LOGINUsai sesi terapi itu, Arkha segera membawa keduanya kembali ke rumah. Di perjalanan pulang, Mobil SUV mewah itu meluncur mulus meninggalkan gedung klinik. Namun suasana tegang karena perdebatan di ruang terapi masih terasa di dalam kabin mobil yang dingin karena AC.
Senja mulai turun, membuat langit menjadi warna jingga dan keunguan. Namun, keindahan itu seolah tak mampu menembus kaca mobil yang gelap. Dara duduk di kursi penumpang, tubuhnya masih terasa lelah seolah energinya terkuras habis karena sesi terapi tadi. Bekas sentuhan Rendra saat mereka berjabat tangan, seolah masih melekat di kulitnya. Pria yang dulu pernah membuat jantungnya berdegup kencang itu menjadi seks terapis. Dara menyandarkan kepala di sandaran kurai mobil, menatap ke luar jendela. Berusaha menenangkan degup jantungnya yang masih tak tenang. Tiba-tiba, Arkha memecah kesunyian. Suaranya datar, namun sarat dengan nada menyalahkan. “Kamu dengar 'kan tadi apa kata Rendra?” ujarnya, tanpa menoleh dari jalanan di hadapannya. “Dia bilang aku nggak perlu datang lagi. Jadi, ya, urusin aja urusan kamu sendiri mulai sekarang,” sambungnya. Dara memejamkan mata, menahan desakan air mata yang tiba-tiba menggenang. “Tapi, Mas ... aku butuh support kamu. Aku nggak mau menghadapi ini sendirian.” Arkha mendesah kesal, tangannya mencengkeram setir lebih kuat. “Dukungan? Aku udah nemenin kamu hari ini, Yang. Dan itu aja udah bikin jadwal meetingku berantakan! Kamu tahu nggak, bisnis aku lagi di ujung tanduk? Yang kamu pikirkan cuma perasaan kamu sendiri! Kamu egois, Yang!” Mobil lalu melaju lebih kencang, menyalip kendaraan lain dengan agresif. Dara merasakan dadanya sesak. “Ini bukan cuma tentang perasaanku, Mas. Ini tentang kita berdua! Pernikahan kita!” “Ya, dan cara memperbaiki pernikahan kita adalah dengan kamu yang harus berubah!” bentak Arkha, suaranya meninggi. “Kamu yang harus belajar jadi istri yang lebih baik! Kamu yang harus bisa bikin suaminya betah di rumah, bukan malah ngeluh-ngeluh terus!” kali ini suara Arkha meninggi. Kata-kata itu seperti tamparan. Dara terisak kecil, tak sanggup lagi menahan tangisnya. Air mata itu akhirnya tumpah, membasahi pipinya yang pucat. Dia kembali memalingkan wajah ke jendela, tak ingin Arkha melihatnya menangis. Namun Arkha tak peduli. Dia terus mengemudi dengan wajah masam, seolah isak tangis istrinya hanyalah gangguan kecil lain dalam harinya yang sudah sibuk. Ruang di dalam mobil itu tiba-tiba terasa sempit, pengap, dan sangat, sangat menyedihkan. “Intinya, kamu denger ‘kan Yang, apa yang sepupu aku bilang tadi? Aku nggak perlu dateng juga nggak apa-apa. Masalahnya ‘kan di kamu, kamu urusin lah diri kamu sendiri.” Dara terdiam. Menahan kesal. “Kamu belajar gimana cara muasin suami, gimana biar aku selalu puas,” lanjut Arkha. ‘Padahal selama ini kamu selalu puas, Mas! Justru aku yang nggak puas sama sekali!’ batin Dara. Dara masih memandang ke jendela, menatap lampu-lampu kota yang mulai menyala satu persatu. Setiap kata dari Arkha seperti pukulan demi pukulan yang mengikis sisa-sisa harapannya. Bayangan Rendra, pria yang dulu pernah memandangnya sepenuh jiwa—berkelebat di pikirannya. Kontras sekali dengan sosok suaminya yang kini hanya memandangnya sebagai kewajiban yang merepotkan. “Pokoknya besok-besok kamu harus sering dateng ke sana. Sendiri aja ya, aku sibuk soalnya. Bisnis aku ‘kan masih baru, Yang. Kerjaan aku juga mulai padet.” “Tapi temenin aku lah Mas, masak aku sendirian ke sana? Pasangan lain juga dateng sama suaminya lho!” Dara mencoba protes. “Nggak bisa, Yang. Aku sibuk banget. Kamu juga tahu ‘kan kalau aku sibuk banget? Kamu ngerti dong kalau kerjaan aku lagi banyak banget. Ini semua demi masa depan kita juga, Yang? Demi anak-anak kita nanti. Kamu harus paham dong?” “Aku cuma minta temenin, Mas. Cuma sehari dalam seminggu lho, Mas!” “Nggak bisa, Yang. Kamu juga udah denger Rendra bilang nggak apa-apa dateng sendiri. Kamu harus rajin terapi biar cepet sembuh. Biar bisa puasin suami.” Dara menatap wajah Arkha yang keras, diterangi lampu jalan yang lewat silih berganti. Dia menarik napas pelan, mencoba menenangkan gemuruh di dadanya. “Jadi ... yang kamu mau,” ujarnya, suaranya bergetar namun jelas, “adalah aku yang harus berubah. Aku yang harus ‘sembuh’. Aku yang harus belajar ... untuk selalu membuatmu puas.” Dia memilih kata-katanya dengan hati-hati, seperti berjalan di atas kaca. “Tapi kamu sendiri nggak perlu berubah apa-apa? Nggak perlu belajar memahami apa yang aku rasakan? Nggak perlu meluangkan waktu sekali aja untuk kita?” Arkha mendecitkan mobil tepat di depan lampu merah. Dia memutar kepalanya, wajahnya tampak kesal. “Yang, ini bukan soal aku nggak mau. Aku nggak bisa! Kerjaanku—” “Aku tahu,” potong Dara dengan tenang yang mengejutkan dirinya sendiri. “Aku tahu kamu sibuk.” Dara memandang lurus ke depan, menatap lampu merah yang seakan tak kunjung hijau. “Tapi mungkin ... mungkin yang perlu ‘diperbaiki’ bukan cuma aku, Mas. Mungkin masalahnya bukan cuma di ranjang. Mungkin masalahnya ada di sini,” ujarnya, menunjuk ke arah hati mereka berdua, “di ruang tamu kita yang sepi, di meja makan yang selalu diisi oleh kita berdua tapi rasanya kayak sendiri-sendiri.” Dara akhirnya mengatakannya. Keluhan yang selama ini terpendam, rasa kesepian yang dia pendam di balik senyumannya selama pernikahan mereka. Lampu berubah hijau. Arkha menginjak gas, wajahnya tetap berkerut. Dia tidak membalas. Diamnya lebih menyakitkan daripada amarah. Kalimat terakhir itu seperti kunci yang membuka sangkar. Sebuah kebebasan yang pahit. Di satu sisi, dia dilepaskan dari tekanan untuk membawa Arkha. Di sisi lain, dia dihadapkan pada pintu konsultasi berdua dengan seorang pria dari masa lalunya, seorang pria yang tatapannya tadi masih membangkitkan getaran-getaran lama. Dara akhirnya mengalah. Dengan sebuah anggukan pelan. Mungkin ini bukan lagi tentang memperbaiki hubungannya dengan Arkha. Mungkin ini tentang dirinya sendiri. Tentang belajar memuaskan dirinya sendiri, dan siapa tahu, mungkin menemukan kembali jati dirinya yang hilang di ruang praktik itu. “Oke, Mas. Baik,” ucapnya akhirnya dengan suara datar. “Aku bakalan urus semuanya sendiri.” ***Dara terbangun dengan tubuh yang masih hangat dalam pelukan Rendra. Di luar, sinar matahari mulai meninggi. Pelan, Dara menggeser tangan Rendra dari pinggangnya. Rendra melenguh, lalu membuka mata. Dia menatapnya dengan tersenyum. “Pagi, Sayang. Istriku yang cantik.” “Pagi, Bi.” Rendra bersandar pelan di ranjang. “Mau sarapan apa?” Dara berpikir sejenak lalu berbisik. “Mau sarapan kamu.” Rendra tertawa, menariknya lebih dekat. “Boleh. Tapi nanti, kita harus jemput Biru dulu biar Nina sama Irvan nggak ngamuk.” Mereka tertawa. Rendra menarik Dara untuk berbaring sebentar, menikmati keheningan pagi. Dara meletakkan kepalanya di dada Rendra, mendengarkan detak jantung yang berdetak pelan. “Bi,” panggilnya. Rendra mengusap rambutnya dengan lembut, “Apa, Sayang?” “Aku suka permainan malam tadi,” katanya sambil malu-malu. Rendra mengecup keningnya. “Aku juga. Kita harus lebih sering, Sayang.” “Iya. Tapi nggak usah gaya baru setiap kali.” “Memang kenapa, Sayang? Katanya kamu suka?”
Rendra memilih restoran di lantai 33 sebuah hotel berbintang. Dari jendela kaca besar, lampu-lampu Kota berkelap-kelip seperti bintang jatuh yang tak pernah padam.Dara duduk di hadapannya, gaun putih sederhana yang ia kenakan terlihat anggun di bawah cahaya lilin. Rendra tidak bisa berhenti memandang.“Kenapa ngeliatain aku terus, Bi? Aku belepotan?” tanya Dara sambil mengusap sudut bibirnya.“Bukan.” Rendra tersenyum. “Kamu cantik. Masih sama kayak dulu waktu pertama kali aku lihat kamu waktu kita masih sama-sama mahasiswa.”Dara tertawa. “Sekarang aku udah tua, Bi.”“Tua? Kamu malah makin cantik di mataku.”Dara tersenyum. “Gombal.”“Bukan gombal. Itu fakta, Sayang.”Mereka tertawa bersama. Pelayan datang dengan menu, mempersilakan mereka memilih.Dara memesan pasta, Rendra memilih steak. Mereka memilih wine ringan untuk menemani malam.“Aku
“Tapi beberapa minggu belakangan, saya merasa makin berat. Saya takut suatu saat suami saya muak. Saya takut dia melihat saya sebagai orang yang aneh. Saya takut …”“Takut kehilangan dia?” lanjut Rendra, setengah menebak.Sarah mengangguk. Air matanya jatuh.Rendra menghela napas. “Bu Sarah, perjalanan Anda tidak akan mudah. Ada luka masa lalu yang perlu dipahami, ada rasa malu yang perlu dikelola. Tapi Anda sudah mengambil langkah pertama yang paling sulit: bicara.”Sarah mengusap air matanya. “Apa saya bisa sembuh, Dok?”Rendra tersenyum tipis. “Sembuh mungkin bukan kata yang tepat, Bu Sarah. Tapi saya yakin, Anda bisa belajar menerima diri sendiri, dan membangun hubungan yang sehat dengan suami Anda, tanpa beban rasa bersalah atau malu.”Mereka berbicara lebih lama. Tentang masa kecil, tentang orang tua yang bercerai, tentang rasa tidak aman yang selalu mengikuti. Rendra mendengarkan, kadang berta
Rendra tersenyum tipis. “Anda tidak gila, Pak Bima. Tapi Anda butuh bantuan untuk memahami diri sendiri. Dan yang lebih penting, apakah istri Anda tahu? Apakah dia nyaman dengan ini?”Bima menunduk lagi. “Dia ... dia nggak tahu. Saya selalu menutupi. Tapi belakangan, dia mulai curiga. Dia lihat saya ... reaksi saya setiap kali kami menonton film bersama, atau saat ada teman saya yang datang …”“Dan Anda memutuskan datang ke sini karena?”“Karena saya takut kehilangan dia.” Bima menggenggam tangannya sendiri. “Saya takut suatu saat dia tahu, lalu dia benci saya. Saya takut dia pergi. Saya ... saya nggak bisa kehilangan dia, Dok.”Rendra menghela napas. Ia menatap pria di hadapannya, bukan sebagai kasus, tapi sebagai manusia yang sedang berjuang untuk berdamai.“Pak Bima, perjalanan Anda tidak akan mudah. Tapi dengan Anda datang ke sini, Anda sudah mengambil langkah pertama yang paling sulit. Sekarang, kita perlu me
Tak lama berselang, Rendra pulang dengan bungkusan kue bolu kesukaan Biru. Ia meletakkannya di meja, lalu duduk di samping Dara. “Kiara sudah pulang?” Dara mengangguk. “Iya. Lilia pamit. Biru sampai sedih.” Rendra menatap Biru yang sedang menggambar di meja. “Dia suka banget sama Lilia.” “Iya.” Dara menyesap tehnya. “Kiara juga udah berubah, Bi.” Rendra mengamati istrinya. “Kamu baik-baik saja?” Dara menatapnya, lalu tersenyum. “Aku baik-baik saja. Malah ngerasa ... lega.” “Lega?” “Iya. Selama ini aku pikir, kalau aku bertemu Kiara lagi, aku akan marah. Atau sedih. Tapi ternyata …” dia menunduk, memainkan ujung cangkir. “Ternyata aku cuma lihat dia sebagai ibu Lilia. Teman main Biru. Dan itu cukup.” Rendra meraih tangannya. “Kamu hebat, Sayang. Tidak semua orang bisa seperti kamu.” Dara
Sampai di apartemen mereka, Rendra menceritakan pertemuannya dengan Kiara. Dara mendengarkan sambil menyuapi Biru makan malam.“Jadi dia bakal menetap di sini, Bi?” tanya Dara.“Untuk sementara iya, Sayang. Katanya setelah Lilia besar, mungkin balik ke Singapura.”Dara mengangguk. “Lilia anaknya lucu. Mirip dia.”Rendra memperhatikan Dara. “Kamu nggak apa-apa?”Dara menatapnya, lalu tersenyum. “Nggak kok. Aku nggak cemburu.”“Aku nggak bilang cemburu. Aku tanya kamu nggak apa-apa?”Dara menghela napas. “Dulu, mungkin aku akan marah, Bi. Tapi sekarang? Kita sudah lewati terlalu banyak hal untuk masih menyimpan amarah. Lagian,” ia menatap Biru yang sibuk dengan makanannya, “Biru punya teman baru. Itu lebih penting.”Rendra meraih tangannya. “Makasih ya, Sayang. Kamu hebat.”Dara membalas genggaman itu. “Kita berdua hebat karena bisa berdamai dengan masa lalu.”
Suara di luar ruangan itu semakin keras dan terburu-buru sehingga Rendra langsung tersadar dari lamunannya. Dengan gerakan cepat, dia melepaskan Dara dan merapikan pakaiannya sendiri, sementara Dara dengan wajah memerah berusaha menenangkan diri. Rendra membuka kunci pintu, me
Dara atau Nina sempat bereaksi saat Arkha sudah menggenggam lengan Rendra dengan kuat, menariknya beberapa langkah menjauh. Dia menarik Rendra ke sudut lorong yang lebih sepi, jauh dari jangkauan pendengaran Dara dan adiknya itu. Gerakannya kasar, penuh dengan arogansi seorang pria yang berstatus
Arkha mungkin tidak menyadari, tetapi kata-kata itu adalah kata-kata yang selalu didambakan Dara. Sayangnya, kata-kata itu datang di saat terlambat. Di saat sebuah kepergian orang terkasihnya yang baru saja terjadi.Dan di balik pintu ruang tunggu, Rendra dengan hati berat mulai men
Rendra membanting pintu rumah dengan keras. Udara di dalamnya terasa pengap dan sunyi, kontras dengan badai yang baru saja ditinggalkannya. Jaket yang dia kenakan sebelumnya untuk menenangkan Dara dalam pelukan, dilemparkannya ke arah kursi, dan jatuh ke lantai.“Riani ... Riani …”







