공유

5. Kaivan

last update 게시일: 2026-06-29 21:41:38

**

Kayla bersumpah, ia seperti melihat sosok berbeda saat Kaivan mengatakan itu.

Perempuan itu reflek bergerak tak nyaman di atas kursinya.

“Yah, emm … aku juga beruntung kok punya suami yang baik seperti Mas Laskar.”

Bersamaan dengan mengatakan itu, Kayla tersenyum kaku sembari mengusap tengkuknya.

“Oh, ya? Mas Laskar sebaik itu kah?”

Kayla tidak tahu apakah itu adalah pertanyaan sungguhan atau hanya retorik. Ia memutuskan tidak menjawab.

Terlebih lagi, terdengar suara deru mobil lain yang berhenti di halaman rumah.

Kayla bergegas ke depan untuk membukakan pintu, dan benar, itu adalah Laskar yang asli.

Pria itu mengerutkan dahi kala melihat sang istri menyambut dengan senyum di depan pintu.

“Kan aku udah bilang, nggak usah nungguin kalau aku pulang malam,” katanya dingin. “Nanti kalau pusing karena kurang tidur atau apa, nyalahin aku.”

Senyum Kayla lenyap seketika.

“Nggak kok Mas. Ah iya, ada Kaivan di dalam, Dia baru aja datang.”

“Aku udah lihat.” Laskar mengedikkan dagu ke arah mobil hitam jenis SUV yang terparkir di depan sedan putih miliknya. “Kayak yang punya banyak duit aja, pakai sewa mobil premium segala.”

Kayla hanya memandang sekilas mobil hitam itu. Ia menunggu sampai suaminya masuk ke dalam, sebelum menutup pintu.

Kayla pikir, setidaknya akan ada sedikit adegan mengharukan saat Laskar bertemu lagi dengan Kaivan setelah tiga tahun berpisah. Bagaimanapun, keduanya adalah saudara kandung.

Namun ternyata anggapan itu salah.

Kaivan yang berada di meja makan segera berdiri kala melihat sang kakak datang. Tapi Laskar justru melengos, sama sekali tidak berusaha beramah tamah.

“Mas, temuin dulu Kaivan. Dia nunggu kamu, lho,” tegur Kayla tak enak. “Aku bikinin kopi, ya?”

“Ini udah tengah malam dan kamu malah tawarin aku kopi? Maksudmu nggak mau aku cepet istirahat?”

Salah bicara lagi.

Kayla menghela napas diam-diam. “Ya udah, aku bikinin susu aja, gimana? Kamu nggak kangen kah sama adikmu? Kalian udah lama banget lho nggak ketemu. Ngobrol dulu gih, sebentar.”

“Aku capek, udah kerja seharian sampai tengah malam begini! Lagian manusia mana yang nggak tahu diri banget, udah tahu jam segini malah datang ke rumah orang. Kamu aja yang ngobrol sendiri, sana!”

Pria itu melangkah menaiki tangga menuju kamarnya di lantai dua, tanpa sedikitpun menoleh kepada sang adik yang masih berada di meja makan.

Kayla sungguh tidak tahu harus bersikap bagaimana. Ia melangkah pelan menuju meja makan, bingung sendiri harus menjelaskan bagaimana kepada Kaivan perihal sikap kakaknya.

“Maaf ya, Van. Mas Laskar pasti lagi capek banget. Tahu sendiri lah, kerjaannya berat. Aku harap kamu maklum, ya. Besok pagi, dia pasti udah baik-baik aja, kok.”

Tanpa diduga, Kaivan hanya tersenyum dan mengangguk. Wajahnya sangat tenang, sama sekali tidak menyiratkan tanya atau keingintahuan atas sesuatu.

Apakah ia pura-pura tidak melihat sikap Laskar yang tidak seperti suami pada umumnya?

“Mbak Kay, istirahat aja. Aku mau habiskan tehnya dulu. Sayang, ini enak banget soalnya.”

Tak punya alasan lagi, akhirnya Kayla mengangguk. Dengan langkah gontai perempuan itu menaiki tangga, menyusul suaminya yang sudah berada di dalam kamar.

Begitu Kayla membuka pintu, ternyata Laskar sudah berbaring membelakanginya.

Jika sudah demikian, Kayla tahu ia akan diabaikan sampai pagi datang.

…

Dan pagi itu, kelabu seperti warna langit di luar sana. 

Laskar memang duduk bersama Kaivan di meja makan. Namun atmosfer ruangan itu sama sekali tidak menyiratkan pertemuan dua saudara yang sudah lama berpisah.

“Mau sampai kapan di sini?” tanya Laskar pendek, dengan fokus masih kepada layar ponselnya.

“Satu atau dua minggu, Mas,” jawab Kaivan. “Sampai aku ketemu tempat tinggal yang sesuai.”

“Loh, kamu nggak mau balik ke Jepang? Emang udah dapet apa aja di sana? Aku nggak mau ya, kalau kamu minta bantu modalin usaha. Aku aja apa-apa sendiri, kok.”

Senyum tipis menghiasi bibir Kaivan. “Memangnya selama ini aku pernah minta yang seperti itu sama kamu? Aku apa-apa juga sendiri, kalau kamu lupa.”

Seketika, Laskar meletakkan cangkir kopi yang baru saja ia seruput, lalu memandang Kaivan dengan wajah tersinggung.

“Serius, kalau ada apa-apa, aku nggak bakal sudi nolongin. Urusin sendiri!”

“Mas, sudah. Kok malah berantem pagi-pagi begini. Kalian kan udah lama nggak ketemu.” Kayla berusaha menengahi, namun sang suami terlanjur naik pitam. Ia melanjutkan omelannya kepada Kaivan.

“Memang bener ya kata Ibu. Kamu tuh bisanya cuma ngerepotin. Oh ya, lain kali nggak usah maksa pengen kelihatan keren lah, sampai nyewa mobil bagus segala. Percuma kalau mau pamer sama aku. Dari awal aja kamu udah kalah.”

“Mas!” Kayla terpaksa memotong dengan suara agak keras. “Kaivan baru satu hari loh di sini. Tolong lah jangan bersikap seperti itu. Dia itu adikmu.”

“Nah, cocok memang kamu sama dia. Sama-sama beban. Nggak guna. Bisanya cuma habisin uang aku aja.”

Laskar memang tidak mengatakan semua itu dengan nada tinggi. Namun sungguh, caranya bicara membuat Kayla merasa menjadi orang paling payah sedunia.

Tanpa menunggu waktu lebih lama lagi, Laskar melangkah meninggalkan meja makan. Menyisakan kopi dalam cangkir yang masih tersisa separuh.

Kayla memandang kepergiannya dengan sendu. Hatinya nyeri sebab kata-kata itu. Air bening sudah menggenang di sudut mata. Namun sebelum sempat jatuh, Kayla buru-buru menyeka dengan ujung tangan. Berpura-pura sedang kelilipan.

“Eh, Van, lanjutin sarapannya. Itu roti bakarnya masih banyak. Kamu makan aja. Aku beresin ini dulu.”

“Duduk sama aku sini, Mbak Kay.”

“Ah, nggak usah. Kamu sarapan aja, ini piring kotornya masih harus dicuci.”

“Nanti biar aku aja yang bantu cuciin. Sekarang kita sarapan sama-sama dulu aja, yuk. Mbak Kay dari pagi juga belum makan apa-apa, kan?”

Kaivan berdiri dari kursinya, lalu menarik tangan Kayla dan membawanya duduk di kursi sampingnya.

Senyum manis merekah saat ia menuangkan teh hangat dalam teko ke cangkir, lalu mendekatkannya ke depan Kayla.

“Van, nggak usah ….”

Suara deru mesin mobil terdengar dari arah halaman rumah. Pertanda bahwa Laskar sudah pergi.

Kayla sempat menengok ke arah depan, meski tak terlihat apapun.

Ia lalu kembali memandang cangkir teh di hadapannya dengan murung.

“Mbak Kay?” panggil Kaivan pelan.

Kayla mendongak.

“Mau cerita? Atau mau menangis dulu?”

***

이 작품을 무료로 읽으실 수 있습니다
QR 코드를 스캔하여 앱을 다운로드하세요

최신 챕터

  • Sentuh Aku Lagi, Adik Ipar   78. Sudah Boleh?

    **"Kamu nggak mau cari tahu tentang ibu kamu sama Anin? Mereka kayaknya lagi dalam keadaan yang enggak baik-baik aja."Kayla sengaja menanyakan hal ini ketika Kaivan sudah berada di atas tempat tidur. Sudah mandi, sudah makan malam, dan berada di dalam suasana hati yang cukup baik. Sehingga besar kemungkinan pria itu akan menjawab dengan kepala jernih.Sepertinya hal itu memang cukup efektif. Kaivan hanya tertegun sejenak sebelum kembali menyamankan diri sebelum menjawab."Sayang ... sebenarnya kita udah nggak ada urusan lagi sih sama mereka. Toh, dari awal aku juga nggak ada hubungan apapun sama mereka, kan? Kebetulan aja ayahku nikah sama ibunya Anin dan Laskar. Lalu sekarang setelah dua orang itu udah nggak berada dalam ikatan pernikahan, maka putus juga hubungan aku sama mereka."Kayla terdiam. Ia yang sedang bersandar manja di lengan Kaivan, mendongak dan memandang prianya itu tanpa sama sekali berniat mendebat."Begitu, ya? Ya sudahlah kalau begitu. Aku ikut aja kamunya gimana.

  • Sentuh Aku Lagi, Adik Ipar   77. Jadi, Ceritanya Begini

    **"Ibu ketemu sama Kayla sama Kaivan tadi pas jualan. Kayla kayaknya mau beli stroberi tapi nggak tahu kalau Ibu yang jual. Jadi kita berdua sama-sama kaget."Widya bercerita dengan wajah menerawang kepada Anin. Ia duduk berselonjor di atas karpet tipis yang terhampar sekenanya di ruang tamu sempit itu. Sementara tangannya mengipas-ngipas menggunakan topi lebar yang sebelumnya ia pakai untuk berjualan. "Terus gimana?" Anin menyahut sambil lalu. Gadis itu sedang melepas sepatu dan kaus kakinya. Juga baru saja pulang dari bekerja sebagai pelayan restoran."Ya Ibu tinggal pergi, lah. Dianya masih melongo, Ibu udah lari. Malu tahu, Nin!""Ih, kok malu? Tahu gitu kan bisa minta duit.""Halah! Kamu sendiri juga malu kan pas ketemu mereka di restoran waktu itu? Kamu bilang sama Ibu langsung minta tuker sama temenmu, walau akhirnya dimarahin bosmu. Iya, kan?"Anin hanya melirik sedikit sebelum menyusul ibunya duduk berselonjor di atas karpet."Ah, iya! Ngomong-ngomong duit, dia ternyata tad

  • Sentuh Aku Lagi, Adik Ipar   76. Terbayar Lunas

    **"Ibu?!"Kayla terhenyak kaget.Ia hampir tergelincir jatuh dari kursi mobilnya, jika saja Kaivan tidak memeganginya dengan erat. Sementara sosok yang sedang menawarkan stroberi itu pun terlihat tak kalah kagetnya. Ia melangkah mundur ke belakang. Wajahnya mendadak pucat tanpa warna."Ibu!" Kayla mengulangi panggilannya. Kali ini ia benar-benar melompat turun. Mendekati wanita penjual stroberi yang ternyata adalah mantan ibu mertuanya, Widya."Ibu, aku-"Kayla belum sempat menyelesaikan kalimatnya, namun sosok di hadapannya itu keburu berlari kabur. Padahal Kayla hanya berniat menanyakan kabarnya. Widya kabur tanpa memedulikan dagangannya yang masih tertata di atas meja."Van, kok Ibu malah lari?" Kayla menoleh dengan panik kepada suaminya yang masih berada di dalam mobil. Dan sama halnya dengan dirinya, pria itu pun sedang bengong setelah menyaksikan kejadian barusan."Van, gimana ini? Masa stroberinya ditinggal di situ?""Ya, gimana Sayang? Mendadak lagi gitu. Aku juga nggak tahu."

  • Sentuh Aku Lagi, Adik Ipar   75. Oh, That's So Surprise!

    **"Dokter, jangan bikin saya takut!"Kaivan hampir saja mendorong pria itu menghimpit dinding, jika saja seulas senyum dari yang bersangkutan tidak menghentikan langkahnya. Ya, sang dokter justru tersenyum. Detik selanjutnya, apa yang pria itu ucapkan akan meruntuhkan ketakutan Kaivan hingga rata dengan tanah."Sebelumya, saya ucapkan selamat ya, Pak. Melalui pemeriksaan yang kami lakukan, diketahui bahwa istri anda saat ini sedang mengandung."Hening. Kaivan merasa sadar dan tidak saat mendengar itu."Ap-apa, Dok?""Istri anda sedang mengandung, Pak Kaivan. Usia janin masih sekitar enam minggu, tapi melalui pemeriksaan, bisa dipastikan semuanya normal."Kaivan merasa tidak menginjak lantai. Tubuhnya bagai melambung melayang-layang seperti balon helium yang terlepas. Pria itu tertegun selama beberapa saat, hingga kemudian meraih tangan pria di hadapannya dan mencengkeramnya erat-erat."Dokter nggak bercanda, kan? Ini serius, kan? Istri saya hamil?""Positif, Pak.""Ah, Ya Tuhan!"Kai

  • Sentuh Aku Lagi, Adik Ipar   74. Ada Apa Dengan Kayla?

    **“Sayang, kamu bangun? Mana yang sakit? Kepalanya pusing? Perutnya sakit? Atau apa?”Kayla mengerjap pelan. Menyesuaikan cahaya yang menerpa pandangnya dengan tiba-tiba. Selama beberapa saat ia kembali memejamkan mata, kepalanya terasa berdenyut nyeri. Setelah terbiasa, perempuan itu kembali membuka mata. Memandang sang suami yang menatap dengan khawatir di samping ranjang sembari menggenggam tangannya.“Sayang? Bilang sama aku, apa yang kamu rasain?”“Oh ….” Kayla mengerutkan alis. Mencoba mencerna keadaan. “Aku kenapa ya, Van?”“Pingsan.” Kaivan menggenggam tangannya dengan hangat. “Ning telepon aku. Katanya kamu pingsan setelah ngeluh nggak enak badan. Bilang sama aku, sebelah mana yang sakit? Kita ke rumah sakit sekarang, ya?”Kayla menggeleng. Ia menyungging senyum untuk meyakinkan sang suami. “Kayaknya ini cuma kecapekan. Beberapa hari ini jadwalnya padat banget. Aku juga beberapa kali telat makan. Mungkin masuk angin aja.”Kaivan berdecak. Ia mengelus lembut puncak kepala Kay

  • Sentuh Aku Lagi, Adik Ipar   73. Nasib Mereka

    **"Anin?"Gadis muda pelayan restoran itu terkesima. Wajahnya dalam sekejap berubah merah membara saat bertukar pandang dengan Kayla dan Kaivan yang baru saja masuk. Ia mundur selangkah. Menoleh ke arah belakang, dan tidak mendapati satu pun rekan kerjanya di sana. Padahal sebelumnya ia pikir bisa bertukar dengan pegawai yang lain."Kamu kerja di sini?" Kayla bertanya lagi kepada adik iparnya. Nada suara yang ia gunakan netral saja, seperti pertanyaan pada umumnya. Tapi Anin terlihat seperti Kayla baru saja mengatakan sesuatu yang membuatnya malu."Ya.""Udah lama?""Baru."Kayla dan Kaivan bertukar pandang kala mendapati interaksi yang dingin itu. Awalnya Kayla berniat ingin mengajak Anin ngobrol lebih banyak, tapi pandangan gelap Kaivan seperti mengatakan tidak setuju secara tersirat."Kasih menunya," kata pria rupawan itu, dingin.Anin bergerak ragu, mengulurkan buku menu berikut notes untuk mencatat pesanan. Setelah itu ia menunggu dalam diam. Selesai menerima order pun, Anin han

더보기
좋은 소설을 무료로 찾아 읽어보세요
GoodNovel 앱에서 수많은 인기 소설을 무료로 즐기세요! 마음에 드는 작품을 다운로드하고, 언제 어디서나 편하게 읽을 수 있습니다
앱에서 작품을 무료로 읽어보세요
앱에서 읽으려면 QR 코드를 스캔하세요.
DMCA.com Protection Status