LOGINDi ruangan itu kini hanya tersisa Pak Fajar, Raka, Kiera, Maharani, dan sekretaris pribadinya, Intan.Pak Fajar mulai memberikan instruksi kepada Kiera untuk melakukan pemanasan. Raka berdiri tidak jauh darinya sambil memperhatikan setiap gerakan, sedangkan Maharani duduk di salah satu kursi bersama Intan.Setelah Kiera selesai melakukan pemanasan, Pak Fajar kembali mengukur rentang gerak kaki kanannya."Tekuk perlahan kakimu dan rasakan sampai batas nyaman yang bisa diterima," perintah Pak Fajar.Kiera mulai menekuk lutut kanannya. Pak Fajar memperhatikan alat ukur yang diposisikan di sisi kaki Kiera sebelum mencatat hasilnya pada lembar evaluasi."Bagaimana, Pak Fajar?" tanya Raka. "Apakah ada perubahan dari pemeriksaan sebelumnya?""Masih konsisten dengan pemeriksaan pagi tadi," jawab Pak Fajar. "Artinya, efek dari terapi yang anda lakukan kemarin masih bertahan."Raka mengangguk puas. Ia memang belum mengharapkan peningkatan besar. Selama tubuh Kiera mampu mempertahankan perkemban
Maharani tidak langsung menjawab usulan Raka. Ia justru menoleh kepada Pak Fajar seolah sedang mempertimbangkan sesuatu sebelum mengambil keputusan."Bagaimana menurut Anda, Pak Fajar?" tanya Maharani. "Apakah ruangan kosong itu cukup untuk melakukan latihan?""Kalau cuma untuk latihan ringan sebenarnya ruangan itu cukup," jawab Pak Fajar. "Tapi kalau kita mau melakukan evaluasi dan latihan di sini selama beberapa hari, saya tetap butuh beberapa perlengkapan. Alat ukur rentang gerak, alat ukur kekuatan otot, resistance band, balance pad, step box, matras, dan beberapa alat latihan dasar lainnya."Mendengar penjelasan Pak Fajar, Raka mulai memahami bahwa usulannya mungkin tidak semudah yang dibayangkan."Oke, baiklah." Maharani mengangguk pelan."Kalau memang nggak memungkinkan dilakukan di tempat ini, nggak apa-apa," ujar Raka. "Aku nggak mau membuat semuanya jadi rumit.""Diam dulu, Raka." Maharani tiba-tiba mengeluarkan ponselnya.Raka mengernyit. "Kamu mau apa, Maharani?""Katanya
Keesokan paginya, setelah Pak Fajar melakukan evaluasi dan mendampingi latihan ringan Kiera di fasilitas klub, ketiganya datang ke Panti Pijat Cakra Sehat tidak lama setelah Raka membuka tempat tersebut."Raka..." Kiera berjalan pelan menghampiri Raka dengan ekspresi murung yang membuat Ririn, Anin, dan Rania langsung memperhatikannya."Apa yang terjadi, Kiera?" tanya Raka khawatir.Kiera tidak menjawab. Ia hanya menggelengkan kepala pelan.Raka langsung menatap Pak Fajar, tetapi pria itu tidak menunjukkan ekspresi apa pun. Sementara Maharani justru memalingkan wajah seolah tidak ingin ditanya."Apa yang sebenarnya terjadi?" Raka semakin penasaran. "Kenapa ekspresi kalian seperti itu?""Sabar dulu," sahut Maharani. "Lebih baik kita duduk dan membicarakannya.""Benar juga." Raka akhirnya mempersilakan ketiganya duduk. "Ayo, kita duduk dulu."Setelah semuanya duduk, Raka langsung menatap ketiga orang di hadapannya."Jadi bagaimana?" tanyanya tidak sabar. "Cepat jelaskan. Jangan bikin ak
Raka kembali menempelkan kedua tangannya pada tubuh Kiera. Kali ini, ia tidak mengalirkan energi Cakra Asmara sebanyak saat terapi pertama mereka dahulu. Raka justru mengalirkannya secara perlahan menuju Nadi Kehidupan Kesepuluh dan Nadi Kehidupan Kesebelas yang menjadi sasaran pertamanya.Perlahan, kedua jalur tersebut dihubungkan menuju Nadi Kehidupan Kedua Belas. Raka berusaha menyelaraskan keduanya agar jalur saraf dan aliran menuju kaki kanan Kiera dapat kembali bekerja dalam irama yang sama.Kiera memejamkan mata. Ia sempat khawatir akan kembali mendesah akibat efek terapi Raka seperti yang pernah dialami sebelumnya. Namun, ternyata kekhawatirannya tidak terbukti. Sensasi yang dirasakannya kali ini justru lebih menenangkan."Kenapa rasanya berbeda?" tanya Kiera pelan. "Sekarang rasanya nyaman.""Tentu saja." Raka tersenyum tipis. "Karena sekarang aku mengatur efeknya secara bertahap. Waktu itu aku lebih fokus membuat kakimu kembali membaik secepat mungkin."Kiera diam-diam meras
Di dalam ruang terapi, Kiera sudah berbaring di atas ranjang terapi. Maharani berdiri di sisi kiri ranjang, sementara Pak Fajar duduk di bangku yang telah disediakan."Sekarang aku akan mulai melakukan pemeriksaan," ujar Raka sambil mengoleskan minyak pijat ke kedua telapak tangannya."Kenapa diperiksa lagi? Kamu kan sudah tahu kondisiku," tanya Kiera."Itu kan sudah cukup lama, Kiera." Raka tersenyum. "Biar semuanya berjalan lancar, biarkan aku melakukan pemeriksaan ulang pada kakimu.""Saya penasaran melihat bagaimana Anda memeriksa dan menangani kaki Kiera," sahut Pak Fajar.Raka mengangguk lalu mulai menyentuh kaki Kiera. Ia menekuk lutut kanan wanita itu secara perlahan, kemudian memberikan tekanan ringan pada beberapa bagian di sekitar lutut dan paha.Reaksi Kiera perlahan berubah. Alisnya sesekali mengernyit seperti sedang menahan rasa sakit.Raka kemudian menggunakan Teknik Kedua untuk memeriksa secara mendetail bagian-bagian yang dicurigainya memiliki masalah. Ia memindahkan
Pria itu mengenakan kemeja polo berlogo klub dan membawa sebuah map hitam di tangan kirinya. Begitu ketiganya masuk, Maharani langsung memperkenalkannya tanpa banyak basa-basi."Raka, perkenalkan," ujar Maharani. "Ini Pak Fajar, kepala fisioterapis klub kami."Raka tersenyum ke arah pria paruh baya itu. "Aku Raka, pemilik sekaligus terapis di tempat ini." Ia kemudian mengulurkan tangannya."Saya Fajar." Pria paruh baya itu menyambut uluran tangan Raka. "Saya sudah mendengar cerita tentang Anda. Apa yang saya dengar benar-benar luar biasa, Pak Raka."Sebelum percakapan mereka berlanjut ke pembahasan yang lebih serius, Bunda Laras bangkit dari tempat duduknya."Sepertinya kamu punya banyak pekerjaan hari ini," ujar Bunda Laras. "Kalau begitu, aku pamit dulu. Aku juga ada beberapa hal yang harus dikerjakan.""Baiklah, Bunda." Raka mengangguk. "Terima kasih atas informasinya. Hati-hati di jalan."Bunda Laras mengangguk lalu menoleh ke arah Anin yang sudah duduk di meja resepsionis bersama







