Home / Zaman Kuno / Sentuh Aku, Renshu! / 2. Runtuhnya sang predator

Share

2. Runtuhnya sang predator

Author: Donat Mblondo
last update publish date: 2026-04-19 08:56:22

Guruh menggelegar di langit Yanze, menyamarkan deru napas memburu di dalam kabin kereta kuda yang sempit itu. Cahaya dari satu-satunya lentera minyak yang bergoyang tertiup angin celah jendela menyorot wajah tegang Chu Renshu.

​Prajurit kelas tembaga itu menegang bagai bongkahan es di neraka. Urat-urat di leher dan lengan kokohnya menonjol, menahan gejolak insting purba yang meronta ingin dilepaskan. Wangi manis bunga plum dari tubuh sang Putri yang kini bercampur dengan aroma hujan dan keputusasaan, benar-benar menyiksa indra penciumannya.

​"Tuan Putri..." Suara Renshu terdengar sangat berat, parau, dan bergetar menahan diri. Tangan besarnya yang kapalan naik, mencengkeram lembut pergelangan tangan Liying yang masih bertengger di rahangnya, berniat menjauhkannya. "Sadarilah apa yang Anda katakan. Hukum istana sangat mutlak. Satu sentuhan dari kulit hamba di tubuh Anda... cukup untuk membuat kepala hamba dipenggal dan dijemur di gerbang kota."

​Liying menatap mata kelam pria itu. Alih-alih takut, senyum miris justru terukir di bibir merahnya yang gemetar.

​"Lalu kenapa?" bisik Liying, suaranya pecah oleh kepahitan. "Aku sudah mati malam ini, Renshu. Kehormatanku, masa depanku, kepercayaanku... semuanya sudah dihancurkan oleh pria yang bergelar bangsawan terhormat. Jika aku harus hancur, aku tidak sudi hancur sendirian."

​Gadis itu menyentak tangannya dari cengkeraman Renshu. Dengan nekat, Liying memajukan tubuhnya, menyeberangi sisa jarak di antara mereka. Ia berlutut di atas karpet kereta, menekan tubuh mungilnya ke dada bidang Renshu yang terbalut zirah kulit basah.

​"Kalau kau takut mati dipenggal..." Liying mencondongkan wajahnya, menempelkan bibirnya yang bergetar tepat di depan bibir sang prajurit. "...maka matilah bersamaku malam ini."

​Dan tanpa menunggu persetujuan pria itu, Liying menabrakkan bibirnya, meraup bibir Renshu dalam sebuah ciuman yang canggung, putus asa, namun menuntut.

​Seketika, benang kewarasan terakhir yang dipegang teguh oleh Chu Renshu terputus.

​Bersetubuh dengan maut adalah hal yang biasa bagi sang prajurit, namun ciuman basah dari bibir porselen sang Putri ini adalah racun mematikan yang tak tertandingi. Renshu memejamkan mata, membiarkan pertahanannya runtuh sepenuhnya. Sang predator buas yang selama ini tertidur pulas di balik kedok pelayan yang patuh, akhirnya membuka mata.

​Tangan besar Renshu yang sedari tadi menahan diri, kini bergerak secepat kilat. Ia mencengkeram pinggang ramping Liying dengan posesif, menghentikan pergerakan acak sang Putri. Cengkeramannya begitu kuat dan kasar, memastikan tubuh gadis itu menempel erat tanpa menyisakan celah sedikit pun.

​Ciuman yang tadinya dipimpin oleh keputusasaan Liying kini diambil alih secara mutlak.

​Dengan geraman rendah yang menggetarkan dada, Renshu membalas cumbuan itu dengan kebrutalan seorang pria kelaparan. Ia melumat bibir Liying, memaksa bibir gadis itu terbuka, dan menginvasi ruang mulutnya dengan dominasi penuh. Rasa air mata yang asin bercampur dengan manisnya napas Liying dicecapnya habis-habisan.

​"Mmh...!" Liying terkesiap, membelalak kaget. Tubuhnya melengkung ke belakang saat lidah Renshu menyapu dan menuntut balasan yang membuat kepalanya pening.

​Kereta kuda yang sedang berhenti itu sedikit berguncang saat Renshu dengan mudahnya mengangkat tubuh Liying, seolah gadis itu seringan lembaran sutra, dan membaringkannya di atas bantal duduk kabin yang lebar.

​Posisinya kini berbalik. Sang Putri Kekaisaran terbaring tak berdaya di bawah bayang-bayang besar prajurit rendahan penjaga gerbang.

​Renshu mengungkung tubuh Liying, menatap mangsanya dengan mata setajam elang pemangsa. Hujan di luar semakin brutal, seolah menjadi satu-satunya pelindung rahasia dosa mereka malam itu.

​"Anda yang meminta ini, Tuan Putri," bisik Renshu tepat di telinga Liying, suaranya serak dan sarat akan ancaman yang memabukkan. Napas hangatnya membuat bulu kuduk Liying meremang. "Mulai detik ini, jika Anda memohon untuk berhenti, hamba tidak akan mendengarnya. Malam ini, Anda bukan majikan hamba... Anda adalah milik hamba."

​Belum sempat Liying merespons, bibir basah Renshu bergerak turun. Ia mengecup, menyesap, dan menggigit kecil leher jenjang Liying yang mulus. Tangan kasarnya menelusup ke balik gaun sutra merah yang sudah koyak itu, menyentuh kulit hangat sang Putri dan membiarkan kekasaran telapak tangannya menciptakan sengatan listrik yang membuat Liying mengerang tertahan.

​"Renshu... ah..."

​Desahan pertama yang lolos dari bibir Yan Liying malam itu bukan untuk sang tunangan, bukan untuk pangeran mahkota, melainkan untuk seorang prajurit buangan yang tangannya kini tengah mengklaim setiap jengkal tubuhnya tanpa ampun.

​Pakaian kebesaran kekaisaran yang selalu dibanggakan Selir Lan perlahan dilucuti dalam keremangan. Di bawah badai petir yang menghantam ibu kota, batas kasta, status, dan hukum istana hancur lebur ditelan gairah yang menggelap.

​Setiap kali jemari kokoh Renshu menyentuh dan menekan titik-titik rahasia yang tak pernah dijamah siapa pun, punggung Liying melengkung ekstrem. Ia mencari lebih banyak kehangatan, meronta pasrah di bawah kukungan tubuh besar yang menindihnya. Mahkota dan kehormatannya telah luruh, menyisakan naluri murni seorang wanita yang mendamba pelepas dahaga.

​Renshu menahan napasnya yang memberat, menatap mata Liying yang kini berkabut oleh gairah dan sisa air mata. Menolak memberi sang Putri kesempatan untuk mundur, pria itu menyatukan entitas mereka dalam satu gerakan yang dalam, absolut, dan posesif.

​"Akh—!" Liying memekik tertahan, kuku-kukunya menancap kuat hingga menggores kulit di bahu lebar Renshu. Sengatan perih seketika merobek pertahanannya, namun dengan cepat disapu bersih oleh gelombang ekstasi asing yang menyita akal sehatnya.

​"Genggam hamba, Liying. Hancurlah di tangan hamba," geram Renshu parau, sengaja menanggalkan gelar kebangsawanan wanita itu saat pinggulnya mulai bergerak dalam ritme yang buas dan menuntut.

​Suara gemuruh petir di atas langit Yanze sepenuhnya tenggelam oleh paduan napas basah dan decakan kulit di dalam kabin sempit itu. Hentakan Renshu yang semakin cepat, keras, dan tanpa ampun membuat dunia Liying berputar hebat. Matanya memutih, kehilangan pijakan pada realita.

​"Renshu! Ahh... kumohon... Renshu...!"

​Desahan Liying memuncak, suaranya pecah dan melengking pilu menembus deru badai. Gelombang kenikmatan yang menyilaukan akhirnya meledak tanpa ampun, membuat tubuh mungilnya menegang hebat dan bergetar liar di bawah dominasi mutlak sang prajurit. Di tengah gemuruh hujan, Liying merengkuh erat kutukan manis itu, membiarkan dirinya ditarik jatuh bersama Chu Renshu ke dasar jurang dosa yang tak berdasar.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Sentuh Aku, Renshu!   17. Predator yang Terpancing

    ​Pertanyaan provokatif Liying menggantung di udara malam, beradu dengan gemerisik halus daun-daun bambu yang tertiup angin. Sepasang mata jernih sang Putri mengunci tatapan Renshu, memancarkan tantangan yang begitu berani, seolah ia sengaja mengulurkan lehernya ke rahang seekor binatang buas hanya untuk melihat apakah binatang itu berani menggigitnya.​Renshu tidak langsung menjawab. Namun, keheningan pria itu jauh lebih menakutkan daripada bentakan kasarnya saat latihan.​Cengkeraman tangan Renshu di sisi pinggang Liying mendadak mengeras. Telapak tangan yang dipenuhi kapalan keras itu menekan sutra tipis kemeja Liying hingga gadis itu bisa merasakan panas tubuh Renshu menembus langsung ke kulitnya. Napas sang prajurit terdengar semakin pendek dan berat, memburu di balik ceruk leher Liying yang terekspos.​Melihat reaksi Renshu yang begitu tersiksa, Liying justru merasa seolah mendapatkan suntikan kekuatan baru. Rasa takutnya pada dunia luar, pada kelicikan Yuchen, bahkan pada bayang

  • Sentuh Aku, Renshu!   16. Ujian Kewarasan di Atas Batu

    Renshu tidak membiarkan Liying duduk terlalu lama di atas rumput yang lembap dan berbalut tanah kotor. Dengan satu gerakan mulus dan tanpa peringatan, pria bertubuh besar itu merengkuh pinggang serta lipatan lutut sang Putri. Ia mengangkat tubuh mungil Liying dengan sangat mudah, seolah sedang mengangkat sehelai bulu angsa, lalu mendudukkannya di atas sebuah batu pualam datar yang berada di sudut taman bambu.​Batu itu permukaannya sangat dingin karena embun malam, namun hawa panas yang memancar dari tubuh dua insan di atasnya seolah mampu melelehkan es di puncak gunung sekalipun.​Tanpa banyak bicara, Renshu melangkah maju. Ia menekuk satu kakinya, berlutut tepat di antara kedua paha Liying yang dibiarkan sedikit terbuka di pinggir batu. Posisi ini secara fisik menempatkan Renshu di bawah, bersimpuh di kaki majikannya. Namun aura dominasi yang menguar dari sang prajurit dipadu dengan intimnya kedekatan tubuh mereka menjadikan Renshu sebagai predator, sekaligus pihak yang paling tersi

  • Sentuh Aku, Renshu!   15. Meminta Pertanggungjawaban

    Malam ini, angin bertiup lebih tenang di taman bambu. Cahaya bulan purnama menyusup melalui celah-celah dedaunan, menyoroti sosok Renshu yang berdiri kokoh dengan kemeja tanpa lengan dan ranting bambu di tangannya.​Liying melangkah memasuki area latihan dengan napas yang sudah diatur sedemikian rupa. Di balik celana latihannya, lebam-lebam sisa semalam masih berdenyut, namun di tangannya yang berbalut perban tipis, ia menggenggam erat cepuk porselen berisi salep racikan Meilin.​"Fokus, Liying. Jangan biarkan matamu tertipu oleh gerakan lenganku, tapi perhatikan arah bahuku," instruksi Renshu tajam, sepenuhnya kembali ke mode instruktur tanpa ampun.​"Baik," jawab Liying patuh, memasang kuda-kudanya.​"Menghindar!"​Renshu melesat maju. Ranting bambunya berdesing membelah udara, mengincar pinggang kiri sang Putri.​Sesuai rencana, Liying membaca gerakan itu dengan sempurna. Namun, alih-alih menghindar sepenuhnya, gadis itu dengan sengaja melambatkan tarikan kakinya sepersekian detik.

  • Sentuh Aku, Renshu!   14. Penolakan Sang Putri

    Matahari siang menyengat atap Paviliun Kaca Kusam, namun di dalam kamar tidurnya, Liying merasa sekujur tubuhnya seperti baru saja digilas roda kereta kuda.Setiap kali ia menggeser posisinya di atas kursi rias, ringisan tertahan lolos dari bibirnya. Sabetan ranting bambu Renshu semalam benar-benar meninggalkan jejak yang luar biasa menyiksa. Paha bagian dalam, pinggang bawah, dan betisnya berdenyut nyeri. Liying bahkan harus berjalan dengan langkah yang sangat pelan dan diatur sedemikian rupa agar Dayang Chun tidak curiga."Tuan Putri, Nona Meilin dari Paviliun Pengobatan meminta izin menghadap. Beliau membawa ramuan tonik pesanan Anda," lapor Dayang Chun dari balik tirai.Mendengar nama itu, wajah pucat Liying sedikit tercerahkan. "Suruh dia masuk. Dan Chun, tinggalkan kami berdua. Aku butuh Nona Meilin untuk memeriksa urat nadiku secara tertutup.""Baik, Tuan Putri."Begitu pintu kayu berukir itu ditutup dari luar, Meilin yang mengenakan pakaian abu-abu khas asisten tabib istana se

  • Sentuh Aku, Renshu!   13. Sabetan Ranting dan Tarian Menghindar

    ​Pagi di Paviliun Kaca Kusam terasa lebih lambat dan menyiksa dari biasanya. Sinar matahari yang menembus kisi-kisi jendela menyinari wajah Liying yang sedikit pucat. Di balik selimut sutranya, sekujur tubuh gadis itu terasa remuk redam.​Saat Dayang Chun masuk membawakan air cucian muka, Liying buru-buru menarik lengan gaun tidurnya hingga menutupi punggung tangan.​"Tuan Putri, apakah Anda masih demam? Wajah Anda terlihat lelah," tegur Dayang Chun dengan nada khawatir.​Liying berdeham pelan, memaksakan senyum anggun di bibirnya. "Aku hanya kedinginan, Chun. Angin malam tadi sangat menusuk. Siapkan gaun musim gugur berlengan paling panjang dan berkerah tinggi hari ini. Aku tidak ingin masuk angin lagi menjelang kunjunganku ke kediaman Ibu."​Dayang Chun mengangguk patuh tanpa curiga. Berkat gaun sutra berlengan ekstra panjang itu, perban tipis yang membalut telapak tangan Liying tersembunyi sempurna. Sepanjang hari, Liying menahan ringisan nyeri setiap kali harus memegang cangkir te

  • Sentuh Aku, Renshu!   12. Candu di Balik Perban

    Renshu membuka tutup cepuk porselen kecil itu dengan satu tangan. Aroma herbal yang menyejukkan, perpaduan antara ekstrak daun mint dan getah damar, langsung menguar ke udara malam, mengusir bau anyir darah yang sempat tertinggal.​Dengan ibu jarinya yang besar dan dipenuhi kapalan tebal, Renshu mengambil sedikit salep berwarna putih bening tersebut.​"Ini akan terasa sedikit menyengat di awal, lalu mendingin," gumam Renshu pelan, matanya sama sekali tidak berani menatap wajah Liying. Pria itu terlalu fokus mengendalikan detak jantungnya sendiri.​"Lakukanlah," bisik Liying.​Sentuhan pertama kulit Renshu di atas lukanya membuat Liying refleks menahan napas. Salep ajaib buatan Meilin itu memang langsung meredam rasa perih yang membakar dagingnya, namun sensasi gesekan pelan dari ibu jari Renshu di telapak tangannya justru memicu kobaran api yang sama sekali berbeda.​Ibu jari pria itu mengusap lembut, memutar pelan untuk memastikan salepnya meresap ke dalam luka robek di telapak tanga

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status