LOGIN"Atau kamu pura-pura tidak ingat, hm?"
Asha tidak menjawab lagi. Sungguh isi kepalanya bagai benang kusut sekarang. Hangat tubuh mereka yang bergesekan membuat Asha tidak bisa berpikir jernih.Angkasa kemudian menurunkan wajahnya, meraup salah satu benda kembar Asha dan menyusu pada gadis itu sembari terus mendesakkan milik mereka di bawah sana.Asha mendongak dengan desahan yang lolos dari bibirnya. Satu tangannya mencengkeram punggung Angkasa, satunya lagi meremasSinar matahari yang menembus celah tirai membuat mata Asha terbuka perlahan. Gadis itu mengerjap beberapa kali sebelum meregangkan tubuhnya. Bahunya terasa sedikit pegal dan kepalanya berat.Namun, saat ingatannya kembali pada kejadian semalam, seketika wajah Asha memanas.Asha buru-buru menarik selimut hingga menutupi sebagian wajahnya."Astaga… yang semalam itu benar-benar nyata," gumam Asha. "Aku dan Kak Angkasa—"Bahkan semua yang terjadi semalam melekat erat di pikiran Asha. Gadis itu memejamkan mata sejenak lalu mengatur napasnya.Dengan jantung yang kembali berdebar, ia menoleh ke kiri dan kanan. Namun ia tidak menemukan Angkasa. Asha ingat mereka berciuman lembut sebelum tidur di pelukan pria itu.Asha kemudian mereka ulang semua kejadian-kejadian di tengah malam yang ia kira mimpi."Pantas saja tiap pagi aku sering bangun dalam keadaan lemas," gumamnya pelan. "Ternyata memang karena melakukan itu…"Waja
"Atau kamu pura-pura tidak ingat, hm?"Asha tidak menjawab lagi. Sungguh isi kepalanya bagai benang kusut sekarang. Hangat tubuh mereka yang bergesekan membuat Asha tidak bisa berpikir jernih.Angkasa kemudian menurunkan wajahnya, meraup salah satu benda kembar Asha dan menyusu pada gadis itu sembari terus mendesakkan milik mereka di bawah sana.Asha mendongak dengan desahan yang lolos dari bibirnya. Satu tangannya mencengkeram punggung Angkasa, satunya lagi meremas rambut hitam pria itu dengan kuat."Kak… Ahh… Hnghh… hhh…"Asha memejamkan mata dan menggigit bibirnya kuat-kuat. Getaran di tubuhnya begitu hebat dan jantungnya sendiri sudah tak karuan.Beberapa saat kemudian, Angkasa berhenti sejenak, napasnya tersengal-sengal. Begitu juga dengan Asha yang memeluk pria itu. Debar jantung mereka bersahutan seolah saling menyapa.Angkasa kemudian mengubah posisi Asha meski tetap memangku gadis itu. Angkasa memutar tubuh Asha
"Belum ingat juga, Angkasha?"Asha yang masih terengah-engah hanya bisa menggigit bibirnya dan menggeleng pelan. Kedua lengan Asha bersilang lemas di atas dadanya, menutupi benda kembarnya.Sementara itu, Angkasa mengangkat tubuh Asha, membantu hingga celana piama gadis itu terlepas seluruhnya. Angkasa melemparkan kain oranye lembut itu ke lantai. Asha kini terbaring polos di bawah tubuh angkasa yang masih mengenakan celana, menyisakan kain tipis segitiga berwarna senada dengan piamanya.Apa yang akan Angkasa lakukan padanya?Asha tidak punya jawaban kecuali pikirannya yang terpatri saat Angkasa menggosok miliknya di bawah sana dan menjilatnya. Membayangkan hal yang ternyata bukan mimpi itu, membuat wajah Asha semakin merah padam.Angkasa kemudian menegakkan tubuh dan bertumpu pada lututnya yang mengangkang di atas tubuh mungil Asha. Gadis itu yang melihat lagi otot-otot kekar dan keras Angkasa membuat Asha terdorong ingin menyentuhnya. T
Kebingungan melanda Asha, tak tahu harus jawab apa untuk pertanyaan Angkasa. Menyentuh ‘milik’ Ketua BEMnya?Otak Asha terasa kosong, bibirnya kelu dan napasnya tercekat di tenggorokan. Untuk mengeluarkan satu kata saja membuatnya kesusahan."K-kak… a-aku…"Angkasa dengan tubuh atasnya yang polos mendekat, pria itu turun mengungkung Asha. Kedua sikunya bertumpu di kasur mengapit Asha dengan posesif. Iris hitamnya tidak beralih sedikitpun dari manik cokelat Asha.Gadis itu menahan napas sekilas kala mendapati wajah tampan Angkasa yang kini tersisa beberapa senti dari wajah memerahnya."Kamu mau bilang… tidak ingat apapun lagi, kan?" bisik pria itu datar dengan mata yang sedikit memicing tajam.Asha mengulum bibirnya yang padat dan bengkak, jawabannya hanya kedipan bingung. Lantas tangan Angkasa bergerak turun meraih paha Asha, mengangkatnya pelan dan membukanya lebar."Ah… Kak…" Asha merasakan benda keras milik Angkasa ya
"Kamu belum ingat apa-apa, Angkasha?" tanya Angkasa lagi. Asha memejamkan mata, menahan gelombang yang tercipta di dadanya.Satu tangan Angkasa kini tengah meremas satu gundukan kenyalnya."A-aku… mhmm… gak ingat, Kak," jawab Asha terus berbohong. Ia sendiri bingung harus menjawab apa. Di sisi lain ia memang tidak pernah ingat bagaimana ia menggoda Angkasa jika tengah malam tiba. Asha juga terlalu malu untuk mengungkapkan apa yang melekat di kepalanya.Tidak ada yang berkata-kata lagi di antara mereka. Keduanya hanya mengeluarkan desahan dan geraman tipis.Satu tangan Angkasa mencengkeram pinggang Asha, telapak tangannya yang besar begitu panas menembus kain piama yang Asha kenakan. Asha mematung, seluruh otot di tubuhnya menegang, ia berusaha kembali pada logikanya, namun sial baginya Asha sudah terbuai. Ketegangan itu seolah menguras tenaganya dan Asha tidak bisa menahannya.Kamar mereka yang dingin mendadak pengap. Asha terkesiap, tubuhnya langsung kaku karena benda keras di bawah
Beberapa menit kemudian, Asha bangkit dari kasur. Ia mulai mondar-mandir di depan meja belajar sembari menggigit bibir bawahnya dengan gelisah."Aku pura-pura tidur aja kali ya?" gumamnya.Ia menghentikan langkah dan menoleh ke arah kasur. Ya, opsi teraman untuk sekarang adalah pura-pura tidur.Tanpa membuang waktu, Asha berlari kembali ke kasur, menyelinap ke bawah selimut, lalu menutupi hampir seluruh tubuhnya hingga kepala. Setelah menemukan posisi yang menurutnya cukup meyakinkan, ia memejamkan mata rapat-rapat.Beberapa saat kemudian terdengar suara pintu terbuka.Klik.Jantung Asha seketika berdegup lebih kencang. Lantas ia menahan napas sejenak.Namun, ia tidak menangkap suara langkah yang mendekat ke kasurnya. Mungkin Angkasa mengira Asha memang sudah tertidur dan sekarang sudah ke kasur pria itu.Asha membatin. 'Baguslah kalau dia sudah ke kasurnya sendiri, aku bingung harus menghadapi Kak Angkasa bagaimana sekarang…'Namun, tiba-tiba—Selimut yang menutupi tubuhnya tertarik.







