Share

Bab 5

Author: Leona Valeska
last update Last Updated: 2025-11-03 17:36:15

“Over here!” serunya begitu melihat Sophia masuk. Kini, mereka berada di kafe yang tak jauh dari klinik milik John.

Sophia tersenyum lemah dan menghampiri sambil melepas mantel panjangnya, lalu duduk di hadapan sahabatnya itu.

“Jadi?” tanya Bianca tanpa basa-basi, nada suaranya penuh rasa ingin tahu. “Bagaimana sesi keduamu? Kau terlihat berbeda setelah melakukan terapi pertama.”

“Berbeda bagaimana?” tanyanya bingung.

“Entahlah.” Bianca menyipitkan matanya menatap lekat wajah Sophia. “Wajahmu seperti orang yang baru saja melihat hantu, atau baru saja jatuh cinta.”

Sophia terdiam sambil menatap uap yang naik dari cangkirnya. “Mungkin keduanya,” gumamnya lirih.

Bianca mengernyit. “Apa maksudmu?” tanyanya kemudian.

Sophia menatap ke luar jendela seolah mencari keberanian lalu menghela napas panjang. “John Maxwell,” katanya pelan. “Psikolog itu … dia bukan orang asing. Aku mengenalnya.”

“Kenal?” Bianca mendekat dengan raut wajah antusiasnya. “Dalam arti kenal bagaimana? Kau pernah bekerja dengannya?”

Sophia menggeleng dengan pelan. “Tidak. Dia adalah cinta pertamaku. Saat kami masih SMA. Kami satu sekolah yang sama.”

Bianca hampir tersedak kopinya. “Astaga, kau serius?”

Sophia mengangguk sementara matanya memancarkan campuran malu dan resah. “Aku bahkan tidak tahu sampai aku melihatnya. Aku pikir itu hanya kebetulan namanya sama. Tapi begitu aku melihat wajahnya, aku langsung tahu itu dia.”

Bianca menatapnya tak percaya. “Lalu? Apa dia mengenalimu juga?”

“Ya. Tapi dia tidak membahasnya. Hanya bilang dia ingat padaku.”

“Dan?”

“Dan aku—” Sophia menarik napas panjang. “Aku tidak tahu harus bersikap bagaimana. Setiap kali dia bicara, aku seperti kembali jadi remaja. Dan yang lebih buruk, aku … aku tidak bisa mengendalikan diri.”

“Dalam arti?” tanya Bianca pelan.

“Jantungku berdebar, tanganku gemetar, bahkan aku merasa nyaman saat di dekatnya.”

Sophia menunduk dalam-dalam karena malu mengakui hal tersebut. “Padahal aku seharusnya tidak merasakan itu. Ini terapi, bukan … bukan pertemuan romantis.”

Bianca menatapnya lama sebelum akhirnya menghela napas. “Sophia, aku tahu ini rumit. Tapi kau sadar kan, kalau kau hentikan sesi ini sekarang, Mike pasti curiga. Dia sudah mengatur semuanya.”

Sophia menatapnya dengan mata membulat. “Jadi kau pikir aku harus tetap datang?”

“Ya, kalau kau tidak mau Mike akan marah besar.” Bianca mengangkat bahu. “Lagi pula, ini cuma terapi. Selama kau bisa menjaga jarak, tidak ada masalah, kan?”

“Menjaga jarak ….” Sophia tertawa hambar. “Kau tahu apa yang lebih sulit dari menjaga jarak? Berpura-pura tidak merasakan apa pun ketika orang itu menatapmu seolah tahu semua rahasiamu.”

Bianca terdiam sejenak, lalu menatap Sophia dengan lembut. “Kau masih mencintainya, ya?”

Pertanyaan itu sontak membuat dada Sophia terasa berat. Dia tidak menjawab, hanya menatap kopi yang mulai dingin.

Sebelum Bianca sempat bicara lagi, suara langkah berat terdengar mendekat dari arah pintu.

Aroma cologne yang samar namun familiar langsung membuat tubuh Sophia menegang. Ia lalu mendongak — dan nyaris menjatuhkan sendok di tangannya.

John Maxwell berdiri di sana. Dengan mantel hitam panjang, rambut sedikit berantakan, dan senyum tenang yang selalu tampak terkendali.

“Oh, apa ini kebetulan,” katanya ramah sambil melangkah mendekat. “Sophia Russell.”

Sophia hampir kehilangan kata. “John?”

Bianca langsung menoleh, matanya membesar. “Tunggu, ini doktermu?”

John tersenyum kecil, lalu menatap ke arah Bianca. “Ya. Kau pasti sahabatnya.” Ia mengulurkan tangan. “John Maxwell.”

“Bianca Adams,” sahut Bianca cepat sambil berjabat tangan dengan wajah yang berbinar. “Oh Tuhan, kau jauh lebih tampan daripada yang dideskripsikan oleh Sophia.”

Sophia nyaris tersedak. “Bianca!”

John tertawa kecil, nada tawanya rendah tapi tulus. “Aku harap deskripsinya tidak terlalu buruk.”

“Justru sebaliknya,” jawab Bianca sambil tersenyum geli. “Dia bilang kau menenangkan dan berbahaya.”

“Berbahaya?” John menatap Sophia dengan alis terangkat. “Itu deskripsi yang menarik.”

Sophia berdehem lalu menunduk dalam, wajahnya sudah merah padam karena ucapan Bianca dan John barusan. “Kau … sering datang ke sini?” tanyanya mencoba mengalihkan topik.

John mengangguk sambil duduk di meja mereka, seolah hal itu wajar saja. “Kafe ini milik teman lamaku. Aku sering mampir setelah sesi sore. Tidak menyangka akan bertemu pasien di sini.”

Bianca menatap ke arah Sophia dengan ekspresi yang berkata, lihat? bahkan semesta pun ingin kalian bertemu lagi.

Sophia memaksakan senyum pada John. “Kami hanya mengobrol ringan.”

John menatapnya sejenak, dan senyum itu kembali muncul — samar, nyaris tak terbaca. “Baiklah, asal bukan obrolan tentang menghentikan terapi.”

Sophia tertegun. “Kau tahu?”

John menatapnya lembut tapi tegas. “Aku tidak perlu tahu dari siapa pun. Wajahmu sudah mengatakan semuanya. Dan sedikit mendengar sebelum menghampirimu.”

Bianca berusaha menahan senyum, jelas menikmati situasi itu. “Wah, dokter yang peka sekaligus tampan. Tidak heran pasiennya tidak mau berhenti terapi.”

“Bianca!” seru Sophia lagi, dan kali ini nyaris putus asa dibuatnya.

John hanya terkekeh kecil. “Aku tidak akan menahannya kalau memang ingin berhenti, tapi ….” Ia mencondongkan tubuh sedikit dan menatap Sophia dalam-dalam. “Akan sangat disayangkan kalau prosesnya terhenti ketika baru saja mulai membuahkan hasil.”

Ada sesuatu di nada suaranya — bukan ancaman, tapi lebih seperti tantangan halus.

Bianca memperhatikan keduanya, matanya berpindah-pindah di antara dua orang yang tampak seperti sedang memainkan permainan yang hanya mereka pahami.

“Baiklah, aku rasa aku harus memberi kalian ruang untuk bicara,” ujar Bianca sambil bangkit dan pura-pura mengecek ponselnya. “Aku akan pesan dessert di kasir.”

Sebelum Sophia sempat menahannya, Bianca sudah melangkah pergi meninggalkan mereka berdua.

Kini hanya ada keheningan tipis di antara mereka. John menatap Sophia tanpa terburu-buru, seperti sedang menilai setiap perubahan di wajahnya.

“Kau tampak gelisah, Sophia,” katanya dengan pelan.

“Aku … aku hanya tidak menyangka akan bertemu denganmu di sini.”

“Aku juga tidak.”

“Tapi kau terlihat sangat tenang, John. Sangat berbeda denganku,” ujar Sophia dengan pelan.

“Tenang adalah bagian dari pekerjaanku,” jawabnya sambil menatap cangkirnya. “Meski terkadang, beberapa pasien membuat hal itu sulit.”

Sophia tahu dia sedang menjadi bahan pembicaraan. Wajahnya seketika memanas sembari menelan salivanya dengan pelan. “Aku tidak bermaksud—”

“Tidak perlu menjelaskan,” potong John dengan lembut. “Kita hanya perlu jujur dalam ruang terapi, bukan di sini. So ….” Ia menatap jam tangannya lalu menatap Sophia dengan tatapan yang sulit diartikan.

“Jangan lupa, sesi berikutnya hari Kamis jam tiga. Aku ingin kau datang.”

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Sentuh Aku, Pak Mentor   Bab 126

    Malam itu, ketenangan di rumah baru mereka pecah oleh sebuah rintihan panjang yang tertahan.Jarum jam menunjukkan pukul dua pagi ketika Sophia merasakan kontraksi yang berbeda dari biasanya, sebuah gelombang rasa sakit yang tajam dan ritmis.Ia mencoba mengatur napas, namun ketuban yang pecah sesaat kemudian menjadi sinyal tak terbantahkan: sang pangeran kecil tidak ingin menunggu lebih lama lagi.“John ... bangun. Sudah waktunya,” bisik Sophia sambil mencengkeram lengan suaminya.John, yang biasanya sangat tenang dan metodis sebagai seorang terapis, seketika terlompat dari tempat tidur.Alih-alih menjalankan protokol “tas rumah sakit” yang sudah mereka susun rapi, kepanikannya mendadak mencapai level absurd.“Oke, oke! Jangan panik, Sophia! Aku sangat tenang!” seru John dengan suara yang justru dua oktaf lebih tinggi dari biasanya.Ia berlari ke arah lemari, namun alih-alih mengambil tas bayi, ia malah menyambar bantal kursi dan sebuah pemanas air elektrik.“John! Tasnya di dekat pi

  • Sentuh Aku, Pak Mentor   Bab 125

    Siang itu, pusat perbelanjaan perlengkapan bayi yang eksklusif di jantung kota tampak cukup ramai, namun fokus John dan Sophia hanya tertuju pada barisan rak yang memajang pakaian-pakaian kecil berbahan katun organik.Usia kandungan Sophia kini telah menginjak sembilan bulan; perutnya yang bulat sempurna membuat langkahnya sedikit melambat, namun binar matanya menunjukkan semangat yang tak kunjung padam.John berjalan di sampingnya dengan penuh siaga, satu tangannya selalu berada di dekat pinggang Sophia untuk memberikan tumpuan.Di belakang mereka, Bianca mengikuti sambil membawa beberapa tas belanjaan kecil, wajahnya menunjukkan ekspresi antara terhibur dan lelah melihat dinamika pasangan baru tersebut.“Sophia, lihat ini. Bukankah keranjang bayi dari rotan ini sangat estetik? Desainnya memiliki nuansa klasis yang sangat kental,” ujar John sambil menunjuk sebuah baby bassinet yang memiliki ukiran sedikit rumit di bagian kakinya.Sophia mendekat, menyipitkan mata, lalu menggeleng per

  • Sentuh Aku, Pak Mentor   Bab 124

    Pagi itu, cahaya matahari musim semi yang hangat menyusup masuk melalui celah gorden jendela rumah baru Sophia dan John.Rumah itu adalah sebuah bangunan bergaya minimalis kontemporer dengan halaman luas yang dipenuhi tanaman hijau, sangat berbeda dengan apartemen mereka sebelumnya yang terasa sesak oleh hiruk-pikuk pusat kota.Bagi Sophia, rumah ini bukan sekadar bangunan; ini adalah simbol dari lembaran hidup yang benar-benar bersih, tempat di mana tidak ada sisa-sisa kenangan buruk tentang Mike maupun trauma masa lalu yang sempat menghimpitnya.Sophia berdiri di ruang tengah, menatap sekeliling dengan perasaan syukur yang meluap.Di dinding ruang tamu, sebuah foto pernikahan mereka dalam bingkai kayu jati terpasang manis. Ia mengusap perutnya yang kian menonjol, merasakan kehidupan yang berdenyut di dalamnya.Keheningan rumah ini adalah kemewahan yang selama ini ia dambakan. Di sini, ia bisa mendengar kicauan burung dan desis angin di antara pepohonan, sesuatu yang mustahil ia dapa

  • Sentuh Aku, Pak Mentor   Bab 123

    Pagi itu, sinar matahari merambat lembut melalui jendela-jendela besar sebuah kapel tua yang terletak di pinggiran kota.Tidak ada kemewahan yang berlebihan, tidak ada dekorasi yang megah hingga menyilaukan mata.Sesuai dengan keinginan Sophia, pernikahan itu dilangsungkan secara intim, hanya dihadiri oleh keluarga inti dan sahabat terdekat yang telah menjadi saksi bisu perjuangannya selama setahun terakhir.Aroma bunga melati dan mawar putih segar memenuhi ruangan, menciptakan suasana yang suci dan hangat.Di salah satu baris depan, Aruna, ibu John, duduk dengan sapu tangan yang tak lepas dari jemarinya.Matanya yang sembap menunjukkan betapa dalam rasa haru yang ia rasakan.Baginya, pernikahan ini bukan sekadar penyatuan dua insan, melainkan sebuah simbol kemenangan atas segala penderitaan yang sempat mengancam kebahagiaan putranya.Pintu kapel terbuka perlahan. Sophia muncul di ambang pintu, tampak begitu memesona dalam balutan gaun pengantin berwarna putih tulang berbahan sutra le

  • Sentuh Aku, Pak Mentor   Bab 122

    Dua minggu telah berlalu sejak gema palu hakim mengakhiri tirani Mike di ruang sidang. Meskipun luka psikologis yang ditinggalkan belum sepenuhnya mengering, suasana di hati Sophia mulai menemukan sedikit kedamaian.Malam itu, langit tampak bersih, memamerkan hamparan gemerlap lampu kota yang menyerupai taburan berlian dari ketinggian lantai lima puluh sebuah restoran eksklusif.John sengaja memesan area privat di sudut balkon restoran, di mana embusan angin malam terasa lembut menyapu wajah, membawa aroma samar dari hidangan mewah dan bunga lili putih yang tertata rapi di atas meja.Sophia tampil anggun dengan gaun satin berwarna biru gelap yang melambangkan ketenangan yang mulai ia rengkuh.Namun, di balik ketenangannya, John dapat melihat sisa-sisa kegelisahan yang masih bersembunyi di balik binar mata wanitanya.Setelah hidangan utama selesai dinikmati dalam percakapan yang ringan, suasana perlahan berubah menjadi lebih intim dan serius.John menyesap air mineralnya, lalu menatap

  • Sentuh Aku, Pak Mentor   Bab 121

    Ruang sidang utama Pengadilan Negeri hari itu disesaki oleh atmosfer yang mencekam.Cahaya lampu neon yang memantul di atas lantai marmer seolah mempertegas ketegangan yang menggantung di udara.Sophia duduk di kursi penggugat dengan jemari yang tertaut erat, sementara di sisi lain, Mike tampak berusaha mempertahankan raut wajah angkuh, meski kegelisahan mulai terbaca dari ketukan jarinya yang tidak beraturan pada meja kayu di depannya.Hakim Ketua mengetukkan palu satu kali, menandakan sidang memasuki agenda pembuktian terakhir sebelum pembacaan putusan.Daniel, kuasa hukum Sophia yang dikenal dingin dan taktis, berdiri dari kursinya.Ia merapikan jubah hitamnya sejenak sebelum melangkah maju ke tengah ruangan dengan sebuah map tebal dan sebuah perangkat penyimpanan elektronik.“Yang Mulia Hakim, sebelum putusan dijatuhkan, pihak kami memohon izin untuk menyerahkan bukti pamungkas yang baru saja kami validasi keasliannya,” ujar Daniel dengan suara bariton yang menggema di seluruh pen

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status