22:45:25

Hae-rin yang sudah satu Minggu berada ditenda Jendral Kang Yi, ia merasa sedikit demi sedikit bisa beradaptasi, disana ia diperlakukan dengan sangat baik dan masa itu juga kakinya sudah sembuh dengan sempurna.

Setiap pagi ia melihat Kang Yi melatih semua prajuritnya, pria yang terlihat garang dan tegas bersama prajuritnya namun saat bersama dirinya menjadi pribadi yang sangat berbeda, lembut dan pengertian.

Hae-rin menghampiri mereka, membawa seteko air untuk membantu menghilangkan dahaga, Hae-rin membawa minuman itu untuk Jendral Yi.

"Tuan, ini minuman untukmu" ucap Hae-rin lembut

Jendral Yi menerima minuman itu dengan senang hati,

"Terima Kasih Hae-rin"

Gleg..gleg..gelg

Air itu turun membasahi tenggorokan Kang Yi, Hae-rin yang melihat itu terpesona akan sosok manusia fana yang ada didepannya ini.

"Kakimu sudah lebih baik Hae-rin?" 

"Sudah, tuan Kang"

"Syukurlah, baiklah ikutlah denganku dan hal penting yang harus aku bicarakan padamu"

Hae-rin mengangguk sebagai balasan, Kang Yi kemudian menyuruh Sang-min meneruskan tugasnya memimpin latihan fisik bersama prajuritnya.

Kang Yi yang memiliki postur tinggi dan gagah langkahnya lebar dan sangat cepat, Hae-rin yang berada dibelakang berlari kecil untuk mengimbangi langkah Kang Yi.

Saat tiba di tenda, nafas Hae-rin terdengar kasar naik turun seperti selesai berlari.

"Kamu tidak apa Hae-rin, kamu seperti terlihat kelelahan"

"Tidak apa tuan, jadi apa yang ingin tuan bicarakan?" 

" Panggil saja Kang Yi, aku tidak suka kamu memanggilku dengan sebutan tuan didepan namaku"

"Apakah tidak masalah, itu kurang sopan"

"Tidak masalah, aku lebih senang kamu hanya memanggilku Kang Yi"

"Kang Yi" ucap Hae-rin lirih 

"Baiklah kita kembali ke bahasan utama, hal yang ingin aku bicarakan denganmu adalah, dua hari lagi rombongan kita akan kembali ke Ibukota, jadi aku berencana membawamu ke Ibukota, apakah kamu keberatan?"

"Tidak Kang Yi, aku tidak keberatan selama itu bersamamu" 

"Syukurlah aku senang mendengarnya" Kang Yi secara spontan memeluk erat Hae-rin

Pelukan itu membuat tubuh Hae-rin membeku, desiran aneh terlintas dihatinya, ia tidak tau harus membalasnya seperti apa.

Moment yang sangat manis itu harus segera berakhir saat Sang-min tiba-tiba menerobos masuk ketenda mereka.

"Jendral..." Ucapan Sang-min terpotong saat melihat pemandangan didepannya itu

Kang Yi yang mendengar suara Sang-min dengan segera melepaskan pelukannya bersama Hae-rin, kemudian ia menoleh dengan wajah garang seperti seekor harimau yang akan memakan mangsanya. Sang-min datang disaat yang tidak tepat, dalam hati ia berkata,

"Tamatalah riwayatku, aku menganggu tuan yang sedang bermesraan dengan nona Hae-rin"

"Maaf tuan, hamba tidak melihat apapun" ucap Sang-min sambil berbalik kebelakang

"Ada apa Sang-min?" 

" Waktunya makan siang tuan, semua prajurit sudah menunggu tuan"

" Baiklah, kita kesana, sebelum itu kamu harus lari seratus putaran sebelum makan siang, ini hadiah untukmu"

Dengan sangat lesu Sang-min menjawab,

"Baik tuan" 

Sang-min sangat menyesal karena telah menganggu moment manis sang tuannya itu.

Kang Yi membawa Hae-rin keluar dan berkumpul dengan prajurit yang sudah menunggu disana, makanan sudah disajikan dengan sempurna, Hae-rin tidak bisa makan selain buah buahan, untuk itu Kang Yi memerintahkan bawahannya untuk menyediakan buah-buahan segar yang banyak.

Saat pertama kali datang ditenda ini, Kang Yi membawakan makanan sepotong daging rusa panggang dipiring dan pelengkapnya, terlihat lezat untuk manusia fana namun untuk Hae-rin itu sangat menjijikan seperti makan kaumnya sendiri, ia menjadi mual dan muntah melihat itu. Hae-rin mengatakan bahwa ia tidak bisa makan danging, ia hanya bisa makan buah. Semenjak itu Kang Yi selalu memberikan dan menyediakan buah segar untuknya.

Hae-rin duduk manis disamping Kang Yi, makan buah segar yang sudah ia sediakan, kang Yi yang melihat itu merasa lucu dan menggemaskan, hari demi hari ia selalu terpikat dengan wanita disampingnya ini.

"Tuan, dimana Sang min? Apakah tidak ikut makan bersama kita?" Tanya Yong-hwa

" Dia sedang menerima hadiah dariku"

Mendengar itu, semua prajurit terdiam, hadiah dari sang jendral bukalah hadiah yang seperti dibayangkan, mereka merasa miris dan prihatin dengan nasib yang diterima Sang-min.

Dua hari kemudian..

Rombongan Jendral Kang Yi berkemas dan meyiapkan perbekalan untuk kembali ke Ibukota, sudah enam bulan lamanya mereka menjaga perbatasan dihutan belantara ini untuk mencegah dan memberantas pemberontakan, kini saatnya mereka harus kembali.

Kang Yi melihat Hae-rin sudah siap berdiri anggun dan cantik seperti biasanya, tetapi raut wajahnya terlihat kawatir, meski hanya sesaat Kang Yi dapat menangkap itu dengan jelas.

Kang Yi menghampirinya, membawanya ketandu, dan berkata dengan suara yang menenangkan,

"Aku selalu menjagamu, tidak perlu takut dan kawatir, sekarang masuklah ketandumu, rombongan kita akan segera berangkat"

Hae-rin mengikuti dengan patuh, di dalam tandu ia duduk dengan tenang

Disamping tandunya ia mendengar Kang Yi memberikan instruksi ke semua prajuritnya,

"Segera berangkat, kita kembali ke Ibukota" ucap Kang Yi lantang

Sorak ramai dari prajurit mengawali langkah mereka menuju Ibukota.

Rombongan dari Jendaral Kang Yi kembali ke Ibukota, suara langkah kuda bergema meninggalkan area tenda mereka, perjalanan menuju Ibukota membutuhkan waktu tiga hari dua malam, waktu yang terbilang lama dan jarak tempuh yang jauh.

Kang Yi sedikit kawatir dengan Hae-rin, ia takut Hae-rin tidak nyaman selama perjalanan, untuk itu setelah beberapa meter ia selalu bertanya Hae-rin apakah baik-baik saja.

Prajurit yang melihat sikap sang jendral tersenyum geli sendiri. Tuanya sudah tergila-gila dengan nona Hae-rin.

"Hae-rin, apa kamu merasa tidak nyaman, kita akan beristirahat jika kamu lelah?"

"Tidak Kang Yi, aku baik-baik saja, kita jangan menunda perjalanan demi diriku"

"Kamu harus melapor jika kurang nyaman"

Hae-rin membalas dengan anggukan kepala

Perjalanan pun dilanjutkan, waktupun terus berjalan, hari terlihat mulai gelap, Kang Yi memerintahkan prajuritnya untuk membangun tenda agar mereka bisa bermalam disana.

Setelah mendapatkan instruksi dari sang Jendral, dengan sangat cekatan mereka membangun tenda dengan waktu satu jam.

Malam pun tiba, lolongan serigala menjadi melodi malam itu yang membuat bulu kuduk mereka merinding.

Kang Yi sudah menyiapkan bunga Marigold untuk mengusir hewan srigala itu. Kang Yi membawa bunga itu ketenda tempat dimana Hae-rin bermalam.

Saat Hae-rin mencium bau bunga itu, tubuhnya terasa panas, inting hewanya keluar, ia ingin berubah wujud menjadi gumiho namun sebisa mungkin ia tahan, ia tidak menyukai bunga Marigold itu namun dengan terpaksa menerimanya agar Kang Yi tidak curiga bahwa ia sebenarnya bukan manusia.

"Hae-rin, ini bunga Marigold untukmu, ini akan melindungimu dari serangan srigala"

"Terima kasih Kang Yi" ucap Hae-rin dan menerima itu dengan tangan gemetar

Kang Yi menyadari itu, namun ia salah menduga jika Hae-rin mungkin takut dengan serangan srigala.

" Aku akan melindungimu di depan, sekarang istirahatlah"

Kang Yi meninggalkan Hae-rin seorang diri di tenda, Hae-rin sudah menahan dirinya untuk tidak berubah wujud dihadapan Kang Yi, beberapa menit kemudian Hae-rin berubah menjadi Gumiho namun hanya sesaat, ia memastikan Kang Yi tidak melihat apa yang terjadi, Hae-rin kemudian menghancurkan bunga itu dengan kekuatannya magic nya.

Namun..

" Hae-rin" 

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Sembilan Ekor Untuk Sebuah Dendam   Bab 6 Hilangnya delapan ekor miliknya

    Hae-rin merintih kesakitan, satu ekornya telah lepas, pria tua yang berdiri disamping Kang Yi segera mengambil kekuatan ekor Hae-rin dan memindahkan ke salah satu artefak yang berbentuk kipas. Artefak kipas itu kini memiliki kekuatan magis, cahaya hijau mengelilingi kipas itu. Slinggg Tebasan kedua memotong kembali ekor Hae-rin, Kang Yi masih berdiri teguh memegang pedangnya yang sudah berlumuran dar*h Hae-rin. "Aakhhhhh" Kini jeritan Hae-rin terdengar semakin menyakitkan, hingga tubuhnya terlihat bergetar, tangannya mengepal erat Manahan rasa sakit yang ia rasakan. Ekor kedua itu disimpan dalam artefak cermin tua. cahaya merah terlihat mamancar dari cermin itu "Kang Yi..hen..tikan" ucap Hae-rin lirih "Kamu bisa membunuhku, tolong hentikan, ini sangat menyakitkan""Sakit...tolong hentikan" Hae-rin sudah memohon berbelas kasih agar Kang Yi tidak melanjutkan aksinya, namun bagi Kang Yi semua itu hanya angin lalu, pandanganya sudah gelap karena tipu muslihat pria tua itu. "Ka

  • Sembilan Ekor Untuk Sebuah Dendam   Mencuri Delapan Ekornya

    Setelah bertemu dengan pria misterius itu Yong-hwa merenungkan dirinya didalam kamar, ia meresapi perkataan dari pria itu seolah memberikan isyarat untuk menyampaikan pesan kepadanya"Apa yang dimaksud pria itu?""Apa ini ada hubungannya dengan Gumiho itu?"Yong-hwa masih sangat penasaran dengan perkataan dari pria itu, ia belum bisa melepaskan simpul dihatinya mengenai masalah dengan gumiho yang berada di samping Jendral Kang YiDalam hati Yong-hwa ia semakin bertekad untuk segera menjauhakn Jendral Kang Yi dengan makhluk jahat itu.Malam kedua perjalanan menuju Ibukota berjalan dengan lancar tanpa ada serangan dari kawanan srigala seperti malam sebelumya Pagi ini mereka melanjutkan perjalanan kembali ke Ibukota, Jendral Kang Yi memimpin perjalananDitandu Hae-rin duduk dengan tenang dengan banyaknya makanan buah segar yang sudah disiapkan sebelum perjalanan ini dimulai kembaliHae-rin begitu senang sehingga secara tidak sengaja ekornya muncul meskipun hanya sesaat dan Kang Yi menge

  • Sembilan Ekor Untuk Sebuah Dendam   Terbongkarnya Identitas Gumiho

    Malam setelah peristiwa penyerangan kawanan srigala telah berlalu, kondisi Kang Yi pulih dengan begitu cepat setalah Hae-rin memberikan energinya untuk menyembuhkan luka-lukanya, Hae-rin yang berubah wujud menjadi rubah putih setelah menyelamatkannya kini masih meringkuk disamping tempat tidurnya, Kang Yi dengan sabar menunggu Hae-rin kembali ke wujud manusianya, dan meminta penjelasan padanya.Saat menunggu lama akhirnya Hae-rin kembali kewujud aslinya.Namun hal tak terduga terjadi, Yong hwa kembali masuk ke tenda pribadi Kang Yi, ia melihat semua yang terjadi"Jendral.." ucap Yong-hwa hwa terbata-bataKang Yi menoleh dengan rahang mengeras, Yong hwa terpaku ditempat dengan tubuh gemetar.Hae-rin yang menyadari wujud aslinya telah terbongkar, tubuhnya menjadi berkeringat dingin, kemudian ia menarik diri sedikit menjauh, menarik dirinya ke sudut tempat tidur.Hae-rin diam membisu tidak mengucapkan sepatah katapun, namun Kang Yi tau ada ketakutan besar dimata Hae-rin yang tidak bisa

  • Sembilan Ekor Untuk Sebuah Dendam   Wujud Gumiho

    Jantung Hae-rin bedegup dengan kencang saat mendengar suara Kang Yi memanggilnya, tubuhnya terasa dingin, ia merasa identitasnya sebagai gumiho sudah terbongkar, namun takdir berkata lain. Kang Yi datang ke tendanya dengan wajah kawatir untuk memberikan informasi bahwa srigala menyerang tenda yang lain, srigala ini sangat bringas seperti tidak terpengaruh dengan bunga Marigold."Hae-rin, dengar kamu harus tetap berada ditenda, jangan pernah keluar tanpa seizinku""Ada apa Kang Yi? Apa terjadi hal buruk?""Srigala itu menyerang dengan sangat bringas ke tenda prajurit yang lain, aku akan turun tangan, kamu tetep disini, di depan ada Sang-min yang menjagamu, ingat Jangan pernah keluar, mengerti?""Hemm" Hae-rin membalas Kang Yi keluar dengan tergesa, sebelum benar-benar pergi Hae-rin masih mendengar Kang Yi bercara dengan Sang-min untuk melindunginya.Tiga puluh menit telah berlalu namun Kang Yi belum kembali, Hae-rin merasa kawatir, instingnya mengatakan terjadi hal buruk dengan Kang Y

  • Sembilan Ekor Untuk Sebuah Dendam   Kembali Ke Ibukota

    Hae-rin yang sudah satu Minggu berada ditenda Jendral Kang Yi, ia merasa sedikit demi sedikit bisa beradaptasi, disana ia diperlakukan dengan sangat baik dan masa itu juga kakinya sudah sembuh dengan sempurna.Setiap pagi ia melihat Kang Yi melatih semua prajuritnya, pria yang terlihat garang dan tegas bersama prajuritnya namun saat bersama dirinya menjadi pribadi yang sangat berbeda, lembut dan pengertian.Hae-rin menghampiri mereka, membawa seteko air untuk membantu menghilangkan dahaga, Hae-rin membawa minuman itu untuk Jendral Yi."Tuan, ini minuman untukmu" ucap Hae-rin lembutJendral Yi menerima minuman itu dengan senang hati,"Terima Kasih Hae-rin"Gleg..gleg..gelgAir itu turun membasahi tenggorokan Kang Yi, Hae-rin yang melihat itu terpesona akan sosok manusia fana yang ada didepannya ini."Kakimu sudah lebih baik Hae-rin?" "Sudah, tuan Kang""Syukurlah, baiklah ikutlah denganku dan hal penting yang harus aku bicarakan padamu"Hae-rin mengangguk sebagai balasan, Kang Yi kemu

  • Sembilan Ekor Untuk Sebuah Dendam   Bertemu Manusia Fana

    Yoon Hae-rin adalah siluman rubah berekor sembilan (Gumiho) yang hidup abadi. Parasnya yang cantik memikat banyak kaum lawan jenisnya di alam perinya.Suatu hari Hae-rin yang berada di dunia fana mengalami kecelakaan, salah satu ekornya terluka, ia bersandar dibawah pohon yang lebat, kondisinya yang lemah butuh waktu untuk memulihkan diri dengan sendirinya.Ia menampakan wujudnya sebagai manusia, berpakaian sutra berwarna putih gaya jaman kuno yang terlihat klasik namun menawan, wajahnya yang sangat cantik memikat, kulitnya seputih porselen yang berkilau, menarik perhatian seseorang pria yang berada tidak jauh dari tempatnya.Pria itu tampak seperti bangsawan berpakaian mahal yang terbuat dari sutra, wajah yang tegas dan rupawan, duduk dengan gagahnya diatas kuda yang ia tunggangi.Rasa penasaran membuat pria itu mendekat, saat jarak mereka semakin dekat, pria itu dapat mencium aroma wangi dan segar yang ada pada wanita didepannya ini."Wanita ini sungguh menawan" ucap pria itu lirih

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status