Beranda / Rumah Tangga / Sentuh Aku Lagi, Adik Ipar / 2. Ibu Mertua Yang Terhormat

Share

2. Ibu Mertua Yang Terhormat

last update Tanggal publikasi: 2026-06-28 20:43:23

**

Kayla memejamkan mata sekilas. Ia menarik napas dalam-dalam untuk meredakan gemuruh dalam dadanya.

“Kamu kenapa semakin ke sini semakin nganggap aku seperti musuh begitu sih, Mas?” ujarnya lirih, kepada diri sendiri. 

Padahal Laskar menikahi Kayla tiga tahun yang lalu, sama sekali bukan karena perjodohan atau paksaan orang. Laskar sendiri yang menyatakan perasaannya dan meminang Kayla dengan segala janji manis masa depan.

Kayla yang kala itu sama sekali belum pernah dekat dengan lelaki sebab terlalu fokus bekerja setelah lulus kuliah, tentu saja terlena dengan perlakuan dan kata-kata manis seorang Laskar Abimana.

Manalah ia tahu, sikap itu hanya untuk pencitraan di permukaan saja. Lambat laun rumah tangga mereka berjalan dengan rasa hambar, yang mungkin hanya Kayla seorang saja yang merasakan.

Lelah, perempuan muda itu membaringkan tubuh di atas ranjang.

Tahu bahwa malam ini Laskar tidak akan kembali ke kamar.

…

Pukul setengah tujuh pagi.

Kayla menata beberapa menu sarapan di atas meja makan. Ia tersenyum memandang hasil kerja yang berlangsung sejak subuh tadi.

Secangkir kopi hitam terhidang rapi di samping piring yang masih kosong. Tumis udang, capjay, dan beberapa sayur lainnya tampak menggugah selera.

Terakhir, perempuan itu meletakkan piring berisi pisang goreng madu sebagai dessert.

Tersenyum lagi, ia mengalihkan pandang ke arah kamar yang berada di lantai atas.

"Mas? Kita sarapan sama-sama dulu, yuk!" serunya.

Samar-samar tercium wangi parfum milik Laskar. Tanda bahwa pria itu sedang bersiap.

Tak lama, Laskar turun dari lantai atas dengan fokus berada sepenuhnya pada benda pipih dalam genggamannya.

Kayla menarik kursi untuknya. Mengambilkan sedikit nasi, lauk dan sayur. Ia tahu, suaminya tidak makan banyak saat sarapan. Setelah meletakkan makanan di hadapan sang suami, ia mengambil piring untuk dirinya sendiri.

Belum sempat menyentuh apapun lagi, suara bel bergema di kejauhan.

“Siapa yang datang pagi-pagi begini?” Kayla bergumam pelan. “Kamu makan dulu aja, Mas, Aku lihat dulu ke depan.”

Laskar masih tak menjawab. Ia biarkan saja istrinya melesat ke sana kemari, sementara dirinya makan dengan pandangan terus terpaku pada layar ponsel.

Pintu terbuka, dan sosok yang berdiri di hadapan Kayla, membuatnya seakan tersedak udara kosong.

“I-Ibu ….”

Ya. Itu Widya, sang ibu mertua.

Kayla yang tadinya seperti hampir tersedak, kini merasa sesuatu menyangkut di tenggorokannya.

Jika orang ini datang, pasti ada saja yang ia permasalahkan.

Perempuan separuh baya itu memandang Kayla penuh penilaian, sebelum melangkah masuk. Kayla buru-buru menepi untuk memberi jalan.

“Laskar mana?” tanyanya pendek.

“Mas Laskar lagi sarapan, Bu. Masuk ke dalam saja yuk, kita sarapan bareng-bareng.”

Mengetahui putranya sedang duduk di kursi meja makan, Widya menyusul ke sana tanpa ragu-ragu.

“Jam segini baru sarapan?” komentar Widya. Pelan namun menusuk. “Nggak telat ke kantornya kamu, Las?”

“Nggak apa-apa. Tadi kesiangan bangun,” jawab sang putra datar. Ia meletakkan sendok dan meraih gelas berisi air putih. Lantas meneguknya hingga tersisa setengah.

Nah, jawaban itu membuat Widya sontak mengalihkan perhatian kepada Kayla yang hendak mengambil piring baru.

“Kok bisa kesiangan bangun? Memangnya kamu nggak bangunkan, Kay?”

“Oh, itu ….” Kayla mengulum bibir dengan gugup. “Ehm … mungkin Mas Laskar agak kecapean, Bu. Jadi agak susah bangunnya.”

Bagaimana Kayla bisa mengatakan bahwa Laskar semalam tidur di kamar tamu dan mengunci pintunya dari dalam, sehingga ia tidak bisa masuk untuk membangunkan?

Tapi jawaban dengan maksud mencari aman dari Kayla itu, justru memantik kata-kata pedas lanjutan dari sang ibu mertua.

“Nah, makanya kamu tuh jadi istri yang berbakti sama suami, Kay. Lihat sendiri kan, sekeras apa suamimu bekerja buat menuhin kebutuhan rumah. Jangan jadi istri yang banyak nuntut ini itu.”

“Iya, Bu.”

“Kamu tuh udah enak banget jadi istrinya Laskar. Dikasih rumah sebesar ini, cuma tinggal diem di rumah nunggu uang nafkah dari dia. Nggak perlu susah-susah kayak perempuan di luar sana.”

“Iya, Bu ….”

Kayla tidak menemukan jawaban lain yang ia rasa lebih baik dari ‘iya, bu’. Perempuan itu meletakkan piring berisi nasi di hadapan Widya, dan mempersilahkan sang mertua mengambil sendiri lauknya.

Ketika sepotong brokoli masuk ke dalam mulutnya, Widya mengerutkan dahi.

“Kok hambar begini rasanya? Kamu kan tahu, Laskar suka masakan yang kaya rasa. Ini nggak dikasih penyedap?”

“Loh … tadi udah aku coba, rasanya pas kok, Bu.” Kayla melirik ke arah suaminya. “Mas Laskar juga nggak protes, kok.”

Wajah Widya jadi sangat tidak enak mendengar itu. Ia melanjutkan makan dengan kening berkerut.

“Karena yang kamu lakukan cuma diam di rumah, sering-seringlah manjain suami dengan masak yang enak. Dandan yang cantik, biar suamimu betah di rumah. Kalau kamu kucel begitu, siapa yang mau lihat? Kalau suamimu nggak nyaman, gimana mau cepet punya anak?”

Demi Tuhan! Sesuap nasi yang baru saja masuk ke dalam mulut Kayla, terasa bagai butiran kerikil. Susah payah perempuan itu menelannya, dan malah berakhir macet di kerongkongan.

Masakan yang sedari pagi ia masak dengan sepenuh hati, mendadak terasa pahit.

Tak peduli dengan perasaan Kayla yang seperti dicabik-cabik, Widya kemudian melanjutkan mengobrol santai dengan putranya sementara menghabiskan sarapan.

“Oh iya, Las, bulan ini arisan berlian Ibu jangan lupa, ya. Sama si Anin katanya mau ke Korea buat nonton konser. Kasih dia uang saku.”

Jika tadi nasi yang Kayla kunyah terasa seperti butiran kerikil, sekarang ia rasa malah seperti serpihan kaca.

Ibu mertua terhormatnya ini menuntut begitu banyak hal, namun masih tak sungkan merecoki rumah tangga anaknya perihal finansial seperti itu.

Namun seperti biasa pula, Laskar hanya mengangguk. Tak banyak protes saat ibu dan adik bungsunya meminta uang untuk hal-hal yang tidak penting.

Kayla sebenarnya pun tak masalah, toh ibu mertuanya adalah janda. Sudah kewajiban Laskar sebagai anak sulung untuk ikut membantu.

Tapi lama-kelamaan dibantu, ujung-ujungnya malah jadi seperti ini.

“Oh, ya. Satu lagi, Ibu hampir lupa bilang. Ibu sebenernya ke sini buat sampaikan ini sama kamu.” 

Apa lagi kali ini? Kayla sudah sangat muak. Ia memandang piringnya tanpa selera, berharap ada tombol mute yang bisa ia tekan sehingga suara Widya tak lagi kedengaran.

“Adikmu Kaivan mau pulang, katanya. Entah besok, entah kapan. Ibu nggak terlalu nyimak, males.”

“Ngapain dia pulang?” Laskar menanggapi dengan dingin. Ia menengok jam tangan, sudah bersiap akan berangkat.

“Nggak tahu. Ibu suruh dia tinggal sama kamu aja sementara. Kalau di rumah, bisanya cuma ngerepotin.”

Seketika Kayla mengangkat wajah dan memandang Widya tak percaya.

“Kaivan, Bu? Tinggal di sini?” tanyanya memastikan.

Widya mengangguk. “Ya. Biar dia di sini ajalah. Toh, nggak akan lama. Katanya mau cari tempat tinggal sendiri, kok.”

“Ta-tapi, Bu ….” Kayla meletakkan sendoknya. Ia menelan saliva dengan susah payah. “Kan aku di rumah sendirian. Kalau Kaivan di sini … itu artinya aku bakalan tinggal berdua sama dia kalau Mas Laskar kerja.”

“Kenapa, sih?” Widya mendenguskan tawa remeh. “Kamu takut Kaivan bakal macem-macem? Jangan ge-er lah, Kay. Penampilanmu saja kayak gitu, kok. Siapa yang bakal ngelirik, coba?” 

***

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Sentuh Aku Lagi, Adik Ipar   78. Sudah Boleh?

    **"Kamu nggak mau cari tahu tentang ibu kamu sama Anin? Mereka kayaknya lagi dalam keadaan yang enggak baik-baik aja."Kayla sengaja menanyakan hal ini ketika Kaivan sudah berada di atas tempat tidur. Sudah mandi, sudah makan malam, dan berada di dalam suasana hati yang cukup baik. Sehingga besar kemungkinan pria itu akan menjawab dengan kepala jernih.Sepertinya hal itu memang cukup efektif. Kaivan hanya tertegun sejenak sebelum kembali menyamankan diri sebelum menjawab."Sayang ... sebenarnya kita udah nggak ada urusan lagi sih sama mereka. Toh, dari awal aku juga nggak ada hubungan apapun sama mereka, kan? Kebetulan aja ayahku nikah sama ibunya Anin dan Laskar. Lalu sekarang setelah dua orang itu udah nggak berada dalam ikatan pernikahan, maka putus juga hubungan aku sama mereka."Kayla terdiam. Ia yang sedang bersandar manja di lengan Kaivan, mendongak dan memandang prianya itu tanpa sama sekali berniat mendebat."Begitu, ya? Ya sudahlah kalau begitu. Aku ikut aja kamunya gimana.

  • Sentuh Aku Lagi, Adik Ipar   77. Jadi, Ceritanya Begini

    **"Ibu ketemu sama Kayla sama Kaivan tadi pas jualan. Kayla kayaknya mau beli stroberi tapi nggak tahu kalau Ibu yang jual. Jadi kita berdua sama-sama kaget."Widya bercerita dengan wajah menerawang kepada Anin. Ia duduk berselonjor di atas karpet tipis yang terhampar sekenanya di ruang tamu sempit itu. Sementara tangannya mengipas-ngipas menggunakan topi lebar yang sebelumnya ia pakai untuk berjualan. "Terus gimana?" Anin menyahut sambil lalu. Gadis itu sedang melepas sepatu dan kaus kakinya. Juga baru saja pulang dari bekerja sebagai pelayan restoran."Ya Ibu tinggal pergi, lah. Dianya masih melongo, Ibu udah lari. Malu tahu, Nin!""Ih, kok malu? Tahu gitu kan bisa minta duit.""Halah! Kamu sendiri juga malu kan pas ketemu mereka di restoran waktu itu? Kamu bilang sama Ibu langsung minta tuker sama temenmu, walau akhirnya dimarahin bosmu. Iya, kan?"Anin hanya melirik sedikit sebelum menyusul ibunya duduk berselonjor di atas karpet."Ah, iya! Ngomong-ngomong duit, dia ternyata tad

  • Sentuh Aku Lagi, Adik Ipar   76. Terbayar Lunas

    **"Ibu?!"Kayla terhenyak kaget.Ia hampir tergelincir jatuh dari kursi mobilnya, jika saja Kaivan tidak memeganginya dengan erat. Sementara sosok yang sedang menawarkan stroberi itu pun terlihat tak kalah kagetnya. Ia melangkah mundur ke belakang. Wajahnya mendadak pucat tanpa warna."Ibu!" Kayla mengulangi panggilannya. Kali ini ia benar-benar melompat turun. Mendekati wanita penjual stroberi yang ternyata adalah mantan ibu mertuanya, Widya."Ibu, aku-"Kayla belum sempat menyelesaikan kalimatnya, namun sosok di hadapannya itu keburu berlari kabur. Padahal Kayla hanya berniat menanyakan kabarnya. Widya kabur tanpa memedulikan dagangannya yang masih tertata di atas meja."Van, kok Ibu malah lari?" Kayla menoleh dengan panik kepada suaminya yang masih berada di dalam mobil. Dan sama halnya dengan dirinya, pria itu pun sedang bengong setelah menyaksikan kejadian barusan."Van, gimana ini? Masa stroberinya ditinggal di situ?""Ya, gimana Sayang? Mendadak lagi gitu. Aku juga nggak tahu."

  • Sentuh Aku Lagi, Adik Ipar   75. Oh, That's So Surprise!

    **"Dokter, jangan bikin saya takut!"Kaivan hampir saja mendorong pria itu menghimpit dinding, jika saja seulas senyum dari yang bersangkutan tidak menghentikan langkahnya. Ya, sang dokter justru tersenyum. Detik selanjutnya, apa yang pria itu ucapkan akan meruntuhkan ketakutan Kaivan hingga rata dengan tanah."Sebelumya, saya ucapkan selamat ya, Pak. Melalui pemeriksaan yang kami lakukan, diketahui bahwa istri anda saat ini sedang mengandung."Hening. Kaivan merasa sadar dan tidak saat mendengar itu."Ap-apa, Dok?""Istri anda sedang mengandung, Pak Kaivan. Usia janin masih sekitar enam minggu, tapi melalui pemeriksaan, bisa dipastikan semuanya normal."Kaivan merasa tidak menginjak lantai. Tubuhnya bagai melambung melayang-layang seperti balon helium yang terlepas. Pria itu tertegun selama beberapa saat, hingga kemudian meraih tangan pria di hadapannya dan mencengkeramnya erat-erat."Dokter nggak bercanda, kan? Ini serius, kan? Istri saya hamil?""Positif, Pak.""Ah, Ya Tuhan!"Kai

  • Sentuh Aku Lagi, Adik Ipar   74. Ada Apa Dengan Kayla?

    **“Sayang, kamu bangun? Mana yang sakit? Kepalanya pusing? Perutnya sakit? Atau apa?”Kayla mengerjap pelan. Menyesuaikan cahaya yang menerpa pandangnya dengan tiba-tiba. Selama beberapa saat ia kembali memejamkan mata, kepalanya terasa berdenyut nyeri. Setelah terbiasa, perempuan itu kembali membuka mata. Memandang sang suami yang menatap dengan khawatir di samping ranjang sembari menggenggam tangannya.“Sayang? Bilang sama aku, apa yang kamu rasain?”“Oh ….” Kayla mengerutkan alis. Mencoba mencerna keadaan. “Aku kenapa ya, Van?”“Pingsan.” Kaivan menggenggam tangannya dengan hangat. “Ning telepon aku. Katanya kamu pingsan setelah ngeluh nggak enak badan. Bilang sama aku, sebelah mana yang sakit? Kita ke rumah sakit sekarang, ya?”Kayla menggeleng. Ia menyungging senyum untuk meyakinkan sang suami. “Kayaknya ini cuma kecapekan. Beberapa hari ini jadwalnya padat banget. Aku juga beberapa kali telat makan. Mungkin masuk angin aja.”Kaivan berdecak. Ia mengelus lembut puncak kepala Kay

  • Sentuh Aku Lagi, Adik Ipar   73. Nasib Mereka

    **"Anin?"Gadis muda pelayan restoran itu terkesima. Wajahnya dalam sekejap berubah merah membara saat bertukar pandang dengan Kayla dan Kaivan yang baru saja masuk. Ia mundur selangkah. Menoleh ke arah belakang, dan tidak mendapati satu pun rekan kerjanya di sana. Padahal sebelumnya ia pikir bisa bertukar dengan pegawai yang lain."Kamu kerja di sini?" Kayla bertanya lagi kepada adik iparnya. Nada suara yang ia gunakan netral saja, seperti pertanyaan pada umumnya. Tapi Anin terlihat seperti Kayla baru saja mengatakan sesuatu yang membuatnya malu."Ya.""Udah lama?""Baru."Kayla dan Kaivan bertukar pandang kala mendapati interaksi yang dingin itu. Awalnya Kayla berniat ingin mengajak Anin ngobrol lebih banyak, tapi pandangan gelap Kaivan seperti mengatakan tidak setuju secara tersirat."Kasih menunya," kata pria rupawan itu, dingin.Anin bergerak ragu, mengulurkan buku menu berikut notes untuk mencatat pesanan. Setelah itu ia menunggu dalam diam. Selesai menerima order pun, Anin han

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status