MasukGuruh yang tadinya mengamuk buas kini menyusut menjadi rintik gerimis panjang. Badai di luar sana telah menjadi saksi bisu bagaimana batas suci antara langit dan bumi dihancurkan tanpa sisa di dalam kabin kereta kuda yang sempit itu.
Udara dingin sisa hujan mulai menyusup melalui celah jendela kayu, membawa kesegaran yang perlahan mengusir hawa panas sisa pergumulan.
Liying terbaring dengan napas yang mulai teratur. Matanya terpejam lelah, sementara kepalanya bersandar pasrah di atas lipatan lengan kekar Chu Renshu. Aroma keringat maskulin yang bercampur dengan wangi alami tubuhnya menciptakan sensasi aman yang membuat sang Putri nyaris terlelap.
Namun, seiring dengan kembalinya kesunyian, kesadaran perlahan menghantam akal sehat Liying.
Gadis itu membuka matanya perlahan. Pandangannya langsung bersirobok dengan dada bidang Renshu yang telanjang, dipenuhi bekas luka tebasan pedang masa lalu yang mengerikan namun entah mengapa kini terasa sangat familier.
Wajah porselen Liying seketika merona merah padam hingga ke ujung telinga. Ingatan tentang bagaimana agresifnya ia memohon, merintih, dan meronta di bawah kungkungan pria ini beberapa saat lalu membuat perutnya melilit karena malu.
Astaga... apa yang baru saja kulakukan? jeritnya dalam hati.
Dengan panik, Liying buru-buru menarik sisa gaun sutranya yang sudah robek tak berbentuk untuk menutupi dadanya. Pergerakannya yang kikuk membuat sikunya tanpa sengaja membentur dinding kayu kereta.
"Aw!" ringis Liying tertahan.
Pergerakan itu menyadarkan Renshu yang sedari tadi bersandar dalam diam sambil memandangi wajah lelah wanitanya. Pria itu menoleh. Tatapan matanya yang tadi segelap malam dan penuh gairah buas kini telah kembali tenang, tajam, dan penuh perhitungan.
Tanpa mengatakan sepatah kata pun, Renshu meraih jubah hitam bersih miliknya dari tumpukan barang di sudut kereta, lalu menyelimutkannya ke bahu Liying yang mulai gemetar kedinginan. Jubah besar itu menenggelamkan tubuh mungil Liying, menguarkan aroma maskulin yang anehnya sangat menenangkan saraf sang Putri.
"Pakai ini. Pakaian Anda sudah tidak layak pakai, Tuan Putri," ucap Renshu. Suara baritonnya terdengar datar dan teramat tenang.
Liying menatap lekuk rahang keras pria di sebelahnya dengan jantung berdebar tak karuan. Bagaimana pria ini bisa bersikap setenang itu setelah menelan seorang putri kekaisaran?
"K-kau... kau tidak menyesal, Chu Renshu?" tanya Liying ragu. Ia mencoba mengumpulkan sisa-sisa wibawanya, meski suaranya mencicit pelan.
Mendengar pertanyaan itu, sebelah sudut bibir Renshu tertarik ke atas. Sebuah senyuman tipis, senyuman pertama yang pernah dilihat Liying dari prajurit kaku itu, terukir di wajah tampannya. Renshu mencondongkan tubuhnya ke depan, mengurung Liying di sudut kereta hingga gadis itu menahan napas.
Ibu jari Renshu yang kasar terulur, mengusap dengan penuh damba jejak kemerahan yang baru saja ia tinggalkan di perpotongan leher sang Putri.
"Hamba adalah prajurit bayangan yang tidak punya apa-apa untuk disesali di dunia ini, Tuan Putri," bisik Renshu serak, menatap lurus ke kedalaman mata Liying. "Namun mulai detik ini... hamba akan memenggal tangan siapa pun yang berani menyentuh apa yang sudah hamba tandai."
Wajah Liying kembali memerah bak kepiting rebus. Ia memalingkan wajahnya dengan canggung, berusaha menyembunyikan senyum tipis yang tanpa sadar mekar di bibirnya. Renshu perlahan mundur, mengenakan kembali pakaian dalamnya dan menyematkan zirah kulitnya, lalu membuka pintu penghubung untuk kembali ke kursi kusir.
"Kita akan ke suatu tempat di mana Anda bisa tidur tanpa mimpi buruk malam ini," ucap Renshu sambil kembali meraih tali kekang kuda.
Setengah jam kemudian, kemulusan jalan batu ibu kota berganti dengan guncangan kasar.
Liying menyibak sedikit tirai jendela, dan matanya langsung membelalak. Jalanan telah berubah menjadi tanah becek bercampur genangan lumpur kotor. Bangunan-bangunan megah beratap genteng melengkung khas istana lenyap, digantikan oleh gubuk-gubuk kayu reot beratap jerami yang saling berhimpitan di sepanjang gang sempit. Bau pesing dan asap kayu bakar yang menyengat langsung menusuk penciumannya.
Ini adalah permukiman kumuh di dekat Gerbang Utara, tempat para kasta terendah ibu kota Yanze menyambung nyawa. Tempat yang belum pernah diinjak oleh kaki seorang bangsawan.
Kereta berhenti di depan sebuah rumah kayu kecil yang terlihat hampir roboh jika tertiup angin kencang. Renshu melompat turun, membenarkan letak topi bambunya, lalu membukakan pintu untuk Liying.
Melihat genangan lumpur kotor di bawah pijakan kereta, Liying ragu-ragu untuk melangkah. Namun Renshu tidak membiarkannya berpikir panjang. Tanpa ragu, pria besar itu langsung merengkuh pinggang dan lutut sang Putri, mengangkatnya dalam satu gendongan kokoh, dan membawanya melangkah menembus sisa gerimis menuju pintu kayu yang lapuk.
Pintu didorong hingga berderit panjang. Aroma ramuan herbal murahan yang sedikit apak menguar dari dalam.
Di sudut ruangan sempit yang hanya diterangi satu lilin temaram, seorang gadis berusia dua puluhan tengah menumbuk dedaunan di lumpang batu. Di ranjang kayu kecil tak jauh darinya, seorang gadis remaja baru saja terbangun sambil mengucek matanya yang masih mengantuk. Mereka adalah Meilin dan Xiaoxiao.
"Kak Renshu? Tumben sudah—" Sapaan Meilin terputus paksa di tenggorokan.
Alu penumbuk batu di tangannya merosot jatuh dan menghantam lantai tanah dengan bunyi buk yang keras. Mata Meilin dan Xiaoxiao membelalak sempurna, nyaris melotot keluar dari rongganya. Mulut mereka ternganga tanpa suara.
Di ambang pintu, kakak angkat mereka yang selalu kaku, taat aturan, dan disiplin itu berdiri tegap dengan zirah basahnya. Dan yang membuat kedua gadis itu merasa nyawa mereka baru saja dicabut oleh Dewa Kematian adalah sosok yang sedang bersandar nyaman di dada kakak mereka.
Seorang wanita dengan kecantikan yang tak tertandingi, dibalut jubah hitam kebesaran milik Renshu. Meski penampilannya sangat berantakan, jepit rambut emas bermotif burung phoenix sebagai lambang mutlak putri kekaisaran, masih bertengger angkuh di rambutnya. Lebih mengerikan lagi, dari celah jubah yang sedikit tersingkap, tercetak jelas jejak-jejak merah keunguan di leher dan tulang selangka porselen sang Putri.
"Astaga, Naga Langit..." bisik Meilin dengan wajah seputih mayat. Ia terhuyung mundur hingga menabrak rak ramuannya.
Xiaoxiao yang berada di atas ranjang langsung melompat turun dengan lutut gemetar hebat. Ia menunjuk Renshu dengan jari telunjuk yang bergetar layaknya dahan tertiup badai.
"K-Kakak..." pekik Xiaoxiao melengking tertahan, suaranya sarat akan kepanikan dan horor absolut. "Apa kau gila?! Kau baru saja menculik dan meniduri Tuan Putri Kekaisaran?! Kau mau kita semua dipenggal besok pagi?!"
Kegelapan pekat menyelimuti kesadaran Chu Renshu, namun genggaman tangan kanannya tetap mengunci erat. Di tengah halusinasi rasa sakit yang membakar sekujur tubuh, bayangan wajah Liying yang membeku di atas ranjang kapal menjadi satu-satunya jangkar yang menahan jiwa sang Kaisar agar tidak tercerabut.Ketika kelopak matanya perlahan terbuka, aroma belerang dan bau daging yang terbakar menyengat indra penciumannya. Renshu mendapati dirinya terbaring di atas lantai batu di dekat mulut terowongan kawah. Di sisinya, Lu Kang dan Xiaoxiao tengah berlutut dengan wajah cemas luar biasa."Yang Mulia! Anda sadar?!" seru Lu Kang, nyaris menjatuhkan kapaknya karena terlalu terkejut.Renshu tidak menjawab. Ia menggerakkan rahangnya yang kaku, lalu memaksa tubuhnya yang penuh luka bakar parah untuk bangkit. Kulit di dada, lengan, dan telapak tangan kanannya melepuh mengerikan, terkelupas dan memperlihatkan daging yang memerah. Namun, di tengah kepedihan luar biasa itu, tangan kanannya tetap ter
Pemimpin Sekte Batu Hitam menjatuhkan godam raksasanya. Harga diri dan kesombongannya hancur lebur di bawah tatapan mata sang Kaisar Zixiao. Pria fana di hadapannya ini bukanlah manusia; ia adalah inkarnasi dari algojo kematian itu sendiri."K-Kau menginginkannya?" suara Pemimpin Sekte itu bergetar saat ia melangkah mundur, menunjuk ke sebuah terowongan batu besar di belakang takhtanya. Hawa panas yang ekstrem menguar dari lorong tersebut, membuat udara beriak. "Silakan ambil sendiri. Inti Batu Kumala adalah jantung dari gunung ini. Benda itu tumbuh di tengah danau magma di dasar kawah suci. Tidak ada seorang pun, bahkan dari sekte kami, yang mampu turun ke sana tanpa terbakar menjadi abu."Renshu tidak menjawab. Ia memungut pedangnya, memasukkannya ke dalam sarung di punggung, dan berjalan melewati sang Pemimpin Sekte tanpa sedikit pun keraguan, melangkah lurus masuk ke dalam terowongan neraka tersebut.Xiaoxiao berlari menyusul hingga ke ambang terowongan, namun hawa panas yang
Kepulan debu vulkanik dari hancurnya gerbang utama perlahan tersapu oleh angin panas. Di balik ambang pintu yang telah menjadi puing-puing, ratusan murid Sekte Batu Hitam telah berkumpul dengan senjata terhunus. Mereka mematung, menatap dengan mata terbelalak ke arah pria berpakaian gelap yang baru saja menendang hancur gerbang baja dan basal yang mereka banggakan selama berabad-abad.Di tengah pelataran benteng yang luas, berdiri sebuah altar batu. Di atasnya, duduk Pemimpin Sekte Batu Hitam. Pria itu bertubuh raksasa, jauh lebih besar dari Renshu. Hampir seluruh tubuhnya, dari leher hingga kaki, tertutup oleh kalus tebal berwarna hitam mengilat, hasil dari latihan penyiksaan diri menanamkan mineral obsidian ke dalam jaringan kulitnya. Ia tampak seperti patung iblis yang dihidupkan."Kau meruntuhkan pintuku, Manusia Fana," geram sang Pemimpin Sekte, suaranya berderak seperti bebatuan yang saling bergesekan. Ia berdiri, mengambil sebuah godam raksasa berlapis paku besi dari samping
Pendakian itu adalah siksaan fisik yang menguji batas toleransi manusia. Tanah yang mereka pijak bukanlah tanah berlumpur atau rerumputan, melainkan lautan batu obsidian yang luar biasa tajam dan bersuhu mendidih. Setiap hembusan angin membawa debu vulkanik yang menggores tenggorokan layaknya pecahan kaca.Xiaoxiao terbatuk pelan, menyeka keringat yang membanjiri dahinya. Sepatu bot kulitnya mulai berbau sangit akibat menahan panas bebatuan. "Tempat ini mengerikan," keluhnya serak. "Pantas saja Sekte Sen Luo Mu, para bajingan pecinta tanaman itu, sangat membenci wilayah ini. Tidak ada satu pun tumbuhan beracun yang bisa hidup di atas wajan raksasa ini.""Simpan napasmu, bocah. Kita belum melihat ujungnya," tegur Lu Kang, menggunakan gagang kapaknya sebagai tongkat pendaki.Di depan mereka, Chu Renshu memanjat tanpa satu patah kata pun. Pria itu tidak terlihat seperti manusia yang sedang kepanasan; ia bergerak seperti mesin yang diprogram untuk satu tujuan mutlak. Keringat membasahi
Fajar kelabu akhirnya menyingsing, mengusir kegelapan absolut yang telah menyiksa mereka semalaman. Angin topan telah mereda, menyisakan riak ombak yang panjang dan melelahkan. Di ufuk timur, kabut tebal perlahan terbelah, seolah lautan itu sendiri menyingkir untuk memperlihatkan rahasia tergelapnya.Berdiri di haluan kapal Hei Sha, Kapten Lu Kang menurunkan teropong kuningan miliknya. Mata tunggalnya membelalak. Di depan mereka, menjulang dari dasar lautan, terhampar sebuah daratan raksasa yang tidak ada di dalam peta fana mana pun. Langit di atas benua itu tidak berwarna biru, melainkan diwarnai merah pekat oleh awan abu dan asap tebal yang terus mengepul dari belasan puncak gunung berapi aktif."Kita sampai, Yang Mulia," serak Lu Kang, suaranya bercampur antara kelegaan dan kengerian. "Benua Seberang. Daratan Abu."Bahkan dari jarak beberapa mil laut, hawa panas sudah mulai terasa menyapu wajah mereka, membawa serta aroma tajam belerang dan sulfur yang menyesakkan dada. Ini adal
Badai di luar mungkin telah berlalu, namun badai yang sesungguhnya tengah mengamuk di dalam kabin sempit tersebut.Saat Renshu mendorong pintu kabin yang macet akibat embun beku, pemandangan yang menyambutnya membuat jantung sang tiran seakan berhenti berdetak. Suhu di dalam ruangan itu kini sepuluh kali lipat lebih dingin dari sebelumnya. Bunga es menjalar hingga menutupi lentera, memadamkan cahayanya.Di lantai, Tabib Meilin duduk meringkuk sambil menangis tanpa suara, tangannya yang memegang pergelangan tangan Liying bergetar hebat, nyaris membiru karena radang dingin."Menjauh," titah Renshu dengan suara yang sangat parau. Ia melangkah cepat, nyaris tersandung kakinya sendiri yang masih kelelahan, dan langsung meraup tubuh Liying ke dalam pelukannya.Liying terasa seperti sebuah patung porselen yang dibiarkan membeku di puncak gunung es. Wajah cantiknya kini sepucat kertas transparan, bibirnya kehilangan seluruh warnanya. Rambut hitamnya yang panjang saling menempel karena bu
Guruh menggelegar buas di langit Yanze, menyamarkan deru napas memburu di dalam kabin kereta kuda yang sempit itu. Cahaya dari satu-satunya lentera minyak yang bergoyang tertiup angin dari celah jendela menyorot wajah tegang Chu Renshu.Prajurit kelas tembaga itu menegang bagai bongkahan es di nerak
"Liying terlalu kaku dan membosankan, Ruolan. Menyentuhnya sama saja dengan menyentuh patung pualam yang dingin. Kau jauh lebih liar dan tahu cara memuaskan seorang pria."Rentetan kalimat menjijikkan itu terdengar jelas di sela-sela gemuruh guruh.Di balik kisi-kisi jendela Paviliun Bambu keluarga
Malam telah larut menyelimuti ibu kota Kekaisaran Yanze. Namun di dalam Paviliun Kaca Kusam yang mewah, keheningan justru terasa mencekik leher.Yan Liying duduk meringkuk di sudut ranjang besarnya, memeluk kedua lutut dengan tubuh yang bergetar tak terkendali. Sensasi dingin dari ujung jari Putra
Mendengar tuntutan berani yang meluncur dari bibir merah Liying, sisa-sisa kewarasan Chu Renshu hancur lebur berkeping-keping.Permintaan itu ibarat melepaskan gembok baja terakhir dari kandang seekor binatang buas yang telah lama menahan rasa lapar. Rantai status, hukum istana, hingga batas kesop







