Dua jam akhirnya berlalu. Seorang dayang di belakangku maju membantuku berdiri.Menatap lututku yang hancur berdarah-darah, anehnya aku tak merasakan sakit sedikit pun.Ternyata, ketika rasa sakit mencapai puncaknya, tubuh akan menjadi mati rasa. Sama seperti dulu, saat kayu sebesar pergelangan tangan dihantamkan keras ke kakiku, aku pun tak merasakan apa-apa.Demi menenangkan Bagas yang tampak khawatir, aku bahkan memaksakan diri untuk menari di hadapannya."Yang Mulia, hamba baik-baik saja. Sungguh, tidak sakit sama sekali ...."Waktu itu, dia memelukku dengan penuh kasih, matanya merah pekat seolah hendak meneteskan darah. "Maya, aku bersumpah, hari saat aku menjadi Raja, aku tidak akan membiarkanmu terluka sedikit pun."Suara Bagas yang penuh kasih dari belakang membuyarkan lamunanku. "Ratih, kudengar kamu paling menyukai lampion terbang. Bagaimana kalau kubawa kamu melihat lampion terbang terindah di dunia ini?"Aku tidak menoleh, melainkan bersandar pada dinding istana dan melang
Read more