Share

2- Dia Suami Saya.

Author: A Yunisa
last update publish date: 2026-07-14 06:47:53

Anastasia mematung, tatapannya beralih kepada Jasper yang kini kembali merangkul Mary, seolah tidak terjadi apa-apa.

"Ana," ucap Jasper santai. "Kalau sudah selesai melayani Duke, temui aku di Paviliun Timur."

Anastasia mengerutkan kening.

Melayani?

Ia ingin membantah, tetapi tatapannya tanpa sengaja bertemu dengan Lior. Wajah pria itu tetap datar, namun sorot matanya yang dingin memperlihatkan bahwa kesabarannya sudah hampir habis.

Jasper sama sekali tidak memedulikan kebingungan istrinya. Ia justru menoleh kepada Lior.

"Dia akan melayani Anda dengan baik. Katakan saja apa pun yang Anda butuhkan, Sepupu."

"Baron." Suara tegas dari seorang pria di belakang Lior memotong ucapannya. "Jagalah ucapan Anda di hadapan Yang Mulia Duke."

Jasper terkekeh pelan sambil mengusap tengkuknya.

"Ah, aku lupa." Ia membungkukkan badan sekadarnya. "Maaf, Yang Mulia Duke."

Lior bahkan tidak menoleh dan Jasper kembali tersenyum tipis.

"Tapi karena sekarang Anda seorang buronan, kurasa tidak perlu terlalu formal."

Raut wajah pria di belakang Lior langsung berubah. Ia hendak membalas, tetapi Lior mengangkat satu tangan, menghentikannya.

"Jasper."

Suara Lior terdengar rendah.

"Ingat posisimu."

Senyum di wajah Jasper menghilang seketika.

"Baiklah." Ia menghela napas pendek, lalu menoleh kepada Anastasia. "Aku pergi dulu. Semua urusan di sini kuserahkan pada istriku."

Tanpa menunggu jawaban, Jasper merangkul Mary dan berjalan keluar meninggalkan ruangan.

Pintu pun tertutup.

Keheningan langsung memenuhi ruangan itu.

Lior menatap Anastasia,

"Jadi... sampai kapan kau akan terus berdiri di sana, Baroness?"

Anastasia tersentak.

"Maaf, Yang Mulia." Ia segera membungkukkan badan. "Masalah rumah tangga saya membuat saya kehilangan fokus. Saya akan memanggil kepala pelayan untuk melayani Anda."

Ia berbalik hendak keluar. Namun baru satu langkah, sebuah bayangan menghalangi jalannya. Anastasia terpaksa berhenti. Perlahan ia mengangkat kepala dan mendapati Lior telah berdiri tepat di hadapannya.

"Apa kau keberatan aku berada di sini?" tanyanya datar.

Anastasia menggigit bibir bawahnya sesaat.

"Kalau saya boleh jujur..." Ia menarik napas pelan. "Ya, saya keberatan."

Lior tidak menunjukkan perubahan ekspresi.

"Hanya karena aku seorang buronan?"

Anastasia mengangguk pelan.

"Benar."

Sebelum Lior sempat berbicara, pria yang sejak tadi berdiri di belakangnya melangkah maju.

"Yang Mulia Duke belum terbukti bersalah, Baroness."

Anastasia menoleh kepadanya. Baru kini ia mengingat wajah pria itu. Haret, ajudan sekaligus tangan kanan Duke Eckart.

"Jika kebenaran terungkap nanti," lanjut Haret dengan nada dingin, "Anda akan menyesali perlakuan Anda hari ini."

Anastasia menggeleng pelan.

"Saya tidak bermaksud memperlakukan Yang Mulia Duke dengan buruk." Tatapannya kembali beralih kepada Lior. "Saya hanya berbicara sebagai seseorang yang hidup di Kekaisaran ini."

Haret terdiam. Bahkan Lior tampak sedikit tertarik mendengar jawabannya.

"Kalau Anda berada di posisi saya... apakah Anda tidak akan keberatan menampung seseorang yang sedang diburu Kekaisaran? Seseorang yang bisa membuat seluruh penghuni kastil ini berakhir di tiang gantungan jika keberadaannya diketahui Kaisar?" Tambah Anastasia.

Lior mengangkat sebelah alisnya karena awaban itu rupanya berada di luar dugaannya. Di belakangnya, Haret pun tampak sama tertegunnya. Ia sempat mengira Baroness Silas akan membela diri atau mencari alasan, tetapi wanita itu justru menjawab dengan kejujuran yang begitu lugas.

Lior memandang Anastasia tanpa mengalihkan tatapannya.

"Kalau nanti terbukti bahwa aku tidak bersalah," ucapnya tenang, "kau akan menerima hadiah kehormatan, Baroness."

Anastasia kembali menundukkan kepala.

"Maaf, Yang Mulia." Suaranya terdengar lembut, tetapi mantap. "Saya tidak mencari hadiah ataupun penghargaan."

Ia mengangkat wajahnya perlahan.

"Saya hanya berusaha bertahan hidup."

Lior terdiam. Begitu pula Haret.

Tak ada yang membantah perkataannya, karena semua orang tahu apa yang dikatakan Anastasia adalah kenyataan. Di dalam Kekaisaran, siapa pun yang terbukti membantu seorang buronan akan dihukum mati tanpa pengecualian.

Anastasia kembali membungkukkan badan.

"Kalau begitu, izinkan saya memanggil kepala pelayan untuk melayani Yang Mulia." Ia mundur selangkah. "Permisi."

Baru saja ia hendak melangkah, suara Lior kembali menghentikannya.

"Mengapa harus kepala pelayan?"

Anastasia menghentikan langkahnya.

Lior menatapnya lurus.

"Bukankah kau saja yang bisa melayaniku, Baroness?"

Anastasia menghentikan langkahnya. Ia menarik napas pelan lalu membalikkan badan menghadap Lior.

"Yang Mulia..." katanya lirih. "Berikan saya sedikit waktu untuk menyelesaikan masalah saya."

Tatapan Lior tetap datar.

"Masalahmu?" Ia terkekeh pelan, tetapi sama sekali tidak terdengar geli. "Kau tidak akan pernah bisa menyelesaikan masalah dengan seorang bajingan."

Anastasia terdiam sebentar dan  hanya menatap pria di hadapannya, seolah memastikan apakah ia tidak salah dengar.

"Maaf, Yang Mulia," ucapnya hati-hati. "Apa maksud Anda?"

Lior menyilangkan kedua lengannya di depan dada.

"Aku rasa..." katanya pelan, "tidak ada orang yang lebih mengenal Baron Jasper selain istrinya sendiri."

Anastasia terdiam, ia tidak bisa membantahnya karena selama ini Jasper memang bukan seseorang yang bisa diajak berbicara baik-baik. Setiap kali mereka berbeda pendapat, pria itu selalu memaksakan kehendaknya, sementara Anastasia memilih mengalah.

Bukan karena takut melainkan karena ia mencintainya.

Jasper menjadi semakin semena-mena. Ia terbiasa melihat Anastasia selalu mengalah, selalu menuruti apa pun yang diinginkannya, hingga akhirnya menganggap semua itu sebagai sesuatu yang wajar.

Anastasia tetap menggeleng pelan.

"Bagaimanapun juga..." bisiknya, "dia tetap suami saya."

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Sembunyi, Duke! Suamiku Datang   81- Ingin Mendengar Semuanya.

    Lior turun dari kereta dan Anastasia hanya bisa menatap punggungnya beberapa saat. Ia kemudian menarik napas panjang dan mengikuti pria itu turun.Entah apa sebenarnya isi perjanjian antara Lior dan Ansel. Anastasia mulai merasa bahwa pernikahannya dengan Jasper mungkin hanyalah sebagian kecil dari permainan yang jauh lebih besar.Dan tanpa ia sadari, dirinya telah berdiri tepat di tengah-tengahnya.Pertemuan itu akhirnya terjadi di salah satu ruang pribadi milik keluarga Korvath yang berada tidak jauh dari pusat kota. Tempat tersebut sengaja dipilih Ansel karena lebih sepi dan tidak banyak orang yang mengetahui keberadaannya. Bahkan para pelayan yang berada di bangunan itu hanya orang-orang yang sudah lama bekerja untuk keluarga Korvath dan dapat dipercaya.Namun, begitu Anastasia membuka pintu dan masuk bersama Lior, suasana ruangan langsung berubah.Ansel yang sedang berdiri di belakang meja kerjanya mengangkat wajah. Ia awalnya hanya melihat Anastasia dan mengira adiknya datang s

  • Sembunyi, Duke! Suamiku Datang   80- Rencana Mendadak.

    Anastasia sudah lebih dulu berada di dalam kereta ketika Stevi akhirnya ikut naik. Karena kereta itu memang disiapkan untuk perjalanan Anastasia dan tidak mungkin menyiapkan kereta lain hanya untuk seorang pelayan, Stevi tidak punya pilihan selain ikut dalam kereta yang sama. Ia segera duduk di samping Anastasia, sementara Lior tetap berada di bangku yang berseberangan dengan mereka.Stevi sempat melirik Lior dengan canggung sebelum menundukkan kepala. Jelas gadis itu masih merasa aneh karena tiba-tiba harus berada dalam satu kereta dengan Duke yang selama ini hanya berani ia lihat dari jauh.Anastasia sendiri juga merasa sedikit tidak nyaman. Ia menatap Lior,"Yang Mulia, karena Anda tiba-tiba memutuskan untuk ikut, saya harap Anda tidak keberatan jika Stevi tetap berada di dalam kereta."Lior mengalihkan pandangan kepada Stevi yang duduk di samping Anastasia. Ia tidak menunjukkan keberatan sedikit pun."Tidak masalah."Jawabannya singkat dan tenang.Anastasia mengangguk. "Terima kas

  • Sembunyi, Duke! Suamiku Datang   79- Ikut Pergi.

    Jasper tidak menjawab. Anastasia pun berbalik dan pergi menuju ruang makan. Langkahnya tetap tenang, seolah percakapan mereka memang sudah selesai.Jasper masih berdiri di lorong, memperhatikan punggung Anastasia hingga menghilang. Tangannya mengepal, tetapi kali ini bukan karena marah. Untuk pertama kalinya, ia mulai merasa khawatir.Selama ini, Jasper yakin Anastasia akan selalu bertahan. Namun wanita itu sudah tidak seperti dulu. Ia tidak lagi memohon, menangis, atau takut kehilangan pernikahan mereka. Bahkan ancaman perceraian tadi terdengar seperti keputusan yang benar-benar sudah dipikirkannya.Sementara itu, Anastasia duduk di ruang makan dan meminta teh seperti biasa. Tangannya memang sedikit dingin, tetapi wajahnya tetap tenang, ia merasa telah mengatakan apa yang seharusnya dikatakannya sejak awal. Jika Jasper kembali melewati batas, kali ini Anastasia tidak akan hanya mengancam.Ia benar-benar akan pergi.***Siang itu, setelah menyelesaikan beberapa urusan di dalam kastil,

  • Sembunyi, Duke! Suamiku Datang   78- Gugatan Perceraian.

    Setelah mengatakan itu, Anastasia kembali melangkahkan kakinya menuju ruang makan. Ia tidak mempercepat langkah, juga tidak menoleh lagi. Seolah-olah percakapan dengan Jasper telah selesai dan tidak ada alasan baginya untuk berdiri lebih lama di lorong itu.Namun baru beberapa langkah, suara Jasper kembali terdengar dari belakang."Ana."Anastasia berhenti. Ia menutup mata sejenak sebelum berbalik. Wajahnya tetap tenang ketika menatap Jasper yang masih berdiri di tempat yang sama. Pria itu tampak jauh lebih tegang dibandingkan beberapa saat sebelumnya. Tangannya masih mengepal di sisi tubuhnya, sementara rahangnya mengeras menahan amarah."Apa lagi?""Kau benar-benar akan terus bersikap seperti ini kepadaku?"Anastasia menatapnya tanpa ekspresi."Seperti apa?""Seolah-olah aku bukan suamimu."Anastasia terdiam beberapa detik. Lalu ia menarik napas perlahan."Karena kau sendiri yang membuatku sulit menganggapmu sebagai suami."Jasper mengeraskan rahangnya."Aku sudah mengatakan bahwa a

  • Sembunyi, Duke! Suamiku Datang   77- Hubungan Di Atas Kertas.

    Stevi mengangguk."Baik."Anastasia kembali menatap surat dari Ansel yang masih berada di atas meja. Besok ia harus pergi, dan apa pun yang menunggunya di luar sana mungkin akan mengubah banyak hal, ia hanya bisa berharap rencana Stevi tidak berubah menjadi masalah baru sebelum ia sempat bertemu dengan kakaknya.Sementara di luar kamar, suara langkah pelayan masih terdengar samar di sepanjang koridor kastil. Tidak seorang pun tahu bahwa di balik pintu itu, Anastasia sedang mempersiapkan sesuatu yang harus dilakukan secara diam-diam.I mulai merasa bahwa masalah yang dihadapinya tidak lagi hanya tentang Jasper dan Mary. Ada sesuatu yang jauh lebih besar sedang bergerak di belakang semua ini.***Pagi itu, Anastasia baru saja keluar dari kamarnya ketika ia bertemu Jasper di lorong menuju ruang makan. Ia sebenarnya tidak ingin berlama-lama berada di sana. Setelah malam yang melelahkan, ia hanya ingin sarapan dengan tenang lalu menjalani hari seperti biasa. Namun, langkahnya terhenti keti

  • Sembunyi, Duke! Suamiku Datang   76- Sedikit Pelajaran.

    Anastasia akhirnya berdiri. Ia tidak mengatakan apa-apa lagi kepada Lior. Ia hanya merapikan ujung gaunnya, menundukkan kepala sebagai tanda hormat, lalu meninggalkan meja makan. Malam itu, ia tidak peduli apakah Lior masih ingin berbicara dengannya atau tidak. Rasanya ia sudah terlalu lelah untuk memikirkan semuanya.Begitu keluar dari Paviliun Barat, Anastasia berjalan kembali menuju kastil dengan langkah pelan. Udara malam terasa dingin, tetapi kepalanya justru terasa semakin penuh. Perkataan Lior terus terngiang di benaknya, begitu pula kejadian beberapa jam sebelumnya. Jasper, perceraian, Mary, keluarganya, bahkan pertanyaan tentang Lior yang belum juga mampu ia jawab. Semuanya datang bersamaan hingga Anastasia tidak ingin memikirkan satu pun.Sesampainya di kamar, ia langsung masuk dan menutup pintu. Anastasia berdiri beberapa saat di tengah ruangan tanpa melakukan apa-apa. Tatapannya kosong, seolah tubuhnya sudah berada di sana, tetapi pikirannya masih tertinggal jauh di belaka

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status