Share

Chapter 101

Author: Tinta_Jojon
last update publish date: 2026-09-23 23:52:11

"Kiera, aku pernah bilang kalau aku ingin kamu percaya pada keajaiban, kan?" ujar Raka. "Kalau aku bisa membuat keajaibanku dengan membantumu pulih, kamu juga bisa membuat keajaibanmu sendiri dengan bermain di pertandingan penentuan itu. Jadi kamu harus percaya diri, Kiera!"

Kiera menatap Raka. Maharani pun melakukan hal yang sama, begitu juga Ririn, Anin, dan Rania yang sejak tadi mendengarkan percakapan mereka.

"Ta-tapi, Raka..." Kiera masih terlihat ragu.

"Ayolah, mana semangatmu?" Raka ters
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Semua Wanita Menginginkan Sentuhannya    Chapter 106

    Maharani tidak langsung menjawab usulan Raka. Ia justru menoleh kepada Pak Fajar seolah sedang mempertimbangkan sesuatu sebelum mengambil keputusan."Bagaimana menurut Anda, Pak Fajar?" tanya Maharani. "Apakah ruangan kosong itu cukup untuk melakukan latihan?""Kalau cuma untuk latihan ringan sebenarnya ruangan itu cukup," jawab Pak Fajar. "Tapi kalau kita mau melakukan evaluasi dan latihan di sini selama beberapa hari, saya tetap butuh beberapa perlengkapan. Alat ukur rentang gerak, alat ukur kekuatan otot, resistance band, balance pad, step box, matras, dan beberapa alat latihan dasar lainnya."Mendengar penjelasan Pak Fajar, Raka mulai memahami bahwa usulannya mungkin tidak semudah yang dibayangkan."Oke, baiklah." Maharani mengangguk pelan."Kalau memang nggak memungkinkan dilakukan di tempat ini, nggak apa-apa," ujar Raka. "Aku nggak mau membuat semuanya jadi rumit.""Diam dulu, Raka." Maharani tiba-tiba mengeluarkan ponselnya.Raka mengernyit. "Kamu mau apa, Maharani?""Katanya

  • Semua Wanita Menginginkan Sentuhannya    Chapter 105

    Keesokan paginya, setelah Pak Fajar melakukan evaluasi dan mendampingi latihan ringan Kiera di fasilitas klub, ketiganya datang ke Panti Pijat Cakra Sehat tidak lama setelah Raka membuka tempat tersebut."Raka..." Kiera berjalan pelan menghampiri Raka dengan ekspresi murung yang membuat Ririn, Anin, dan Rania langsung memperhatikannya."Apa yang terjadi, Kiera?" tanya Raka khawatir.Kiera tidak menjawab. Ia hanya menggelengkan kepala pelan.Raka langsung menatap Pak Fajar, tetapi pria itu tidak menunjukkan ekspresi apa pun. Sementara Maharani justru memalingkan wajah seolah tidak ingin ditanya."Apa yang sebenarnya terjadi?" Raka semakin penasaran. "Kenapa ekspresi kalian seperti itu?""Sabar dulu," sahut Maharani. "Lebih baik kita duduk dan membicarakannya.""Benar juga." Raka akhirnya mempersilakan ketiganya duduk. "Ayo, kita duduk dulu."Setelah semuanya duduk, Raka langsung menatap ketiga orang di hadapannya."Jadi bagaimana?" tanyanya tidak sabar. "Cepat jelaskan. Jangan bikin ak

  • Semua Wanita Menginginkan Sentuhannya    Chapter 104

    Raka kembali menempelkan kedua tangannya pada tubuh Kiera. Kali ini, ia tidak mengalirkan energi Cakra Asmara sebanyak saat terapi pertama mereka dahulu. Raka justru mengalirkannya secara perlahan menuju Nadi Kehidupan Kesepuluh dan Nadi Kehidupan Kesebelas yang menjadi sasaran pertamanya.Perlahan, kedua jalur tersebut dihubungkan menuju Nadi Kehidupan Kedua Belas. Raka berusaha menyelaraskan keduanya agar jalur saraf dan aliran menuju kaki kanan Kiera dapat kembali bekerja dalam irama yang sama.Kiera memejamkan mata. Ia sempat khawatir akan kembali mendesah akibat efek terapi Raka seperti yang pernah dialami sebelumnya. Namun, ternyata kekhawatirannya tidak terbukti. Sensasi yang dirasakannya kali ini justru lebih menenangkan."Kenapa rasanya berbeda?" tanya Kiera pelan. "Sekarang rasanya nyaman.""Tentu saja." Raka tersenyum tipis. "Karena sekarang aku mengatur efeknya secara bertahap. Waktu itu aku lebih fokus membuat kakimu kembali membaik secepat mungkin."Kiera diam-diam meras

  • Semua Wanita Menginginkan Sentuhannya    Chapter 103

    Di dalam ruang terapi, Kiera sudah berbaring di atas ranjang terapi. Maharani berdiri di sisi kiri ranjang, sementara Pak Fajar duduk di bangku yang telah disediakan."Sekarang aku akan mulai melakukan pemeriksaan," ujar Raka sambil mengoleskan minyak pijat ke kedua telapak tangannya."Kenapa diperiksa lagi? Kamu kan sudah tahu kondisiku," tanya Kiera."Itu kan sudah cukup lama, Kiera." Raka tersenyum. "Biar semuanya berjalan lancar, biarkan aku melakukan pemeriksaan ulang pada kakimu.""Saya penasaran melihat bagaimana Anda memeriksa dan menangani kaki Kiera," sahut Pak Fajar.Raka mengangguk lalu mulai menyentuh kaki Kiera. Ia menekuk lutut kanan wanita itu secara perlahan, kemudian memberikan tekanan ringan pada beberapa bagian di sekitar lutut dan paha.Reaksi Kiera perlahan berubah. Alisnya sesekali mengernyit seperti sedang menahan rasa sakit.Raka kemudian menggunakan Teknik Kedua untuk memeriksa secara mendetail bagian-bagian yang dicurigainya memiliki masalah. Ia memindahkan

  • Semua Wanita Menginginkan Sentuhannya    Chapter 102

    Pria itu mengenakan kemeja polo berlogo klub dan membawa sebuah map hitam di tangan kirinya. Begitu ketiganya masuk, Maharani langsung memperkenalkannya tanpa banyak basa-basi."Raka, perkenalkan," ujar Maharani. "Ini Pak Fajar, kepala fisioterapis klub kami."Raka tersenyum ke arah pria paruh baya itu. "Aku Raka, pemilik sekaligus terapis di tempat ini." Ia kemudian mengulurkan tangannya."Saya Fajar." Pria paruh baya itu menyambut uluran tangan Raka. "Saya sudah mendengar cerita tentang Anda. Apa yang saya dengar benar-benar luar biasa, Pak Raka."Sebelum percakapan mereka berlanjut ke pembahasan yang lebih serius, Bunda Laras bangkit dari tempat duduknya."Sepertinya kamu punya banyak pekerjaan hari ini," ujar Bunda Laras. "Kalau begitu, aku pamit dulu. Aku juga ada beberapa hal yang harus dikerjakan.""Baiklah, Bunda." Raka mengangguk. "Terima kasih atas informasinya. Hati-hati di jalan."Bunda Laras mengangguk lalu menoleh ke arah Anin yang sudah duduk di meja resepsionis bersama

  • Semua Wanita Menginginkan Sentuhannya    Chapter 101

    "Kiera, aku pernah bilang kalau aku ingin kamu percaya pada keajaiban, kan?" ujar Raka. "Kalau aku bisa membuat keajaibanku dengan membantumu pulih, kamu juga bisa membuat keajaibanmu sendiri dengan bermain di pertandingan penentuan itu. Jadi kamu harus percaya diri, Kiera!"Kiera menatap Raka. Maharani pun melakukan hal yang sama, begitu juga Ririn, Anin, dan Rania yang sejak tadi mendengarkan percakapan mereka."Ta-tapi, Raka..." Kiera masih terlihat ragu."Ayolah, mana semangatmu?" Raka tersenyum meyakinkan. "Ini bisa menjadi waktu terbaik buat kamu kembali dan menunjukkan kemampuanmu. Aku akan membantumu mewujudkannya.""Raka, aku suka semangatmu," sahut Maharani. "Tapi bagaimana kalau ternyata nggak berhasil? Bukankah itu justru akan menjadi pukulan telak untuk Kiera?""Kalau nggak berhasil, ya sudah." Raka menjawab santai. "Setidaknya kita sudah berusaha. Lagi pula, kamu juga nggak punya banyak pilihan saat ini, kan?"Maharani terdiam mendengar jawaban tersebut."Raka benar." Ki

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status