MasukTatapan Lior tidak berubah, Anastasia merasa pria itu sedang memperhatikannya lebih lama dari sebelumnya."Kenapa?"Anastasia mengerutkan kening."Kenapa apa?""Kenapa kau ingin membantuku?"Pertanyaan itu membuat Anastasia kembali diam.Ia sebenarnya bisa memberikan banyak alasan. Karena Jasper menginginkannya mati. Karena Lior mungkin tidak bersalah. Karena keberadaannya berkaitan dengan rencana Jasper. Karena Ansel mungkin bisa mendapatkan keuntungan jika Lior selamat.Tetapi entah mengapa, tidak satu pun jawaban itu terasa tepat untuk dikatakan sekarang."Karena saya tidak ingin melihat seseorang mati hanya karena saya tahu ada cara untuk menyelamatkannya." Jawab Anastasia.Lior tidak menjawab. Ia hanya menatap Anastasia beberapa saat, lalu kembali melangkah dan Anastasia mengikutinya."Jangan membicarakan tempat itu kepada siapa pun." Ucap Lior akhirnya.Anastasia sedikit terkejut."Yang Mulia?""Aku akan mempertimbangkannya.""Anastasia."Anastasia mengangkat wajah.Lior menoleh
Mereka meninggalkan kandang babi dan berjalan kembali menuju bangunan utama. Haret masih berada beberapa langkah di belakang mereka sambil membawa babi yang tadi dipilih oleh para pengurus. Sesekali hewan itu meronta dan membuat Haret harus menarik talinya lebih kuat.Setelah berjalan cukup jauh dari kandang, Haret akhirnya bertanya,"Yang Mulia, babi ini harus saya bawa ke mana?"Lior tidak berhenti berjalan. Ia hanya melirik sekilas ke belakang,"Bawa pergi."Haret mengernyit. "Ke mana?""Ke tempat orang-orang yang membutuhkan."Langkah Haret sedikit melambat. Anastasia yang berjalan di sisi Lior juga menoleh kepadanya."Ada banyak keluarga miskin yang bahkan tidak memiliki cukup makanan untuk hari ini. Berikan kepada mereka." Ucap Lior lagi.Haret terdiam beberapa saat. Ia tampak ingin mengatakan sesuatu, tetapi akhirnya memilih menyampaikan kekhawatirannya."Kalau sampai diketahui bahwa babi itu berasal dari kediaman Baron, bukankah masalahnya justru akan bertambah?"Anastasia men
Para pengurus segera bergerak setelah menerima perintah Anastasia. Saat perhatian mereka teralihkan, Anastasia diam-diam mengeluarkan sisa makanan dari kantong di balik gaunnya dan memasukkannya ke tempat makan babi.Beberapa babi langsung mendekat dan melahapnya. Anastasia membeku. Ia tahu babi bisa memakan hampir apa saja, tetapi tetap saja melihat makanan yang sebelumnya disiapkan untuk Lior disantap oleh babi membuat perutnya terasa mual."Wah..."Anastasia segera memalingkan wajah. Rasa mual naik begitu cepat sampai ia harus menutup mulut dan membungkuk sedikit. Setelah beberapa saat, ia akhirnya muntah di sisi kandang.Ia mengusap bibirnya dengan sapu tangan dan menghela napas panjang."Menjijikkan..."Ia tahu makanan itu sebenarnya tidak berbeda dengan makanan lain. Ia juga tahu tidak ada alasan untuk merasa jijik hanya karena babi memakannya. Namun, melihatnya secara langsung adalah hal yang berbeda.Anastasia menarik napas beberapa kali sampai rasa mualnya berkurang.Setelah
Anastasia menunduk sebentar, tapi bukan karena malu. Ia hanya sedang menahan napas.Baru sekarang ia menyadari bahwa aroma dari kantong makanan yang disembunyikannya memang mulai tercium. Dan Mary, dengan hidungnya yang terlalu peka terhadap kesempatan untuk menghina orang lain, telah menemukannya lebih cepat daripada yang ia duga.Anastasia mengangkat wajah kembali. Tatapannya tenang, tetapi ada sesuatu yang berubah di dalamnya."Begitu rupanya."Mary mengangkat alis."Apa?"Anastasia memandangnya sejenak."Aku kira kau sedang membicarakan sesuatu yang penting."Senyum Mary perlahan menghilang. Anastasia melanjutkan langkahnya melewati wanita itu, seolah percakapan tersebut sudah selesai. Namun, setelah melewati beberapa anak tangga, ia berhenti dan menoleh sedikit."Oh, Mary."Mary menatapnya dengan wajah tidak senang dan Anastasia tersenyum tipis."Kalau kau benar-benar merasa terganggu dengan baunya, sebaiknya jangan terlalu dekat."Mary mengerutkan dahi. Anastasia menatap perut w
Stevi langsung menutup mulut, ekspresi wajahnya jelas menunjukkan bahwa rasa penasarannya belum hilang. Anastasia berjalan menuju meja rias dan duduk di sana. Ia mengambil kipas kecil di atas meja, lalu mulai mengipasi wajahnya sendiri.Stevi yang melihatnya hanya semakin bingung."Nyonya...""Apa?""Kalau memang panas, mengapa wajah Anda baru merah setelah dari Pavilion barat?"Tangan Anastasia berhenti. Ia menatap pantulan dirinya sendiri di cermin. Kemudian perlahan menoleh kepada Stevi."Stevi.""Ya?""Pergilah."Stevi menahan senyum."Baik, Nyonya."Gadis itu berbalik hendak pergi, tetapi sebelum sampai di pintu, ia sempat melirik Anastasia sekali lagi.Anastasia masih mengipasi wajahnya dengan cepat.Stevi akhirnya menundukkan kepala untuk menyembunyikan senyumnya. Sementara itu, Anastasia hanya bisa memejamkan mata. Ia benar-benar berharap tidak perlu bertemu Lior lagi hari ini. Setidaknya sampai wajahnya kembali normal.Setelah Stevi keluar dari kamar, Anastasia memastikan pin
Kalimat itu membuat Anastasia kehilangan kata-kata.Ia tahu kenyataan tersebut. Bahkan mungkin lebih dari siapa pun. Ia tahu Jasper telah membawa Mary pulang. Ia tahu Mary sedang mengandung. Ia tahu Jasper memperlakukan wanita itu sebagai seseorang yang memiliki tempat khusus di rumah mereka. Ia juga tahu dirinya sendiri tidak lagi dianggap sebagai satu-satunya wanita dalam kehidupan suaminya.Namun mendengar Lior mengatakannya secara langsung terasa berbeda. Tidak ada kemarahan dalam suara pria itu. Tidak ada pula nada menghibur atau membela Anastasia. Lior hanya menyebutkan kenyataan sebagaimana adanya.Anastasia menundukkan pandangan."Itu berbeda.""Bagian mana?"Anastasia kembali menatapnya.Lior tetap tenang."Kau masih istrinya. Begitu juga aku masih sepupunya."Anastasia tidak tahu apakah ia sedang memperingatkan dirinya atau justru sedang menjelaskan sesuatu."Yang Mulia..." Ia menarik napas panjang. "Apa yang Anda sarankan sebenarnya?"Lior terdiam sejenak."Aku sudah mengat







