Share

Bab 5

Author: Mita Yoo
last update publish date: 2025-11-14 15:56:52

Demi mengusir rasa bosan, Dara meraih ponselnya. Menghubungi satu-satunya orang yang bisa diajaknya bicara tentang kehidupan pribadinya. Fanny, sahabatnya.

“Halo, Fan,” sapa Dara.

Suara Fanny terdengar di seberang telepon. “Halo, Ra. What's up, Babe?”

Suara Fanny di telepon terdengar nyaring penuh antusias, berhasil memberi kehangatan di ruang keluarga yang sepi. Tempat Dara meringkuk di sofanya.

“Kemarin jadi ‘kan terapinya?” tanya Fanny.

“Iya,” jawab Dara.

“Terus gimana sesi terapinya? Cocok nggak? Enak ‘kan konsulnya? Cepet cerita sama aku!” desak Fanny.

Dara menarik napas. “Ternyata ... terapisnya itu Rendra, Fan.”

Dara memejamkan mata, membiarkan kenangan itu menyapu pikirannya. Bayangan pria dengan senyum percaya diri dan sorotan mata yang tajam tapi hangat itu kembali jelas.

Di seberang telepon, terdengar suara Fanny semakin antusias. “Maksudnya, dia Rendra yang pernah kamu ceritain ke aku dulu? Yang waktu kuliah jadi idola kampus, cowok psikologi yang bikin antrean cewek dari fakultas lain itu? Rendra yang itu?”

“Heem,” Dara menyahut di telepon, dan tanpa sadar menganggukkan kepalanya.

Fanny hampir menjerit. “Serius kamu, Ra? Kamu bisa kenal cowok seganteng dan sepopuler itu, Ra? Beruntung banget sih kamu, Ra …”

Sebuah senyum getir merekah di bibir Dara. “Iya, Rendra yang itu. Kami juga dulu sempet pacaran, Fan. Tapi ya nggak bertahan lama. Dan aku juga baru tahu, ternyata, dia sepupunya Mas Arkha.”

Pengakuan itu keluar seperti desahan dari bibir Dara. Berhasil membuka lembaran lama yang sudah lama dia tutup rapat.

Fanny mendadak diam, seolah memproses informasi yang bisa menjadi berita menghebohkan di dunia maya itu. “Wait, wait, wait,” potong Fanny, nadanya berubah penuh teka-teki. “Terus, kok kamu bisa jadi married sama Arkha sih? Kenapa dulu nggak sama Rendra aja?” tanyanya, suaranya sudah lebih pelan, penuh rasa penasaran dan sedikit ketidakpercayaan.

Dara memandang keluar jendela, menatap langit malam yang kelam. “Ya gitu lah, Fan,” jawabnya, suara tiba-tiba serak.

“Dia dulu dapet beasiswa S2 ke luar negeri. Waktu itu komunikasi masih susah, bukan zaman WA kayak sekarang. Kita coba bertahan lewat email dan makin lama makin jarang karena dia sibuk dan aku juga, ya ... gitu deh. Sampai akhirnya putus di tengah jalan, lost contact lama.”

Ada jeda singkat, diisi tarikan napas dalam. “Terus, aku ketemu Arkha. Dia baik, perhatian, dan ... ya, aku pikir dia adalah takdir yang selama ini aku cari.”

Di ujung telepon, Fanny mendesah. “Dara …” Suaranya penuh empati, memahami betapa pahitnya rasa ‘seandainya’ yang sedang menghantui sahabatnya itu.

“Dan sekarang,” bisik Dara, suaranya nyaris tak terdengar, “Kami ketemu lagi. Dalam waktu dan situasi yang paling nggak terduga. Dia harus ketemu aku … dalam situasi seperti ini.”

Fanny mendesah panjang di seberang telepon. “Duh, Ra ... ini plot twist banget. Jadi sekarang kamu harus terapi sama mantan kamu yang dulu? Yang ternyata sepupu suami kamu sendiri?”

“Iya, Fan,” Dara menyahut lirih.

Ada jeda sejenak sebelum Fanny melanjutkan dengan suara lebih serius. “Hati-hati ya, Ra. Kamu jangan kebawa perasaan yang dulu sama dia.”

Dara menatap foto pernikahannya yang tergantung di dinding. Arkha tersenyum lebar, tetapi matanya terasa jauh bahkan di dalam foto. “Iya, Fan,” bisiknya pelan, lebih kepada dirinya sendiri. “Aku tahu, kok. Biar bagaimanapun, aku sayang sama Mas Arkha.”

Suara klakson yang nyaring dan pendek memecah konsentrasi Dara, membuat jantungnya berdebar kencang. “Fan, besok lagi ya ngobrolnya! Mas Arkha udah balik nih,” bisiknya buru-buru ke pengeras suara di ponselnya sebelum menutup panggilan dan bergegas membuka pintu.

Dia menyambut Arkha yang terlihat lesu, membawa tas kerjanya yang terasa berat. “Mas, mau mandi atau makan dulu? Udah aku siapin makan malemnya,” ujar Dara, berusaha menampilkan senyum ramah meski hatinya masih bergejolak.

Arkha hanya mengangguk lemas, lalu menjatuhkan dirinya di sofa. Suara desahan lega terdengar saat dia melonggarkan dasinya. “Aku kayaknya mau mandi dulu, Yang. Capek banget,” ucapnya dengan suara parau.

“Ya udah, aku siapin air sama handuk ya,” jawab Dara sambil berbalik menuju kamar.

Namun sebelum dia melangkah jauh, suara Arkha kembali terdengar. “Yang …”

Dara berhenti, menoleh. Arkha masih duduk di sofa, tetapi kini matanya menatapnya.

“Kapan jadwal kamu terapi lagi, Yang?" tanya suaminya.

“Besok lusa, Mas. Kenapa?” tanya Dara, mencoba menjaga suaranya tetap netral.

“Jangan telat, ya,” pesan Arkha, nadanya datar namun terasa seperti perintah. “Harus dateng. Yang rajin biar kamu bisa ... terus muasin suami.”

Kalimat terakhir itu menggantung di udara, tajam dan menusuk. Arkha lalu berbalik dan masuk ke kamar, meninggalkan Dara sendirian di ruang tengah.

‘Aaargh!’ teriak Dara dalam hati, tangannya mengepal erat di sisi tubuhnya.

Kakinya menghentak lantai dengan geram yang tertahan. “Selama ini dia yang egois, dia yang nggak peduli, malah terus-terusan nyalahin aku seolah-olah aku ini cuma mesin pemuas nafsunya yang udah rusak!”

Dara berdiri terpaku, napasnya memburu. Kata-kata Arkha tadi seperti bensin yang menyiram api kemarahan yang sudah lama dipendamnya. Dan di balik amarah itu, sebuah keinginan yang gelap mulai membuat hatinya mengeras.

Mungkin, hanya dengan menjalani terapi itu seorang diri, berdua saja dengan Rendra di ruangan itu. Dara baru benar-benar akan menemukan dirinya sendiri.

Dan mungkin, dia akan menemukan sebuah keberanian untuk mengubah takdirnya.

‘Aku yakin setelah ini kamu akan mengakui kelemahanmu, Mas!’ batinnya.

***

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Comments (1)
goodnovel comment avatar
Sherly Monicamey
laki² mah gitu kalau masa pacaran. beri perhatian lebih
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Sentuh Aku Lagi, Sayang!   Bab 360

    Dara terbangun dengan tubuh yang masih hangat dalam pelukan Rendra. Di luar, sinar matahari mulai meninggi. Pelan, Dara menggeser tangan Rendra dari pinggangnya. Rendra melenguh, lalu membuka mata. Dia menatapnya dengan tersenyum. “Pagi, Sayang. Istriku yang cantik.” “Pagi, Bi.” Rendra bersandar pelan di ranjang. “Mau sarapan apa?” Dara berpikir sejenak lalu berbisik. “Mau sarapan kamu.” Rendra tertawa, menariknya lebih dekat. “Boleh. Tapi nanti, kita harus jemput Biru dulu biar Nina sama Irvan nggak ngamuk.” Mereka tertawa. Rendra menarik Dara untuk berbaring sebentar, menikmati keheningan pagi. Dara meletakkan kepalanya di dada Rendra, mendengarkan detak jantung yang berdetak pelan. “Bi,” panggilnya. Rendra mengusap rambutnya dengan lembut, “Apa, Sayang?” “Aku suka permainan malam tadi,” katanya sambil malu-malu. Rendra mengecup keningnya. “Aku juga. Kita harus lebih sering, Sayang.” “Iya. Tapi nggak usah gaya baru setiap kali.” “Memang kenapa, Sayang? Katanya kamu suka?”

  • Sentuh Aku Lagi, Sayang!   Bab 359

    Rendra memilih restoran di lantai 33 sebuah hotel berbintang. Dari jendela kaca besar, lampu-lampu Kota berkelap-kelip seperti bintang jatuh yang tak pernah padam.Dara duduk di hadapannya, gaun putih sederhana yang ia kenakan terlihat anggun di bawah cahaya lilin. Rendra tidak bisa berhenti memandang.“Kenapa ngeliatain aku terus, Bi? Aku belepotan?” tanya Dara sambil mengusap sudut bibirnya.“Bukan.” Rendra tersenyum. “Kamu cantik. Masih sama kayak dulu waktu pertama kali aku lihat kamu waktu kita masih sama-sama mahasiswa.”Dara tertawa. “Sekarang aku udah tua, Bi.”“Tua? Kamu malah makin cantik di mataku.”Dara tersenyum. “Gombal.”“Bukan gombal. Itu fakta, Sayang.”Mereka tertawa bersama. Pelayan datang dengan menu, mempersilakan mereka memilih.Dara memesan pasta, Rendra memilih steak. Mereka memilih wine ringan untuk menemani malam.“Aku

  • Sentuh Aku Lagi, Sayang!   Bab 358

    “Tapi beberapa minggu belakangan, saya merasa makin berat. Saya takut suatu saat suami saya muak. Saya takut dia melihat saya sebagai orang yang aneh. Saya takut …”“Takut kehilangan dia?” lanjut Rendra, setengah menebak.Sarah mengangguk. Air matanya jatuh.Rendra menghela napas. “Bu Sarah, perjalanan Anda tidak akan mudah. Ada luka masa lalu yang perlu dipahami, ada rasa malu yang perlu dikelola. Tapi Anda sudah mengambil langkah pertama yang paling sulit: bicara.”Sarah mengusap air matanya. “Apa saya bisa sembuh, Dok?”Rendra tersenyum tipis. “Sembuh mungkin bukan kata yang tepat, Bu Sarah. Tapi saya yakin, Anda bisa belajar menerima diri sendiri, dan membangun hubungan yang sehat dengan suami Anda, tanpa beban rasa bersalah atau malu.”Mereka berbicara lebih lama. Tentang masa kecil, tentang orang tua yang bercerai, tentang rasa tidak aman yang selalu mengikuti. Rendra mendengarkan, kadang berta

  • Sentuh Aku Lagi, Sayang!   Bab 357

    Rendra tersenyum tipis. “Anda tidak gila, Pak Bima. Tapi Anda butuh bantuan untuk memahami diri sendiri. Dan yang lebih penting, apakah istri Anda tahu? Apakah dia nyaman dengan ini?”Bima menunduk lagi. “Dia ... dia nggak tahu. Saya selalu menutupi. Tapi belakangan, dia mulai curiga. Dia lihat saya ... reaksi saya setiap kali kami menonton film bersama, atau saat ada teman saya yang datang …”“Dan Anda memutuskan datang ke sini karena?”“Karena saya takut kehilangan dia.” Bima menggenggam tangannya sendiri. “Saya takut suatu saat dia tahu, lalu dia benci saya. Saya takut dia pergi. Saya ... saya nggak bisa kehilangan dia, Dok.”Rendra menghela napas. Ia menatap pria di hadapannya, bukan sebagai kasus, tapi sebagai manusia yang sedang berjuang untuk berdamai.“Pak Bima, perjalanan Anda tidak akan mudah. Tapi dengan Anda datang ke sini, Anda sudah mengambil langkah pertama yang paling sulit. Sekarang, kita perlu me

  • Sentuh Aku Lagi, Sayang!   Bab 356

    Tak lama berselang, Rendra pulang dengan bungkusan kue bolu kesukaan Biru. Ia meletakkannya di meja, lalu duduk di samping Dara. “Kiara sudah pulang?” Dara mengangguk. “Iya. Lilia pamit. Biru sampai sedih.” Rendra menatap Biru yang sedang menggambar di meja. “Dia suka banget sama Lilia.” “Iya.” Dara menyesap tehnya. “Kiara juga udah berubah, Bi.” Rendra mengamati istrinya. “Kamu baik-baik saja?” Dara menatapnya, lalu tersenyum. “Aku baik-baik saja. Malah ngerasa ... lega.” “Lega?” “Iya. Selama ini aku pikir, kalau aku bertemu Kiara lagi, aku akan marah. Atau sedih. Tapi ternyata …” dia menunduk, memainkan ujung cangkir. “Ternyata aku cuma lihat dia sebagai ibu Lilia. Teman main Biru. Dan itu cukup.” Rendra meraih tangannya. “Kamu hebat, Sayang. Tidak semua orang bisa seperti kamu.” Dara

  • Sentuh Aku Lagi, Sayang!   Bab 355

    Sampai di apartemen mereka, Rendra menceritakan pertemuannya dengan Kiara. Dara mendengarkan sambil menyuapi Biru makan malam.“Jadi dia bakal menetap di sini, Bi?” tanya Dara.“Untuk sementara iya, Sayang. Katanya setelah Lilia besar, mungkin balik ke Singapura.”Dara mengangguk. “Lilia anaknya lucu. Mirip dia.”Rendra memperhatikan Dara. “Kamu nggak apa-apa?”Dara menatapnya, lalu tersenyum. “Nggak kok. Aku nggak cemburu.”“Aku nggak bilang cemburu. Aku tanya kamu nggak apa-apa?”Dara menghela napas. “Dulu, mungkin aku akan marah, Bi. Tapi sekarang? Kita sudah lewati terlalu banyak hal untuk masih menyimpan amarah. Lagian,” ia menatap Biru yang sibuk dengan makanannya, “Biru punya teman baru. Itu lebih penting.”Rendra meraih tangannya. “Makasih ya, Sayang. Kamu hebat.”Dara membalas genggaman itu. “Kita berdua hebat karena bisa berdamai dengan masa lalu.”

  • Sentuh Aku Lagi, Sayang!   Bab 72

    Dara berdiri di depan cermin sekali lagi untuk memastikan penampilannya sempurna. Jadwal terapinya dengan Rendra sore itu, membuatnya sedikit berdebar.Bayangan berbagai hal baru mulai berkeliaran di pikirannya. Kali ini, teknik apa lagi yang akan diajarkan Rendra padanya? Karena di

    last updateLast Updated : 2026-03-20
  • Sentuh Aku Lagi, Sayang!   Bab 61

    Pagi harinya, saat Dara mengemasi barang-barangnya dengan niat pulang ke rumag untuk sesaat, Rendra menghalanginya dengan wajah serius.“Kamu yakin nggak mau nunggu sampai visit dokter dulu?” tanya Rendra.“Aku harus pulang. Bajuku udah kotor semua,” kata Dara, mencoba

    last updateLast Updated : 2026-03-20
  • Sentuh Aku Lagi, Sayang!   Bab 60

    Arkha tiba dengan wajah penuh kecemasan dan penyesalan. Begitu melihat Dara, matanya langsung mencari istrinya, tetapi Dara menghindari kontak mata. Dokter yang telah berbicara dengan Rendra segera mendekatinya.“Bapak suami dari Nyonya Dara?” tanya dokter. Setelah Arkha mengangguk,

    last updateLast Updated : 2026-03-20
  • Sentuh Aku Lagi, Sayang!   Bab 58

    Suara lemah dari tempat tidur membuat Dara tersentak. Dia segera membungkuk, memegang tangan ibunya yang dingin. “Ibu ... Ibu sudah bangun?”“Da-ra …” bisik Marini, matanya berusaha fokus pada wajah putrinya.“Iya, Bu. Aku di sini,” ucap Dara.Namun, pert

    last updateLast Updated : 2026-03-20
More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status