Compartilhar

Chapter 80

Autor: Tinta_Jojon
last update Data de publicação: 2026-09-07 22:06:28

Waktu sudah menunjukkan pukul tujuh malam, satu jam sebelum jadwal pertemuan dengan Hendra.

Di panti pijat hanya tersisa Raka, Pak Dirga, Gatot beserta kedua anak buahnya, serta dua petugas keamanan yang diminta untuk tidak pulang lebih dulu. Sementara itu, Ririn, Anin, Rania, dan Kiera yang sempat bersikeras ingin ikut akhirnya menuruti permintaan Raka dan kembali ke rumah masing-masing.

"Baiklah, untuk rencananya hanya aku dan Gatot yang akan berangkat," ucap Raka. "Aku akan mengawasi dari ja
Continue a ler este livro gratuitamente
Escaneie o código para baixar o App
Capítulo bloqueado

Último capítulo

  • Semua Wanita Menginginkan Sentuhannya    Chapter 97

    "Karena kalau dilanjutkan, aku yakin akhirnya cuma akan jadi penyesalan," jawab Raka. "Bukannya tadi kamu sendiri yang bicara soal profesionalisme?"Maharani masih menatap Raka dengan kesal. Namun, setelah mendengar pertanyaan itu, raut wajahnya perlahan melunak."Kamu benar juga." Maharani tertawa pahit. Tanpa diminta, ia kemudian bangkit dan duduk di sisi ranjang terapi."Kamu mau ke mana?" tanya Raka."Aku cuma mau duduk." Maharani tidak menatapnya. "Aku juga mau kamu duduk sekarang."Raka tidak membantah setelah melihat perubahan sikap Maharani. Ia menarik kursi lalu duduk berhadapan dengannya."Jadi bagaimana? Kamu udah percaya dengan alasanku?" tanya Raka. "Selain karena alasan tadi, aku juga udah berjanji kepada mendiang ayahku untuk merahasiakan kemampuan ini."Maharani menatap Raka. Senyum tipis muncul di wajahnya sembari menganggukkan kepala pelan, tetapi beberapa saat kemudian tatapannya kembali jatuh ke lantai."Ada apa, Maharani?" tanya Raka melihat sikap Maharani yang se

  • Semua Wanita Menginginkan Sentuhannya    Chapter 96

    "Oke, tunggu sebentar." Raka menuangkan minyak pijat secukupnya ke telapak tangannya, lalu menggosok kedua tangannya perlahan. "Kamu bisa tengkurap sekarang."Maharani menurut. Ia membalikkan tubuhnya dan mengambil posisi tengkurap yang nyaman dengan kedua tangan menopang dagu."Maaf, Maharani. Sebelum kita mulai, aku harus membuka resleting jubah terapinya," ujar Raka."Buka saja, nggak apa-apa." Maharani menjawab santai tanpa sedikit pun terlihat canggung. "Yang penting kamu bisa tetap profesional.""Sejauh ini aku masih bisa profesional," jawab Raka tenang.Raka meraih resleting di bagian belakang jubah terapi Maharani lalu membukanya perlahan. Semakin resleting itu turun, semakin terlihat kulit punggung Maharani yang mulus dan sangat terawat. Nyaris tidak terlihat noda sedikit pun pada kulitnya.Namun, Raka tidak membiarkan pandangannya berlama-lama. Ia kembali memusatkan perhatian pada terapi yang akan dilakukan."Aku mulai, ya?" ujar Raka memberi aba-aba."Hmmm," jawab Maharani

  • Semua Wanita Menginginkan Sentuhannya    Chapter 95

    Raka terdiam mendengar permintaan Maharani. Ia bahkan sempat melirik Kiera untuk memastikan dirinya tidak salah dengar.Kiera hanya mengangguk singkat, membenarkan apa yang baru saja didengarnya. Raka pun kembali menatap Maharani."Anda serius?" tanya Raka."Iya, aku serius." Maharani mengangguk. "Tapi bisa nggak kamu ubah gaya bicaramu itu? Aku nggak suka bicara terlalu formal."Raka menatap Maharani beberapa saat. Ia cukup kesulitan menebak karakter wanita di hadapannya. Sosoknya terlihat dingin dan tegas, tetapi justru tidak menyukai formalitas. Benar-benar perpaduan yang tidak biasa."Kenapa?" Maharani mengangkat sebelah alis ketika melihat Raka hanya diam. "Ada masalah?""Nggak kok," jawab Raka akhirnya. "Tapi sebelum itu, aku minta maaf. Kemampuan yang aku punya bukan untuk membuktikan sesuatu. Aku menggunakannya untuk membantu orang yang memang punya keluhan."Maharani sedikit mengernyit. Ia baru pertama kali bertemu dengan seseorang seperti Raka. Tidak ada sedikit pun kesombon

  • Semua Wanita Menginginkan Sentuhannya    Chapter 94

    Pintu kaca Panti Pijat Cakra Sehat terbuka. Ririn yang menyadari kedatangan dua wanita itu langsung mengenali salah satunya."Mas Raka, itu Kak Kiera datang," seru Ririn.Kiera masuk lebih dulu dengan senyum lebar. Di belakangnya berjalan seorang wanita yang belum pernah Raka lihat sebelumnya.Raka yang sedang berdiri di depan meja resepsionis segera menoleh ke arah pintu masuk. Tatapannya semula tertuju pada Kiera, sebelum akhirnya beralih kepada wanita yang berjalan di belakangnya.Wanita itu tampak dewasa dan anggun dengan setelan jas berwarna merah muda yang membalut tubuhnya. Sepasang anting kecil di telinganya sesekali berkilau terkena cahaya matahari sore yang menerobos dari balik pintu kaca.Tatapan wanita itu bertemu dengan Raka.Wajah cantiknya tidak memperlihatkan banyak ekspresi. Langkahnya teratur dan penuh ketenangan. Matanya sempat menyapu seluruh ruang tunggu sebelum kembali berhenti pada Raka.Raka segera mengalihkan perhatiannya kepada Kiera yang berjalan mendekat."

  • Semua Wanita Menginginkan Sentuhannya    Chapter 93

    Ucapan Raka membuat senyum di wajah Anin dan Rania langsung menghilang. Ririn yang sebelumnya masih malu karena kejadian beberapa saat lalu juga ikut menatap kartu nama tersebut dengan serius."Pak Baskoro, ayahnya Maya?" tanya Ririn memastikan.Raka mengangguk pelan sambil mengamati kartu nama di tangannya. Selain nama Pak Baskoro, di sana juga tercantum jabatan dan tempatnya bekerja."Ternyata dugaanku benar." Raka menatap kartu itu dengan serius. "Pak Baskoro ternyata seorang manajer di PT Nusa Medika Konsultan.""I-itu berarti Pak Baskoro..." Anin menggantung ucapannya dengan mata membesar.Sementara itu, Rania refleks menutup mulutnya. Wajahnya terlihat sama terkejutnya dengan Anin."Ayo keluar dulu," ujar Raka. "Kita harus membicarakan masalah ini dengan Pak Dirga dan Bunda Laras."Raka buru-buru keluar dari kamar mandi. Anin, Rania, dan Ririn mengikuti di belakangnya dengan langkah yang tidak kalah cepat.Begitu Raka memasuki ruang tunggu, Bunda Laras dan Pak Dirga langsung men

  • Semua Wanita Menginginkan Sentuhannya    Chapter 92

    Raka yang menyadari itu suara Ririn segera bangkit dan berlari menuju sumber suara."Kenapa Kak Ririn teriak kayak gitu?" tanya Rania khawatir."Nggak tahu. Semoga nggak terjadi apa-apa," sahut Anin."Sepertinya Raka menuju kamar mandi wanita." Bunda Laras bergumam sebelum menatap Anin dan Rania. "Kalian berdua cepat susul Raka!"Anin langsung mengangguk, lalu buru-buru menarik Rania yang masih terlihat kebingungan."Rania, ayo cepat ke kamar mandi wanita!" ajak Anin tergesa-gesa.Raka tiba lebih dulu di depan kamar mandi khusus wanita yang letaknya berdekatan dengan toilet umum.Sesampainya di depan kamar mandi wanita, Raka sempat berhenti. Ia sadar tidak seharusnya masuk sembarangan, tetapi teriakan Ririn barusan membuatnya khawatir telah terjadi sesuatu. Tanpa berpikir lebih lama, Raka akhirnya memberanikan diri membuka pintu.Begitu pintu terbuka, terlihat Ririn berdiri membeku ketakutan dengan kedua tangannya merapat ke dinding di samping wastafel."Ma-Mas Raka! Cepat usir kecoak

Mais capítulos
Explore e leia bons romances gratuitamente
Acesso gratuito a um vasto número de bons romances no app GoodNovel. Baixe os livros que você gosta e leia em qualquer lugar e a qualquer hora.
Leia livros gratuitamente no app
ESCANEIE O CÓDIGO PARA LER NO APP
DMCA.com Protection Status