Share

Bab 3

Author: Leona Valeska
last update Last Updated: 2025-11-03 17:36:05

“Silakan duduk dengan nyaman,” ujar suara berat itu dengan nada lembut tapi berwibawa. “Tidak perlu tegang. Di sini tidak akan ada yang menghakimimu.”

Dr. John Maxwell menutup map di tangannya, lalu menatap perempuan yang duduk di seberangnya. Sekilas, pria itu tampak seperti seseorang yang sudah terbiasa menampung rahasia-rahasia terdalam manusia—tenang, sabar, dan sangat profesional.

Namun di balik ketenangan itu, ada sesuatu yang membuat udara di ruangan terasa padat.

Sophia hanya bisa menatapnya dalam diam, tubuhnya kaku di kursi empuk berwarna krem, sementara pikirannya berputar cepat, mencoba menyesuaikan antara kenangan masa lalu dan kenyataan yang kini terhampar di depan mata.

Ia mengenalnya. Terlalu mengenalnya.

John Maxwell—nama lengkap yang dulu sering ditulis gadis SMA itu di halaman belakang buku catatannya, dan diapit coretan hati kecil.

Cinta pertamanya. Pria yang dulu dia tinggalkan tanpa sempat menjelaskan apa pun.

Dan kini, pria itu duduk di hadapannya, mengenakan kemeja putih rapi dengan dasi hitam gelap yang kontras di kulitnya yang sedikit sawo matang.

Lengan bajunya tergulung hingga siku, memperlihatkan urat tangan yang menonjol setiap kali dia menulis sesuatu. Jam tangan perak di pergelangan kirinya berkilau halus ketika cahaya pagi menembus tirai ruangan.

Sophia bisa merasakan wajahnya memanas. Bagaimana mungkin dia harus duduk di depan cinta lamanya—untuk membicarakan tentang ketidakmampuannya bergairah?

John menatapnya lekat-lekat, tapi tatapan itu bukan tatapan masa lalu. Bukan tatapan seorang pemuda SMA yang dulu sering meminjamkan jaketnya saat hujan.

Ini tatapan seorang profesional, dokter, pria yang kini tahu cara membaca manusia hanya lewat bahasa tubuh dan nada napasnya.

“Sudah lama sekali,” akhirnya John membuka suara lagi.

Sophia menelan ludahnya dengan pelan. “Kau … masih ingat aku?”

Senyum tipis terbentuk di sudut bibir John. “Sulit untuk melupakan seseorang yang pernah menulis namaku di buku catatannya setiap hari.”

Wajah Sophia langsung merona. “Astaga …,” gumamnya sambil menutupi wajahnya dengan satu tangan.

John terkekeh pelan—suara yang dulu selalu membuat jantungnya berdebar. Tapi kini, debar itu terasa campur aduk antara nostalgia, gugup, dan malu luar biasa.

“Tenang saja,” ujar John lembut, “Aku di sini sebagai profesional, Sophia. Bukan sebagai seseorang dari masa lalumu. Tapi, kalau kau merasa tidak nyaman, aku bisa merekomendasikan rekan lain.”

Sophia menggeleng dengan cepat. “Tidak! Maksudku, tidak perlu. Aku … aku bisa menghadapinya.”

Meski sebenarnya, detak jantungnya berdebar begitu keras hingga dia takut John bisa mendengarnya.

Pria itu mengangguk, lalu menulis sesuatu di kertas di depannya. “Baik. Mari kita mulai dari awal. Mike memberitahuku sedikit tentang kondisimu, tapi aku ingin mendengar langsung darimu.”

Sophia menarik napas dalam. Mungkin karena John bukan orang asing sepenuhnya, mulutnya lebih mudah terbuka—tapi justru karena dia adalah John, rasa malunya meningkat berkali lipat.

Sophia menarik napas panjang, berusaha menyembunyikan kegugupan yang membuat telapak tangannya dingin.

“Terima kasih, Dokter,” katanya dengan pelan.

John mengangguk lalu mencondongkan tubuh sedikit ke depan. “Sebelum kita mulai, panggil aku John saja. Di ruangan ini, kita bicara setara. Tidak ada jarak yang harus dijaga. Lagi pula, kita sudah saling kenal sebelumnya, bukan?” 

Sophia langsung memalingkan wajahnya begitu mendengar kalimat terakhir yang diucapkan oleh John–pria yang sempat mengisi masa lalunya, dan kini dia harus berhadapan lagi dengannya.

“Baiklah … John.” Ia mencoba tersenyum, meski matanya menunduk tak mampu menatap mata John yang begitu memukau menurutnya.

“Jadi,” ujar John sambil menulis sesuatu di buku catatan kulitnya. “Tunggu.” Sophia menelan ludahnya. Dia baru sadar kalau John adalah sepupu tunangannya. “Jadi, kau … sepupunya Mike?” 

John mengangguk singkat. “Ya. Dan aku pun baru tahu, kalau kau adalah tunangan sepupuku. Bagaimana? Masih mau lanjut?” 

Tidak ada pilihan lain selain mengangguk. Meski harus berhadapan dengan masa lalunya setiap hari, setidaknya dia bisa sembuh dan normal layaknya manusia pada umumnya.

“Lanjut saja, John,” jawabnya mantap. 

“Baik.” John tersenyum menatap lekat wajah Sophia. “Kau mengalami kesulitan dalam hal keintiman dengan pasanganmu?” 

Sophia menelan ludahnya sambil menatap jemari yang bertaut di pangkuannya. “Ya. Kami … sudah mencoba berkali-kali. Tapi setiap kali dia menyentuhku, aku membeku. Kadang sampai panik, atau bahkan pingsan.”

John tidak bereaksi berlebihan. Ia hanya mengangguk dengan pelan. “Apakah kau tahu sejak kapan hal itu terjadi?”

Sophia menggeleng dengan pelan. “Aku tidak tahu pasti. Tapi setiap kali Mike mulai terlalu dekat, rasanya seperti tubuhku menolak. Bukannya merespon, aku justru ketakutan.”

“Takut apa?”

Pertanyaan sederhana itu membuat jantung Sophia mencelos. Ia ingin menjawab, tapi lidahnya kelu.

Gambar-gambar dari masa kecilnya melintas begitu saja—suara teriakan ibunya, piring yang pecah, bayangan ayahnya yang meninggalkan rumah dengan wajah dingin.

“Takut … kalau aku akan berakhir seperti mereka,” jawabnya akhirnya, suaranya hampir seperti bisikan.

“Orang tuaku. Mereka saling mencintai, tapi setiap hari saling menghancurkan. Ibuku sering menangis. Ayahku selingkuh. Aku tumbuh dengan keyakinan bahwa pernikahan hanya akan membawa luka.”

John menatapnya dalam diam. Bukan tatapan kasihan, tapi penuh empati. “Itu pengalaman yang berat, Sophia. Tidak heran tubuhmu bereaksi begitu. Tubuh kita punya cara sendiri melindungi diri dari hal yang diasosiasikan dengan bahaya.”

Sophia menatapnya dan bibirnya sedikit terbuka. “Jadi ini bukan salahku?”

“Tidak,” jawab John mantap. “Kau tidak rusak. Kau hanya belum sembuh.”

Kata-kata itu seperti udara segar di dada Sophia. Namun di sisi lain, sorot mata John yang begitu dalam membuatnya merasa seolah sedang dilucuti perlahan, hingga tak ada lagi lapisan pelindung yang bisa dia sembunyikan.

“Lalu, apa yang harus aku lakukan?” tanyanya dengan pelan.

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Comments (1)
goodnovel comment avatar
Lyra Marinka
trauma Sophia. kasian
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Sentuh Aku, Pak Mentor   Bab 126

    Malam itu, ketenangan di rumah baru mereka pecah oleh sebuah rintihan panjang yang tertahan.Jarum jam menunjukkan pukul dua pagi ketika Sophia merasakan kontraksi yang berbeda dari biasanya, sebuah gelombang rasa sakit yang tajam dan ritmis.Ia mencoba mengatur napas, namun ketuban yang pecah sesaat kemudian menjadi sinyal tak terbantahkan: sang pangeran kecil tidak ingin menunggu lebih lama lagi.“John ... bangun. Sudah waktunya,” bisik Sophia sambil mencengkeram lengan suaminya.John, yang biasanya sangat tenang dan metodis sebagai seorang terapis, seketika terlompat dari tempat tidur.Alih-alih menjalankan protokol “tas rumah sakit” yang sudah mereka susun rapi, kepanikannya mendadak mencapai level absurd.“Oke, oke! Jangan panik, Sophia! Aku sangat tenang!” seru John dengan suara yang justru dua oktaf lebih tinggi dari biasanya.Ia berlari ke arah lemari, namun alih-alih mengambil tas bayi, ia malah menyambar bantal kursi dan sebuah pemanas air elektrik.“John! Tasnya di dekat pi

  • Sentuh Aku, Pak Mentor   Bab 125

    Siang itu, pusat perbelanjaan perlengkapan bayi yang eksklusif di jantung kota tampak cukup ramai, namun fokus John dan Sophia hanya tertuju pada barisan rak yang memajang pakaian-pakaian kecil berbahan katun organik.Usia kandungan Sophia kini telah menginjak sembilan bulan; perutnya yang bulat sempurna membuat langkahnya sedikit melambat, namun binar matanya menunjukkan semangat yang tak kunjung padam.John berjalan di sampingnya dengan penuh siaga, satu tangannya selalu berada di dekat pinggang Sophia untuk memberikan tumpuan.Di belakang mereka, Bianca mengikuti sambil membawa beberapa tas belanjaan kecil, wajahnya menunjukkan ekspresi antara terhibur dan lelah melihat dinamika pasangan baru tersebut.“Sophia, lihat ini. Bukankah keranjang bayi dari rotan ini sangat estetik? Desainnya memiliki nuansa klasis yang sangat kental,” ujar John sambil menunjuk sebuah baby bassinet yang memiliki ukiran sedikit rumit di bagian kakinya.Sophia mendekat, menyipitkan mata, lalu menggeleng per

  • Sentuh Aku, Pak Mentor   Bab 124

    Pagi itu, cahaya matahari musim semi yang hangat menyusup masuk melalui celah gorden jendela rumah baru Sophia dan John.Rumah itu adalah sebuah bangunan bergaya minimalis kontemporer dengan halaman luas yang dipenuhi tanaman hijau, sangat berbeda dengan apartemen mereka sebelumnya yang terasa sesak oleh hiruk-pikuk pusat kota.Bagi Sophia, rumah ini bukan sekadar bangunan; ini adalah simbol dari lembaran hidup yang benar-benar bersih, tempat di mana tidak ada sisa-sisa kenangan buruk tentang Mike maupun trauma masa lalu yang sempat menghimpitnya.Sophia berdiri di ruang tengah, menatap sekeliling dengan perasaan syukur yang meluap.Di dinding ruang tamu, sebuah foto pernikahan mereka dalam bingkai kayu jati terpasang manis. Ia mengusap perutnya yang kian menonjol, merasakan kehidupan yang berdenyut di dalamnya.Keheningan rumah ini adalah kemewahan yang selama ini ia dambakan. Di sini, ia bisa mendengar kicauan burung dan desis angin di antara pepohonan, sesuatu yang mustahil ia dapa

  • Sentuh Aku, Pak Mentor   Bab 123

    Pagi itu, sinar matahari merambat lembut melalui jendela-jendela besar sebuah kapel tua yang terletak di pinggiran kota.Tidak ada kemewahan yang berlebihan, tidak ada dekorasi yang megah hingga menyilaukan mata.Sesuai dengan keinginan Sophia, pernikahan itu dilangsungkan secara intim, hanya dihadiri oleh keluarga inti dan sahabat terdekat yang telah menjadi saksi bisu perjuangannya selama setahun terakhir.Aroma bunga melati dan mawar putih segar memenuhi ruangan, menciptakan suasana yang suci dan hangat.Di salah satu baris depan, Aruna, ibu John, duduk dengan sapu tangan yang tak lepas dari jemarinya.Matanya yang sembap menunjukkan betapa dalam rasa haru yang ia rasakan.Baginya, pernikahan ini bukan sekadar penyatuan dua insan, melainkan sebuah simbol kemenangan atas segala penderitaan yang sempat mengancam kebahagiaan putranya.Pintu kapel terbuka perlahan. Sophia muncul di ambang pintu, tampak begitu memesona dalam balutan gaun pengantin berwarna putih tulang berbahan sutra le

  • Sentuh Aku, Pak Mentor   Bab 122

    Dua minggu telah berlalu sejak gema palu hakim mengakhiri tirani Mike di ruang sidang. Meskipun luka psikologis yang ditinggalkan belum sepenuhnya mengering, suasana di hati Sophia mulai menemukan sedikit kedamaian.Malam itu, langit tampak bersih, memamerkan hamparan gemerlap lampu kota yang menyerupai taburan berlian dari ketinggian lantai lima puluh sebuah restoran eksklusif.John sengaja memesan area privat di sudut balkon restoran, di mana embusan angin malam terasa lembut menyapu wajah, membawa aroma samar dari hidangan mewah dan bunga lili putih yang tertata rapi di atas meja.Sophia tampil anggun dengan gaun satin berwarna biru gelap yang melambangkan ketenangan yang mulai ia rengkuh.Namun, di balik ketenangannya, John dapat melihat sisa-sisa kegelisahan yang masih bersembunyi di balik binar mata wanitanya.Setelah hidangan utama selesai dinikmati dalam percakapan yang ringan, suasana perlahan berubah menjadi lebih intim dan serius.John menyesap air mineralnya, lalu menatap

  • Sentuh Aku, Pak Mentor   Bab 121

    Ruang sidang utama Pengadilan Negeri hari itu disesaki oleh atmosfer yang mencekam.Cahaya lampu neon yang memantul di atas lantai marmer seolah mempertegas ketegangan yang menggantung di udara.Sophia duduk di kursi penggugat dengan jemari yang tertaut erat, sementara di sisi lain, Mike tampak berusaha mempertahankan raut wajah angkuh, meski kegelisahan mulai terbaca dari ketukan jarinya yang tidak beraturan pada meja kayu di depannya.Hakim Ketua mengetukkan palu satu kali, menandakan sidang memasuki agenda pembuktian terakhir sebelum pembacaan putusan.Daniel, kuasa hukum Sophia yang dikenal dingin dan taktis, berdiri dari kursinya.Ia merapikan jubah hitamnya sejenak sebelum melangkah maju ke tengah ruangan dengan sebuah map tebal dan sebuah perangkat penyimpanan elektronik.“Yang Mulia Hakim, sebelum putusan dijatuhkan, pihak kami memohon izin untuk menyerahkan bukti pamungkas yang baru saja kami validasi keasliannya,” ujar Daniel dengan suara bariton yang menggema di seluruh pen

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status