LOGIN**
Kayla terhenyak. Tanpa sadar ia menarik dirinya mundur, agak menjauh dari Kaivan.
“Ap-apa maksudnya, Van? Siapa yang mau menangis memangnya?”
Tapi tatapan teduh itu seperti mengunci Kayla. Senyum tipis Kaivan kembali merekah.
“Nggak perlu terus ditutup-tutupi, Mbak. Perlakuan buruk kakakku kepada kamu itu terlihat sangat jelas. Percuma kamu terus belain dia. Dia-nya aja kelakuannya seperti itu.”
Untuk sesaat, Kayla hampir membenarkan kata-kata itu.
Tapi kemudian ia ingat, bagaimanapun buruknya, Laskar adalah suaminya. Ia tidak boleh lebih memihak kepada orang lain ketimbang suaminya sendiri.
Lebih daripada itu, Kaivan terhitung orang baru. Meski ada ikatan keluarga dan sudah sering bertemu sebelumnya, ia tidak bisa serta merta mempercayainya begitu saja.
“Ah, nggak begitu, Van.” Kayla tersenyum, mencoba bersikap biasa saja. “Biasanya Mas Laskar nggak pernah seperti ini, kok. Dia biasanya selalu baik dan perhatian sama aku. Dia agak badmood ya karena itu tadi, belakangan kerjaannya banyak banget di kantor.”
Betapa berat kata dusta yang terucap dari bibir Kayla itu.
Sebab kenyataannya, hari-hari yang ia jalani sebagai istri Laskar sangat bertolak belakang dengan apa yang baru saja ia ucapkan.
Jangankan perhatian, Kayla saja sudah tidak ingat kapan terakhir kali Laskar berbicara dengan nada lembut kepadanya.
“Begitu ya, Mbak?”
Kayla mengangguk. Ia mengalihkan pandang, menghindari tatapan skeptis dari sang adik ipar yang masih duduk dengan tenang.
“Syukurlah kalau begitu. Karena menurutku, Mas Laskar sangat beruntung punya istri kamu, Mbak. Dia bodoh banget kalau sampai menyia-nyiakan perempuan seperti kamu.”
Kayla hanya menanggapi kata-kata itu dengan senyum tipis. Tidak ingin bertanya apa maksudnya kepada Kaivan.
Ia menyesap sedikit teh dalam cangkir sebelum beranjak menuju wastafel dan mempersilahkan Kaivan melanjutkan sarapannya.
…
Kayla memandangi kalender meja yang berada di atas pangkuannya.
Satu tanggal pada kalender itu, Kayla tandai dengan lambang hati menggunakan spidol merah.
Hari jadi pernikahannya dengan Laskar tepat yang ketiga, jatuh pada esok hari.
Kayla tersenyum senang.
“Aku harus kasih kejutan sama Mas Laskar,” ujarnya sementara memandang bayangannya sendiri di dalam cermin. “Kemarin kayaknya Mas Laskar terlalu terkejut sama kedatangan mendadak Kaivan, jadi mungkin nggak terlalu perhatiin aku.”
Benar, setelah insiden salah peluk malam kemarin, Kayla gagal memberikan kejutan kepada Laskar dengan penampilan seksinya.
Lingerie manis itu kembali tersimpan rapi di dalam lemari.
Lalu rencananya, malam nanti Kayla akan mengulang kejutannya lagi.
“Pokoknya kejutan malam ini nggak boleh gagal lagi. Aku akan dandan yang cantik, terus nunggu Mas Laskar pulang. Aku juga udah siapin sesuatu yang spesial buat dia.”
Bayangan indah itu memenuhi benak Kayla. Ia yang berdandan cantik dan seksi, siap menyambut sang suami dalam pelukan sebelum memulai sesi panas.
Lalu jika malam nanti berjalan lancar, semoga kabar bahagia itu datang tidak lama kemudian.
Kayla sudah menghitung, malam ini ia akan berada pada masa subur.
“Semoga kita segera dikasih kesempatan buat jadi orang tua ya, Mas. Siapa tahu setelah aku mengandung, sikap kamu akan berubah hangat seperti dulu lagi.”
Puas dengan angan-angan indahnya, Kayla bergegas keluar kamar untuk menyiapkan makan malam.
Meski Laskar sudah pasti pulang malam, tapi sekarang ada Kaivan di rumah. Kayla akan memasak untuk Kaivan dulu. Tidak mungkin kan, ia biarkan sang adik ipar kelaparan.
Namun tepat ketika Kayla membuka pintu kamar, Kaivan sedang melintas di depannya.
“Eh, Mbak Kay ….” Pria dua puluh lima tahun itu menghentikan langkahnya.
“Mau ke mana, Van?” Kayla memandang penampilan rapi Kaivan. Itulah sebabnya ia bertanya demikian.
“Aku ada janji ketemu orang, Mbak. Mungkin pulangnya tengah malam nanti. Mbak Kayla nggak apa-apa kan, di rumah sendiri?”
“Oh, tadinya aku mau masak makan malam buat kamu, Van. Ya sudah kalau kamu mau pergi. Aku nggak jadi masak.”
Kaivan tersenyum manis. “Mbak, aku ada di rumah pun, sebenarnya kamu nggak perlu capek-capek begitu. Aku sudah terbiasa mengurus diriku sendiri. Kalau kamu manjain aku terus, nanti aku jadi kebiasaan loh.”
“Manjain apa? Aku kan cuma masak makan malam ….”
Semburat merah segera menghiasi kedua pipi putih Kayla, dan karenanya, Kaivan terkekeh geli.
Pria yang dua tahun lebih muda dari Kayla itu mengulurkan tangan, menggusak lembut rambut yang lebih tua karena gemas.
Demi Tuhan, Kayla merasa seperti tubuhnya tersengat aliran listrik pendek.
“Kalau gitu aku pergi dulu ya, Mbak.”
Sampai Kaivan menghilang dari pandangan, Kayla masih terpaku di tempat.
Tubuhnya freeze, wajahnya merah padam.
“Ap-apa itu tadi? Astaga, bisa-bisanya itu anak!”
Mencoba melupakan sikap Kaivan yang ambigu, Kayla memilih bersiap-siap lebih awal.
Menu makan malam spesial Kayla pesan online. Bukan malas, tapi menghindari kekecewaan Laskar jika selera pria itu kurang sesuai dengan masakannya.
Karena tidak memasak, Kayla memilih melakukan perawatan tubuh saja. Agar malam nanti, ia benar-benar bisa melayani Laskar dengan maksimal.
Memakai lulur untuk seluruh tubuh, masker, dan merias wajah cantiknya dengan make up yang pas.
Jam sembilan malam, Kayla selesai bersiap. Ia kembali memandang bayangannya sendiri di depan cermin sembari menelepon sang suami.
“Mas Laskar sesibuk itu, ya? Sampai nggak sempat angkat telepon ….”
Meski sedikit cemberut, Kayla tetap siapkan makan malamnya di balkon samping yang menghadap ke taman. Lengkap dengan sepasang lilin merah yang menyala romantis, dan kejutan yang sudah Kayla rencanakan, sebotol wine mahal di dalam wadah metal berisi es batu, yang ia beli dengan uang tabungannya.
“Sebentar lagi Mas Laskar pasti datang. Aku akan langsung ajak dia ke sini.”
Senyum itu merekah lagi, mengabaikan kekecewaan yang semakin besar sebab seiring waktu yang merambat kian malam, Laskar tak kunjung datang.
Hingga pada akhirnya ketika jarum jam menyentuh angka sebelas, ponsel Kayla berbunyi. Ada notifikasi pesan masuk.
“Seenggaknya dia hubungin aku kalau pulang telat,” gumam Kayla sembari membuka chat yang baru saja masuk itu.
Kedua mata gelap Kayla sontak membola ketika ia membuka pesan virtual, yang ternyata berisi beberapa foto.
Foto suaminya bersama seorang perempuan, dalam pose yang sangat tidak pantas.
Berpelukan, berciuman, dengan tubuh hampir telanjang.
Dunia di sekeliling Kayla terasa berputar. Nyaris terjengkang, ia berpegang erat pada lengan kursi.
Berkali-kali Kayla menajamkan penglihatan untuk memastikan foto itu.
“Ini nggak benar ….” bisiknya tercekat. “Ini bukan Mas Laskar. Bukan, ini pasti foto yang sudah diedit pakai AI. Suamiku nggak mungkin kayak begini ….”
Kayla mengangguk. Ia menarik napas, mencoba menenangkan diri dan terus berpikir positif meski dadanya terasa seperti terbakar.
Namun kemudian, sebuah chat lain menyusul masuk.
Kali ini sebuah video.
Dengan tangan gemetaran, Kayla membuka video itu.
Bodoh sekali, sebab ternyata objek dalam video itu masih sama. Bahkan kali ini, suara percakapannya terdengar sangat jelas.
“... Dia nelepon terus dari tadi. Pasti suruh aku cepet pulang buat makan malam, karena hari ini adalah anniversary kita yang ketiga. Tapi bodo amatlah, siapa yang sudi tidur sama perempuan udik macam dia. Mending aku di sini sama kamu, Sayang ….”
***
**Empat tahun berlalu seperti kedipan mata. Pagi itu, suasana di rumah Kaivan dan Kayla sudah ramai sejak matahari baru muncul di ufuk timur. Suara langkah-langkah kecil yang bersemangat memantul di sepanjang koridor rumah."Mama! Tas kelinci Elea mana? Sepatu yang ada lampunya udah dipasangin kaos kaki belum?" suara cempreng nan menggelegar milik Elea menggema dari arah kamar. Meriah sekali, menyambut pagi yang hening.Gadis mungil itu tumbuh menjadi sosok yang sangat periang. Matanya lentik, bulat berbinar, pipinya merah alami, dan celotehannya seolah tak pernah habis. Pagi ini adalah hari pertamanya masuk preschool, dan alih-alih takut seperti anak-anak pada umumnya, Elea justru sudah siap berjam-jam sebelum jam masuk sekolah.Kayla keluar dari dapur sambil menggeleng-gelengkan kepala melihat tingkah putrinya. "Sabar, Sayang. Ini tasnya udah Mama bawain. Papa mana? Udah siap belum?""Papa masih rapihin dasi di kamar, Ma!" seru Elea sambil meloncat-loncat kecil di atas karpet rua
**Sore itu, angin senja menyelinap pelan lewat jendela ruang tamu, membawa aroma khas bedak bayi yang bercampur dengan keharuman lembut minyak telon. Kayla menghembuskan napas lega, meregangkan bahunya yang terasa pegal setelah tiga hari mendekam di rumah sakit pasca persalinan. Ia duduk di atas sofa empuk ruang keluarga, sementara di pangkuannya terbaring sesosok makhluk kecil yang sejak tadi menyita seluruh perhatiannya.Elea. Bayi perempuan mungil dengan rambut hitam tipis dan kulit sehalus kelopak bunga mawar. Kayla menatap wajah mungil itu dengan mata berkaca-kaca, masih tak percaya bahwa malaikat kecil nan cantik ini akhirnya benar-benar berada di pelukannya setelah penantian yang begitu panjang dan melelahkan.“Udah tidur lagi aja dia ….” bisik Kayla pelan ketika mendengar langkah kaki suaminya mendekat dari arah dapur.Kaivan muncul dengan dua cangkir teh hangat di atas nampan kecil. Senyum tulus seketika terbit di wajahnya begitu melihat istri dan buah hati yang sedang tidur
** “Kayla, jangan tidur! Kamu nggak boleh tidur! Ayo, buka mata dan lihat aku! Please, jangan tidur!” “Tapi aku ngantuk banget, Kaivan. Biarin aku tidur sebentar aja ....” “Nggak boleh! Sayang, lihat aku. Kita hampir sampai, jangan pejamin mata kamu sama sekali! Tahan sebentar aja, please!” Meski kesal setengah mati, Kayla akhirnya berusaha sekuat tenaga untuk tetap terjaga hingga mobil mereka sampai di depan gate UGD rumah sakit. Padahal ia benar-benar merasa lelah dan mengantuk di tengah terpaan rasa sakit yang hebat. Sopir keluarga mereka sigap berlari memasuki UGD untuk meminta pertolongan. Dan tak lama kemudian, muncul bersama beberapa petugas yang membawa brankar. “Tolong istri saya!” Kaivan terengah-engah panik. Ia menggendong tubuh Kayla dan membaringkannya di atas tempat tidur beroda itu. “Tolong segera periksa, apa dia mau lahiran?” Para petugas sigap bertindak meski tidak tampak sangat terkejut. Rupanya kejadian seperti ini adalah hal yang umum bagi mereka. “Kita la
**"Sebelah mana lagi yang sakit, Sayang? Sebelah sini?"Kaivan menggosok lembut punggung bagian bawah Kayla. Sesekali memijatnya dengan lembut, berpindah dari satu bagian ke bagian yang lain. Sekali waktu juga, pria itu mencuri ciuman di kening atau pipi istrinya."Iya, sebelah situ. Agak ke atas dikit, nah bener yang itu ...."Kaivan tersenyum. Pada bagian yang disebut istrinya, ia menggosok sedikit lebih kuat. Membuat perempuan muda itu mendesis nyaman."Makasih ya, Van ...." bisik Kayla, sementara berguling untuk menghadap prianya. Tadinya, ia berbaring memunggungi laki-laki itu. "Maaf ya, aku sama Adek ngerepotin kamu terus. Padahal kamu juga capek habis kerja seharian.""Siapa bilang aku capek? Nih ya, aku tuh di kantor cuma duduk doang sambil natap layar komputer sampai ngantuk. Mana ada capek?""Tetep aja, namanya orang kerja pasti capek lah."Senyum Kaivan terbit menghiasi bibirnya. Ia mengelus puncak kepala Kayla dan sekali lagi mendaratkan ciuman manis di sana. Sementara me
**"Kaivan lagi ada di perempatan kota, lagi benerin saluran air."Kayla pikir, kalimat itu hanya candaan Kaivan. Asbun kalau istilah anak jaman sekarang. Dalam kapasitas apa Laskar membetulkan saluran air di perempatan kota?Tapi hari ini, Kayla benar-benar membuktikan hal tersebut. Ternyata bukan hanya candaan, apalagi asbun. Mantan suaminya itu memang benar sedang berada di dalam saluran aliran air, mengenakan helm kerja berwarna kuning terang, dan overall kerja yang lusuh, basah dan kotor. Berdiri bersimbah keringat dan air kotor di bawah teriknya sinar matahari."Sejak kapan?" tanya Kayla retoris. Sepasang matanya terbelalak memandang pria itu dari kejauhan. Sementara Kaivan yang berada di balik kemudi hanya tertegun."Minggu kemarin pas aku ketemu, nggak di sini. Dia ada di perempatan lampu merah depan. Kayaknya udah pindah lokasi, nih," celetuk Kaivan. "Serius, Kay. Aku sama sekali nggak ada niat ketemu dia lagi. Setelah aku ngadu sama kamu kemarin, aku beneran udah langsung lu
** Siang itu matahari bersinar begitu terik. Kayla sedang dalam perjalanan pulang setelah pemotretan di butik. Setelah mengetahui bahwa Kayla sedang mengandung, Sazia selaku owner Blooms jadi membatasi jadwal kerja Kayla. Sebenarnya Sazia malah tidak keberatan jika Kayla cuti dahulu sampai selesai melahirkan. Namun Kayla tidak setuju. Ia merasa kehamilan pertamanya ini berjalan sangat lancar tanpa masalah apapun. Bahkan morning sickness pun tidak. Maka dari itu, ia tetap bisa aktif bekerja. Dan bahkan Kayla turut menyumbang ide untuk butik, bahwa mereka bisa meluncurkan koleksi baru untuk ibu hamil sekalian, sehingga ia tetap bisa menjadi modelnya. "Itu namanya aku mengeksploitasi kamu nggak sih, Kay? Nanti Kaivan bisa nuntut aku, lho," canda Sazia kala mereka sedang meeting tadi. Kayla hanya menanggapi dengan tawa. "Aku seneng banget Mbak Sazia masih kasih aku kepercayaan. Makanya aku mau bekerja sebaik mungkin." Sazia mengaku kagum. Baru kali ini memiliki pegawai dengan dedika







