Share

4. Orang Asing Itu

last update publish date: 2026-06-28 22:13:10

**

“Astaga! Maaf! Maaf nggak sengaja, saya pikir anda suami saya ….”

Kayla panik. Ia segera menjauh dari orang asing yang masih berdiri mematung di depan pintu itu.

“Nggak apa-apa, Mbak.”

Mbak?

Kayla mengerutkan dahi saat memandang pria muda bertubuh jangkung di hadapannya. Ia merasa tidak mengenal orang ini.

“Maaf, tapi anda siapa, ya? Kalau mencari Mas Laskar, beliau sedang nggak ada di rumah sekarang. Sebaiknya besok pagi saja datang ke sini lagi.”

Pria itu masih diam mematung, dan memandangi Kayla tanpa berkedip. Pada saat itu, barulah Kayla sadar satu hal.

Ia masih mengenakan baju tidur seksi sepanjang paha dengan tali pundak kecil!

Demi Tuhan, Kayla terperanjat. Tanpa berkata apa-apa lagi, ia berlari pergi. Ia tutup pintu rumah dengan keras, lalu naik ke lantai atas dengan wajah merah padam.

Sementara tanpa Kayla sadari, pria muda di depan pintu itu menarik kedua sudut bibirnya ke atas. Tersenyum tipis.

“Bodoh banget, kok bisa sampai lupa kalau bajuku begini?” rutuk Kayla kepada diri sendiri setelah sampai di kamarnya. 

“Astaga, itu tadi siapa? Semoga dia udah pergi, aku malu banget, sial!”

Ketika Kayla mengintip dari jendela kamar di lantai dua, ternyata mobil hitam itu masih ada di halaman. Artinya, pria asing yang tadi juga masih berada di sana.

“Kayaknya aku tadi terlalu kasar. Aku samperin lagi deh, sekalian tanya dia itu siapa. Kok selarut ini bertamu ke rumah orang.”

Segera mengganti gaun tidur seksinya dengan pakaian yang lebih beradab, Kayla lalu kembali turun ke bawah. Di tengah perjalanan, ia terpikir sesuatu.

“Buat jaga-jaga aja. Meski nggak kelihatan seperti penjahat, tapi siapa yang tahu.”

Perempuan itu kembali ke kamar untuk mengambil semprotan merica yang ia simpan dalam saku jaket.

Begitu pintu depan ia buka kembali, orang asing itu memang benar masih berada di sana. Ia sedang duduk di sofa teras, dan segera berdiri saat Kayla membuka pintu.

“Mbak Kayla?”

“Ma-maaf. Maaf banget yang tadi. Jadi, anda cari siapa, ya?”

“Mbak, aku Kaivan. Ibu nggak bilang kah kalau aku mau datang?”

Ha! Sepasang mata gelap Kayla sontak membola.

“Ka-Kaivan?”

“Mbak Kay lupa sama aku, kah? Memang sudah lama banget kita nggak ketemu, ya?”

Lupa? Tentu saja tidak!

Kaivan yang Kayla ingat dulu, adalah pemuda tanggung berusia dua puluh dua tahun. Kurus, berwajah ketus, dan bersikap sangat dingin kepadanya. Alih-alih tersenyum dan bicara dengan hangat seperti sekarang, menyapa saja ia tak pernah.

Itu tiga tahun yang lalu.

Sama sekali berbeda dengan pria yang berdiri di hadapannya saat ini.

Pria dengan tubuh tinggi tegap dibalut kemeja dan celana panjang gelap yang serasi. Wajahnya cerah, rambutnya agak panjang namun tertata rapi, dan satu hal, ia sangat tampan. Lebih tampan daripada Laskar.

“Kamu Kaivan? Kaivan Aditama, adiknya Mas Laskar?”

Bagaimana bisa pemuda tanggung yang pemurung itu berubah menjadi seperti ini?

“Iya, Mbak. Kaivan yang mana lagi, memangnya.” Senyum pria itu merekah. Demi Tuhan, silau sekali!

“Senang bisa bertemu lagi. Maaf, mungkin beberapa hari ke depan, aku bakal ngerepotin Mbak Kay. Ibu suruh aku tinggal di sini sementara.”

“Apa? Ah … oh, ya, ya. Masuk, Van. Maaf, aku bener-bener nggak ngenalin kamu tadi.”

Kayla masih merasa linglung saat ia menepi dan memberi jalan untuk Kaivan, sehingga pria dua puluh lima tahun itu bisa masuk membawa kopernya.

“Mbak Kay tadi sudah tidur, ya? Aku niatnya nggak mau ngebangunin dan mau duduk di sofa luar aja sampai pagi.”

“Oh, nggak kok. Aku belum tidur. Masih … nunggu Mas Laskar.”

Sepasang pipi Kayla mendadak dipenuhi warna semburat merah saat ia mengingat kejadian memalukan beberapa saat lalu. Jika waktu bisa diputar, ingin rasanya Kayla menghapus adegan itu.

“Mas Laskar nggak ada di rumah?”

Kayla menggeleng. “Kerja, masih belum pulang.”

“Jam segini?”

Kayla mengulum senyum, mengangguk pelan. Rasa tidak enak memenuhi hatinya, sebab mengira Kaivan pasti berpikir ia adalah istri yang keterlaluan. Bisa-bisanya membiarkan suaminya bekerja hingga selarut ini di akhir pekan.

“Kamu bisa pakai kamar tamu di lantai dua, Van. Di sebelah kiri tangga, ya. Yang sebelah kanan itu kamarku sama Mas Laskar.”

Pria tampan itu tersenyum sembari mengangguk. 

Sekarang, Kayla baru merasa canggung. Haruskah ia menawari minum atau sesuatu?

Setengahnya Kayla kesal, sebab hingga saat itu, belum ada tanda-tanda Laskar pulang.

Pun, ia kesal kepada Widya. Bisa-bisanya ibu mertuanya itu menyuruh Kaivan tinggal di rumahnya. Lihat kan, pada detik-detik pertama saja, sudah ada kejadian memalukan macam tadi. Bagaimana dengan besok, dan besoknya lagi?

“Mbak Kay, kalau sudah mengantuk, silahkan istirahat duluan saja. Aku nggak apa-apa, kok. Jangan jadi terbebani karena ada aku.”

Kayla terkesiap, sadar bahwa tadi sempat melamun sejenak. Ia menggeleng, akhirnya memutuskan menawarkan sesuatu untuk Kaivan, sembari menunggu Laskar pulang.

“Aku siapin teh hangat, ya? Mungkin kamu mau bersih-bersih dulu. Nanti aku taruh di meja makan. Kamu ke sana aja.”

Sebelum Kaivan menjawab, Kayla sudah melangkah pergi menuju dapur.

Ia yang awalnya bermaksud membuat satu cangkir teh untuk adik iparnya, justru jadi menyeduh dua cangkir. Satu untuk dirinya sendiri.

“Mbak, makasih banget, ya. Maaf ngerepotin malam-malam.”

Kayla tersenyum. Ia mendorong satu cangkir ke seberang meja makan, di mana Kaivan mengambil tempat duduk. Sebisa mungkin Kayla alihkan pandang ke arah lain, sebab pria muda itu justru terlihat lebih tampan mengenakan kaos hitam polos. Tubuhnya tegap berotot, tapi tidak berlebihan. 

Suara seruput terdengar pelan ketika Kaivan menyesap tehnya.

“Wow! Ini bikin tehnya gimana? Kok bisa enak banget begini?”

Kata-katanya membuat Kayla refleks menoleh dan tertawa tak percaya.

“Apa sih, itu kan cuma teh.”

“Serius, seger banget. Aku nggak pernah minum teh yang kayak gini. Manisnya pas, nggak berlebihan.”

Aduh, apa itu?

Tiga tahun menjadi istri Laskar, Kayla sama sekali belum pernah mendapatkan pujian seperti itu ketika ia menghidangkan sesuatu untuk suaminya.

Paling sering, justru Laskar akan mengatakan bahwa kopi buatan Kayla terlalu manis, masakannya terlalu asin, baju yang Kayla cuci tidak bersih, atau banyak lagi protes yang lain.

Mana pernah ia dipuji-puji seperti ini hanya untuk secangkir teh?

Terkesiap, Kayla buru-buru mengusir pikiran itu dari benaknya. Bisa-bisanya ia malah membandingkan suaminya sendiri dengan orang lain.

“Mbak Kay ….”

Kayla menoleh, mendapati Kaivan sedang memandangnya dengan senyum tersungging.

Kendati demikian, pandangan mata itu tampak agak aneh. Berkilat tajam seperti mata pedang yang siap menguliti Kayla hidup-hidup.

“Mas Laskar beruntung banget punya istri seperti kamu.”

***

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Sentuh Aku Lagi, Adik Ipar   78. Sudah Boleh?

    **"Kamu nggak mau cari tahu tentang ibu kamu sama Anin? Mereka kayaknya lagi dalam keadaan yang enggak baik-baik aja."Kayla sengaja menanyakan hal ini ketika Kaivan sudah berada di atas tempat tidur. Sudah mandi, sudah makan malam, dan berada di dalam suasana hati yang cukup baik. Sehingga besar kemungkinan pria itu akan menjawab dengan kepala jernih.Sepertinya hal itu memang cukup efektif. Kaivan hanya tertegun sejenak sebelum kembali menyamankan diri sebelum menjawab."Sayang ... sebenarnya kita udah nggak ada urusan lagi sih sama mereka. Toh, dari awal aku juga nggak ada hubungan apapun sama mereka, kan? Kebetulan aja ayahku nikah sama ibunya Anin dan Laskar. Lalu sekarang setelah dua orang itu udah nggak berada dalam ikatan pernikahan, maka putus juga hubungan aku sama mereka."Kayla terdiam. Ia yang sedang bersandar manja di lengan Kaivan, mendongak dan memandang prianya itu tanpa sama sekali berniat mendebat."Begitu, ya? Ya sudahlah kalau begitu. Aku ikut aja kamunya gimana.

  • Sentuh Aku Lagi, Adik Ipar   77. Jadi, Ceritanya Begini

    **"Ibu ketemu sama Kayla sama Kaivan tadi pas jualan. Kayla kayaknya mau beli stroberi tapi nggak tahu kalau Ibu yang jual. Jadi kita berdua sama-sama kaget."Widya bercerita dengan wajah menerawang kepada Anin. Ia duduk berselonjor di atas karpet tipis yang terhampar sekenanya di ruang tamu sempit itu. Sementara tangannya mengipas-ngipas menggunakan topi lebar yang sebelumnya ia pakai untuk berjualan. "Terus gimana?" Anin menyahut sambil lalu. Gadis itu sedang melepas sepatu dan kaus kakinya. Juga baru saja pulang dari bekerja sebagai pelayan restoran."Ya Ibu tinggal pergi, lah. Dianya masih melongo, Ibu udah lari. Malu tahu, Nin!""Ih, kok malu? Tahu gitu kan bisa minta duit.""Halah! Kamu sendiri juga malu kan pas ketemu mereka di restoran waktu itu? Kamu bilang sama Ibu langsung minta tuker sama temenmu, walau akhirnya dimarahin bosmu. Iya, kan?"Anin hanya melirik sedikit sebelum menyusul ibunya duduk berselonjor di atas karpet."Ah, iya! Ngomong-ngomong duit, dia ternyata tad

  • Sentuh Aku Lagi, Adik Ipar   76. Terbayar Lunas

    **"Ibu?!"Kayla terhenyak kaget.Ia hampir tergelincir jatuh dari kursi mobilnya, jika saja Kaivan tidak memeganginya dengan erat. Sementara sosok yang sedang menawarkan stroberi itu pun terlihat tak kalah kagetnya. Ia melangkah mundur ke belakang. Wajahnya mendadak pucat tanpa warna."Ibu!" Kayla mengulangi panggilannya. Kali ini ia benar-benar melompat turun. Mendekati wanita penjual stroberi yang ternyata adalah mantan ibu mertuanya, Widya."Ibu, aku-"Kayla belum sempat menyelesaikan kalimatnya, namun sosok di hadapannya itu keburu berlari kabur. Padahal Kayla hanya berniat menanyakan kabarnya. Widya kabur tanpa memedulikan dagangannya yang masih tertata di atas meja."Van, kok Ibu malah lari?" Kayla menoleh dengan panik kepada suaminya yang masih berada di dalam mobil. Dan sama halnya dengan dirinya, pria itu pun sedang bengong setelah menyaksikan kejadian barusan."Van, gimana ini? Masa stroberinya ditinggal di situ?""Ya, gimana Sayang? Mendadak lagi gitu. Aku juga nggak tahu."

  • Sentuh Aku Lagi, Adik Ipar   75. Oh, That's So Surprise!

    **"Dokter, jangan bikin saya takut!"Kaivan hampir saja mendorong pria itu menghimpit dinding, jika saja seulas senyum dari yang bersangkutan tidak menghentikan langkahnya. Ya, sang dokter justru tersenyum. Detik selanjutnya, apa yang pria itu ucapkan akan meruntuhkan ketakutan Kaivan hingga rata dengan tanah."Sebelumya, saya ucapkan selamat ya, Pak. Melalui pemeriksaan yang kami lakukan, diketahui bahwa istri anda saat ini sedang mengandung."Hening. Kaivan merasa sadar dan tidak saat mendengar itu."Ap-apa, Dok?""Istri anda sedang mengandung, Pak Kaivan. Usia janin masih sekitar enam minggu, tapi melalui pemeriksaan, bisa dipastikan semuanya normal."Kaivan merasa tidak menginjak lantai. Tubuhnya bagai melambung melayang-layang seperti balon helium yang terlepas. Pria itu tertegun selama beberapa saat, hingga kemudian meraih tangan pria di hadapannya dan mencengkeramnya erat-erat."Dokter nggak bercanda, kan? Ini serius, kan? Istri saya hamil?""Positif, Pak.""Ah, Ya Tuhan!"Kai

  • Sentuh Aku Lagi, Adik Ipar   74. Ada Apa Dengan Kayla?

    **“Sayang, kamu bangun? Mana yang sakit? Kepalanya pusing? Perutnya sakit? Atau apa?”Kayla mengerjap pelan. Menyesuaikan cahaya yang menerpa pandangnya dengan tiba-tiba. Selama beberapa saat ia kembali memejamkan mata, kepalanya terasa berdenyut nyeri. Setelah terbiasa, perempuan itu kembali membuka mata. Memandang sang suami yang menatap dengan khawatir di samping ranjang sembari menggenggam tangannya.“Sayang? Bilang sama aku, apa yang kamu rasain?”“Oh ….” Kayla mengerutkan alis. Mencoba mencerna keadaan. “Aku kenapa ya, Van?”“Pingsan.” Kaivan menggenggam tangannya dengan hangat. “Ning telepon aku. Katanya kamu pingsan setelah ngeluh nggak enak badan. Bilang sama aku, sebelah mana yang sakit? Kita ke rumah sakit sekarang, ya?”Kayla menggeleng. Ia menyungging senyum untuk meyakinkan sang suami. “Kayaknya ini cuma kecapekan. Beberapa hari ini jadwalnya padat banget. Aku juga beberapa kali telat makan. Mungkin masuk angin aja.”Kaivan berdecak. Ia mengelus lembut puncak kepala Kay

  • Sentuh Aku Lagi, Adik Ipar   73. Nasib Mereka

    **"Anin?"Gadis muda pelayan restoran itu terkesima. Wajahnya dalam sekejap berubah merah membara saat bertukar pandang dengan Kayla dan Kaivan yang baru saja masuk. Ia mundur selangkah. Menoleh ke arah belakang, dan tidak mendapati satu pun rekan kerjanya di sana. Padahal sebelumnya ia pikir bisa bertukar dengan pegawai yang lain."Kamu kerja di sini?" Kayla bertanya lagi kepada adik iparnya. Nada suara yang ia gunakan netral saja, seperti pertanyaan pada umumnya. Tapi Anin terlihat seperti Kayla baru saja mengatakan sesuatu yang membuatnya malu."Ya.""Udah lama?""Baru."Kayla dan Kaivan bertukar pandang kala mendapati interaksi yang dingin itu. Awalnya Kayla berniat ingin mengajak Anin ngobrol lebih banyak, tapi pandangan gelap Kaivan seperti mengatakan tidak setuju secara tersirat."Kasih menunya," kata pria rupawan itu, dingin.Anin bergerak ragu, mengulurkan buku menu berikut notes untuk mencatat pesanan. Setelah itu ia menunggu dalam diam. Selesai menerima order pun, Anin han

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status