登入**Kegelisahan Kayla tentang dirinya yang tak kunjung mendapatkan tanda-tanda kehamilan sedikit demi sedikit mulai agak teralihkan oleh hari-harinya yang kian sibuk.Tidak hanya menjadi Brand Ambassador butik Blooms, sekarang perempuan itu juga mulai mendapat perhatian dari beberapa platform penerbit online yang mana ia mengirim naskah-naskah novelnya. Ya, Kayla sendiri yang memutuskan dirinya harus sibuk agar tidak terus menerus memikirkan keadaan. Ia menulis, bermain piano, dan berdandan dengan cantik. Menebus waktu-waktu berharganya yang dihilangkan oleh Laskar.Kaivan juga semakin sibuk mengurus perusahaan yang kian menggurita, sehingga waktu bersama dengan Kayla tidak terlalu intens. Kendati demikian, pasangan muda itu selalu setidaknya menyempatkan saling bertukar cerita sehari-hari sebelum tidur. Agar kehangatan dan keharmonisan rumah tangga tetap terjaga.Seperti malam ini. Kaivan sedang memegang ponsel milik istrinya. Dahinya berkerut dengan ekspresi wajah sangat serius. Ia
**Pemikiran itu mengganggu Kayla hingga hari-hari ke depannya. Ia yang awalnya baik-baik saja, sekarang mulai merasa gundah setiap kali melihat kalender. Selalu resah begitu hari berganti.Bagaimana jika sama seperti kepada Laskar, ia tetap tidak bisa memberikan keturunan kepada Kaivan?Bagaimana jika ternyata memang dirinya yang bermasalah? Produk cacat yang sudah semestinya tidak usah diberi kesempatan saja?Dan sebab rasa gundah itu, Kayla jadi agak pendiam. Ia yang biasa bertukar cerita dengan Kaivan tentang apa saja di meja makan, sekarang lebih senang melamun dan menghabiskan makanannya dalam diam.Hal sederhana, namun Kaivan tidak suka. Kaivan senang mendengar istrinya cerewet, banyak mengeluh dan berkomentar ini itu. Bercerita hal-hal remeh atau hanya sekedar mengutarakan rasa tidak suka pada brand dunia yang suka aneh-aneh, misalnya merilis baju dari kardus bekas yang dibanderol dengan harga tak masuk akal. Ketika yang terdengar dari meja makan kecil itu hanya denting sendo
**Benar-benar hanya sepuluh menit Kaivan datang menjemput Kayla. padahal dari kantor ke posisinya saat ini, setidaknya butuh sekitar dua puluh menit mengendarai mobil dengan kecepatan normal. Berarti Kaivan menyetir dua kali lipat lebih kencang dari biasanya."Aku tuh beneran nggak apa-apa, Van. Kamu nggak perlu sekhawatir itu. Ini tadi kamu kebut-kebutan ke sini, kan?" Perempuan itu bertanya dengan nada tidak senang."Aku nggak bisa tinggalin kamu lama-lama," sanggah Kaivan. "Takut ada apa-apa sama kamu. Apalagi tadi pas video call kamu kayaknya lagi kebingungan."Kayla sedikit tercekat. Haruskah ia katakan bahwa tadi ia bertemu dengan Laskar? Sepertinya tidak perlu. Lagi pun tidak ada yang terjadi. Untuk apa diceritakan segala, kan."Nggak ada apa-apa. Aku tuh tadi cuma mau belanja dikit. Lagian ini juga nggak jauh-jauh banget dari rumah. Ini kalau begini kerjaan kamu jadi keganggu, kan?"Kaivan tersenyum dan menggeleng. Ia mengusap pelan pipi sang istri yang kemerahan sebab udara
**"Kayla, aku ...."Karena lanjutan kalimatnya tak kunjung terucap, maka Kayla mengerutkan dahi sembari memandang pria di hadapannya. Laskar gelapagan, entah bagaimana lindap semua kata-kata yang sudah berada di ujung lidahnya. Dulu ia begitu mudah menyuarakan segala hal, bahkan hal-hal buruk kepada Kayla. Namun sekarang, bahkan untuk bertanya apa kabar pun ia tak sanggup.Kayla seperti memiliki aura lain yang jujur saja, tidak bisa lagi digapai oleh Laskar. Ketika masih menjadi istrinya, penampilan perempuan itu sungguh sederhana. Sehari-hari hanya memakai daster dan seringkali tanpa riasan. Sebab tentu saja Laskar tidak pernah mengizinkannya membeli make up. Buang-buang uang saja, katanya kala itu. Toh, Laskar juga tidak pernah mengizinkan Kayla keluar rumah. Tak pernah mengajaknya ke mana-mana juga.Tapi sekarang, saat ini, Laskar memandang Kayla sekali lagi, dan itu membuatnya gugup luar biasa.Perempuan itu tampak sangat cantik, demi apapun. Tidak berdandan berlebihan, hanya men
**Dua minggu Selin meninggalkan rumah. Perempuan itu kembali ke apartemen lamanya yang ia tinggali sebelum menikah dengan Laskar. Apartemen itu, Laskar pula yang membelikan. Dulu, saat pria itu sedang berada di puncak kejayaannya. "Kamu pasti balik lagi ke rumah, kan?" Laskar berkata dengan setengah memohon saat berhasil menemui Selin hari ini. Setelah bekali-kali usahanya gagal."Nggak janji," jawab Selin ketus. "Selama sikap ibu dan adikmu masih begitu, aku nggak sudi balik ke rumahmu.""Aku janji akan bikin mereka berubah, Sayang.""Kalau kerjaan kamu masih berantakan, aku juga nggak sudi balik lagi."Kali ini Laskar terdiam. Tak bisa ia pungkiri, keadaan finansialnya memang sedang hancur. Perusahaan kontraktor yang ia bangun terancam gulung tikar sebab banyak projek yang tak bisa diselesaikan. Juga kebutuhan rumah yang terus mendesak.Namun hal itu juga bukan hanya kesalahan Laskar semata. Sedikit banyak, manajemen keuangan Selin yang buruk juga turut andil menjadi penyebab peru
**"Las, kita harus cari duit! Ini tuh udah mendesak banget! Kalau begini terus bisa-bisa kita mati, nggak bisa makan!"Laskar kala itu masih terbaring lemas di atas ranjangnya. Baru beberapa hari yang lalu ia pulang dari rumah sakit. Seharusnya, masa-masa ini ia masih recovery baik fisik maupun mental agar tubuh lekas pulih. Namun sang ibu dan adiknya justru datang membawa mala petaka."Kemarin di rumah air PAM diputusin sama tukangnya gara-gara dua bulan telat bayar," tambah Anin. Gadis itu sedang memandang masam kepada kuku-kuku jari tangannya yang belakangan sudah tidak dihiasi nail art. "Kita mau mandi aja nggak bisa loh, Mas.""Ini kayaknya kalau nggak bayar listrik, bulan ini juga bakal diputus sama PLN." Widya menggaruk rambutnya yang hanya dicepol biasa. Tak lagi mengenakan sanggul yang anggun seperti kemarin-kemarin.Laskar memejamkan mata. Mencoba memblokir suara-suara tersebut dari pendengaran. Kepalanya pusing dan telinganya berdenging."Nah! Jual aja rumah kalian buat ba







