Share

Semoga Cinta Kita Tetap Suci dan Tenang
Semoga Cinta Kita Tetap Suci dan Tenang
Author: Aurora

Bab 1

Author: Aurora
“Pak, aku mau mengajukan permohonan cerai.”

Musim gugur tahun 1983. Setelah empat tahun menikah, Melani Kusuma akhirnya memutuskan untuk menutup lembaran pernikahannya.

Namun, petugas di hadapannya tampak mengira dia hanya bercanda.

“Mbak, cerai itu bukan cuma urusan sepihak,” ucapnya dengan nada serius.

Melani mengerti mengapa petugas tak menganggapnya serius.

Bagaimanapun, dia baru saja pulang dari kampus, masih mengenakan tas ransel dan sepatu kain. Penampilannya sama sekali tak terlihat seperti seorang perempuan yang sudah menikah.

Namun sebelum datang ke sini, dia sudah menyiapkan semuanya dengan matang.

“Tolong beri stempel pada surat permohonan cerai ini. Aku akan minta suamiku menandatanganinya,” kata Melani dengan tenang.

Dia dan Bagas tak memiliki anak. Dia juga tak menginginkan harta sedikit pun. Bahkan surat permohonannya pun dibuat sederhana, hanya dua halaman.

Rumah kecil dua lantai milik Keluarga Rahardian berdiri mencolok di sudut jalan. Begitu Melani melangkah masuk, bau menyengat langsung menyerbu indra penciumannya.

Dia menoleh mengikuti sumber bau itu.

Vania Rahayu dan Bagas ternyata sedang menyantap makanan lokal, tahu busuk.

Entah apa yang mereka bicarakan, tawa keduanya terdengar begitu lepas hingga tubuh mereka hampir saling bersandar.

Begitu menyadari kehadiran Melani, ekspresi Bagas seketika berubah. Dia kembali bersikap kaku dan formal.

“Mel, aku nggak tahu kalau kamu pulang, jadi cuma beli dua porsi. Kamu mau makan apa? Nanti aku belikan.”

“Nggak usah. Aku sudah makan tadi di kampus.”

Pandangan Melani sempat jatuh pada semangkuk mie beraroma tajam, lalu menunduk perlahan.

Selama bertahun-tahun, dia tak pernah berani menyentuh makanan berbau tajam, hanya karena Bagas pernah berkata tidak suka mencium bau tajam di rumah.

Melani mengeluarkan surat permohonan cerai dari tasnya dan menyodorkan sebuah bolpoin pada Bagas.

“Ada surat tanggung jawab keselamatan dari universitas yang harus ditandatangani wali keluarga. Tolong tanda tangani.”

Melani adalah seorang yatim piatu. Sebagai suaminya, Bagas memang satu-satunya keluarga yang tersisa baginya.

“Sini, biar kulihat dulu,” ucap Bagas sambil sedikit mengernyit dan mengulurkan tangan.

Melani tak menyangka Bagas akan memeriksanya dengan seksama.

Selama ini, pria itu tak pernah benar-benar memedulikannya. Terlebih sejak sebulan lalu, setelah Vania bercerai dan kembali ke tanah air. Perhatian Bagas padanya semakin menipis.

Melani menggenggam erat surat di tangannya. Tubuhnya menegang, ragu apakah ini saat yang tepat untuk menyerahkannya.

“Bagas? Kamu kenapa, sih?” sahut Vania dengan bibir merah merona. Dia menepuk pelan Bagas sambil menggoda, “Kamu serius banget di depan Melani, seperti mau menerkamnya saja. Lihat tuh, Melani jadi takut.”

“Eh, benaran?”

Kerutan di dahi Bagas langsung mengendur. Sorot matanya berubah hangat, disertai senyum tipis. Dia menerima berkas itu dari tangan Melani, lalu dengan satu gerakan menandatanganinya dengan rapi dan tegas di bagian yang ditunjuk.

Melani menghela napas lega.

Namun sesaat kemudian, rasa pahit perlahan menyusup di hatinya.

Bagas selalu bersikap hati-hati dan kaku di hadapannya. Begitu Vania ada di sisinya, semua kekakuan itu seolah lenyap, membuatnya terlihat begitu santai.

Padahal, dia hanya perlu memperhatikan sedikit lebih saksama untuk menyadari bahwa berkas itu bukanlah surat tanggung jawab keselamatan, melainkan surat permohonan cerai.

Namun Bagas justru sibuk menanggapi candaan Vania.

“Bagiku, Melani tetap kuanggap sebagai adik. Sebagai kakak, wajar kalau aku bersikap lebih tegas padanya,” ucapnya

Dianggap sebagai adik?

Gerakan Melani terhenti sejenak.

Dia teringat setiap malam ketika Bagas menindihnya, memeluknya erat hingga napasnya terengah. Ucapannya sama sekali bukan seperti itu.

Kedua orang tua Melani telah lama meninggal.

Setelah mengetahui kondisi keluarganya, Prof Rahardian, dosen yang paling dia hormati, kerap memintanya datang ke rumah dengan alasan membantu merapikan data penelitian, lalu mengajaknya makan bersama.

Dari pertemuan yang berulang itulah, Melani perlahan mengenal anak Prof Rahardian, Bagas.

Prof Rahardian adalah tokoh besar di dunia medis. Namun anak semata wayangnya justru tak memilih dunia medis.

Setelah lulus kuliah, Bagas mendirikan perusahaan majalah.

Belum genap berusia tiga puluh tahun, dia telah menjadi pemuda berprestasi yang kerap mendapat perhatian dari kalangan berpengaruh.

Wajah rupawan dan aura kekayaan yang melekat padanya membuat Bagas menjadi idaman banyak gadis muda. Melani pun tak terkecuali.

Sejak beberapa kali berinteraksi dengannya, hatinya mulai berdebar tanpa kendali.

Namun Melani sadar betul akan perbedaan status di antara mereka. Kekagumannya hanya dia simpan sendiri.

Bahkan saat duduk satu meja makan dengannya, Melani tak berani menatapnya terlalu lama.

Hingga empat tahun lalu.

Saat Prof Rahardian dan istrinya pergi dinas ke luar kota. Mereka meminta Melani datang ke rumah untuk mengantarkan sebuah dokumen.

Malam itu, ketika Melani hendak pergi, Bagas yang mabuk berat tiba-tiba masuk dan terhuyung ke pelukannya.

Segalanya terjadi terlalu mendadak. Melani setengah menolak, setengah pasrah, hingga akhirnya mereka terjerat di atas ranjang.

Dalam kekalutan itu, Bagas meninggalkan bekas gigitan di bahunya.

Dengan suara yang masih bercampur aroma alkohol, pria itu meluapkan kekesalannya, penuh rasa tak terima.

“Jelas-jelas kamu tahu aku menyukaimu!”

Belakangan, Melani baru mengetahui bahwa pada hari yang sama, Vania telah menikah kilat dengan seorang pria asing.

Namun saat itu, dia sama sekali tak mengetahui keberadaan Vania.

Dalam ketidaktahuannya, Melani justru diliputi kebahagiaan. Dia mengira cinta yang selama ini dipendam akhirnya terbalas. Dalam gelap, dia menyerahkan dirinya sepenuhnya, tanpa keraguan.

Keesokan harinya, istri Prof Rahardian pulang dan memergoki perbuatan tak pantas mereka.

Melihat kejadian itu, wanita itu langsung memaksa Bagas bertanggung jawab.

Begitu Melani cukup umur secara hukum, mereka pun segera menikah.

Empat tahun berlalu.

Karena Bagas sibuk bekerja sementara Melani tinggal di asrama, mereka jarang bertemu.

Sikap dingin Bagas selalu Melani anggap sebagai watak, bukan penolakan.

Dia mencurahkan segalanya, tanpa pernah menuntut balasan.

Sebulan lalu, Melani menggunakan uang beasiswanya untuk memesan restoran mewah di Jalan Cendrawasih demi merayakan ulang tahun pernikahan mereka yang keempat, sekaligus ulang tahunnya yang ke dua puluh empat.

Demi hari itu, dia membuat janji sejak setengah bulan sebelumnya, berkali-kali mengonfirmasi melalui sekretaris Bagas.

Bagas pun berjanji akan datang.

Namun malam itu, Melani menunggu hingga restoran tutup. Bagas tak pernah muncul.

Setelah diminta pulang oleh pelayan, Melani mendengar orang-orang membicarakan kecelakaan lalu lintas di sekitar sana.

Jantungnya langsung mencelos.

Dalam waktu dua jam, dia mendatangi semua rumah sakit terdekat, tapi tak menemukan Bagas.

Hingga akhirnya, dia menghubungi Hendri Wibowo, salah satu dari sedikit orang di sisi Bagas yang mengetahui hubungan mereka.

“Bagas nggak bilang ke kamu? Hari ini Vania pulang. Dia lagi sibuk siapkan pesta penyambutan di hotel.”

Melani belum pernah mendengar Bagas menyebut nama Vania sebelumnya.

Setelah tiba di hotel, barulah dia tahu kebenarannya. Penulis kontrak majalah Bagas yang dikenal dengan nama pena “V.R.” ternyata adalah Vania.

Saat Melani tiba di depan ruang privat, mereka bersama teman-teman lama sedang bermain permainan.

Di tengah sorak sorai, Bagas menggendong Vania seperti seorang putri dan menenggak segelas besar alkohol.

Melani belum pernah melihat Bagas sebahagia itu.

Dia menerobos masuk, berharap Bagas akan memberinya sebuah penjelasan yang masuk akal. Namun saat melihatnya, yang tampak di wajah pria itu hanyalah kecanggungan.

Di hadapan semua orang, Bagas berkata dengan nada datar, “Dia adik dari keluarga kerabatku.”

Pada detik itu juga, Melani akhirnya mengerti.

Selama ini, dia sama sekali tak pernah benar-benar masuk ke dalam kehidupan Bagas.

Melihat Bagas dan Vania saling menukar lauk dengan begitu alami, Melani menggenggam erat surat permohonan cerai di tangannya.

Sebulan lagi, dia akan resmi bercerai.

Dia akan meninggalkan Bagas, pria yang tak pernah benar-benar menjadi miliknya.
Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Semoga Cinta Kita Tetap Suci dan Tenang   Bab 25

    Tiga tahun kemudian .…Bagas kembali menginjakkan kaki di daratan Lunaria.Kali ini, dia datang sebagai tamu kehormatan dalam peresmian markas baru tim medis misi bantuan Lunaria. Selama tiga tahun terakhir, dia rutin menyalurkan donasi atas nama perusahaannya. “Pak Bagas, dalam tiga tahun ini kondisi tim medis kami jauh membaik. Kami juga berhasil memberi kontribusi besar bagi dunia medis setempat. Semua ini tak lepas dari bantuan Anda,” ucap pimpinan tim saat menjemput Bagas di bandara.“Tidak juga. Justru para dokterlah yang paling berjasa. Aku hanya melakukan apa yang seharusnya.”Sesampainya di markas, dari kejauhan Bagas menangkap sosok ramping yang berdiri di dekat pintu masuk.Tiga tahun tak bertemu, Melani kini memanjangkan rambutnya. Helaian panjang melambai tertiup angin, membentuk pemandangan bak sebuah lukisan.Bagas tanpa sadar terdiam menatapnya.Namun, seorang pria yang menggendong seorang anak tiba-tiba masuk menyusup ke dalam lukisan itu.Alis Bagas sedikit berkerut.

  • Semoga Cinta Kita Tetap Suci dan Tenang   Bab 24

    Melani hanya mengajukan cuti satu minggu pada timnya.Begitu kembali ke hotel usai menghadiri pemakaman Prof Rahardian, dia langsung mengambil kertas dan pena, menuliskan artikel balasan.Satu per satu.Kejadian demi kejadian.Semua dia susun dengan teliti dan runtut.Kemampuan menulis Melani memang tak pernah diragukan. Dia merangkai seluruh bukti yang dimilikinya menjadi sebuah artikel panjang.Lalu keesokan paginya langsung mengirimkannya ke redaksi majalah.Tak disangka, Paman Arga dari panti wreda juga menerbitkan sebuah artikel yang secara terbuka membela Melani.[Melani adalah anak yang baik dan berhati lembut. Dia satu-satunya menantu yang pernah diakui oleh Prof Rahardian dan istrinya. Sayangnya, para netizen diprovokasi oleh pihak-pihak yang tak bertanggung jawab. Bukan hanya melukai Melani, tapi juga secara tak langsung menyebabkan kematian mendadak Prof Rahardian.]Begitu artikel Paman Arga terbit, isu ini langsung naik ke tingkat yang sama sekali berbeda.Paman Arga adalah

  • Semoga Cinta Kita Tetap Suci dan Tenang   Bab 23

    “Gelang itu peninggalan Ibu. Sekarang Melani sudah pergi meninggalkanku. Aku akan mengambilnya kembali dan menguburkannya bersama ayah.”Penyesalan di hati Bagas terasa seperti gunung besar, menekan dadanya hingga membuatnya hampir tak bisa bernapas.Pikirannya kacau. Saat berniat mencari Vania untuk mengambil kembali gelang itu, Bagas justru mendapat kabar Vania mengalami insiden, jatuh dari gedung dan kini terbaring di ruang ICU.Serangkaian kejadian tak terduga itu menguras seluruh tenaganya. Dalam keadaan terombang-ambing, Bagas tetap membantu menyiapkan pemakaman sang ayah.Tiga hari kemudian, asistennya datang membawa gelang giok yang telah hancur berkeping-keping....Di hari pemakaman.Dengan wajah mati rasa, Bagas mengantar satu per satu tamu yang datang melayat.Semua orang mengatakan hal yang sama. Masa lalu tak bisa diubah, dia harus belajar melangkah ke depan.Namun Bagas tak mampu melakukannya.Setelah semua tamu pergi, dia bersandar pada foto mendiang ayahnya. Tubuhnya s

  • Semoga Cinta Kita Tetap Suci dan Tenang   Bab 22

    Vania tak percaya Bagas benar-benar akan mengabaikan hidup dan matinya.Namun Bagas bahkan tak menoleh sedikit pun.“Aku sudah bilang. Mulai sekarang, urusanmu nggak ada hubungannya lagi denganku,” ucap Bagas dingin.“Bagas!”Dalam sekejap, Vania panik bukan main. Dia ingin bergegas mengejar pria yang sudah melangkah pergi itu.Namun besi pagar tua yang sudah lama tak terawat di bawah kakinya tiba-tiba tak sanggup menahan beban tubuhnya.Krak!“Ah ...!”Vania menjerit saat tubuhnya terjatuh ke bawah.Dia sebenarnya hanya ingin menakut-nakuti Bagas.Dia sama sekali tak berniat melompat sungguhan.Saat tubuhnya terjun bebas, penyesalan memenuhi hatinya. Air mata jatuh tak terkendali.Bagas yang sudah masuk ke lorong mendengar teriakan itu. Dia sempat ingin menoleh dan melihat apa yang terjadi.Namun tepat saat itu, sebuah panggilan masuk dari panti wreda, membuatnya tak lagi memedulikan Vania.Prof Rahardian … sudah meninggal.Saat Bagas tiba di panti wreda dalam kondisi linglung, para s

  • Semoga Cinta Kita Tetap Suci dan Tenang   Bab 21

    Di Kota Lagos, Bagas sedang meluapkan amarahnya pada sekretaris.“Kenapa di majalah kita berani memuat gosip palsu tentang Melani?”Sekretaris itu menunduk, menjawab dengan hati-hati, “Pak Bagas … artikel itu ditulis oleh editor yang dekat dengan Nona Vania.”Bagas mengepalkan tangannya begitu kuat.“Kalau begitu, aku sendiri yang akan turun tangan untuk klarifikasi. Aku dan Melani adalah pasangan sah, resmi menikah.”“Tapi Pak, kalau Anda melakukan itu, citra Anda dan Nona Vania … kemungkinan besar akan terdampak.”“Nggak ada pilihan lain!”Bagas mengusap keningnya. Dia tak berani membayangkan betapa sakitnya perasaan Melani saat melihat opini publik di internet terus bergulir liar.“Atur jadwal keberangkatanku ke Parta, Lunaria secepatnya!” perintah Bagas pada sekretaris.Dalam situasi seperti ini, dia harus berada di sisi Melani.Vania… ternyata benar Vania!Bagas tak menyangka akan ada hari di mana dia bertemu dengan Vania di atap gedung.Di tengah angin yang menderu, Vania mengena

  • Semoga Cinta Kita Tetap Suci dan Tenang   Bab 20

    Melani menghubungi redaksi majalah di dalam negeri. Dari sanalah duduk perkara akhirnya terungkap dengan jelas.Ternyata, seseorang telah menempelkan foto dirinya bersama Bagas di depan gedung kantor majalah.Selama ini, semua pemberitaan di majalah dan surat kabar selalu menggambarkan Melani sebagai gadis yatim piatu dari desa miskin. Namun kini, sosok “mahasiswi miskin” itu justru terlihat memiliki hubungan dekat dengan pemilik majalah, bahkan keluar-masuk vila asing yang mewah.Hal itu sontak memicu spekulasi liar.Belum lagi para netizen bermata tajam yang segera membongkar fakta lain. Bagas ternyata pria yang dulu pernah dipamerkan Vania secara tersirat.Dalam sekejap, Melani dicap sebagai pelakor murahan di mata publik.[Aku kerja di rumah sakit. Aku bisa bersaksi! Beberapa waktu lalu, saat Nona Vania dirawat, Pak Bagas sendiri yang setia menemani dan merawatnya!][Pantas saja Vania sampai ingin bunuh diri. Ternyata ada orang ketiga yang menyusup ke hubungan mereka!][Aku juga da

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status