Share

Bab 6

Author: Mita Yoo
last update publish date: 2025-11-14 15:58:06

Perdebatan dengan Arkha membuat Dara memutuskan pergi seorang diri ke klinik tempat terapi itu. Namun, sesi terapi itu terasa berbeda. Dara duduk di ruang tunggu seorang diri.

“Kok sepi, ya? Kemarin pas dateng rame banget antriannya. Aneh. Apa cuma aku yang ada jadwal terapi hari ini?”

Seorang perawat memanggil nama Dara. Dia lalu berdiri, melangkah pelan masuk ke ruangan.

Jantung Dara berdebar-debar. Terlebih saat melihat Rendra berdiri dari kursinya untuk menyambutnya. Matanya yang terbingkai kacamata, kemejanya yang menampilkan sedikit otot di lengannya itu, membuat Dara menundukkan pandangan agar tak terlihat gugup.

“Duduk dulu ya, Dara.” Rendra memanggilnya Dara tanpa sapaan ‘Bu’ seperti pertemuan sebelumnya.

“Sa-saya …”

“Rileks, tenang aja. Kita lama nggak ketemu. Anggap aja ngobrol biasa sekalian nostalgia.”

Dara merasa ruangan itu mendadak panas. Rendra melepas kacamatanya. “Gimana kabar kamu, Ra?” tanyanya.

Dara merasa napasnya tertahan. Panggilan “Ra” yang keluar dari mulut Rendra begitu akrab, memanggil kembali kenangan yang lama terpendam. Dia mencoba menelan ludah, mulutnya terasa kering.

“Baik,” jawabnya singkat, suaranya sedikit serak. Tangannya meremas-remas ujung jaketnya. “Kabarmu ... gimana?”

Rendra tersenyum kecil, meletakkan kacamatanya di atas meja. Gesturnya santai, jauh dari kesan kaku seorang terapis. “Aku? Sibuk kerja. Tapi aku seneng bisa ketemu lagi sama kamu.”

Pria itu menatap Dara dengan tatapan mata cokelatnya yang jernih, seolah bisa menembus langsung ke jiwa Dara. “Aku nggak nyangka ternyata kamu nikah sama sepupuku sendiri,” katanya.

“Iya, Ren. Aku … baru tahu kalau kamu sepupunya Mas Arkha,” sahut Dara.

“Sekarang coba ceritakan apa keluhan kamu sampai harus ketemu aku di sini?” tanya Rendra, matanya menatap Dara.

Dara mengalihkan pandangan, memutus tatapan mata Rendra. “Aku … aku bingung harus mulai dari mana, Ren. Aku …”

“Apa kamu nggak nyaman?” tanya Rendra.

Dara mengangguk pelan. Rendra tersenyum. “Di sini, semua cerita aman. Kamu bisa ceritakan semua masalah dalam hubungan kamu. Termasuk … hubungan suami istri di ranjang.”

Dara mendesah. Keraguannya kembali. “Nggak, Ren. Aku … baik-baik aja,” katanya.

Rendra tidak terburu-buru. Dia memberi Dara ruang untuk bernapas, untuk merasakan kesedihan dan sensasi perasaan apa pun. Kemudian, dengan suara yang lebih lembut, hampir seperti bisikan, dia bertanya, “Apa kamu bahagia, Dara?”

Pertanyaan itu menggantung di antara mereka, sederhana namun menghancurkan. Pertanyaan yang bahkan tidak berani dia tanyakan pada dirinya sendiri di tengah malam yang sunyi.

Dara mengangkat wajahnya. Air mata yang selama ini ditahannya akhirnya menetes, membasahi pipinya yang pucat. Tanpa kata-kata, tangisannya yang senyap itu sudah menjawab segalanya.

Rendra berdiri, mendekat ke sisi Dara. Untuk beberapa saat, pria itu tidak kembali ke kursinya. Dia tetap berada di dekat Dara, memberinya beberapa lembar tisu.

“Jangan takut. Kamu bisa cerita semuanya. Semua rahasia kamu aman di sini,” kata Rendra.

“Oke, kalau gitu, kita balik ke sesi terapi hari ini, ya?” ujarnya, mencoba mengembalikan fokus.

Dia berdiri dan berjalan perlahan ke sisi mejanya, memberi Dara ruang untuk mengumpulkan kembali niatnya untuk bercerita.

Dara dengan cepat mengusap air matanya, menarik napas dalam-dalam. “Iya,” jawabnya.

Dengan suaranya yang masih sedikit bergetar, Dara memulai ceritanya. “Aku nggak tahu harus mulai ngomong dari mana. Dan aku nggak tahu apa aku yang salah atau gimana. Tapi, selama ini aku nggak puas sama hubungan ranjangku dengan Mas Arkha.”

Kata-kata itu keluar, pertama kalinya setelah bertahun-tahun dia jujur pada seseorang dan pada dirinya sendiri. Tentang betapa hancurnya pernikahannya. Dan di ruangan yang sunyi itu, di hadapan pria yang pernah mengenalnya dengan sangat baik, Dara merasa sebuah beban berat perlahan mulai terangkat dari pundaknya.

“Masalah rumah tangga kamu sama Arkha serius banget ternyata,” kata Rendra.

Dara masih diam. Dia hanya bisa mengangguk pelan.

Rendra duduk, mengambil clipboard-nya. Tatapannya penuh perhatian, namun kini lebih netral. Rendra terdiam sejenak, sebelum melontarkan pertanyaan pada Dara. “Sudah berapa lama kalian menikah?” tanya Rendra.

Dara menyahut pelan, “empat tahun.”

Rendra kembali menatapnya. “Selama itu, apa yang kamu, sebagai Dara, benar-benar butuhkan dan rindukan dari sebuah hubungan intim?”

Pertanyaan itu menggantung di udara, terasa jauh lebih menantang dan personal daripada yang Dara bayangkan.

Dara terdiam sejenak, matanya menatap lantai seolah-olah jawabannya tersembunyi di antara pola kayu yang mengkilap. Suara Rendra yang tenang namun penuh ketegasan membuka pintu yang lama terkunci di hatinya.

“Aku …” suaranya parau, hampir seperti bisikan. Dia mengangkat tangan, menekan dadanya tepat di atas jantung yang berdebar kencang. “Aku mau …”

Dara menarik napas dalam, mengumpulkan keberanian untuk mengungkapkan kata-kata yang bahkan tak pernah dia akui pada dirinya sendiri. Air mata mulai menggenang lagi di matanya, tetapi kali ini dia tidak berusaha menahannya.

“Apapun yang kamu inginkan, keinginan kamu valid, Dara. Keintiman yang sehat dibangun dari rasa dihargai sebagai seorang pribadi, bukan hanya sebagai pasangan seksual.”

Rendra berdiri dari kursinya. Tangannya terulur menyentuh rambut Dara. Dara segera menghindar, berusaha menepis tangan Rendra tapi tangan Rendra lebih dulu menahannya.

“Kamu cantik, Ra. Makin cantik dari terakhir kali kita ketemu,” kata Rendra dengan berbisik di telinganya.

Dara menatap Rendra, matanya membesar. Pipinya memerah, bukan hanya malu, namun karena getaran yang tiba-tiba menjalar di seluruh tubuhnya. Sebuah kehangatan yang telah lama hilang.

Dara ingin berlari menjauh, namun hatinya berteriak sesuatu yang sangat berbeda. Rasanya seperti ada bunga yang mekar di dadanya yang beku.

Rendra tersenyum, bibirnya kembali berbisik di telinga Dara. “Dan aku bisa memenuhi kebutuhanmu itu.”

***

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Sentuh Aku Lagi, Sayang!   Bab 360

    Dara terbangun dengan tubuh yang masih hangat dalam pelukan Rendra. Di luar, sinar matahari mulai meninggi. Pelan, Dara menggeser tangan Rendra dari pinggangnya. Rendra melenguh, lalu membuka mata. Dia menatapnya dengan tersenyum. “Pagi, Sayang. Istriku yang cantik.” “Pagi, Bi.” Rendra bersandar pelan di ranjang. “Mau sarapan apa?” Dara berpikir sejenak lalu berbisik. “Mau sarapan kamu.” Rendra tertawa, menariknya lebih dekat. “Boleh. Tapi nanti, kita harus jemput Biru dulu biar Nina sama Irvan nggak ngamuk.” Mereka tertawa. Rendra menarik Dara untuk berbaring sebentar, menikmati keheningan pagi. Dara meletakkan kepalanya di dada Rendra, mendengarkan detak jantung yang berdetak pelan. “Bi,” panggilnya. Rendra mengusap rambutnya dengan lembut, “Apa, Sayang?” “Aku suka permainan malam tadi,” katanya sambil malu-malu. Rendra mengecup keningnya. “Aku juga. Kita harus lebih sering, Sayang.” “Iya. Tapi nggak usah gaya baru setiap kali.” “Memang kenapa, Sayang? Katanya kamu suka?”

  • Sentuh Aku Lagi, Sayang!   Bab 359

    Rendra memilih restoran di lantai 33 sebuah hotel berbintang. Dari jendela kaca besar, lampu-lampu Kota berkelap-kelip seperti bintang jatuh yang tak pernah padam.Dara duduk di hadapannya, gaun putih sederhana yang ia kenakan terlihat anggun di bawah cahaya lilin. Rendra tidak bisa berhenti memandang.“Kenapa ngeliatain aku terus, Bi? Aku belepotan?” tanya Dara sambil mengusap sudut bibirnya.“Bukan.” Rendra tersenyum. “Kamu cantik. Masih sama kayak dulu waktu pertama kali aku lihat kamu waktu kita masih sama-sama mahasiswa.”Dara tertawa. “Sekarang aku udah tua, Bi.”“Tua? Kamu malah makin cantik di mataku.”Dara tersenyum. “Gombal.”“Bukan gombal. Itu fakta, Sayang.”Mereka tertawa bersama. Pelayan datang dengan menu, mempersilakan mereka memilih.Dara memesan pasta, Rendra memilih steak. Mereka memilih wine ringan untuk menemani malam.“Aku

  • Sentuh Aku Lagi, Sayang!   Bab 358

    “Tapi beberapa minggu belakangan, saya merasa makin berat. Saya takut suatu saat suami saya muak. Saya takut dia melihat saya sebagai orang yang aneh. Saya takut …”“Takut kehilangan dia?” lanjut Rendra, setengah menebak.Sarah mengangguk. Air matanya jatuh.Rendra menghela napas. “Bu Sarah, perjalanan Anda tidak akan mudah. Ada luka masa lalu yang perlu dipahami, ada rasa malu yang perlu dikelola. Tapi Anda sudah mengambil langkah pertama yang paling sulit: bicara.”Sarah mengusap air matanya. “Apa saya bisa sembuh, Dok?”Rendra tersenyum tipis. “Sembuh mungkin bukan kata yang tepat, Bu Sarah. Tapi saya yakin, Anda bisa belajar menerima diri sendiri, dan membangun hubungan yang sehat dengan suami Anda, tanpa beban rasa bersalah atau malu.”Mereka berbicara lebih lama. Tentang masa kecil, tentang orang tua yang bercerai, tentang rasa tidak aman yang selalu mengikuti. Rendra mendengarkan, kadang berta

  • Sentuh Aku Lagi, Sayang!   Bab 357

    Rendra tersenyum tipis. “Anda tidak gila, Pak Bima. Tapi Anda butuh bantuan untuk memahami diri sendiri. Dan yang lebih penting, apakah istri Anda tahu? Apakah dia nyaman dengan ini?”Bima menunduk lagi. “Dia ... dia nggak tahu. Saya selalu menutupi. Tapi belakangan, dia mulai curiga. Dia lihat saya ... reaksi saya setiap kali kami menonton film bersama, atau saat ada teman saya yang datang …”“Dan Anda memutuskan datang ke sini karena?”“Karena saya takut kehilangan dia.” Bima menggenggam tangannya sendiri. “Saya takut suatu saat dia tahu, lalu dia benci saya. Saya takut dia pergi. Saya ... saya nggak bisa kehilangan dia, Dok.”Rendra menghela napas. Ia menatap pria di hadapannya, bukan sebagai kasus, tapi sebagai manusia yang sedang berjuang untuk berdamai.“Pak Bima, perjalanan Anda tidak akan mudah. Tapi dengan Anda datang ke sini, Anda sudah mengambil langkah pertama yang paling sulit. Sekarang, kita perlu me

  • Sentuh Aku Lagi, Sayang!   Bab 356

    Tak lama berselang, Rendra pulang dengan bungkusan kue bolu kesukaan Biru. Ia meletakkannya di meja, lalu duduk di samping Dara. “Kiara sudah pulang?” Dara mengangguk. “Iya. Lilia pamit. Biru sampai sedih.” Rendra menatap Biru yang sedang menggambar di meja. “Dia suka banget sama Lilia.” “Iya.” Dara menyesap tehnya. “Kiara juga udah berubah, Bi.” Rendra mengamati istrinya. “Kamu baik-baik saja?” Dara menatapnya, lalu tersenyum. “Aku baik-baik saja. Malah ngerasa ... lega.” “Lega?” “Iya. Selama ini aku pikir, kalau aku bertemu Kiara lagi, aku akan marah. Atau sedih. Tapi ternyata …” dia menunduk, memainkan ujung cangkir. “Ternyata aku cuma lihat dia sebagai ibu Lilia. Teman main Biru. Dan itu cukup.” Rendra meraih tangannya. “Kamu hebat, Sayang. Tidak semua orang bisa seperti kamu.” Dara

  • Sentuh Aku Lagi, Sayang!   Bab 355

    Sampai di apartemen mereka, Rendra menceritakan pertemuannya dengan Kiara. Dara mendengarkan sambil menyuapi Biru makan malam.“Jadi dia bakal menetap di sini, Bi?” tanya Dara.“Untuk sementara iya, Sayang. Katanya setelah Lilia besar, mungkin balik ke Singapura.”Dara mengangguk. “Lilia anaknya lucu. Mirip dia.”Rendra memperhatikan Dara. “Kamu nggak apa-apa?”Dara menatapnya, lalu tersenyum. “Nggak kok. Aku nggak cemburu.”“Aku nggak bilang cemburu. Aku tanya kamu nggak apa-apa?”Dara menghela napas. “Dulu, mungkin aku akan marah, Bi. Tapi sekarang? Kita sudah lewati terlalu banyak hal untuk masih menyimpan amarah. Lagian,” ia menatap Biru yang sibuk dengan makanannya, “Biru punya teman baru. Itu lebih penting.”Rendra meraih tangannya. “Makasih ya, Sayang. Kamu hebat.”Dara membalas genggaman itu. “Kita berdua hebat karena bisa berdamai dengan masa lalu.”

  • Sentuh Aku Lagi, Sayang!   Bab 188

    Tiga hari berlalu di Suite 4B. Bagi Dara, waktu bergerak dalam ritme yang aneh—lambat karena kebosanan dan kecemasan, namun cepat karena kesibukannya menyusun kembali pikirannya. Dia sudah menghubungi pengacara baru yang direkomendasikan Nina melalui telepon konferensi yang aman. Dokumen visum te

    last updateLast Updated : 2026-03-27
  • Sentuh Aku Lagi, Sayang!   Bab 189

    Dara membuka keran air hangat, mengalirkan dalam bathtub. Air hangat mengalir, mengisi bak mandi dengan kabut tipis yang menenangkan. Dara memasukkan sedikit garam mandi beraroma lavender berharap bisa melarutkan sedikit dari kekakuan dan rasa sakit yang masih menempel di tubuh dan pikirannya.

    last updateLast Updated : 2026-03-27
  • Sentuh Aku Lagi, Sayang!   Bab 184

    Dara sedang bersiap untuk esok hari, pikirannya penuh dengan rencana dan kekhawatiran saat ketukan pelan terdengar di pintu kamarnya. Jantungnya langsung berdebar kencang. Hanya Nina yang tahu dia di sini.Apakah ada yang salah?Dengan hati-hati, dia mengintip melalui

    last updateLast Updated : 2026-03-27
  • Sentuh Aku Lagi, Sayang!   Bab 177

    Setelah mengirimkan pesan itu pada nomor Rendra melalui ponsel Dara, Arkha menonaktifkan ponsel Dara dan melemparkannya kembali ke dalam laci.Dia kemudian berbaring di sisi tempat tidur, tidak menyentuh Dara, tetapi duduk lebih dekat. Dia menatap langit-langit, bernapas dalam-dalam

    last updateLast Updated : 2026-03-27
More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status