LOGINPengakuan itu keluar dari bibir Dara seperti bisikan patah, penuh dengan kepahitan dan rasa tidak percaya. Tapi efeknya pada Rendra langsung terasa.
Tanpa peringatan, Rendra menginjak pedal rem lebih dalam. Ban mobil bergesekan dengan kencang di jalan yang basah, membuat ban berdecit dan Dara terlempar ke sandaran kursinya.“Dia BERANI MELAKUKAN ITU?” geram Rendra, suaranya rendah namun penuh amarah yang meledak. Tangannya mencengkeram setir lebih erat, urat di tanSore itu, Arkha duduk dengan laptop, memantau ponselnya. Tidak ada reaksi dari Dara. Tidak ada telepon marah dari Rendra. Tidak ada apa-apa. “Kenapa nggak ada reaksi apa pun?” gumamnya kesal. Ben datang dengan dua cangkir kopi di tangannya. “Belum ada kabar?" “Nggak ada. Udah tiga jam.” Ben mengerutkan kening. “Aneh. Harusnya mereka udah bereaksi.” “Mungkin mereka buang bunganya?” Arkha menduganya. “Mungkin.” Ben duduk di kursi sisinya. “Tapi foto itu? Pasti itu bakalan menyentuh Dara.” Arkha menghela napas. “Atau mungkin ... mereka memang udah kuat.” Ben menatapnya. “Kamu nyerah?” “Bukan nyerah. Tapi …” Arkha menggeleng. “Aku jadi mulai ragu, Ben. Mungkin Dara beneran udah move on.” Ben diam. Lalu ia berkata, “Kalau gitu, kita naikkan level serangan.” Arkha menoleh.
Malam itu, di sebuah rumah kontrakan sederhana di pinggiran kota yang menjadi markas baru Arkha dengan Ben, Arkha duduk di teras, menatap langit malam. Pikirannya kacau. Antara dendam, frustrasi, dan ketakutan yang tak mau dia akui.Ben keluar, duduk di sampingnya. Mereka diam beberapa saat.“Arkha,” panggil Ben pelan.Arkha menoleh sesaat. “Apa?”“Aku nggak akan tinggalin kamu. Tapi kita harus realistis sekarang.”Arkha menoleh. “Maksud kamu apa, Ben?”Ben menghela napas. “Mereka lebih kuat dari yang kita kira. Bukan secara fisik, tapi secara ... kebersamaan. Mereka punya tim. Kita cuma berdua.”Arkha mengepalkan tangan. “Jadi kamu nyerah?”“Bukan. Aku cuma ... mikir ulang strategi.” Ben menatapnya. “Mungkin kita harus serang mereka dari sisi yang berbeda.”Arkha mengerutkan kening. “Maksud kamu?”Ben mendekat, menurunkan suaranya. “Dara.”
Esoknya, di kantor polisi, Samuel duduk di ruang kerja salah satu rekannya dengan secangkir kopi hitam yang sudah dingin. Di depannya, tumpukan berkas dan beberapa lembar foto yang baru saja ia cetak. Foto-foto itu menunjukkan Arkha dan Ben di berbagai lokasi—kafe, gudang tua, parkiran apartemen Rendra.Pintu terbuka. Rendra masuk dengan langkah cepat, diikuti Irvan.“Sam, gimana?” tanya Rendra langsung.Samuel menghela napas, menunjuk kursi di depannya. “Duduk dulu. Ini bakalan panjang, Ren.”Mereka duduk. Samuel membuka laptopnya, menampilkan beberapa rekaman CCTV.“Ini yang berhasil dikumpulkan timku dalam dua hari. Arkha dan Ben ketemu di kafe ini tiga kali dalam seminggu terakhir. Mereka juga terpantau di gudang tua kawasan pelabuhan, lokasi yang sama dengan tempat persembunyian mereka dulu.”Irvan mencondongkan badan. “Ada bukti mereka yang ngatur serangan ke aku?”Samuel mengangguk. “Ini.”Dia menunjukkan rekaman lain. “Ini wartawan yang nulis berita pertama. Namo, wartawan lep
Suasana di apartemen Irvan berubah drastis dalam tiga hari. Meja makan yang biasanya bersih kini penuh dengan berkas-berkas, laptop, dan secangkir kopi yang sudah dingin sejak pagi. Irvan duduk dengan mata merah, lingkaran hitam di bawah matanya semakin jelas.Nina berjalan mendekat dengan ponsel di tangan, wajahnya pucat.“Mas, ada pesan masuk.”Irvan mengangkat wajah lesu. “Apa lagi?”Nina menunjukkan ponselnya. Sebuah pesan masuk dari nomor tidak dikenal. Isinya foto foto Irvan sedang makan malam dengan seorang wanita cantik di restoran mewah. Wanita itu tertawa, tangannya menyentuh lengan Irvan dengan akrab.“Masih mau nikah sama playboy ini?” tulis pesan itu.Irvan membaca, lalu menghela napas panjang. “Sayang, itu cuma klien. Klien dari luar kota. Kami makan malam bisnis, nggak lebih.”Nina menatapnya. Bukan curiga, tetapi lebih kepada iba.“Mas, aku nggak percaya in
Keesokan paginya, Irvan baru saja tiba di kantornya ketika sekretarisnya, Rina, menyambut dengan wajah pucat.“Pak Irvan, ada berita buruk,” kata wanita itu.Irvan mengerutkan kening. “Ada apa?”Rina menunjukkan layar ponselnya. Sebuah portal berita online menampilkan judul yang sangat mencolok.“Proyek Apartemen Mewah Irvan Pratama Diduga Bermasalah: Izin Lingkungan Dipertanyakan”.Irvan membaca cepat. Isinya tuduhan tanpa bukti yang jelas, tetapi ditulis dengan gaya seolah-olah itu adalah fakta. Nama perusahaannya disebut berkali-kali, disandingkan dengan foto proyek yang sedang berjalan.“Ini fitnah,” gumamnya.Namun, sebelum dia sempat bereaksi, ponselnya berdering. Dari seorang investor.“Pak Irvan, ada apa dengan berita ini? Saya dapat telepon dari rekan-rekan.”Irvan menenangkan. “Itu berita bohong, Pak. Saya akan klarifikasi—”Kemudian
“Sial!”Arkha membanting ponselnya ke kursi penumpang. Dia memukul setir dengan kedua telapak tangan, membuat klakson melengking sebentar, memecah keheningan malam.Beberapa pejalan kaki menoleh, tapi cepat-cepat berpaling begitu melihat ekspresi Arkha. Wajahnya merah padam, urat di lehernya menonjol, matanya menyala dengan api kemarahan yang mengerikan.“Rendra,” desisnya, meludahkan nama itu seperti racun. “Pasti Rendra yang suruh. Dia memang seneng banget bikin aku emosi.”Dia menghela napas panjang, berusaha menenangkan diri. Amarah tidak akan membantu. Dia harus berpikir jernih.Ponselnya bergetar. Panggilan masuk dari Ben.“Gimana?” suara Ben di seberang.“Nomorku diblokir sama Dara. Aku nggak bisa hubungi dia.”Ben tertawa kecil. “Udah kuduga. Rendra pasti tahu.”“Iya. Sekarang gimana?”Keheningan di seberang beberapa saat. Lalu Ben berka







