로그인
"Jangan di sini... Duke. Kalau suamiku melihat..."
Aku berusaha menjauh, tetapi lengannya yang melingkar di pinggangku justru menarikku kembali hingga tubuh kami nyaris tak menyisakan jarak.
"Biarkan dia lihat."
"Tapi—"
Kalimat itu terputus saat dahiku bersandar di dadanya. Napasku masih belum teratur, sementara jemariku tanpa sadar menggenggam erat kerah kemejanya yang kusut.
Ia menunduk, menatapku begitu lama. Tatapan itu seharusnya membuatku mundur. Namun, entah mengapa, aku justru kehilangan keberanian untuk melepaskan diri.
Di balik pintu kamar yang tertutup rapat, hanya ada kami berdua. Dan di saat itulah aku menyadari aku telah jatuh cinta pada pria yang paling tidak boleh kucintai.
***
"Dia hanya akan menjadi selir. Ana, berhentilah merajuk."
Anastasia—Baroness Silas perlahan membuka matanya, berusaha menerima kenyataan yang baru saja didengarnya. Di atas meja, selembar surat izin pengangkatan selir terbentang rapi, menunggu tanda tangannya.
Tatapannya beralih kepada pria yang berdiri di hadapannya Baron Jasper Silas—suaminya. Pria itu merangkul seorang wanita yang wajahnya tampak pucat dan lemah. Mantan pelayanya, Mary.
Butuh waktu beberapa saat bagi Anastasia untuk memahami apa yang sebenarnya terjadi. Pelayan yang menghilang tanpa kabar selama satu tahun itu ternyata ikut bersama Jasper ke medan perang. Dan kini, tepat di hari kepulangan suaminya, wanita itu kembali dan mengangdung benih Silas.
Anastasia tertawa dan terdengar lebih menyedihkan daripada tangisan.
"Aku menunggumu selama satu tahun, Jasper." Suaranya bergetar. "Kau meninggalkanku dialtar karena perang, lalu pulang membawa wanita yang mengandung anakmu... dan sekarang kau memaksaku menandatangani surat izin selir ini?"
Ekspresi Jasper tetap datar.
"Aku tidak ingin anakku dicap sebagai anak haram, Ana." Tatapannya dingin. "Jaga ucapanmu."
Anastasia menundukkan kepala. Ada begitu banyak pertanyaan yang ingin ia lontarkan, tetapi melihat sikap Jasper, ia tahu semua itu tidak akan mengubah apa pun.
Tiga tahun mereka adalah pasangan kekasih, satu tahun menjalani pernikahan. Rupanya, janji seumur hidup yang dulu diucapkan Jasper hanya bertahan selama empat tahun.
"Cepat tanda tangani." Jasper mengetukkan jarinya ke atas meja. "Aku tidak punya banyak waktu. Duke sedang menunggu di luar."
Anastasia mengangkat wajahnya perlahan.
"Masalah kita belum selesai, Jasper." Suaranya kini jauh lebih tenang. "Dan kau bahkan akan menyembunyikan seorang buronan perang di kastil ini?"
"Dia Duke Eckart. Sekaligus sepupuku." Jasper mengembuskan napas pendek. "Dan jangan lupa, kastil ini memang miliknya."
"Tapi dia sedang diburu oleh Kekaisaran."
"Itu bukan urusanmu." Jasper mulai kehilangan kesabaran. "Sekarang pilih. Tanda tangani surat itu... atau kita bercerai."
Bibir Anastasia terbuka, hendak membalas. Namun sebelum satu kata pun sempat keluar, pintu ruang kerja didorong hingga terbuka. Seorang pria bertubuh tinggi melangkah masuk tanpa tergesa. Kehadirannya saja sudah cukup membuat suasana ruangan berubah.
Jasper yang sejak tadi bersikap angkuh langsung menundukkan kepala. Mary ikut membungkuk dengan gugup.
"Mau sampai kapan kalian membuatku menunggu?" suara pria itu terdengar rendah, tetapi cukup untuk membuat siapa pun menahan napas.
"Maaf, Sepupu," ujar Jasper cepat. "Ada sedikit masalah."
Barulah Anastasia memberanikan diri mengangkat pandangannya, ia melihat wajah pria yang beberapa hari terakhir menjadi bahan pembicaraan seluruh kekaisaran.
Lior Frederick Eckart. Seorang duke yang pernah dielu-elukan sebagai pahlawan perang. Dan kini namanya tercatat sebagai buronan yang sedang diburu langsung oleh Kaisar.
"Aku tidak peduli dengan masalah rumah tanggamu." Suara Lior terdengar dingin, nyaris tanpa emosi.
Jasper langsung terdiam. Mary yang sejak tadi bersembunyi di balik punggungnya ikut menahan napas, sementara Anastasia tanpa sadar menelan ludah. Matanya beralih sekilas ke arah Jasper, menunggu bagaimana pria itu akan menanggapi.
Lior melangkah beberapa langkah mendekat. Sorot matanya yang tajam menyapu ketiganya sebelum kembali berhenti pada Jasper.
"Aku tidak akan mengulanginya untuk kedua kali." Nada suaranya tetap datar, tetapi justru terdengar semakin mengintimidasi. "Cepat selesaikan urusanmu atau tak seorang pun di kastil ini akan selamat."
Ancaman itu membuat ruangan seketika membeku. Jasper mengepalkan rahangnya. Mary menundukkan kepala dengan wajah pucat, sedangkan Anastasia hanya bisa berdiri mematung, merasakan hawa dingin yang memenuhi seluruh ruangan.
Beberapa saat kemudian, Jasper menghela napas pelan sebelum menoleh kepada Anastasia.
"Kita lanjutkan pembicaraan ini nanti."
Tatapannya berubah dingin, seolah persoalan mereka bisa ditunda kapan saja.
"Sekarang..." ucapnya singkat. "Layani Duke."
Kalimat Anastasia menggantung di udara. Ruangan yang semula dipenuhi suara dentingan peralatan makan mendadak sunyi. Bahkan para pelayan yang berdiri di sisi ruangan saling melirik, tidak berani mengangkat kepala.Jasper perlahan meletakkan sendok yang berada di tangannya, tatapannya mengeras."Ana."Nada suaranya rendah, tetapi cukup membuat siapa pun yang mendengarnya tahu bahwa kesabarannya mulai habis."Aku sudah memperingatkanmu semalam."Anastasia tidak menjawab. Ia hanya memandang pria di hadapannya tanpa mengubah ekspresinya sedikit pun."Jangan membuat masalah."Mendengar kalimat itu, Anastasia hampir tertawa. Membuat masalah?Sejak ia memasuki ruang makan, ia bahkan belum melakukan apa pun. Ia hanya berdiri beberapa saat, lalu mengucapkan satu kalimat yang bahkan tidak mengandung makian.Di mata Jasper dirinyalah yang selalu menjadi sumber masalah. Sebelum Anastasia sempat membuka mulut, Mary lebih dulu menarik pelan lengan baju Jasper."Baron..." Suara wanita itu begitu lem
Anastasia menatap Lior dengan wajah yang dipenuhi kebingungan. Beberapa saat ia hanya terdiam, mencoba memahami kalimat yang baru saja didengarnya. Namun semakin dipikirkan, semakin ia merasa tidak mengerti."Yang Mulia..." Suaranya terdengar pelan, hampir seperti bisikan. "Apa maksud ucapan Anda?"Lior mengalihkan pandangannya kepadanya. Tatapan abu-abu itu tetap tenang, nyaris tanpa riak, seolah pertanyaan Anastasia adalah sesuatu yang seharusnya tidak perlu dijelaskan."Aku rasa," ucapnya datar, "kau tidak cukup bodoh untuk tidak memahami apa yang baru saja kukatakan."Anastasia menggigit bibir bawahnya."Bukan begitu." Ia menggeleng pelan. "Saya benar-benar tidak mengerti."Tatapannya dipenuhi kebingungan yang tulus."Yang Mulia mengatakan saya harus membalasnya dengan cara yang sama." Ia berhenti sejenak, lalu melanjutkan dengan suara yang semakin lirih. "Tapi... saya tidak tahu apa maksudnya."Keheningan menyelimuti koridor.Lior memandang wanita di hadapannya beberapa saat. Tak
Anastasia berdiri membeku ketika Jasper kembali membuka suara. Kalimat itu membuat dunia seolah berhenti berputar. Anastasia menatap Jasper tanpa berkedip, ia bahkan merasa pendengarannya bermasalah.Menjadi... ibu bagi bayi itu?Bayi hasil perselingkuhan suaminya sendiri?"Apa..." Suaranya tercekat. "Apa maksudmu?"Jasper menghela napas panjang, seolah apa yang baru saja diucapkannya adalah sesuatu yang sangat masuk akal."Ana, dengarkan aku."Ia melangkah mendekat."Aku mengakui aku salah. Aku memang menyembunyikan hubungan ini darimu." Nada suaranya terdengar tenang, nyaris tanpa penyesalan. "Tapi kau juga harus mengerti..."Ia berhenti sejenak sebelum melanjutkan."Aku seorang pria."Anastasia hanya memandangnya. Matanya mulai memerah, tetapi ia tetap memaksa dirinya untuk mendengarkan."Di dunia ini," lanjut Jasper, "lelaki mana yang hanya memiliki satu wanita? Terlebih seorang bangsawan."Ia tersenyum tipis, seolah sedang menjelaskan sesuatu yang wajar."Memiliki lebih dari satu
Di balik pintu, Anastasia menutup kedua matanya. Selama ini ia selalu berpikir bahwa pernikahan mereka memang dingin karena Jasper sulit mengungkapkan perasaannya. Sekarang, ia akhirnya menyadari kenyataan yang selama ini enggan ia terima. Bukan Jasper yang tidak pandai mencintai. Hanya saja pria itu tidak pernah mencintainya.Anastasia tidak sanggup mendengar satu kata pun lagi. Tangannya yang sejak tadi menggantung di udara akhirnya mendorong daun pintu hingga terbuka lebar.Brak!Suara benturan kayu memenuhi ruangan, memutus percakapan hangat yang baru saja terjadi di antara Jasper dan Mary.Kedua orang itu sontak menoleh. Mary tampak terkejut hingga refleks melepaskan pelukan dari tubuh Jasper, sementara Jasper membeku sesaat ketika melihat siapa yang berdiri di ambang pintu.Anastasia.Wanita itu berdiri tegak dengan wajah pucat. Tatapannya menyapu keduanya perlahan sebelum berhenti pada Jasper."Jadi..." Suaranya begitu pelan hingga nyaris seperti bisikan. "Begitu rupanya."Kehe
Malam telah turun saat Anastasia keluar dari ruangan itu. Koridor-koridor panjang kini diterangi cahaya yang berkelip tenang, sementara seluruh penghuni kastil mulai kembali ke kamar masing-masing.Hanya satu orang yang masih berjalan tanpa tujuan yang pasti.Anastasia.Gaun panjangnya bergesekan pelan dengan lantai marmer setiap kali ia melangkah menuju Paviliun Timur. Wajahnya masih terlihat pucat sejak kejadian sore tadi, tetapi ia terus memaksakan dirinya untuk berjalan walaupun ucapan Lior masih terngiang di telinganya.Ia menggeleng pelan, seolah ingin mengusir suara itu dari kepalanya.Tidak.Bagaimanapun juga Jasper adalah suaminya. Pria yang telah ia cintai selama empat tahun. Mungkin... semua ini hanyalah kesalahpahaman. Mungkin masih ada penjelasan yang belum sempat ia dengarkan. Dengan keyakinan itulah Anastasia akhirnya berdiri di depan kamar yang berada di ujung Paviliun Timur.Ia mengangkat tangan untuk mengetuk pintu. Berbicara baik-baik dengan Jasper. Namun, sebelum b
Anastasia mematung, tatapannya beralih kepada Jasper yang kini kembali merangkul Mary, seolah tidak terjadi apa-apa."Ana," ucap Jasper santai. "Kalau sudah selesai melayani Duke, temui aku di Paviliun Timur."Anastasia mengerutkan kening.Melayani?Ia ingin membantah, tetapi tatapannya tanpa sengaja bertemu dengan Lior. Wajah pria itu tetap datar, namun sorot matanya yang dingin memperlihatkan bahwa kesabarannya sudah hampir habis.Jasper sama sekali tidak memedulikan kebingungan istrinya. Ia justru menoleh kepada Lior."Dia akan melayani Anda dengan baik. Katakan saja apa pun yang Anda butuhkan, Sepupu.""Baron." Suara tegas dari seorang pria di belakang Lior memotong ucapannya. "Jagalah ucapan Anda di hadapan Yang Mulia Duke."Jasper terkekeh pelan sambil mengusap tengkuknya."Ah, aku lupa." Ia membungkukkan badan sekadarnya. "Maaf, Yang Mulia Duke."Lior bahkan tidak menoleh dan Jasper kembali tersenyum tipis."Tapi karena sekarang Anda seorang buronan, kurasa tidak perlu terlalu







