بيت / Zaman Kuno / Sentuh Aku, Renshu! / 7. Monster di Bawah Tanah dan Sang Penawar

مشاركة

7. Monster di Bawah Tanah dan Sang Penawar

مؤلف: Donat Mblondo
last update تاريخ النشر: 2026-04-25 05:00:54

​Malam telah larut menyelimuti ibu kota Kekaisaran Yanze. Namun di dalam Paviliun Kaca Kusam yang mewah, keheningan justru terasa mencekik leher.

​Yan Liying duduk meringkuk di sudut ranjang besarnya, memeluk kedua lutut dengan tubuh yang bergetar tak terkendali. Sensasi dingin dari ujung jari Putra Mahkota Bojing yang nyaris menyingkap kerahnya siang tadi terus merayap di kulitnya, seolah ada ribuan lipan berbisa yang sedang menggerayangi lehernya.

​Rasa mual yang pekat mengaduk-aduk isi perutnya hingga ia sulit bernapas. Sore tadi ia telah mandi menggunakan kembang tujuh rupa dan menggosok kulitnya dengan kain kasar hingga memerah perih, namun ia tetap merasa kotor. Sangat kotor.

​Sentuhan najis Bojing siang tadi telah merobek paksa sebuah kotak pandora di dalam kepalanya, melepaskan kembali ingatan paling mengerikan yang selama lima tahun ini mati-matian ia kubur.

​Ingatan Liying terlempar mundur, kembali ke sebuah malam musim dingin saat ia masih berusia lima belas tahun.

​Saat itu, ia nekat menyelinap keluar istananya untuk mencari anak kucingnya yang hilang, hingga tanpa sadar tersesat ke area belakang Istana Teratai Merah—kediaman pribadi sang Putra Mahkota. Di ujung koridor yang terbengkalai, Liying menemukan sebuah rak buku besar yang tidak tertutup rapat, menyisakan celah menuju tangga batu gelap yang mengarah tajam ke ruang bawah tanah.

​Dari sanalah, bau anyir darah yang luar biasa menyengat bercampur dengan kepulan asap dupa kemenyan menguar, menusuk penciumannya.

​Didorong oleh rasa penasaran yang kekanak-kanakan, Liying belia menuruni tangga itu tanpa suara. Dan apa yang ia lihat dari balik celah jeruji besi di ujung tangga, membunuh seluruh sisa kepolosannya malam itu juga.

​Di tengah ruangan batu yang temaram, seorang dayang istana yang sangat cantik dirantai kedua tangannya pada pilar kayu. Pakaiannya telah robek di berbagai sisi, mengekspos kulitnya yang dipenuhi luka cambuk menganga dan meneteskan darah segar ke lantai batu. Dayang itu tersedak darahnya sendiri, menangis dengan suara parau yang menyayat hati, memohon agar nyawanya segera diakhiri.

​Namun, yang membuat darah Liying membeku bukanlah pemandangan mengerikan itu, melainkan sang algojo.

​Putra Mahkota Bojing berdiri di hadapan dayang tersebut. Ia tidak mengenakan zirah atau pakaian penyiksa kotor, melainkan jubah tidur sutra putih bersih yang sama sekali tidak ternoda oleh setetes pun darah. Wajah rupawannya memancarkan ketenangan absolut. Bahkan bibirnya melengkungkan senyum yang luar biasa lembut, seolah ia sedang menatap keindahan bunga teratai yang mekar di pagi hari.

​"Mengapa kau memohon kematian, Nona Qiao?" Suara Bojing terdengar sangat merdu dan penuh kasih sayang, mengelus telinga siapa pun yang mendengarnya. Pria itu melangkah maju, mengangkat sebuah pisau bedah perak kecil yang berkilau tertimpa cahaya obor. "Kematian adalah akhir yang sangat membosankan. Kita bahkan belum mencapai bagian yang paling menyenangkan."

​"Y-Yang Mulia... hamba mohon... bunuh hamba..." isak dayang itu, tubuhnya kejang menahan sakit yang melampaui batas kewarasan.

​Bojing mendecak pelan, raut wajahnya berubah seolah ia adalah seorang guru yang kecewa pada murid kesayangannya. "Kau membuatku sedih. Aku menyukaimu karena suaramu saat menyanyi sangat indah. Tapi saat kau menangis memohon seperti ini, suaramu jauh lebih... artistik."

​Dengan gerakan yang santai dan elegan, Bojing menempelkan ujung pisau perak itu ke bahu sang dayang. Tanpa berkedip, senyumnya semakin melebar, mencapai matanya yang kosong, saat ia mulai menekan dan menarik pisau itu perlahan ke bawah—menguliti bahu mangsanya hidup-hidup.

​Jeritan melengking yang menggema di ruang bawah tanah itu merobek gendang telinga Liying.

​Bojing tertawa pelan. Tawa yang renyah, bebas, dan murni seperti tawa anak kecil yang baru saja mendapatkan mainan favoritnya. Pria itu mengusap pipi dayang yang menjerit histeris itu dengan ibu jarinya, menghapus air mata korbannya dengan kelembutan yang sangat sakit dan sinting.

​"Teruslah menjerit untukku, Sayang. Suaramu adalah musik yang menyempurnakan malamku," bisik Bojing tepat di telinga dayang tersebut, sebelum ia berbalik dan meraih sebuah palu besi berukuran kecil dari atas meja perkakasnya.

​Liying belia menutup mulutnya dengan kedua tangan. Air mata membanjiri wajahnya saat ia mendengar bunyi tulang jari yang dihancurkan, disusul jeritan yang lebih memekakkan telinga. Gadis itu berlari berbalik arah, memanjat tangga batu dengan lutut gemetar hebat, melarikan diri dari neraka yang dihuni oleh iblis berwajah dewa tersebut.

​Sejak malam itu, Liying tahu kenyataan yang sesungguhnya. Kakak tirinya sama sekali tidak memiliki hati nurani. Bojing adalah monster kekosongan yang hanya bisa merasa hidup ketika melihat kehancuran total dari orang lain.

​Liying tersentak hebat, menarik napas rakus seolah baru saja tenggelam.

​Kesadarannya ditarik paksa kembali ke masa kini. Ia meremas seprai sutranya hingga buku-buku jarinya memutih. Keringat dingin membasahi punggungnya. Bayangan senyum Bojing dan ujung jari iblis itu yang hampir menyentuh lehernya siang tadi membuat Liying nyaris kehilangan kewarasan.

​Ia tidak bisa berada di ruangan ini. Ia tidak bisa menghirup udara istana yang memuakkan ini sedetik pun lebih lama. Liying butuh penawar. Ia butuh sesuatu yang kasar, panas, dan nyata untuk menghancurkan bayangan sosiopat itu dari kulitnya. Dan di seluruh ibu kota Yanze, satu-satunya penawar yang ia inginkan hanyalah Chu Renshu.

​Tanpa mempedulikan aturan jam malam harem yang sangat ketat, Liying menyambar jubah sutra gelapnya. Ia mengendap-endap keluar dari Paviliun Kaca Kusam. Menghindari rute patroli pengawal istana seolah telah menjadi insting barunya. Langkahnya yang tergesa-gesa membawanya ke taman bambu terpencil di dekat gerbang utara, tempat di mana kegelapan menjadi penguasa mutlak.

​Instingnya benar. Renshu selalu berada di sana, mengawasi paviliunnya dari kejauhan dalam keheningan.

​Di bawah bayangan pohon bambu raksasa, sesosok tubuh tinggi besar berbalut zirah kulit tengah bersandar. Mata elang Renshu yang tajam langsung menangkap pergerakan Liying. Prajurit Kelas Tembaga itu segera menegakkan tubuh, rahang kerasnya menegang melihat sang Putri berkeliaran di luar paviliun dengan napas memburu dan wajah sepucat kertas.

​"Tuan Putri," tegur Renshu. Suara baritonnya yang rendah dan berat seketika menjadi jangkar yang menahan kewarasan Liying agar tidak hanyut terbawa keputusasaan. "Sangat berbahaya bagi Anda berada di luar paviliun. Jika patroli malam melihat—"

​Kata-kata Renshu terputus secara brutal. Liying berlari dan menabrakkan tubuh mungilnya ke dada bidang pria itu.

​Renshu terkesiap pelan. Tangan besarnya refleks terangkat. Awalnya ia ragu untuk menyentuh sang Putri, namun insting perlindungannya menang telak. Ia merengkuh pinggang ramping Liying, menahan tubuh gadis itu agar tidak jatuh. Di balik jubah sutra yang tipis itu, Renshu bisa merasakan tubuh Liying bergetar hebat layaknya daun yang diterjang badai.

​"Renshu..." Suara Liying terdengar parau dan putus asa.

​Liying membenamkan wajahnya di lekuk leher sang prajurit, menghirup dalam-dalam aroma keringat, debu tanah, dan besi yang menguar dari tubuh Renshu. Aroma maskulin yang keras dan kasar itu sukses menyapu bersih bau dupa kemenyan Bojing dari ingatannya. Berada di pelukan pria yang sanggup membunuh sepuluh pembunuh bayaran dengan tangan kosong ini membuat Liying merasa berada di dalam benteng baja yang tak tertembus.

​Merasakan ketakutan Liying, otot-otot di lengan Renshu mengeras sekuat baja. Hawa membunuh seketika memancar dari tubuh prajurit buangan itu, membuat suhu udara di sekitar mereka merosot tajam. Matanya menyapu sekitar dengan kewaspadaan penuh bak pemangsa purba yang sarangnya diusik.

​"Ada apa? Apa yang terjadi siang tadi?" tanya Renshu. Suaranya kini berubah menjadi geraman dingin yang mematikan. Jemarinya mencengkeram gagang pedang di pinggangnya, siap menghunuskan bilahnya. "Katakan pada hamba. Siapa yang berani menyakiti Anda?"

​"Bojing," bisik Liying, sekadar menyebut nama itu sudah membuat lidahnya kelu. "Dia datang ke paviliunku siang tadi. Dia... dia nyaris membuka kerahku. Jarinya menyentuh leherku, Renshu."

Krak!

​Batang bambu di dekat Renshu retak berderak akibat cengkeraman tangannya yang lain. Kemarahan murni meledak di dada sang prajurit. Iblis sosiopat itu berani menyentuh apa yang sudah menjadi miliknya? Renshu bahkan rela mempertaruhkan kepalanya saat ini juga untuk menyeret Bojing dari istananya dan memenggal leher pria itu.

​Namun, sebelum amarah Renshu meledak tak terkendali menjadi pertumpahan darah, Liying mendongak.

​Wajah porselen gadis itu kini diterangi cahaya bulan purnama. Air mata ketakutan tidak lagi menggenang di matanya, melainkan telah tergantikan oleh sorot damba yang begitu gelap, lapar, dan mendesak. Topeng pemalu sang Putri perlahan runtuh, terbakar habis oleh kebutuhannya akan rasa aman dan dominasi yang hanya bisa diberikan oleh pria di hadapannya.

​​"Hapus," titah Liying pelan. Tangannya yang gemetar naik ke dada Renshu, meremas ujung zirah kulit pria itu dengan agresif.

​Renshu menunduk, menatapnya dengan raut bingung namun sekaligus tercekik oleh gairah yang tertahan melihat tatapan Liying yang menelanjanginya. "Hapus apa, Tuan Putri?"

​"Hapus jejak pria menjijikkan itu dari tubuhku," desak Liying tanpa ragu.

​Sedikit berjinjit, gadis itu melingkarkan kedua lengannya dengan sangat posesif di leher kokoh Renshu. Liying menatap lurus ke dalam sepasang mata elang yang mulai menggelap di hadapannya. "Tutup ingatanku tentang tangan iblis itu. Sentuh aku lebih kasar dari yang kau lakukan semalam. Buat aku hanya mengingat sentuhanmu, Chu Renshu."

​Mendengar permohonan yang terdengar seperti kutukan manis itu, sisa-sisa kewarasan Chu Renshu hancur lebur tanpa sisa.

​Pria itu menggeram rendah, menyerupai geraman binatang buas yang kelaparan. Tangannya tak lagi ragu. Dengan satu sentakan posesif, Renshu menarik pinggang Liying hingga tubuh mereka menempel erat tanpa celah. Tangan kasarnya yang kapalan langsung menyusup masuk ke balik jubah sutra sang Putri, mengusap punggung Liying yang bergetar dan membakar kulitnya dengan hawa panas yang memabukkan.

​Renshu menundukkan wajahnya. Napasnya yang memburu menabrak kulit porselen di tulang selangka Liying, tepat di mana Bojing nyaris menyentuhnya siang tadi. Sang prajurit bayangan itu membuka sedikit bibirnya, bersiap menancapkan gigitannya di sana untuk memberikan tanda kepemilikan baru, menghapus jejak sang iblis emas selamanya.

​Namun, tepat ketika bibir panas Renshu menyentuh kulit Liying...

​KRAK!

​Bunyi ranting patah yang sangat keras membelah keheningan malam taman bambu.

​Gerakan Renshu terhenti seketika. Atmosfer gairah yang memabukkan itu langsung lenyap, digantikan oleh hawa membunuh murni yang membekukan darah.

​Di balik semak belukar lebat yang gelap, tak jauh dari tempat mereka berdiri, semak-semak itu bergoyang tak wajar. Dan dari dalam kegelapan itu, terdengar suara bisikan panik yang saling berdesis.

​Jantung Liying seolah merosot ke perutnya. Tubuhnya membeku.

​Ada seseorang yang mengawasi mereka di dalam gelap. Jika itu adalah pengawal patroli, atau lebih buruk, mata-mata Bojing, maka kepala mereka berdua dipastikan akan menggelinding malam ini juga.

استمر في قراءة هذا الكتاب مجانا
امسح الكود لتنزيل التطبيق

أحدث فصل

  • Sentuh Aku, Renshu!   128. Tetesan Inti Kehidupan

    ​Kegelapan pekat menyelimuti kesadaran Chu Renshu, namun genggaman tangan kanannya tetap mengunci erat. Di tengah halusinasi rasa sakit yang membakar sekujur tubuh, bayangan wajah Liying yang membeku di atas ranjang kapal menjadi satu-satunya jangkar yang menahan jiwa sang Kaisar agar tidak tercerabut.​Ketika kelopak matanya perlahan terbuka, aroma belerang dan bau daging yang terbakar menyengat indra penciumannya. Renshu mendapati dirinya terbaring di atas lantai batu di dekat mulut terowongan kawah. Di sisinya, Lu Kang dan Xiaoxiao tengah berlutut dengan wajah cemas luar biasa.​"Yang Mulia! Anda sadar?!" seru Lu Kang, nyaris menjatuhkan kapaknya karena terlalu terkejut.​Renshu tidak menjawab. Ia menggerakkan rahangnya yang kaku, lalu memaksa tubuhnya yang penuh luka bakar parah untuk bangkit. Kulit di dada, lengan, dan telapak tangan kanannya melepuh mengerikan, terkelupas dan memperlihatkan daging yang memerah. Namun, di tengah kepedihan luar biasa itu, tangan kanannya tetap ter

  • Sentuh Aku, Renshu!   127. Ke Dalam Perut Neraka

    ​Pemimpin Sekte Batu Hitam menjatuhkan godam raksasanya. Harga diri dan kesombongannya hancur lebur di bawah tatapan mata sang Kaisar Zixiao. Pria fana di hadapannya ini bukanlah manusia; ia adalah inkarnasi dari algojo kematian itu sendiri.​"K-Kau menginginkannya?" suara Pemimpin Sekte itu bergetar saat ia melangkah mundur, menunjuk ke sebuah terowongan batu besar di belakang takhtanya. Hawa panas yang ekstrem menguar dari lorong tersebut, membuat udara beriak. "Silakan ambil sendiri. Inti Batu Kumala adalah jantung dari gunung ini. Benda itu tumbuh di tengah danau magma di dasar kawah suci. Tidak ada seorang pun, bahkan dari sekte kami, yang mampu turun ke sana tanpa terbakar menjadi abu."​Renshu tidak menjawab. Ia memungut pedangnya, memasukkannya ke dalam sarung di punggung, dan berjalan melewati sang Pemimpin Sekte tanpa sedikit pun keraguan, melangkah lurus masuk ke dalam terowongan neraka tersebut.​Xiaoxiao berlari menyusul hingga ke ambang terowongan, namun hawa panas yang

  • Sentuh Aku, Renshu!   126. Negosiasi Ujung Pedang

    Kepulan debu vulkanik dari hancurnya gerbang utama perlahan tersapu oleh angin panas. Di balik ambang pintu yang telah menjadi puing-puing, ratusan murid Sekte Batu Hitam telah berkumpul dengan senjata terhunus. Mereka mematung, menatap dengan mata terbelalak ke arah pria berpakaian gelap yang baru saja menendang hancur gerbang baja dan basal yang mereka banggakan selama berabad-abad.​Di tengah pelataran benteng yang luas, berdiri sebuah altar batu. Di atasnya, duduk Pemimpin Sekte Batu Hitam. Pria itu bertubuh raksasa, jauh lebih besar dari Renshu. Hampir seluruh tubuhnya, dari leher hingga kaki, tertutup oleh kalus tebal berwarna hitam mengilat, hasil dari latihan penyiksaan diri menanamkan mineral obsidian ke dalam jaringan kulitnya. Ia tampak seperti patung iblis yang dihidupkan.​"Kau meruntuhkan pintuku, Manusia Fana," geram sang Pemimpin Sekte, suaranya berderak seperti bebatuan yang saling bergesekan. Ia berdiri, mengambil sebuah godam raksasa berlapis paku besi dari samping

  • Sentuh Aku, Renshu!   125. Zirah Batu Sekte Hitam

    Pendakian itu adalah siksaan fisik yang menguji batas toleransi manusia. Tanah yang mereka pijak bukanlah tanah berlumpur atau rerumputan, melainkan lautan batu obsidian yang luar biasa tajam dan bersuhu mendidih. Setiap hembusan angin membawa debu vulkanik yang menggores tenggorokan layaknya pecahan kaca.​Xiaoxiao terbatuk pelan, menyeka keringat yang membanjiri dahinya. Sepatu bot kulitnya mulai berbau sangit akibat menahan panas bebatuan. "Tempat ini mengerikan," keluhnya serak. "Pantas saja Sekte Sen Luo Mu, para bajingan pecinta tanaman itu, sangat membenci wilayah ini. Tidak ada satu pun tumbuhan beracun yang bisa hidup di atas wajan raksasa ini."​"Simpan napasmu, bocah. Kita belum melihat ujungnya," tegur Lu Kang, menggunakan gagang kapaknya sebagai tongkat pendaki.​Di depan mereka, Chu Renshu memanjat tanpa satu patah kata pun. Pria itu tidak terlihat seperti manusia yang sedang kepanasan; ia bergerak seperti mesin yang diprogram untuk satu tujuan mutlak. Keringat membasahi

  • Sentuh Aku, Renshu!   124. Daratan Hitam di Ujung Pandang

    Fajar kelabu akhirnya menyingsing, mengusir kegelapan absolut yang telah menyiksa mereka semalaman. Angin topan telah mereda, menyisakan riak ombak yang panjang dan melelahkan. Di ufuk timur, kabut tebal perlahan terbelah, seolah lautan itu sendiri menyingkir untuk memperlihatkan rahasia tergelapnya.​Berdiri di haluan kapal Hei Sha, Kapten Lu Kang menurunkan teropong kuningan miliknya. Mata tunggalnya membelalak. Di depan mereka, menjulang dari dasar lautan, terhampar sebuah daratan raksasa yang tidak ada di dalam peta fana mana pun. Langit di atas benua itu tidak berwarna biru, melainkan diwarnai merah pekat oleh awan abu dan asap tebal yang terus mengepul dari belasan puncak gunung berapi aktif.​"Kita sampai, Yang Mulia," serak Lu Kang, suaranya bercampur antara kelegaan dan kengerian. "Benua Seberang. Daratan Abu."​Bahkan dari jarak beberapa mil laut, hawa panas sudah mulai terasa menyapu wajah mereka, membawa serta aroma tajam belerang dan sulfur yang menyesakkan dada. Ini adal

  • Sentuh Aku, Renshu!   123. Pelukan Es dan Bara Api

    ​Badai di luar mungkin telah berlalu, namun badai yang sesungguhnya tengah mengamuk di dalam kabin sempit tersebut.​Saat Renshu mendorong pintu kabin yang macet akibat embun beku, pemandangan yang menyambutnya membuat jantung sang tiran seakan berhenti berdetak. Suhu di dalam ruangan itu kini sepuluh kali lipat lebih dingin dari sebelumnya. Bunga es menjalar hingga menutupi lentera, memadamkan cahayanya.​Di lantai, Tabib Meilin duduk meringkuk sambil menangis tanpa suara, tangannya yang memegang pergelangan tangan Liying bergetar hebat, nyaris membiru karena radang dingin.​"Menjauh," titah Renshu dengan suara yang sangat parau. Ia melangkah cepat, nyaris tersandung kakinya sendiri yang masih kelelahan, dan langsung meraup tubuh Liying ke dalam pelukannya.​Liying terasa seperti sebuah patung porselen yang dibiarkan membeku di puncak gunung es. Wajah cantiknya kini sepucat kertas transparan, bibirnya kehilangan seluruh warnanya. Rambut hitamnya yang panjang saling menempel karena bu

  • Sentuh Aku, Renshu!   6. Cengkeraman sang ular berbisa

    Kehadiran Putra Mahkota Bojing seolah menyedot habis seluruh pasokan udara di dalam Paviliun Kaca Kusam. Aura dominasi yang memancar dari jubah bersulam naga emasnya begitu pekat dan mencekik, membuat para dayang yang berjaga di luar segera menunduk ketakutan hingga dahi mereka nyaris mencium dingin

  • Sentuh Aku, Renshu!   5. Jejak Dosa dan Sang Ular Emas

    Udara pagi di Paviliun Kaca Kusam mendadak terasa jauh lebih mencekik daripada badai petir semalam.Liying melangkah masuk dengan langkah kaku, menutup pintu ganda paviliun rapat-rapat di belakangnya. Di tengah ruangan, Selir Lan, ibunya sendiri, berdiri dengan mata menyalang. Tatapan wanita paruh b

  • Sentuh Aku, Renshu!   4. Suaka di balik gubuk reot

    "Ssst! Pelankan suaramu, Xiaoxiao! Kau mau tetangga dengar dan melaporkan kita ke prajurit patroli?!" desis Meilin panik. Ia segera berlari menembus keremangan, menutup pintu kayu itu rapat-rapat, lalu menggeser palang besinya dengan tangan gemetar.Di tengah kepanikan luar biasa kedua adiknya, Chu

  • Sentuh Aku, Renshu!   3. Tanda kepemilikan sang prajurit

    Guruh yang tadinya mengamuk buas kini menyusut menjadi rintik gerimis panjang. Badai di luar sana telah menjadi saksi bisu bagaimana batas suci antara langit dan bumi dihancurkan tanpa sisa di dalam kabin kereta kuda yang sempit itu.Udara dingin sisa hujan mulai menyusup melalui celah jendela kayu,

فصول أخرى
استكشاف وقراءة روايات جيدة مجانية
الوصول المجاني إلى عدد كبير من الروايات الجيدة على تطبيق GoodNovel. تنزيل الكتب التي تحبها وقراءتها كلما وأينما أردت
اقرأ الكتب مجانا في التطبيق
امسح الكود للقراءة على التطبيق
DMCA.com Protection Status