Share

Bab 7

Author: Caca
Selama masa pemulihan ini, kabar tentang betapa Bagas memanjakan Ratih terus berembus kencang.

Kabarnya, setelah tercebur ke danau, Ratih jatuh sakit parah hingga membuat Bagas sangat cemas. Bukan hanya obat-obatan mahal dari Balai Tabib Kerajaan yang dikirim tanpa henti, dia bahkan memerintahkan orang pergi ke daerah perbatasan untuk mencari Teratai Salju Pegunungan yang amat langka dan berharga.

Demi memastikan tidurnya nyenyak, dia mendatangkan Sutra Cahaya Bulan yang harganya tak ternilai untuk dijadikan kelambu di sekeliling ranjangnya.

Sutra ini dinamakan Sutra Cahaya Bulan karena meski sinar matahari di luar terik menyengat, begitu menembus kain ini, cahayanya akan berubah lembut dan jernih bak cahaya rembulan.

Aku mendengarkan semua kabar itu dengan tenang, diam-diam membereskan barang-barangku, sambil menantikan hari ketika akhirnya aku bisa meninggalkan istana.

Pada malam hari, Bagas kembali muncul di kamarku.

Dia memberikanku sebuah salep. Nadanya lembut saat berkata, "Ini aku ambil sendiri dari Balai Tabib. Salep ini yang paling ampuh untuk menyembuhkan lukamu."

"Hari itu aku melihat lukamu kembali terbuka. Apa sekarang sudah agak membaik?"

"Belakangan ini Ratih tidak bisa ditinggal sendiri. Sekarang setelah dia sudah tertidur, aku baru sempat mampir menjengukmu."

Aku tetap bungkam, tak menjawab sepatah kata pun, hanya sibuk berlatih menulis dengan kuas.

Dia melangkah ke meja tulis, mengambil lembaran kertas dan menatapnya, lalu tak bisa menahan senyum kecil. "Sudah selama ini, kok tulisanmu masih berantakan saja?"

"Sini, aku ajari."

Dulu, dia juga sering mengajariku menulis. Namun, belum lama belajar, kami malah beralih menggambar, lalu ujung-ujungnya bermain-main sampai lupa waktu. Makanya, tulisanku tak pernah membaik.

Dia melangkah ke belakangku, menggenggam tanganku, dan memandu kuas itu menuliskan goresan demi goresan dengan perlahan.

Namun, saat nama Ratih Pradipta terbentuk di atas kertas, tanganku seketika terasa dingin. Dia pun baru tersadar.

Dengan agak canggung, dia menarik tangannya. Baru saja dia hendak menjelaskan, aku sudah lebih dulu membuka suara.

"Hati Yang Mulia sedang tertuju pada Nona Ratih. Sebaiknya Yang Mulia kembali menemani beliau."

"Hamba rasa selama ini, Nona Ratih pasti sudah menyadari betapa dalamnya cinta Yang Mulia. Yang Mulia pasti akan segera mendapatkan apa yang diinginkan."

Bagas berdiri di hadapanku, seolah kehabisan kata-kata.

Kuangkat wajahku untuk menatap matanya. Anehnya, aku justru menangkap sedikit rasa iba di sana.

Mungkin karena ketenanganku saat memberinya restu membuat hatinya terasa tidak nyaman. Dia terdiam cukup lama, lalu tiba-tiba berkata, "Maya, apa pun yang terjadi, aku tidak akan mengusirmu."

Aku tersenyum tipis dan mengangguk.

Namun, kali ini, akulah yang memilih untuk pergi.

Dua hari sebelum hari keberangkatan, suasana hatiku kian membaik.

Si Putih kini sudah gemuk dan bulunya makin putih bersih. Aku duduk di anak tangga sambil menggodanya.

"Putih, tinggal dua hari lagi kita akan pulang. Pulang ke rumah kita yang sesungguhnya."

"Nanti, aku akan buatkan halaman kecil khusus untukmu. Kamu bisa berlari bebas sesukamu."

"Menurutmu, bagus nggak?"

Anjing itu tak bisa bicara, hanya menggonggong dua kali, seolah menjawabku.

Aku tersenyum sambil mengelus kepalanya. Baru saja hendak bangkit, pintu gerbang halaman tiba-tiba ditendang terbuka dengan keras.

Diiringi oleh para dayang dan pelayan, Ratih perlahan muncul di hadapanku.

"Kukira anjing liar mana yang masuk, ternyata peliharaanmu."

"Berisik sekali. Cepat seret keluar dan pukuli sampai mati!"

Aku langsung siaga, buru-buru menarik Si Putih ke belakangku untuk melindunginya. "Nona Ratih, anak anjing ini baru berusia beberapa bulan dan belum pernah menyakiti siapa pun. Mohon Nona berbelas kasih dan mengampuninya!"

"Hamba janji, mulai sekarang hamba tidak akan membiarkannya menggonggong lagi!"

Dia melangkah mendekatiku, tatapannya makin angkuh, dan kata-katanya makin kejam.

"Aku memang mau memukulnya sampai mati. Kamu bisa apa?"

"Kamu tidak tahu, aku paling benci anjing?"

"Anjing liar sepertimu, semuanya pantas dipukuli sampai mati!"

Seberapa pun dia menyakitiku, aku selalu menahannya. Namun kini, aku hanya punya Si Putih.

Satu-satunya yang ingin kulindungi sekarang hanyalah Si Putih.

"Jangan!"

Dia tak mengindahkanku, hanya melambaikan tangan, memberi isyarat pada para pelayan untuk bertindak.

Aku memeluk Si Putih erat-erat, bersikeras tak mau melepaskannya.

Mereka langsung menyerbu maju, berusaha merebut Si Putih dari pelukanku dengan segala cara.

Aku tak tahu sudah berapa banyak tamparan yang mendarat di wajahku, atau berapa banyak pukulan yang kuterima. Namun, hanya ada satu pikiran di kepalaku. Aku tidak boleh membiarkan siapa pun menyakiti Si Putih.

Tepat pada saat itu, Bagas mendengar keributan dan bergegas datang.

Dia mengenakan jubah panjang hitam bersulam naga emas, auranya begitu megah dan berwibawa.

Melihat kehadirannya, tangan mereka langsung terhenti. Semua orang serentak berlutut, memenuhi lantai.

"Yang Mulia!"

Aku seolah baru saja menemukan harapan terakhir. Sambil memeluk Putih erat-erat, aku berlutut di hadapannya dengan air mata bercucuran.

Aku tidak pernah kehilangan kendali seperti ini sebelumnya. Hukuman sehebat apa pun yang kualami, selalu kuterima dengan gigi terkatup rapat.

Namun kali ini, aku benar-benar kalut.

"Yang Mulia, hamba mohon. Hamba hanya meminta satu hal ini kepada Yang Mulia, hanya kali ini. Tolong jangan sakiti Putih."

"Kalau Nona Ratih tidak suka melihatnya, hamba akan membawanya pergi. Hamba hanya mohon agar nyawanya diselamatkan."

"Hamba mohon!"

Dia tak menjawab, seolah sedang menimbang-nimbang.

Ratih melangkah ke hadapannya, manyun dan merengek manja, "Yang Mulia, anjing tadi menggonggong sampai aku kaget setengah mati. Aku benar-benar tidak suka."

"Pukuli saja sampai mati. Kalau tidak, aku pasti mimpi buruk terus setiap malam."

Dia menunduk menatapku. Sorot matahari menyilaukan, membuatku tak bisa melihat jelas raut wajahnya. Yang terdengar hanyalah suaranya yang begitu dingin dan kejam.

"Seret anjing itu keluar dan pukuli sampai mati."

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Senar Merah Terputus, Cermin Retak   Bab 24

    Satu jam kemudian, orang-orang dari istana datang dan menjemput Bagas.Belakangan, aku baru tahu bahwa para pembunuh yang datang pada hari itu adalah sisa-sisa pengikut Keluarga Pradipta.Ketika Bagas sadar, dia telah kehilangan ingatannya.Namun, semua orang di istana tahu, betapa pun sibuknya urusan negara, dia tetap rutin merawat bunga melati di Taman Kerajaan setiap hari.Hari-hari terus berlalu dengan tenang di kota kecil ini. Aku dan Novan tetap menjalani kehidupan kami yang damai. Suatu hari, saat aku sedang tekun menyulam gambar bunga peony di sebuah toko sulam, tiba-tiba terdengar keributan dari arah pintu. Kuletakkan jarum sulam di tanganku, lalu bangkit untuk melihat ke luar. Kulihat sekelompok pengawal berpakaian megah mengelilingi sebuah kereta kuda mewah yang berhenti di depan kedai sulam.Tirai kereta itu disingkap perlahan dan seorang wanita berparas anggun turun dengan perlahan.Saat kutatap lebih saksama, ternyata itu adalah Santi.Dia mengenakan gaun istana berwarn

  • Senar Merah Terputus, Cermin Retak   Bab 23

    Bagas berdiri di depan pintu, menatap sosok yang begitu familier itu. Beribu kata tertahan di tenggorokannya, seketika dia tak bisa mengucapkan sepatah kata pun.Dia perlahan melangkah masuk ke halaman dan memanggil dengan suara lirih, "Maya ...."Mendengar suara itu, aku sontak menoleh. Saat melihat Bagas, seluruh tubuhku seketika membeku. Novan secara naluriah melindungiku di belakangnya, menatap Bagas dengan waspada.Tatapan Bagas melewati sosok Novan dan langsung tertuju kepadaku. Matanya dipenuhi kasih sayang dan rasa bersalah. "Maya, aku sudah mencarimu begitu lama."Aku selalu mengira saat bertemu dengannya lagi, hatiku akan dipenuhi kebencian. Namun, tak kusangka, hatiku justru terasa begitu tenang. Melihat reaksiku, Bagas memelukku erat bagaikan orang yang kehilangan akal. "Maya, aku sangat merindukanmu. Kembalilah ke istana bersamaku, jadilah Ratuku, apa kamu mau?"Aku mendorongnya menjauh, raut wajahku datar tanpa ekspresi sedih maupun senang. "Yang Mulia, silakan pulang."

  • Senar Merah Terputus, Cermin Retak   Bab 22

    Pada saat yang sama, aku dan Novan di kota kecil ini juga tidak tinggal diam.Kami dengan saksama mempelajari kitab kuno pemberian sang tetua, berusaha mencari lebih banyak bukti pemberontakan Keluarga Pradipta.Suatu hari, di sela-sela halaman kitab kuno, aku menemukan selembar perkamen yang telah menguning, penuh dengan simbol dan tanda-tanda aneh."Novan, cepat lihat ini!" seruku dengan gembira.Novan mendekat, meneliti perkamen itu dengan saksama, dahinya berkerut. "Simbol-simbol ini sepertinya semacam sandi. Mungkin ada kaitannya dengan konspirasi Keluarga Pradipta."Kami mulai mencari referensi ke sana kemari dan berkonsultasi dengan beberapa cendekiawan di kota, hingga akhirnya berhasil memecahkan arti dari simbol-simbol tersebut.Ternyata, perkamen itu mencatat lokasi dan waktu rahasia Keluarga Pradipta untuk menghubungi berbagai faksi."Ini penemuan yang sangat penting!" seru Novan dengan penuh semangat. "Dengan informasi ini, kita bisa menelusuri jejaknya dan menangkap seluru

  • Senar Merah Terputus, Cermin Retak   Bab 21

    Tiba-tiba, pintu kamar tidur terbuka, dan Ratih melangkah masuk dengan anggun."Yang Mulia, sudah lama Yang Mulia tidak menemaniku."Belum selesai dia berbicara, lehernya sudah dicekik oleh Bagas."Kamu sungguh mengira aku tidak berani membunuhmu?"Rasa sesak yang hebat menyergap, wajah Ratih seketika pucat pasi."Yang Mulia, Yang Mulia menyakitiku!"Bagas mengabaikannya, cengkeraman di tangannya makin mengencang.Terdengar suara "krek", Ratih merasakan sakit yang luar biasa di lehernya, secara naluriah dia menggigit tangan Bagas yang mencekiknya.Bagas mengerutkan kening, lalu membenturkan kepala Ratih ke tiang ranjang.Sekali ... Dua kali ....Darah segar mengalir turun dari dahi Ratih, pemandangan itu tampak cukup mengerikan.Mata Bagas merah padam, bagaikan binatang buas yang kehilangan akal.Tepat sebelum kehilangan kesadaran, Ratih mencabut tusuk konde dari rambutnya dan menusukkannya dengan keras ke arah dada Bagas."Pengawal! Lindungi Yang Mulia!"Sekelompok pengawal menyerbu m

  • Senar Merah Terputus, Cermin Retak   Bab 20

    Tepat saat kami sedang larut dalam keindahan pemandangan itu, Novan tiba-tiba berubah serius dan waspada menatap ke sekeliling. "Maya, hati-hati, aku merasakan ada orang di dekat sini."Aku secara naluriah mendekatinya, jantungku pun mulai berdegup kencang.Tepat pada saat itu, seorang lelaki tua berjubah sederhana perlahan melangkah keluar dari balik semak-semak.Rambutnya telah memutih seluruhnya, tetapi wajahnya masih memancarkan vitalitas. Tatapan matanya menyiratkan kedalaman dan kebijaksanaan. Sang tetua mengamati kami dari ujung kepala hingga kaki, lalu mengangguk pelan. "Kalian berdua, jangan panik. Aku tidak berniat buruk."Novan berdiri di depanku, lalu bertanya dengan hati-hati, "Maaf, boleh tahu siapa Tuan sebenarnya? Mengapa Tuan berada di tempat ini?"Sang tetua tersenyum tipis. "Aku hanyalah seorang pertapa di gunung ini. Aku telah mengasingkan diri di sini selama puluhan tahun.""Hari ini melihat kalian berdua memasuki wilayah ini, aku pun keluar untuk melihat. Melihat

  • Senar Merah Terputus, Cermin Retak   Bab 19

    Aku dan Novan mendapat kabar di kota kecil ini bahwa Keluarga Pradipta telah memindahkan tiga ribu pasukan elit mereka ke tempat lain, dan kini mereka berada di Gunung Gadhing. Mendengar kabar ini, aku dan Novan saling bertatapan. Kami sama-sama melihat keseriusan serta tekad yang bulat di mata masing-masing.Medan di Gunung Gadhing sangat rumit, mudah dipertahankan, tetapi sulit diserang. Pemindahan pasukan elit ke sini oleh Keluarga Pradipta jelas menunjukkan bahwa mereka telah melakukan persiapan yang sangat matang.Namun, ini juga berarti kita mungkin bisa menemukan bukti kejahatan yang lebih krusial di sana dan menjatuhkan Keluarga Pradipta sepenuhnya."Maya, perjalanan ini pasti sangat berbahaya," Novan menggenggam erat tanganku, menatapku dengan tatapan tegas, "tapi ini mungkin kesempatan terakhir kita untuk meruntuhkan Keluarga Pradipta sampai ke akar-akarnya."Aku mengangguk kuat-kuat. "Aku tidak takut, Novan. Selama ini bisa menyingkirkan bahaya bagi rakyat dan meringankan b

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status