Masuk
**
"Aku ajak kamu malam ini agar nggak ditanya macam-macam sama rekan bisnisku, tapi kamu malah sok asik dan ikut nimbrung percakapan kami. Apa kamu memang sengaja mau menggatal sama mereka?!" Kayla yang awalnya hanya menunduk ketika masuk rumah, seketika mengangkat wajah. Alisnya berkerut, memandang tak percaya pada laki-laki di hadapannya. “Mas, kok bisa-bisanya kamu nuduh aku begitu?” “Ya karena kenyataannya memang begitu, kan?” “Mas, aku nggak–” “Aku nggak mau berdebat. Aku bilang begini supaya kamu lebih sadar diri aja lain kali. Kamu tahu, kamu tuh sudah bersuami. Nggak seharusnya kamu mencoba akrab sama orang lain, terutama laki-laki.” “Mas–” “Aku capek, mau istirahat.” Laskar Abimana, pria tiga puluh tiga tahun itu, berpaling dan pergi menjauh begitu saja. Sama sekali tidak menoleh lagi kepada sang istri, Kayla Anjani, yang masih terpaku di depan pintu rumah. Terkejut dengan semburan kata-kata kasar yang baru saja didengarnya. “Mas, mau aku siapkan air hangat buat mandi dulu, nggak?” Tidak ada jawaban. Pria itu sepertinya pura-pura tuli. Ia melangkah menaiki tangga tanpa menoleh. Kayla menatap punggung suaminya yang kian menjauh. Rasa kecewa dan malu bergejolak memenuhi dadanya hingga membuatnya mual. Malam ini, Kayla menemani Laskar menghadiri pesta pernikahan salah satu rekan bisnis dan sahabat Laskar sejak SMU. Maksud hati mengakrabkan diri dengan teman-teman sang suami agar tidak canggung. Toh, Kayla hanya menimpali sesekali obrolan mereka. Dan lagi, Kayla sudah pernah bertemu dengan beberapa dari mereka sebelumnya. Tapi nyatanya, Laskar justru marah besar. Menurutnya, Kayla hanya perempuan rumahan yang tidak mengerti tren. Dunia sehari-harinya hanya berkutat seputar dapur, kasur, dan sumur saja. Jadi mana nyambung jika diajak ngobrol teman-teman Laskar yang kebanyakan adalah pebisnis muda. Padahal nyatanya, teman-teman Laskar juga menanggapi Kayla dengan hangat. Sesekali tertawa dengan candaan Kayla, serta sama sekali tidak menganggap Kayla udik. Perempuan dua puluh tujuh tahun itu menghela napas berat. Tiga tahun menikah dengan Laskar, Kayla seringkali berakhir dengan situasi seperti ini. Ya, benar. Ini bukanlah pertama kalinya. Kayla tahu, ia memang hanya seorang istri yang tidak bekerja. Tapi bukan berarti ia tidak tahu bagaimana dunia berputar. Mereka belum dikaruniai keturunan, jadi Kayla masih punya waktu untuk dirinya sendiri. Segala informasi teraktual, sekarang sangat mudah diakses melalui internet, kan? Lagipula, sebelum menikah dengan Laskar, Kayla sempat bekerja di sebuah perusahaan multinasional dengan jabatan lumayan. “Sudahlah, mungkin aku tadi memang berlebihan. Lagian Mas Laskar benar, aku sudah bersuami, nggak boleh menggatal sama laki-laki lain. Aku akan minta maaf sama dia nanti .” Menghela napas lelah, Kayla membungkuk untuk melepas heels yang ia kenakan dan bersiap naik ke kamarnya yang berada di lantai dua. Pintu kamar Kayla buka perlahan agar tidak menimbulkan suara keras yang mengganggu. Ia masuk, mendapati sang suami yang sedang berbaring di atas ranjang dengan ponsel dalam genggaman. Sudah melepas kemejanya, dan bersiap untuk tidur. Berbeda dengan ketika berbicara dengannya, di hadapan ponsel itu, wajah Laskar tampak sumringah. Sesekali ia tersenyum lebar, lalu mengetik sesuatu dengan bersemangat. Entah apa yang membuatnya demikian. Laskar memang begitu, lebih banyak menghabiskan waktu dengan ponselnya daripada mengobrol dengan Kayla. Tak peduli betapa istrinya merasa kesepian di rumah. Kayla tidak akan bertanya, sebab ia sudah hapal jawabannya. Pasti Laskar akan mengatakan, “Nggak usah tanya-tanya. Aku jelasin pun, kamu mana paham dunia bisnis. Tugas istri tuh cuma patuh dan melayani suami. Nggak perlu ikut campur masalah yang lain-lain.” Menghela napas pelan, perempuan itu memilih mengganti pakaian dalam diam. Posisi Laskar ternyata masih sama ketika Kayla keluar dari kamar mandi setelah mencuci muka. Sesekali pria itu tertawa kecil, tampak bahagia sekali. ‘Dia mana pernah ketawa begitu kalau sama aku.’ Kayla membatin dengan masam. Gerakan derit pelan pada ranjang saat Kayla duduk, membuat Laskar melirik sekilas. Seketika, raut wajah pria itu kembali menjadi datar. “Besok aku pulang malam,” katanya singkat. “Tidur duluan aja, nggak usah nungguin. Nggak usah siapin makan malam. Aku makan di luar.” “Memangnya kamu mau ke mana?” “Meeting sama klien.” “Meeting? Meeting apa, Mas? Besok kan weekend. Apa masih harus kerja sampai malam juga?” “Aku bos ya, Kay. Bukan karyawan biasa. Ah, kamu mana ngerti masalah begini, sih? Sudahlah, nggak usah tanya-tanya.” Kayla mengatupkan bibir. Menelan kembali kata-kata yang hampir ia ucapkan. Percuma saja, sebab Laskar sama sekali tak bisa dibantah. Ia tahu, perusahaan kontraktor yang dirintis Laskar sejak dua tahun lalu, belakangan ini mulai punya nama. Perusahaan itu dibangun dengan bantuan Kayla yang rela menyerahkan semua tabungan serta menjual beberapa perhiasan warisan mendiang ibunya. Karena Kayla pikir, toh jika nanti Laskar sukses, ia sebagai istri yang akan menikmati hasilnya juga. “Mas, Ibu tadi nelepon aku ….” Kayla berkata pelan setelah jeda hening yang cukup lama. “Nanyain … masalah biasanya. Beliau bilang apa nggak ada jadwal ke dokter lagi–” “Ck! Udahlah, jawab aja apaan gitu. Bilang kalau udah usaha, tapi belum dikasih rezeki anak sama Tuhan. Terus mau gimana lagi, kan?” Kayla mengernyit. Ia bahkan belum menyelesaikan kalimatnya, tapi Laskar sudah memotong secara sepihak. Tak memberikan kesempatan kepada Kayla untuk menyelesaikan kalimatnya. Ia selalu begini, seperti menganggap tidak penting satu persoalan rumah tangga ini, yang sebenarnya sudah tiga tahun menjadi pokok masalah hari-hari mereka. Sementara sang mertua, ibu Laskar, terus mendesak perihal kehamilan kepada Kayla, Laskar sendiri justru acuh tak acuh. Setiap Kayla berusaha mengajaknya menemui dokter untuk periksa atau sekedar konsultasi, hanya jawaban dingin yang Kayla dapatkan. “Mas, tapi Ibu lho nanyain terus. Beliau pikir aku yang nggak niat ngajak kamu ke dokter buat program.” “Ya sudah sih, sana! Kan kamu nganggur, jadi bisa pergi ke dokter kapan aja. Aku sibuk, karyawanku banyak! Harus urus perusahaan. Mana sempat pergi ke dokter segala?” “Ayolah Mas, sekali-sekali luangin waktu. Kita pergi periksa bareng, biar tahu masalahnya ada di mana. Namanya usaha kan harus berdua–” “Oh, jadi sekarang kamu mau nuduh aku penyebabnya yang bikin kita nggak bisa punya anak, gitu? Kamu mau bilang aku yang bermasalah?” Kayla tersentak. Ia menggeleng lirih, “Bukan begitu … aku nggak pernah ngomong gitu, Mas. Aku cuma mau kita periksa bareng–” “Ah! Sudahlah! Ngomong sama kamu tuh cuma bikin ribut terus! Nggak guna!” Pria rupawan itu beranjak dari atas ranjang dengan gerakan kasar. Melangkah keluar kamar, lalu membanting pintunya hingga berdebam menutup. “Mas, kamu mau ke mana?” *****"Kamu nggak mau cari tahu tentang ibu kamu sama Anin? Mereka kayaknya lagi dalam keadaan yang enggak baik-baik aja."Kayla sengaja menanyakan hal ini ketika Kaivan sudah berada di atas tempat tidur. Sudah mandi, sudah makan malam, dan berada di dalam suasana hati yang cukup baik. Sehingga besar kemungkinan pria itu akan menjawab dengan kepala jernih.Sepertinya hal itu memang cukup efektif. Kaivan hanya tertegun sejenak sebelum kembali menyamankan diri sebelum menjawab."Sayang ... sebenarnya kita udah nggak ada urusan lagi sih sama mereka. Toh, dari awal aku juga nggak ada hubungan apapun sama mereka, kan? Kebetulan aja ayahku nikah sama ibunya Anin dan Laskar. Lalu sekarang setelah dua orang itu udah nggak berada dalam ikatan pernikahan, maka putus juga hubungan aku sama mereka."Kayla terdiam. Ia yang sedang bersandar manja di lengan Kaivan, mendongak dan memandang prianya itu tanpa sama sekali berniat mendebat."Begitu, ya? Ya sudahlah kalau begitu. Aku ikut aja kamunya gimana.
**"Ibu ketemu sama Kayla sama Kaivan tadi pas jualan. Kayla kayaknya mau beli stroberi tapi nggak tahu kalau Ibu yang jual. Jadi kita berdua sama-sama kaget."Widya bercerita dengan wajah menerawang kepada Anin. Ia duduk berselonjor di atas karpet tipis yang terhampar sekenanya di ruang tamu sempit itu. Sementara tangannya mengipas-ngipas menggunakan topi lebar yang sebelumnya ia pakai untuk berjualan. "Terus gimana?" Anin menyahut sambil lalu. Gadis itu sedang melepas sepatu dan kaus kakinya. Juga baru saja pulang dari bekerja sebagai pelayan restoran."Ya Ibu tinggal pergi, lah. Dianya masih melongo, Ibu udah lari. Malu tahu, Nin!""Ih, kok malu? Tahu gitu kan bisa minta duit.""Halah! Kamu sendiri juga malu kan pas ketemu mereka di restoran waktu itu? Kamu bilang sama Ibu langsung minta tuker sama temenmu, walau akhirnya dimarahin bosmu. Iya, kan?"Anin hanya melirik sedikit sebelum menyusul ibunya duduk berselonjor di atas karpet."Ah, iya! Ngomong-ngomong duit, dia ternyata tad
**"Ibu?!"Kayla terhenyak kaget.Ia hampir tergelincir jatuh dari kursi mobilnya, jika saja Kaivan tidak memeganginya dengan erat. Sementara sosok yang sedang menawarkan stroberi itu pun terlihat tak kalah kagetnya. Ia melangkah mundur ke belakang. Wajahnya mendadak pucat tanpa warna."Ibu!" Kayla mengulangi panggilannya. Kali ini ia benar-benar melompat turun. Mendekati wanita penjual stroberi yang ternyata adalah mantan ibu mertuanya, Widya."Ibu, aku-"Kayla belum sempat menyelesaikan kalimatnya, namun sosok di hadapannya itu keburu berlari kabur. Padahal Kayla hanya berniat menanyakan kabarnya. Widya kabur tanpa memedulikan dagangannya yang masih tertata di atas meja."Van, kok Ibu malah lari?" Kayla menoleh dengan panik kepada suaminya yang masih berada di dalam mobil. Dan sama halnya dengan dirinya, pria itu pun sedang bengong setelah menyaksikan kejadian barusan."Van, gimana ini? Masa stroberinya ditinggal di situ?""Ya, gimana Sayang? Mendadak lagi gitu. Aku juga nggak tahu."
**"Dokter, jangan bikin saya takut!"Kaivan hampir saja mendorong pria itu menghimpit dinding, jika saja seulas senyum dari yang bersangkutan tidak menghentikan langkahnya. Ya, sang dokter justru tersenyum. Detik selanjutnya, apa yang pria itu ucapkan akan meruntuhkan ketakutan Kaivan hingga rata dengan tanah."Sebelumya, saya ucapkan selamat ya, Pak. Melalui pemeriksaan yang kami lakukan, diketahui bahwa istri anda saat ini sedang mengandung."Hening. Kaivan merasa sadar dan tidak saat mendengar itu."Ap-apa, Dok?""Istri anda sedang mengandung, Pak Kaivan. Usia janin masih sekitar enam minggu, tapi melalui pemeriksaan, bisa dipastikan semuanya normal."Kaivan merasa tidak menginjak lantai. Tubuhnya bagai melambung melayang-layang seperti balon helium yang terlepas. Pria itu tertegun selama beberapa saat, hingga kemudian meraih tangan pria di hadapannya dan mencengkeramnya erat-erat."Dokter nggak bercanda, kan? Ini serius, kan? Istri saya hamil?""Positif, Pak.""Ah, Ya Tuhan!"Kai
**“Sayang, kamu bangun? Mana yang sakit? Kepalanya pusing? Perutnya sakit? Atau apa?”Kayla mengerjap pelan. Menyesuaikan cahaya yang menerpa pandangnya dengan tiba-tiba. Selama beberapa saat ia kembali memejamkan mata, kepalanya terasa berdenyut nyeri. Setelah terbiasa, perempuan itu kembali membuka mata. Memandang sang suami yang menatap dengan khawatir di samping ranjang sembari menggenggam tangannya.“Sayang? Bilang sama aku, apa yang kamu rasain?”“Oh ….” Kayla mengerutkan alis. Mencoba mencerna keadaan. “Aku kenapa ya, Van?”“Pingsan.” Kaivan menggenggam tangannya dengan hangat. “Ning telepon aku. Katanya kamu pingsan setelah ngeluh nggak enak badan. Bilang sama aku, sebelah mana yang sakit? Kita ke rumah sakit sekarang, ya?”Kayla menggeleng. Ia menyungging senyum untuk meyakinkan sang suami. “Kayaknya ini cuma kecapekan. Beberapa hari ini jadwalnya padat banget. Aku juga beberapa kali telat makan. Mungkin masuk angin aja.”Kaivan berdecak. Ia mengelus lembut puncak kepala Kay
**"Anin?"Gadis muda pelayan restoran itu terkesima. Wajahnya dalam sekejap berubah merah membara saat bertukar pandang dengan Kayla dan Kaivan yang baru saja masuk. Ia mundur selangkah. Menoleh ke arah belakang, dan tidak mendapati satu pun rekan kerjanya di sana. Padahal sebelumnya ia pikir bisa bertukar dengan pegawai yang lain."Kamu kerja di sini?" Kayla bertanya lagi kepada adik iparnya. Nada suara yang ia gunakan netral saja, seperti pertanyaan pada umumnya. Tapi Anin terlihat seperti Kayla baru saja mengatakan sesuatu yang membuatnya malu."Ya.""Udah lama?""Baru."Kayla dan Kaivan bertukar pandang kala mendapati interaksi yang dingin itu. Awalnya Kayla berniat ingin mengajak Anin ngobrol lebih banyak, tapi pandangan gelap Kaivan seperti mengatakan tidak setuju secara tersirat."Kasih menunya," kata pria rupawan itu, dingin.Anin bergerak ragu, mengulurkan buku menu berikut notes untuk mencatat pesanan. Setelah itu ia menunggu dalam diam. Selesai menerima order pun, Anin han







