로그인Anastasia mematung, tatapannya beralih kepada Jasper yang kini kembali merangkul Mary, seolah tidak terjadi apa-apa.
"Ana," ucap Jasper santai. "Kalau sudah selesai melayani Duke, temui aku di Paviliun Timur."
Anastasia mengerutkan kening.
Melayani?
Ia ingin membantah, tetapi tatapannya tanpa sengaja bertemu dengan Lior. Wajah pria itu tetap datar, namun sorot matanya yang dingin memperlihatkan bahwa kesabarannya sudah hampir habis.
Jasper sama sekali tidak memedulikan kebingungan istrinya. Ia justru menoleh kepada Lior.
"Dia akan melayani Anda dengan baik. Katakan saja apa pun yang Anda butuhkan, Sepupu."
"Baron." Suara tegas dari seorang pria di belakang Lior memotong ucapannya. "Jagalah ucapan Anda di hadapan Yang Mulia Duke."
Jasper terkekeh pelan sambil mengusap tengkuknya.
"Ah, aku lupa." Ia membungkukkan badan sekadarnya. "Maaf, Yang Mulia Duke."
Lior bahkan tidak menoleh dan Jasper kembali tersenyum tipis.
"Tapi karena sekarang Anda seorang buronan, kurasa tidak perlu terlalu formal."
Raut wajah pria di belakang Lior langsung berubah. Ia hendak membalas, tetapi Lior mengangkat satu tangan, menghentikannya.
"Jasper."
Suara Lior terdengar rendah.
"Ingat posisimu."
Senyum di wajah Jasper menghilang seketika.
"Baiklah." Ia menghela napas pendek, lalu menoleh kepada Anastasia. "Aku pergi dulu. Semua urusan di sini kuserahkan pada istriku."
Tanpa menunggu jawaban, Jasper merangkul Mary dan berjalan keluar meninggalkan ruangan.
Pintu pun tertutup.
Keheningan langsung memenuhi ruangan itu.
Lior menatap Anastasia,
"Jadi... sampai kapan kau akan terus berdiri di sana, Baroness?"
Anastasia tersentak.
"Maaf, Yang Mulia." Ia segera membungkukkan badan. "Masalah rumah tangga saya membuat saya kehilangan fokus. Saya akan memanggil kepala pelayan untuk melayani Anda."
Ia berbalik hendak keluar. Namun baru satu langkah, sebuah bayangan menghalangi jalannya. Anastasia terpaksa berhenti. Perlahan ia mengangkat kepala dan mendapati Lior telah berdiri tepat di hadapannya.
"Apa kau keberatan aku berada di sini?" tanyanya datar.
Anastasia menggigit bibir bawahnya sesaat.
"Kalau saya boleh jujur..." Ia menarik napas pelan. "Ya, saya keberatan."
Lior tidak menunjukkan perubahan ekspresi.
"Hanya karena aku seorang buronan?"
Anastasia mengangguk pelan.
"Benar."
Sebelum Lior sempat berbicara, pria yang sejak tadi berdiri di belakangnya melangkah maju.
"Yang Mulia Duke belum terbukti bersalah, Baroness."
Anastasia menoleh kepadanya. Baru kini ia mengingat wajah pria itu. Haret, ajudan sekaligus tangan kanan Duke Eckart.
"Jika kebenaran terungkap nanti," lanjut Haret dengan nada dingin, "Anda akan menyesali perlakuan Anda hari ini."
Anastasia menggeleng pelan.
"Saya tidak bermaksud memperlakukan Yang Mulia Duke dengan buruk." Tatapannya kembali beralih kepada Lior. "Saya hanya berbicara sebagai seseorang yang hidup di Kekaisaran ini."
Haret terdiam. Bahkan Lior tampak sedikit tertarik mendengar jawabannya.
"Kalau Anda berada di posisi saya... apakah Anda tidak akan keberatan menampung seseorang yang sedang diburu Kekaisaran? Seseorang yang bisa membuat seluruh penghuni kastil ini berakhir di tiang gantungan jika keberadaannya diketahui Kaisar?" Tambah Anastasia.
Lior mengangkat sebelah alisnya karena awaban itu rupanya berada di luar dugaannya. Di belakangnya, Haret pun tampak sama tertegunnya. Ia sempat mengira Baroness Silas akan membela diri atau mencari alasan, tetapi wanita itu justru menjawab dengan kejujuran yang begitu lugas.
Lior memandang Anastasia tanpa mengalihkan tatapannya.
"Kalau nanti terbukti bahwa aku tidak bersalah," ucapnya tenang, "kau akan menerima hadiah kehormatan, Baroness."
Anastasia kembali menundukkan kepala.
"Maaf, Yang Mulia." Suaranya terdengar lembut, tetapi mantap. "Saya tidak mencari hadiah ataupun penghargaan."
Ia mengangkat wajahnya perlahan.
"Saya hanya berusaha bertahan hidup."
Lior terdiam. Begitu pula Haret.
Tak ada yang membantah perkataannya, karena semua orang tahu apa yang dikatakan Anastasia adalah kenyataan. Di dalam Kekaisaran, siapa pun yang terbukti membantu seorang buronan akan dihukum mati tanpa pengecualian.
Anastasia kembali membungkukkan badan.
"Kalau begitu, izinkan saya memanggil kepala pelayan untuk melayani Yang Mulia." Ia mundur selangkah. "Permisi."
Baru saja ia hendak melangkah, suara Lior kembali menghentikannya.
"Mengapa harus kepala pelayan?"
Anastasia menghentikan langkahnya.
Lior menatapnya lurus.
"Bukankah kau saja yang bisa melayaniku, Baroness?"
Anastasia menghentikan langkahnya. Ia menarik napas pelan lalu membalikkan badan menghadap Lior.
"Yang Mulia..." katanya lirih. "Berikan saya sedikit waktu untuk menyelesaikan masalah saya."
Tatapan Lior tetap datar.
"Masalahmu?" Ia terkekeh pelan, tetapi sama sekali tidak terdengar geli. "Kau tidak akan pernah bisa menyelesaikan masalah dengan seorang bajingan."
Anastasia terdiam sebentar dan hanya menatap pria di hadapannya, seolah memastikan apakah ia tidak salah dengar.
"Maaf, Yang Mulia," ucapnya hati-hati. "Apa maksud Anda?"
Lior menyilangkan kedua lengannya di depan dada.
"Aku rasa..." katanya pelan, "tidak ada orang yang lebih mengenal Baron Jasper selain istrinya sendiri."
Anastasia terdiam, ia tidak bisa membantahnya karena selama ini Jasper memang bukan seseorang yang bisa diajak berbicara baik-baik. Setiap kali mereka berbeda pendapat, pria itu selalu memaksakan kehendaknya, sementara Anastasia memilih mengalah.
Bukan karena takut melainkan karena ia mencintainya.
Jasper menjadi semakin semena-mena. Ia terbiasa melihat Anastasia selalu mengalah, selalu menuruti apa pun yang diinginkannya, hingga akhirnya menganggap semua itu sebagai sesuatu yang wajar.
Anastasia tetap menggeleng pelan.
"Bagaimanapun juga..." bisiknya, "dia tetap suami saya."
Kalimat Anastasia menggantung di udara. Ruangan yang semula dipenuhi suara dentingan peralatan makan mendadak sunyi. Bahkan para pelayan yang berdiri di sisi ruangan saling melirik, tidak berani mengangkat kepala.Jasper perlahan meletakkan sendok yang berada di tangannya, tatapannya mengeras."Ana."Nada suaranya rendah, tetapi cukup membuat siapa pun yang mendengarnya tahu bahwa kesabarannya mulai habis."Aku sudah memperingatkanmu semalam."Anastasia tidak menjawab. Ia hanya memandang pria di hadapannya tanpa mengubah ekspresinya sedikit pun."Jangan membuat masalah."Mendengar kalimat itu, Anastasia hampir tertawa. Membuat masalah?Sejak ia memasuki ruang makan, ia bahkan belum melakukan apa pun. Ia hanya berdiri beberapa saat, lalu mengucapkan satu kalimat yang bahkan tidak mengandung makian.Di mata Jasper dirinyalah yang selalu menjadi sumber masalah. Sebelum Anastasia sempat membuka mulut, Mary lebih dulu menarik pelan lengan baju Jasper."Baron..." Suara wanita itu begitu lem
Anastasia menatap Lior dengan wajah yang dipenuhi kebingungan. Beberapa saat ia hanya terdiam, mencoba memahami kalimat yang baru saja didengarnya. Namun semakin dipikirkan, semakin ia merasa tidak mengerti."Yang Mulia..." Suaranya terdengar pelan, hampir seperti bisikan. "Apa maksud ucapan Anda?"Lior mengalihkan pandangannya kepadanya. Tatapan abu-abu itu tetap tenang, nyaris tanpa riak, seolah pertanyaan Anastasia adalah sesuatu yang seharusnya tidak perlu dijelaskan."Aku rasa," ucapnya datar, "kau tidak cukup bodoh untuk tidak memahami apa yang baru saja kukatakan."Anastasia menggigit bibir bawahnya."Bukan begitu." Ia menggeleng pelan. "Saya benar-benar tidak mengerti."Tatapannya dipenuhi kebingungan yang tulus."Yang Mulia mengatakan saya harus membalasnya dengan cara yang sama." Ia berhenti sejenak, lalu melanjutkan dengan suara yang semakin lirih. "Tapi... saya tidak tahu apa maksudnya."Keheningan menyelimuti koridor.Lior memandang wanita di hadapannya beberapa saat. Tak
Anastasia berdiri membeku ketika Jasper kembali membuka suara. Kalimat itu membuat dunia seolah berhenti berputar. Anastasia menatap Jasper tanpa berkedip, ia bahkan merasa pendengarannya bermasalah.Menjadi... ibu bagi bayi itu?Bayi hasil perselingkuhan suaminya sendiri?"Apa..." Suaranya tercekat. "Apa maksudmu?"Jasper menghela napas panjang, seolah apa yang baru saja diucapkannya adalah sesuatu yang sangat masuk akal."Ana, dengarkan aku."Ia melangkah mendekat."Aku mengakui aku salah. Aku memang menyembunyikan hubungan ini darimu." Nada suaranya terdengar tenang, nyaris tanpa penyesalan. "Tapi kau juga harus mengerti..."Ia berhenti sejenak sebelum melanjutkan."Aku seorang pria."Anastasia hanya memandangnya. Matanya mulai memerah, tetapi ia tetap memaksa dirinya untuk mendengarkan."Di dunia ini," lanjut Jasper, "lelaki mana yang hanya memiliki satu wanita? Terlebih seorang bangsawan."Ia tersenyum tipis, seolah sedang menjelaskan sesuatu yang wajar."Memiliki lebih dari satu
Di balik pintu, Anastasia menutup kedua matanya. Selama ini ia selalu berpikir bahwa pernikahan mereka memang dingin karena Jasper sulit mengungkapkan perasaannya. Sekarang, ia akhirnya menyadari kenyataan yang selama ini enggan ia terima. Bukan Jasper yang tidak pandai mencintai. Hanya saja pria itu tidak pernah mencintainya.Anastasia tidak sanggup mendengar satu kata pun lagi. Tangannya yang sejak tadi menggantung di udara akhirnya mendorong daun pintu hingga terbuka lebar.Brak!Suara benturan kayu memenuhi ruangan, memutus percakapan hangat yang baru saja terjadi di antara Jasper dan Mary.Kedua orang itu sontak menoleh. Mary tampak terkejut hingga refleks melepaskan pelukan dari tubuh Jasper, sementara Jasper membeku sesaat ketika melihat siapa yang berdiri di ambang pintu.Anastasia.Wanita itu berdiri tegak dengan wajah pucat. Tatapannya menyapu keduanya perlahan sebelum berhenti pada Jasper."Jadi..." Suaranya begitu pelan hingga nyaris seperti bisikan. "Begitu rupanya."Kehe
Malam telah turun saat Anastasia keluar dari ruangan itu. Koridor-koridor panjang kini diterangi cahaya yang berkelip tenang, sementara seluruh penghuni kastil mulai kembali ke kamar masing-masing.Hanya satu orang yang masih berjalan tanpa tujuan yang pasti.Anastasia.Gaun panjangnya bergesekan pelan dengan lantai marmer setiap kali ia melangkah menuju Paviliun Timur. Wajahnya masih terlihat pucat sejak kejadian sore tadi, tetapi ia terus memaksakan dirinya untuk berjalan walaupun ucapan Lior masih terngiang di telinganya.Ia menggeleng pelan, seolah ingin mengusir suara itu dari kepalanya.Tidak.Bagaimanapun juga Jasper adalah suaminya. Pria yang telah ia cintai selama empat tahun. Mungkin... semua ini hanyalah kesalahpahaman. Mungkin masih ada penjelasan yang belum sempat ia dengarkan. Dengan keyakinan itulah Anastasia akhirnya berdiri di depan kamar yang berada di ujung Paviliun Timur.Ia mengangkat tangan untuk mengetuk pintu. Berbicara baik-baik dengan Jasper. Namun, sebelum b
Anastasia mematung, tatapannya beralih kepada Jasper yang kini kembali merangkul Mary, seolah tidak terjadi apa-apa."Ana," ucap Jasper santai. "Kalau sudah selesai melayani Duke, temui aku di Paviliun Timur."Anastasia mengerutkan kening.Melayani?Ia ingin membantah, tetapi tatapannya tanpa sengaja bertemu dengan Lior. Wajah pria itu tetap datar, namun sorot matanya yang dingin memperlihatkan bahwa kesabarannya sudah hampir habis.Jasper sama sekali tidak memedulikan kebingungan istrinya. Ia justru menoleh kepada Lior."Dia akan melayani Anda dengan baik. Katakan saja apa pun yang Anda butuhkan, Sepupu.""Baron." Suara tegas dari seorang pria di belakang Lior memotong ucapannya. "Jagalah ucapan Anda di hadapan Yang Mulia Duke."Jasper terkekeh pelan sambil mengusap tengkuknya."Ah, aku lupa." Ia membungkukkan badan sekadarnya. "Maaf, Yang Mulia Duke."Lior bahkan tidak menoleh dan Jasper kembali tersenyum tipis."Tapi karena sekarang Anda seorang buronan, kurasa tidak perlu terlalu







