Beranda / Zaman Kuno / Sentuh Aku, Renshu! / 3. Realita setelah badai

Share

3. Realita setelah badai

Penulis: Donat Mblondo
last update Tanggal publikasi: 2026-04-19 09:50:39

​Badai di luar sana seolah menjadi satu-satunya saksi bagaimana batas suci antara langit dan bumi dihancurkan di dalam kabin kereta kuda yang sempit itu. Suara rintik hujan yang menghantam atap kayu bersahutan dengan deru napas yang memburu dan desahan tertahan yang memabukkan.

​Sentuhan Renshu sama sekali tidak lembut. Tangan pria itu dipenuhi kapalan tebal bekas ayunan pedang bertahun-tahun, menggesek kulit porselen Liying dan meninggalkan jejak kemerahan yang kontras. Namun anehnya, kekasaran itu justru memberikan Liying sensasi rasa aman yang nyata, jauh lebih nyata daripada kelembutan palsu Yuchen yang memuakkan.

​Di bawah kungkungan tubuh besar sang prajurit, Liying menenggelamkan jemarinya pada rambut hitam Renshu yang telah terlepas dari ikatannya. Gadis itu menggigit bibir bawahnya kuat-kuat saat gelombang gairah yang tak pernah ia kenal sebelumnya menghantam kewarasannya, membakar habis sisa-sisa kesedihan di hatinya. Renshu menelan setiap isakan sang Putri, menenggelamkan gadis itu dalam dominasi absolut yang tak menyisakan ruang bagi Liying untuk memikirkan pria lain selain dirinya.

​Malam itu, di atas karpet kereta yang berantakan, Liying tidak lagi menjadi Putri ke-9 yang agung. Dan Renshu tak lagi menjadi anjing penjaga gerbang. Mereka hanyalah dua jiwa yang sama-sama putus asa, saling memeluk dalam kegelapan.

​Waktu terasa berhenti berputar. Hujan badai perlahan mereda menjadi gerimis halus.

​Udara dingin sisa badai mulai menyusup dari celah jendela kayu, membuat Liying tanpa sadar menggigil pelan. Ia terbaring dengan napas teratur, matanya terpejam lelah. Kepalanya bersandar pasrah di atas lipatan lengan kekar Renshu.

​Kesadaran perlahan kembali menghantam kepala sang Putri.

​Liying perlahan membuka matanya yang sembab. Pandangannya langsung bersirobok dengan dada bidang Renshu yang telanjang dan dipenuhi bekas luka tebasan pedang masa lalu. Wajah porselen Liying seketika memerah hebat hingga ke telinga. Ingatan tentang bagaimana agresifnya ia memohon dan merintih di bawah pria ini beberapa saat lalu membuat perutnya melilit karena malu.

Astaga... apa yang baru saja kulakukan? jeritnya dalam hati.

​Dengan panik, Liying buru-buru menarik gaun sutranya yang sudah robek dan tak berbentuk untuk menutupi dadanya. Pergerakannya yang kikuk membuat sikunya tanpa sengaja membentur dinding kayu kereta.

​"Aw!" ringis Liying pelan.

​Pergerakan itu menyadarkan Renshu yang sedari tadi bersandar dalam diam. Pria itu menoleh. Tatapan matanya yang tadi segelap malam dan penuh gairah buas kini telah kembali tenang dan sangat tajam. Tanpa mengatakan sepatah kata pun, Renshu meraih jubah hitam bersih miliknya dari tumpukan barang di sudut kereta, lalu menyelimutkannya ke bahu Liying yang gemetar.

​Jubah besar itu menenggelamkan tubuh mungil Liying, menguarkan aroma maskulin yang anehnya sangat menenangkan.

​"Pakai ini. Pakaian Anda sudah tidak layak pakai, Tuan Putri," ucap Renshu dengan nada datar yang teramat tenang.

​Liying menatap wajah tampan nan keras di sebelahnya dengan jantung berdebar. Bagaimana pria ini bisa bersikap setenang itu setelah menelan seorang putri kekaisaran?

​"K-kau... kau tidak menyesal, Chu Renshu?" tanya Liying ragu, mencoba mengumpulkan sisa-sisa wibawanya, meski suaranya mencicit pelan.

​Mendengar pertanyaan itu, sebuah sudut bibir Renshu tertarik ke atas. Senyuman tipis, senyuman pertama yang pernah dilihat Liying dari prajurit kaku itu, terukir di wajahnya. Pria itu mencondongkan tubuhnya ke depan, mengurung Liying di sudut kereta, membuat gadis itu menahan napas.

​Ibu jari Renshu yang kasar mengusap jejak kemerahan yang ia tinggalkan di perpotongan leher sang Putri.

​"Hamba adalah prajurit yang tidak punya apa-apa untuk disesali, Tuan Putri," bisik Renshu serak. "Namun mulai detik ini, hamba akan memenggal tangan siapa pun yang berani menyentuh apa yang sudah hamba tandai."

​Wajah Liying kembali memerah bak kepiting rebus. Ia memalingkan wajahnya dengan canggung, menyembunyikan senyum tipis yang tanpa sadar mekar di bibirnya. Renshu perlahan mundur, mengenakan kembali pakaian dalamnya dan menyematkan zirah kulitnya, lalu membuka pintu penghubung untuk kembali ke kursi kusir.

​"Kita akan ke suatu tempat di mana Anda bisa tidur tanpa mimpi buruk malam ini," ucap Renshu sambil meraih tali kekang kuda.

​Setengah jam kemudian, kemulusan jalan batu ibu kota berganti. Kereta kuda itu memasuki area yang membuat mata Liying membelalak. Jalanan berubah menjadi tanah becek bercampur lumpur. Bangunan-bangunan megah beratap genteng melengkung khas istana lenyap, digantikan oleh gubuk-gubuk kayu reot beratap jerami yang berhimpitan di sepanjang gang sempit yang berbau pesing dan asap kayu bakar.

​Ini adalah permukiman kumuh di dekat Gerbang Utara, tempat para kasta terendah ibu kota Yanze menyambung nyawa.

​Kereta berhenti di depan sebuah rumah kayu kecil yang terlihat hampir roboh jika tertiup angin kencang. Renshu melompat turun, mengenakan topi bambunya, lalu membukakan pintu untuk Liying. Saat Liying ragu-ragu melangkah turun, ngeri melihat lumpur kotor di bawahnya, Renshu tanpa ragu langsung mengangkat tubuh gadis itu dalam gendongannya, membawanya melangkah menembus sisa gerimis menuju pintu kayu yang lapuk.

​Pintu didorong perlahan hingga berderit pelan. Aroma ramuan herbal murahan menguar dari dalam.

​Di sudut ruangan yang sempit dan hanya diterangi satu lilin temaram, seorang gadis berusia dua puluh tahun tengah menumbuk dedaunan di lumpang batu. Di ranjang kayu kecil tak jauh darinya, seorang gadis remaja baru saja terbangun sambil mengucek matanya yang mengantuk. Mereka adalah Meilin dan Xiaoxiao.

​"Kak Renshu? Tumben sudah—" Sapaan Meilin terputus di tenggorokan. Alu penumbuk batu di tangannya merosot jatuh dan menghantam lantai tanah.

​Mata Meilin dan Xiaoxiao membelalak sempurna, nyaris melotot keluar. Mulut mereka terbuka tanpa suara.

​Di ambang pintu, kakak laki-laki mereka yang selalu kaku dan disiplin itu berdiri tegap dengan zirah basahnya. Dan yang membuat kedua gadis itu merasa nyawa mereka baru saja dicabut oleh Dewa Kematian adalah sosok yang sedang digendong oleh kakak mereka.

​Seorang wanita dengan kecantikan yang tak tertandingi, dibalut jubah hitam kebesaran milik Renshu. Meski penampilannya kacau, jepit rambut emas bermotif burung phoenix, lambang mutlak putri kekaisaran, masih terselip di rambutnya yang berantakan. Lebih mengerikan lagi, dari celah jubah yang sedikit terbuka, tercetak jelas jejak-jejak merah keunguan di leher porselen sang Putri.

​"Astaga, Naga Langit..." bisik Meilin dengan wajah seputih mayat. Ia mundur hingga menabrak rak ramuannya.

​Xiaoxiao yang berada di atas ranjang langsung melompat turun dengan lutut gemetar. Ia menunjuk Renshu dengan jari telunjuk yang bergetar hebat.

​"K-Kakak..." suara Xiaoxiao melengking tertahan, bercampur panik dan horor absolut. "Apa kau gila?! Kau baru saja menculik dan meniduri Tuan Putri Kekaisaran?! Kau mau kita semua dipenggal besok pagi?!"

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Sentuh Aku, Renshu!   12. Candu di Balik Perban

    Renshu membuka tutup cepuk porselen kecil itu dengan satu tangan. Aroma herbal yang menyejukkan, perpaduan antara ekstrak daun mint dan getah damar, langsung menguar ke udara malam, mengusir bau anyir darah yang sempat tertinggal.​Dengan ibu jarinya yang besar dan dipenuhi kapalan tebal, Renshu mengambil sedikit salep berwarna putih bening tersebut.​"Ini akan terasa sedikit menyengat di awal, lalu mendingin," gumam Renshu pelan, matanya sama sekali tidak berani menatap wajah Liying. Pria itu terlalu fokus mengendalikan detak jantungnya sendiri.​"Lakukanlah," bisik Liying.​Sentuhan pertama kulit Renshu di atas lukanya membuat Liying refleks menahan napas. Salep ajaib buatan Meilin itu memang langsung meredam rasa perih yang membakar dagingnya, namun sensasi gesekan pelan dari ibu jari Renshu di telapak tangannya justru memicu kobaran api yang sama sekali berbeda.​Ibu jari pria itu mengusap lembut, memutar pelan untuk memastikan salepnya meresap ke dalam luka robek di telapak tanga

  • Sentuh Aku, Renshu!   11. Air Hangat dan Runtuhnya Tembok Es

    Ujung pedang kayu yang berlumuran darah itu bergetar di depan dada Renshu. Liying masih berdiri dengan sisa-sisa tenaga yang ia miliki, napasnya tersengal, menolak untuk menundukkan pandangannya.​Keheningan yang pekat mengambil alih taman bambu. Angin malam seolah menahan napasnya. Hawa membunuh dan tekanan intimidasi yang sedari tadi dipancarkan oleh Renshu menguap tak berbekas, digantikan oleh keheningan yang menyesakkan dada.​Perlahan, Renshu mengangkat tangan kanannya. Bukannya membalas serangan atau membentak seperti sebelumnya, jemari besar yang dipenuhi kapalan itu dengan sangat lembut menggenggam bilah pedang kayu Liying. Ia menurunkannya perlahan, menjauhkan beban berat itu dari cengkeraman tangan sang Putri yang sudah hancur.​"Latihan malam ini selesai," ucap Renshu pelan. Suara baritonnya kini terdengar sangat serak dan dalam.​Liying mengerjap. Begitu pedang kayu itu terlepas dari tangannya, seluruh sisa tenaga di kakinya seolah menguap. Tubuhnya terhuyung ke depan. Nam

  • Sentuh Aku, Renshu!   10. Air Mata Darah Sang Teratai

    ​Hitungan ke-seratus akhirnya terlampaui. Napas Liying memburu, terdengar kasar dan menyakitkan memecah kesunyian malam. Keringat membasahi pelipis dan punggungnya, membuat helaian rambutnya menempel berantakan di wajah pucatnya.​Kedua lengannya terasa seperti terbuat dari timah panas. Pedang kayu di genggamannya bergetar hebat. Namun, belum sempat gadis itu mengambil napas panjang, bayangan Renshu tiba-tiba melesat ke arahnya.​"Angkat pedangmu! Musuh tidak akan menunggu napasmu teratur!" bentak Renshu.​Prajurit itu tidak lagi menggunakan ranting bambu. Kali ini, ia memegang pedang kayunya sendiri dan mengayunkannya lurus ke arah bahu Liying. Meski Renshu sudah menahan sembilan puluh persen tenaganya, tekanan angin dari ayunan pedang pria bertubuh besar itu tetap terasa mengerikan bagi seorang pemula.​Mata Liying membelalak panik. Insting bertahannya mengambil alih, namun karena kelelahan yang ekstrem, otaknya gagal memproses posisi kuda-kuda yang benar. Ia mengangkat pedang kayun

  • Sentuh Aku, Renshu!   9. Kejamnya Sang Instruktur Bayangan

    ​Angin malam berembus dingin menyapu taman bambu yang tersembunyi di sudut Istana Yanze. Suara gemerisik daun yang bergesekan seolah menjadi satu-satunya saksi bisu dari transformasi yang akan mengubah sejarah kekaisaran.​Liying melangkah keluar dari bayang-bayang. Ia telah menanggalkan jubah sutra mewahnya, menggantinya dengan setelan kain katun gelap yang ringkas dan mengikat rambut panjangnya tinggi-tinggi. Di dadanya, tekad menyala begitu terang. Dalam imajinasi naifnya, latihan malam ini akan dipenuhi oleh gerakan-gerakan pedang yang elegan, indah layaknya tarian, didampingi oleh Renshu yang akan memandunya dengan penuh kelembutan.​Namun, imajinasi itu hancur berkeping-keping di detik pertama ia menginjakkan kaki di tanah lapang.​Renshu berdiri membelakanginya, menyatu dengan kegelapan. Postur pria itu tak lagi menunduk hormat seperti seorang pelayan, apalagi memancarkan kehangatan gairah seperti semalam. Hawa di sekitarnya terasa membekukan tulang. Saat pria itu berbalik, sep

  • Sentuh Aku, Renshu!   8. Tamu Tak Diundang di Taman Bambu

    Tangan Renshu baru saja menyusup lebih jauh ke balik sutra jubah Liying. Napas mereka memburu, berpadu dalam gairah yang nyaris meledak di bawah bayangan pohon bambu raksasa. Bibir Renshu turun, bersiap untuk memberikan tanda kepemilikan baru di atas tulang selangka sang Putri.KRAK!Bunyi ranting patah yang sangat keras memecah keheningan malam, disusul oleh suara bisikan panik yang berdesis dari balik semak-semak lebat tak jauh dari mereka."Aduh, Xiaoxiao! Jangan dorong-dorong! Nanti kita ketahuan, bodoh!""Ssst! Kak Meilin yang menginjak rantingnya! Mundur sedikit, aku mau lihat Kak Renshu—"Seketika, atmosfer gairah yang pekat itu menguap tanpa sisa. Dalam sepersekian detik, otot-otot Renshu yang tadinya menegang karena hasrat berubah menjadi baja pelindung. Insting pembunuhnya menyala terang. Pria itu menyentakkan tubuh Liying ke balik punggung lebarnya untuk melindunginya, sementara tangan kanannya mencabut pedang dari sarungnya dengan suara desingan logam yang mematikan."Siap

  • Sentuh Aku, Renshu!   7. Candu di bawah cahaya bulan

    Malam telah larut menyelimuti ibu kota Kekaisaran Yanze. Di dalam Paviliun Kaca Kusam yang mewah, keheningan justru terasa mencekik.​Yan Liying duduk meringkuk di sudut ranjang besarnya, memeluk kedua lutut dengan tubuh yang bergetar tak terkendali. Sensasi dingin dari ujung jari Putra Mahkota Bojing yang menyentuh kerahnya siang tadi terus merayap di kulitnya, seolah ada ribuan lipan berbisa yang menggerayangi lehernya. Rasa mual yang pekat mengaduk-aduk isi perutnya hingga ia sulit bernapas. Ia telah mandi menggunakan kembang tujuh rupa dan menggosok kulitnya dengan kain kasar hingga memerah, namun ia tetap merasa kotor. Sangat kotor.​Sentuhan Bojing siang tadi telah merobek paksa sebuah kotak pandora di dalam kepalanya, melepaskan kembali ingatan paling mengerikan yang selama lima tahun ini ia kubur dalam-dalam.​Ingatan Liying terlempar mundur ke sebuah malam musim dingin saat ia masih berusia lima belas tahun.​Saat itu, ia nekat menyelinap keluar mencari anak kucingnya yang hi

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status