FAZER LOGINMalam telah larut menyelimuti ibu kota Kekaisaran Yanze. Di dalam Paviliun Kaca Kusam yang mewah, keheningan justru terasa mencekik.
Yan Liying duduk meringkuk di sudut ranjang besarnya, memeluk kedua lutut dengan tubuh yang bergetar tak terkendali. Sensasi dingin dari ujung jari Putra Mahkota Bojing yang menyentuh kerahnya siang tadi terus merayap di kulitnya, seolah ada ribuan lipan berbisa yang menggerayangi lehernya. Rasa mual yang pekat mengaduk-aduk isi perutnya hingga ia sulit bernapas. Ia telah mandi menggunakan kembang tujuh rupa dan menggosok kulitnya dengan kain kasar hingga memerah, namun ia tetap merasa kotor. Sangat kotor.
Sentuhan Bojing siang tadi telah merobek paksa sebuah kotak pandora di dalam kepalanya, melepaskan kembali ingatan paling mengerikan yang selama lima tahun ini ia kubur dalam-dalam.
Ingatan Liying terlempar mundur ke sebuah malam musim dingin saat ia masih berusia lima belas tahun.
Saat itu, ia nekat menyelinap keluar mencari anak kucingnya yang hilang hingga tersesat ke area belakang Istana Teratai Merah, kediaman pribadi sang Putra Mahkota. Di ujung koridor yang terbengkalai, Liying menemukan sebuah rak buku besar yang tidak tertutup rapat, menyisakan celah menuju tangga batu gelap yang mengarah ke bawah tanah. Dari sanalah, bau anyir darah yang menyengat bercampur dengan kepulan asap dupa kemenyan yang sangat tebal menguar, menusuk penciumannya.
Didorong oleh rasa penasaran yang kekanak-kanakan, Liying belia menuruni tangga itu tanpa suara. Dan apa yang ia lihat dari balik celah jeruji besi di ujung tangga, membunuh sisa kepolosannya malam itu juga.
Di tengah ruangan batu yang temaram, seorang dayang istana yang sangat cantik dirantai kedua tangannya pada pilar kayu. Pakaiannya telah robek di berbagai sisi, mengekspos kulitnya yang dipenuhi luka cambuk yang masih menganga dan meneteskan darah segar ke lantai batu. Dayang itu tersedak darahnya sendiri, menangis dengan suara parau yang menyayat hati, memohon agar nyawanya segera diakhiri.
Namun, yang membuat darah Liying membeku bukanlah pemandangan darah itu, melainkan sang algojo.
Putra Mahkota Bojing berdiri di hadapan dayang tersebut. Ia tidak mengenakan zirah atau pakaian penyiksa, melainkan jubah tidur sutra putih bersih yang sama sekali tidak ternoda oleh setetes pun darah. Wajah rupawannya memancarkan ketenangan absolut, bahkan bibirnya melengkungkan senyum yang luar biasa lembut, seolah ia sedang menatap bunga teratai yang mekar di pagi hari.
"Mengapa kau memohon kematian, Nona Qiao?" Suara Bojing terdengar sangat merdu dan penuh kasih sayang, mengelus telinga siapa pun yang mendengarnya. Pria itu melangkah maju, mengangkat sebuah pisau bedah perak kecil yang berkilau tertimpa cahaya obor. "Kematian adalah akhir yang sangat membosankan. Kita bahkan belum mencapai bagian yang paling menyenangkan."
"Y-Yang Mulia... hamba mohon... bunuh hamba..." isak dayang itu, tubuhnya kejang menahan sakit yang tak tertahankan.
Bojing mendecak pelan, raut wajahnya berubah seolah ia adalah seorang guru yang kecewa pada muridnya. "Kau membuatku sedih. Aku menyukaimu karena suaramu saat menyanyi sangat indah. Tapi saat kau menangis memohon seperti ini, suaramu jauh lebih... artistik."
Dengan gerakan yang sangat santai dan elegan, Bojing menempelkan ujung pisau perak itu ke bahu sang dayang. Tanpa berkedip, senyumnya semakin melebar saat ia mulai menekan dan menarik pisau itu perlahan ke bawah, menguliti bahu mangsanya hidup-hidup.
Jeritan melengking yang menggema di ruang bawah tanah itu merobek gendang telinga Liying.
Bojing tertawa pelan. Tawa yang sangat renyah, bebas, dan murni seperti tawa anak kecil yang baru saja mendapatkan mainan favoritnya. Pria itu mengusap pipi dayang yang menjerit histeris itu dengan ibu jarinya, menghapus air mata korbannya dengan kelembutan yang sangat sakit dan gila.
"Teruslah menjerit untukku, Sayang. Suaramu adalah musik yang menyempurnakan malamku," bisik Bojing tepat di telinga dayang tersebut, sebelum ia meraih sebuah palu besi berukuran kecil dari atas meja perkakasnya.
Liying belia menutup mulutnya dengan kedua tangan, air mata membanjiri wajahnya saat ia mendengar bunyi tulang jari yang dihancurkan, disusul jeritan yang lebih memekakkan telinga. Gadis itu berlari, memanjat tangga batu dengan lutut gemetar, melarikan diri dari neraka yang dihuni oleh iblis berwajah dewa tersebut.
Sejak malam itu, Liying tahu. Kakak tirinya sama sekali tidak memiliki hati nurani. Bojing adalah monster kekosongan yang hanya bisa merasa hidup ketika melihat kehancuran total dari orang lain.
Grep!
Liying tersentak, mencengkeram seprai sutranya hingga kusut. Kesadarannya kembali ke masa kini. Napasnya memburu. Keringat dingin membasahi punggungnya. Bayangan senyum Bojing dan ujung jari iblis itu yang hampir menyentuh lehernya siang tadi membuat Liying nyaris kehilangan kewarasan.
Ia tidak bisa berada di ruangan ini. Ia tidak bisa menghirup udara istana yang memuakkan ini. Liying butuh penawar. Ia butuh sesuatu yang kasar, panas, dan nyata untuk menghancurkan bayangan sosiopat itu dari kulitnya. Dan di seluruh ibu kota Yanze, satu-satunya penawar yang ia inginkan hanyalah Chu Renshu.
Tanpa mempedulikan aturan jam malam harem yang ketat, Liying menyambar jubah sutra gelapnya. Ia mengendap-endap keluar dari Paviliun Kaca Kusam. Menghindari rute patroli pengawal istana sudah menjadi keahlian barunya. Langkahnya yang tergesa-gesa membawanya ke taman bambu terpencil di dekat gerbang utara, tempat di mana kegelapan menjadi penguasa mutlak.
Instingnya benar. Renshu selalu berada di sana, mengawasi paviliunnya dari kejauhan dalam diam.
Di bawah bayangan pohon bambu raksasa, sesosok tubuh tinggi besar berbalut zirah kulit tengah bersandar. Mata elang Renshu yang sangat tajam langsung menangkap pergerakan Liying. Prajurit Kelas Tembaga itu segera menegakkan tubuh, rahang kerasnya menegang melihat sang Putri berkeliaran di luar paviliun dengan napas memburu dan wajah sepucat kertas.
"Tuan Putri," tegur Renshu. Suara baritonnya yang rendah dan berat seketika menjadi jangkar yang mengikat kewarasan Liying. "Sangat berbahaya bagi Anda berada di luar paviliun. Jika patroli malam melihat—"
Kata-kata Renshu terputus secara brutal. Liying berlari dan menabrakkan tubuh mungilnya ke dada bidang pria itu.
Renshu terkesiap pelan. Tangan besarnya refleks terangkat. Awalnya ia ragu untuk menyentuh sang Putri, namun insting melindunginya menang telak. Ia merengkuh pinggang Liying, menahan tubuh gadis itu agar tidak jatuh. Di balik jubah sutra yang tipis itu, Renshu bisa merasakan tubuh Liying bergetar hebat layaknya daun yang diterjang badai.
"Renshu..." Suara Liying terdengar parau dan putus asa.
Liying membenamkan wajahnya di lekuk leher sang prajurit, menghirup dalam-dalam aroma keringat, debu tanah, dan besi yang menguar dari tubuh Renshu. Aroma maskulin yang keras dan kasar itu sukses menyingkirkan bau dupa kemenyan Bojing dari ingatannya. Berada di pelukan pria yang bisa membunuh sepuluh pembunuh bayaran dengan tangan kosong ini membuat Liying merasa berada di dalam benteng baja yang tak tertembus.
Merasakan ketakutan Liying, otot-otot di lengan Renshu mengeras sekuat baja. Hawa membunuh seketika memancar dari tubuh prajurit buangan itu, membuat suhu udara di sekitar mereka merosot tajam. Matanya menyapu sekitar dengan kewaspadaan penuh bak pemangsa yang sarangnya diusik.
"Ada apa? Apa yang terjadi siang tadi?" tanya Renshu, suaranya kini berubah sangat dingin dan mematikan. Jemarinya mencengkeram gagang pedang di pinggangnya. "Siapa yang menyakiti Anda? Katakan padaku."
"Bojing," bisik Liying, sekadar menyebut nama itu sudah membuat lidahnya kelu. "Dia datang ke paviliunku siang tadi. Dia... dia nyaris membuka kerahku. Jarinya menyentuh leherku, Renshu."
Krak!
Kayu bambu di dekat Renshu retak akibat cengkeraman tangannya yang lain. Kemarahan murni meledak di dada sang prajurit. Iblis sosiopat itu berani menyentuh apa yang sudah menjadi miliknya? Renshu bahkan rela mempertaruhkan kepalanya saat ini juga untuk menyeret Bojing dari istananya dan memenggal leher pria itu.
Namun, sebelum amarah Renshu meledak tak terkendali, Liying mendongak.
Wajah porselen gadis itu kini diterangi cahaya bulan purnama. Air mata ketakutan tidak lagi menggenang di matanya, melainkan digantikan oleh sorot damba yang begitu gelap, lapar, dan mendesak. Sifat pemalu sang Putri perlahan runtuh, terbakar habis oleh kebutuhannya akan rasa aman dan dominasi yang hanya bisa diberikan oleh pria di hadapannya.
"Hapus," titah Liying pelan, tangannya yang gemetar naik ke dada Renshu, meremas ujung zirah kulit pria itu dengan agresif.
Renshu menunduk, menatapnya dengan raut bingung namun tercekik oleh gairah yang tertahan melihat tatapan Liying. "Hapus apa, Tuan Putri?"
"Hapus jejak pria menjijikkan itu dari tubuhku," desak Liying tanpa ragu.
Sedikit berjinjit, gadis itu melingkarkan kedua lengannya dengan posesif di leher kokoh Renshu. Liying menatap lurus ke dalam sepasang mata elang yang menggelap di hadapannya. "Tutup ingatanku tentang tangan iblis itu. Sentuh aku lebih kasar dari yang kau lakukan semalam. Buat aku hanya mengingat sentuhanmu, Chu Renshu."
Renshu membuka tutup cepuk porselen kecil itu dengan satu tangan. Aroma herbal yang menyejukkan, perpaduan antara ekstrak daun mint dan getah damar, langsung menguar ke udara malam, mengusir bau anyir darah yang sempat tertinggal.Dengan ibu jarinya yang besar dan dipenuhi kapalan tebal, Renshu mengambil sedikit salep berwarna putih bening tersebut."Ini akan terasa sedikit menyengat di awal, lalu mendingin," gumam Renshu pelan, matanya sama sekali tidak berani menatap wajah Liying. Pria itu terlalu fokus mengendalikan detak jantungnya sendiri."Lakukanlah," bisik Liying.Sentuhan pertama kulit Renshu di atas lukanya membuat Liying refleks menahan napas. Salep ajaib buatan Meilin itu memang langsung meredam rasa perih yang membakar dagingnya, namun sensasi gesekan pelan dari ibu jari Renshu di telapak tangannya justru memicu kobaran api yang sama sekali berbeda.Ibu jari pria itu mengusap lembut, memutar pelan untuk memastikan salepnya meresap ke dalam luka robek di telapak tanga
Ujung pedang kayu yang berlumuran darah itu bergetar di depan dada Renshu. Liying masih berdiri dengan sisa-sisa tenaga yang ia miliki, napasnya tersengal, menolak untuk menundukkan pandangannya.Keheningan yang pekat mengambil alih taman bambu. Angin malam seolah menahan napasnya. Hawa membunuh dan tekanan intimidasi yang sedari tadi dipancarkan oleh Renshu menguap tak berbekas, digantikan oleh keheningan yang menyesakkan dada.Perlahan, Renshu mengangkat tangan kanannya. Bukannya membalas serangan atau membentak seperti sebelumnya, jemari besar yang dipenuhi kapalan itu dengan sangat lembut menggenggam bilah pedang kayu Liying. Ia menurunkannya perlahan, menjauhkan beban berat itu dari cengkeraman tangan sang Putri yang sudah hancur."Latihan malam ini selesai," ucap Renshu pelan. Suara baritonnya kini terdengar sangat serak dan dalam.Liying mengerjap. Begitu pedang kayu itu terlepas dari tangannya, seluruh sisa tenaga di kakinya seolah menguap. Tubuhnya terhuyung ke depan. Nam
Hitungan ke-seratus akhirnya terlampaui. Napas Liying memburu, terdengar kasar dan menyakitkan memecah kesunyian malam. Keringat membasahi pelipis dan punggungnya, membuat helaian rambutnya menempel berantakan di wajah pucatnya.Kedua lengannya terasa seperti terbuat dari timah panas. Pedang kayu di genggamannya bergetar hebat. Namun, belum sempat gadis itu mengambil napas panjang, bayangan Renshu tiba-tiba melesat ke arahnya."Angkat pedangmu! Musuh tidak akan menunggu napasmu teratur!" bentak Renshu.Prajurit itu tidak lagi menggunakan ranting bambu. Kali ini, ia memegang pedang kayunya sendiri dan mengayunkannya lurus ke arah bahu Liying. Meski Renshu sudah menahan sembilan puluh persen tenaganya, tekanan angin dari ayunan pedang pria bertubuh besar itu tetap terasa mengerikan bagi seorang pemula.Mata Liying membelalak panik. Insting bertahannya mengambil alih, namun karena kelelahan yang ekstrem, otaknya gagal memproses posisi kuda-kuda yang benar. Ia mengangkat pedang kayun
Angin malam berembus dingin menyapu taman bambu yang tersembunyi di sudut Istana Yanze. Suara gemerisik daun yang bergesekan seolah menjadi satu-satunya saksi bisu dari transformasi yang akan mengubah sejarah kekaisaran.Liying melangkah keluar dari bayang-bayang. Ia telah menanggalkan jubah sutra mewahnya, menggantinya dengan setelan kain katun gelap yang ringkas dan mengikat rambut panjangnya tinggi-tinggi. Di dadanya, tekad menyala begitu terang. Dalam imajinasi naifnya, latihan malam ini akan dipenuhi oleh gerakan-gerakan pedang yang elegan, indah layaknya tarian, didampingi oleh Renshu yang akan memandunya dengan penuh kelembutan.Namun, imajinasi itu hancur berkeping-keping di detik pertama ia menginjakkan kaki di tanah lapang.Renshu berdiri membelakanginya, menyatu dengan kegelapan. Postur pria itu tak lagi menunduk hormat seperti seorang pelayan, apalagi memancarkan kehangatan gairah seperti semalam. Hawa di sekitarnya terasa membekukan tulang. Saat pria itu berbalik, sep
Tangan Renshu baru saja menyusup lebih jauh ke balik sutra jubah Liying. Napas mereka memburu, berpadu dalam gairah yang nyaris meledak di bawah bayangan pohon bambu raksasa. Bibir Renshu turun, bersiap untuk memberikan tanda kepemilikan baru di atas tulang selangka sang Putri.KRAK!Bunyi ranting patah yang sangat keras memecah keheningan malam, disusul oleh suara bisikan panik yang berdesis dari balik semak-semak lebat tak jauh dari mereka."Aduh, Xiaoxiao! Jangan dorong-dorong! Nanti kita ketahuan, bodoh!""Ssst! Kak Meilin yang menginjak rantingnya! Mundur sedikit, aku mau lihat Kak Renshu—"Seketika, atmosfer gairah yang pekat itu menguap tanpa sisa. Dalam sepersekian detik, otot-otot Renshu yang tadinya menegang karena hasrat berubah menjadi baja pelindung. Insting pembunuhnya menyala terang. Pria itu menyentakkan tubuh Liying ke balik punggung lebarnya untuk melindunginya, sementara tangan kanannya mencabut pedang dari sarungnya dengan suara desingan logam yang mematikan."Siap
Malam telah larut menyelimuti ibu kota Kekaisaran Yanze. Di dalam Paviliun Kaca Kusam yang mewah, keheningan justru terasa mencekik.Yan Liying duduk meringkuk di sudut ranjang besarnya, memeluk kedua lutut dengan tubuh yang bergetar tak terkendali. Sensasi dingin dari ujung jari Putra Mahkota Bojing yang menyentuh kerahnya siang tadi terus merayap di kulitnya, seolah ada ribuan lipan berbisa yang menggerayangi lehernya. Rasa mual yang pekat mengaduk-aduk isi perutnya hingga ia sulit bernapas. Ia telah mandi menggunakan kembang tujuh rupa dan menggosok kulitnya dengan kain kasar hingga memerah, namun ia tetap merasa kotor. Sangat kotor.Sentuhan Bojing siang tadi telah merobek paksa sebuah kotak pandora di dalam kepalanya, melepaskan kembali ingatan paling mengerikan yang selama lima tahun ini ia kubur dalam-dalam.Ingatan Liying terlempar mundur ke sebuah malam musim dingin saat ia masih berusia lima belas tahun.Saat itu, ia nekat menyelinap keluar mencari anak kucingnya yang hi







