Share

Bab 8

Author: Caca
Saat itu juga, duniaku seketika runtuh.

Matahari telah terbenam, kerumunan telah bubar. Aku memeluk Si Putih yang berlumuran darah, hatiku hancur dilanda kesedihan.

Air mataku membasahi bulunya, bercampur dengan darah, membuatnya terlihat begitu menyedihkan.

Kusentuh pelan kepalanya. Namun, lehernya hanya terkulai kaku. Dia tak akan pernah lagi mengibaskan ekornya dengan riang untuk menyambutku.

Hatiku sakit seolah hendak terbelah. Aku berusaha membuka mulut, tetapi bahkan untuk mengeluarkan suara pun aku sudah tak punya tenaga.

Akulah yang tidak berguna. Aku gagal melindunginya.

Aku menggali lubang di halaman dan menguburkannya di sana.

Tengah malam, sepasang tangan yang begitu kukenal kembali melingkari pinggangku dari belakang.

Bagas merapatkan tubuhnya kepadaku. "Cuma seekor anjing, jangan terlalu bersedih. Nanti aku carikan lagi yang mirip untukmu."

Semirip apa pun, lalu apa gunanya? Dia tetap bukan Putihku.

Lagi pula, Ratih begitu membenci anjing. Jika nanti dia memberikanku anjing baru, bukankah gadis itu akan melakukan hal yang sama lagi?

Aku tak menjawab, hanya menggeser tubuhku menjauh ke sisi lain.

Ruangan menjadi hening sejenak, lalu dia kembali membuka suara, "Maya, besok aku berencana membawa Ratih ke istana peristirahatan untuk beristirahat beberapa hari. Mata air dingin di sana bisa menyembuhkan luka."

"Kamu ikut aku. Kebetulan kamu juga sedang terluka."

Aku menolaknya pelan. "Bolehkah hamba tidak ikut? Hamba ada urusan lain."

Dia tampak tak menyangka aku akan menolak, lalu bertanya, "Urusan apa?"

Aku tersadar dari lamunan, lalu menjawabnya dengan sungguh-sungguh.

"Yang Mulia, selama ini hamba tidak pernah meminta apa pun kepada Yang Mulia. Permohonan pertama hamba adalah meminta Yang Mulia melepaskan anjing yang hamba pelihara, tapi Yang Mulia tidak mengabulkannya."

"Permohonan kedua, hamba ingin memohon agar Yang Mulia tidak membawa hamba ikut ke istana peristirahatan. Mohon kabulkan permohonan hamba."

Mendengar nada suaraku yang begitu serius, dia tampak terkejut.

Setelah terdiam sejenak, dia mungkin mengira aku masih marah soal anjing itu dan tak ingin bertemu Ratih, sehingga dia kembali bersuara, "Ratih hanya sedikit manja dan keras kepala, tetapi pada dasarnya dia tidak jahat. Jangan dimasukkan ke dalam hati."

Ambil hati? Mana berani aku mempermasalahkannya? Memangnya aku punya kedudukan untuk melakukan itu?

Aku tak menjawab, hanya tersenyum getir.

Melihat wajahku yang pucat pasi, dia akhirnya melunak.

"Kalau kamu memang tidak mau ikut, tinggal saja di istana dan tunggu aku pulang."

Kupejamkan mata. Aku tidak akan menunggu lagi.

Yang Mulia, hamba takkan pernah menunggu Anda pulang lagi.

Keesokan paginya, Bagas sudah bersiap lebih awal untuk mendampingi Ratih ke istana peristirahatan.

Tepat sebelum dia melangkah keluar, aku memanggilnya, sesuatu yang sudah lama tak kulakukan.

"Yang Mulia."

Dia menoleh menatapku. Raut wajahnya masih setampan dan berwibawa seperti dulu.

Namun aku tahu, dia sudah bukan lagi sosok yang dulu kukenal.

Aku hanya tersenyum.

"Selama Yang Mulia bepergian meninggalkan istana kali ini, mohon jaga kesehatan."

Dia sedikit mengerutkan kening, "Aku tahu. Kamu juga."

Aku tak menjawab. Aku hanya berlutut dan melakukan penghormatan besar kepadanya.

"Yang Mulia, semoga Anda dan Nona Ratih hidup rukun dan berbahagia selamanya."

Dia tampak terkejut dengan tindakanku, tetapi karena takut membuat Ratih menunggu, dia tak bertanya lebih jauh dan bergegas pergi.

Aku menatap punggungnya yang menjauh, dan dengan senyuman, kuucapkan kata-kata perpisahan terakhir.

Senar merah terputus, cermin indah retak. Embun pagi mengering, masa indah pun berakhir. Rambut memutih, hanya menyisakan duka perpisahan.

Jagalah dirimu baik-baik, dan jangan lagi memikirkanku. Biarlah air sungai mengalir deras, sebagai saksi perpisahan abadi kita.

Mulai saat ini, kamu dan aku takkan pernah bertemu lagi.

Kubawa bungkusan yang sudah kusiapkan sejak lama, menuju Biro Urusan Dalam Istana untuk mengambil surat izin keluar.

Setelah menandatangani dan membubuhkan cap jari, aku bergabung dengan rombongan dayang yang akan segera keluar istana, melangkah perlahan menuju gerbang utama.

Sepanjang perjalanan, orang-orang masih ramai memperbincangkan bahwa Yang Mulia, demi Nona Ratih, dengan sengaja menunda urusan istana selama tiga hari dan mengajaknya berendam di mata air dingin yang hanya boleh dinikmati oleh keluarga kerajaan.

Tampaknya kali ini, takhta Ratu sudah pasti berada dalam genggaman Nona Ratih.

Kutundukkan kepala, seolah tak mendengar suara orang-orang di sekelilingku, hanya memusatkan perhatian pada gerbang istana yang kian mendekat.

Rombongan di depanku makin berkurang, hingga akhirnya tiba giliranku.

Kenangan lebih dari 20 tahun terakhir berkelebat di depan mataku. Mulai saat ini, semua kisah itu akan benar-benar terlepas dari hidupku.

Kuserahkan surat izin keluar kepada pengawal penjaga gerbang, lalu mengambil dokumen status pelayanku dan merobeknya sendiri hingga menjadi serpihan.

Gerbang istana terbuka lebar. Kuayunkan langkah tegap ke luar, tanpa sedikit pun menoleh ke belakang!

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Senar Merah Terputus, Cermin Retak   Bab 24

    Satu jam kemudian, orang-orang dari istana datang dan menjemput Bagas.Belakangan, aku baru tahu bahwa para pembunuh yang datang pada hari itu adalah sisa-sisa pengikut Keluarga Pradipta.Ketika Bagas sadar, dia telah kehilangan ingatannya.Namun, semua orang di istana tahu, betapa pun sibuknya urusan negara, dia tetap rutin merawat bunga melati di Taman Kerajaan setiap hari.Hari-hari terus berlalu dengan tenang di kota kecil ini. Aku dan Novan tetap menjalani kehidupan kami yang damai. Suatu hari, saat aku sedang tekun menyulam gambar bunga peony di sebuah toko sulam, tiba-tiba terdengar keributan dari arah pintu. Kuletakkan jarum sulam di tanganku, lalu bangkit untuk melihat ke luar. Kulihat sekelompok pengawal berpakaian megah mengelilingi sebuah kereta kuda mewah yang berhenti di depan kedai sulam.Tirai kereta itu disingkap perlahan dan seorang wanita berparas anggun turun dengan perlahan.Saat kutatap lebih saksama, ternyata itu adalah Santi.Dia mengenakan gaun istana berwarn

  • Senar Merah Terputus, Cermin Retak   Bab 23

    Bagas berdiri di depan pintu, menatap sosok yang begitu familier itu. Beribu kata tertahan di tenggorokannya, seketika dia tak bisa mengucapkan sepatah kata pun.Dia perlahan melangkah masuk ke halaman dan memanggil dengan suara lirih, "Maya ...."Mendengar suara itu, aku sontak menoleh. Saat melihat Bagas, seluruh tubuhku seketika membeku. Novan secara naluriah melindungiku di belakangnya, menatap Bagas dengan waspada.Tatapan Bagas melewati sosok Novan dan langsung tertuju kepadaku. Matanya dipenuhi kasih sayang dan rasa bersalah. "Maya, aku sudah mencarimu begitu lama."Aku selalu mengira saat bertemu dengannya lagi, hatiku akan dipenuhi kebencian. Namun, tak kusangka, hatiku justru terasa begitu tenang. Melihat reaksiku, Bagas memelukku erat bagaikan orang yang kehilangan akal. "Maya, aku sangat merindukanmu. Kembalilah ke istana bersamaku, jadilah Ratuku, apa kamu mau?"Aku mendorongnya menjauh, raut wajahku datar tanpa ekspresi sedih maupun senang. "Yang Mulia, silakan pulang."

  • Senar Merah Terputus, Cermin Retak   Bab 22

    Pada saat yang sama, aku dan Novan di kota kecil ini juga tidak tinggal diam.Kami dengan saksama mempelajari kitab kuno pemberian sang tetua, berusaha mencari lebih banyak bukti pemberontakan Keluarga Pradipta.Suatu hari, di sela-sela halaman kitab kuno, aku menemukan selembar perkamen yang telah menguning, penuh dengan simbol dan tanda-tanda aneh."Novan, cepat lihat ini!" seruku dengan gembira.Novan mendekat, meneliti perkamen itu dengan saksama, dahinya berkerut. "Simbol-simbol ini sepertinya semacam sandi. Mungkin ada kaitannya dengan konspirasi Keluarga Pradipta."Kami mulai mencari referensi ke sana kemari dan berkonsultasi dengan beberapa cendekiawan di kota, hingga akhirnya berhasil memecahkan arti dari simbol-simbol tersebut.Ternyata, perkamen itu mencatat lokasi dan waktu rahasia Keluarga Pradipta untuk menghubungi berbagai faksi."Ini penemuan yang sangat penting!" seru Novan dengan penuh semangat. "Dengan informasi ini, kita bisa menelusuri jejaknya dan menangkap seluru

  • Senar Merah Terputus, Cermin Retak   Bab 21

    Tiba-tiba, pintu kamar tidur terbuka, dan Ratih melangkah masuk dengan anggun."Yang Mulia, sudah lama Yang Mulia tidak menemaniku."Belum selesai dia berbicara, lehernya sudah dicekik oleh Bagas."Kamu sungguh mengira aku tidak berani membunuhmu?"Rasa sesak yang hebat menyergap, wajah Ratih seketika pucat pasi."Yang Mulia, Yang Mulia menyakitiku!"Bagas mengabaikannya, cengkeraman di tangannya makin mengencang.Terdengar suara "krek", Ratih merasakan sakit yang luar biasa di lehernya, secara naluriah dia menggigit tangan Bagas yang mencekiknya.Bagas mengerutkan kening, lalu membenturkan kepala Ratih ke tiang ranjang.Sekali ... Dua kali ....Darah segar mengalir turun dari dahi Ratih, pemandangan itu tampak cukup mengerikan.Mata Bagas merah padam, bagaikan binatang buas yang kehilangan akal.Tepat sebelum kehilangan kesadaran, Ratih mencabut tusuk konde dari rambutnya dan menusukkannya dengan keras ke arah dada Bagas."Pengawal! Lindungi Yang Mulia!"Sekelompok pengawal menyerbu m

  • Senar Merah Terputus, Cermin Retak   Bab 20

    Tepat saat kami sedang larut dalam keindahan pemandangan itu, Novan tiba-tiba berubah serius dan waspada menatap ke sekeliling. "Maya, hati-hati, aku merasakan ada orang di dekat sini."Aku secara naluriah mendekatinya, jantungku pun mulai berdegup kencang.Tepat pada saat itu, seorang lelaki tua berjubah sederhana perlahan melangkah keluar dari balik semak-semak.Rambutnya telah memutih seluruhnya, tetapi wajahnya masih memancarkan vitalitas. Tatapan matanya menyiratkan kedalaman dan kebijaksanaan. Sang tetua mengamati kami dari ujung kepala hingga kaki, lalu mengangguk pelan. "Kalian berdua, jangan panik. Aku tidak berniat buruk."Novan berdiri di depanku, lalu bertanya dengan hati-hati, "Maaf, boleh tahu siapa Tuan sebenarnya? Mengapa Tuan berada di tempat ini?"Sang tetua tersenyum tipis. "Aku hanyalah seorang pertapa di gunung ini. Aku telah mengasingkan diri di sini selama puluhan tahun.""Hari ini melihat kalian berdua memasuki wilayah ini, aku pun keluar untuk melihat. Melihat

  • Senar Merah Terputus, Cermin Retak   Bab 19

    Aku dan Novan mendapat kabar di kota kecil ini bahwa Keluarga Pradipta telah memindahkan tiga ribu pasukan elit mereka ke tempat lain, dan kini mereka berada di Gunung Gadhing. Mendengar kabar ini, aku dan Novan saling bertatapan. Kami sama-sama melihat keseriusan serta tekad yang bulat di mata masing-masing.Medan di Gunung Gadhing sangat rumit, mudah dipertahankan, tetapi sulit diserang. Pemindahan pasukan elit ke sini oleh Keluarga Pradipta jelas menunjukkan bahwa mereka telah melakukan persiapan yang sangat matang.Namun, ini juga berarti kita mungkin bisa menemukan bukti kejahatan yang lebih krusial di sana dan menjatuhkan Keluarga Pradipta sepenuhnya."Maya, perjalanan ini pasti sangat berbahaya," Novan menggenggam erat tanganku, menatapku dengan tatapan tegas, "tapi ini mungkin kesempatan terakhir kita untuk meruntuhkan Keluarga Pradipta sampai ke akar-akarnya."Aku mengangguk kuat-kuat. "Aku tidak takut, Novan. Selama ini bisa menyingkirkan bahaya bagi rakyat dan meringankan b

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status