LOGINGuruh menggelegar buas di langit Yanze, menyamarkan deru napas memburu di dalam kabin kereta kuda yang sempit itu. Cahaya dari satu-satunya lentera minyak yang bergoyang tertiup angin dari celah jendela menyorot wajah tegang Chu Renshu.
Prajurit kelas tembaga itu menegang bagai bongkahan es di neraka. Urat-urat di leher dan lengan kokohnya menonjol liar, menahan gejolak insting purba yang meronta ingin dilepaskan. Wangi alami bunga teratai dari tubuh sang Putri yang kini bercampur dengan aroma hujan dan keputusasaan, benar-benar menyiksa kewarasannya.
"Tuan Putri..." Suara Renshu terdengar sangat berat, parau, dan bergetar menahan diri. Tangan besarnya yang kapalan naik, mencengkeram lembut pergelangan tangan Liying yang masih bertengger di rahangnya, berniat menjauhkannya. "Sadarilah apa yang Anda minta. Hukum istana sangat mutlak. Satu sentuhan dari kulit hamba di tubuh Anda... cukup untuk membuat kepala hamba dipenggal dan dijemur di gerbang kota besok pagi."
Liying menatap mata kelam pria itu. Alih-alih mundur ketakutan, senyum miris justru terukir di bibir merahnya yang bergetar kedinginan.
"Lalu kenapa?" bisik Liying, suaranya pecah oleh kepahitan. "Aku sudah mati malam ini, Renshu. Kehormatanku, masa depanku, kepercayaanku... semuanya sudah dihancurkan oleh pria yang bergelar bangsawan. Jika aku harus hancur malam ini, aku tidak sudi hancur sendirian."
Gadis itu menyentak tangannya dari cengkeraman Renshu. Dengan sisa keberanian yang lahir dari keputusasaan, Liying memajukan tubuhnya, menyeberangi sisa jarak di antara mereka. Ia berlutut di atas karpet kereta, menekan tubuh mungilnya ke dada bidang Renshu yang terbalut zirah kulit basah.
"Kalau kau takut mati dipenggal..." Liying mencondongkan wajahnya, menempelkan bibirnya tepat di depan bibir sang prajurit. "...maka matilah bersamaku malam ini."
Tanpa menunggu persetujuan pria itu, Liying menabrakkan bibirnya, meraup bibir Renshu dalam sebuah ciuman yang canggung, tergesa-gesa, namun luar biasa menuntut.
Seketika, benang kewarasan terakhir yang dipegang teguh oleh Chu Renshu terputus total.
Bersetubuh dengan maut adalah hal yang biasa bagi sang prajurit bayangan, namun ciuman basah dari bibir porselen sang Putri ini adalah racun mematikan yang tak tertandingi. Renshu memejamkan mata. Sang predator buas yang selama ini ia rantai di balik kedok pelayan yang patuh, akhirnya membuka mata dan mengambil alih.
Tangan besar Renshu yang sedari tadi menahan diri, kini bergerak secepat kilat. Ia mencengkeram pinggang ramping Liying dengan sangat posesif, menghentikan pergerakan acak sang Putri. Cengkeramannya begitu kuat dan kasar, memastikan tubuh gadis itu merapat tanpa menyisakan celah sedikit pun.
Ciuman yang tadinya dipimpin oleh keputusasaan Liying kini dibajak secara mutlak.
Dengan geraman rendah yang menggetarkan dada, Renshu membalas cumbuan itu dengan kebrutalan seorang pria yang kelaparan. Ia melumat bibir Liying, memaksa bibir gadis itu terbuka, dan menginvasi ruang mulutnya dengan dominasi penuh. Rasa air mata yang asin bercampur dengan manisnya napas Liying dicecapnya habis-habisan.
"Mmh...!" Liying terkesiap, membelalak kaget. Tubuhnya melengkung ke belakang saat lidah Renshu menyapu dan menuntut balasan yang membuat kepalanya pening.
Kereta kuda yang berhenti di tengah hutan itu sedikit berguncang saat Renshu dengan mudahnya mengangkat tubuh Liying, seolah gadis itu seringan lembaran sutra, dan membaringkannya ke atas bantal duduk kabin yang lebar.
Posisinya kini berbalik. Sang Putri Kekaisaran terbaring tak berdaya di bawah bayangan raksasa prajurit rendahan dari gerbang utara.
Renshu mengungkung tubuh Liying, menatap mangsanya dengan mata setajam elang. Hujan di luar semakin brutal, menjadi satu-satunya tirai pelindung bagi dosa mereka malam itu.
"Anda yang meminta ini," bisik Renshu tepat di telinga Liying, suaranya serak dan sarat akan ancaman yang memabukkan. Napas panasnya menabrak kulit leher Liying, membuat bulu kuduk gadis itu meremang hebat. "Mulai detik ini, jika Anda memohon untuk berhenti, hamba tidak akan mendengarnya. Malam ini, Anda bukan majikan hamba... Anda adalah milik hamba."
Belum sempat Liying merespons, bibir Renshu bergerak turun. Ia mengecup, menyesap, dan memberikan gigitan kecil kepemilikan di leher jenjang Liying. Tangan kasarnya menelusup ke balik gaun sutra merah kebesaran kekaisaran itu. Dengan satu sentakan pelan namun bertenaga, Renshu merobek sisa kain sutra yang menutupi tubuh Liying, melucuti simbol kebangsawanan yang selama ini mengurung sang Putri.
Kekasaran telapak tangan kapalan Renshu yang bergesekan dengan kulit porselen Liying menciptakan sengatan listrik yang membuat sang Putri mengerang tertahan.
"Renshu... ah..."
Desahan pertama yang lolos dari bibir Yan Liying malam itu bukan untuk sang tunangan, bukan untuk pangeran mahkota, melainkan untuk seorang prajurit buangan yang tangannya kini tengah mengklaim setiap jengkal tubuhnya tanpa ampun.
Di bawah badai petir yang menghantam ibu kota, batas kasta, status, dan hukum istana hancur lebur ditelan gairah yang menggelap.
Setiap kali jemari kokoh Renshu menyentuh dan menekan titik-titik rahasia yang tak pernah dijamah siapa pun, punggung Liying melengkung ekstrem. Ia mencari lebih banyak kehangatan, meronta pasrah di bawah kungkungan tubuh besar yang menindihnya. Kehormatannya sebagai patung pualam telah luruh, menyisakan naluri murni seorang wanita yang mendamba pelepas dahaga.
Renshu menahan napasnya yang memberat. Ia menatap mata Liying yang kini berkabut oleh gairah dan sisa air mata. Menolak memberi sang Putri kesempatan untuk mundur, pria itu menahan kedua pinggul Liying dengan tangan besarnya, lalu menyatukan entitas mereka dalam satu gerakan yang dalam, absolut, dan posesif.
"Akh—!" Liying memekik tertahan. Kuku-kukunya refleks menancap kuat hingga menggores kulit di bahu lebar Renshu. Sengatan perih seketika merobek pertahanannya, namun dengan cepat disapu bersih oleh gelombang ekstasi asing yang mengalir bagai lahar panas, menyita seluruh akal sehatnya.
"Genggam hamba, Liying. Hancurlah di tangan hamba," geram Renshu parau. Pria itu sengaja menanggalkan gelar kebangsawanan wanita itu saat pinggulnya mulai bergerak dalam ritme yang buas dan menuntut.
Suara gemuruh petir di atas langit Yanze sepenuhnya tenggelam oleh paduan napas basah dan decakan kulit di dalam kabin sempit itu. Hentakan Renshu yang semakin cepat, keras, dan tanpa ampun membuat dunia Liying berputar hebat. Matanya memutih, kehilangan pijakan pada realita.
"Renshu! Ahh... kumohon... Renshu...!"
Desahan Liying memuncak, suaranya pecah melengking pilu menembus deru badai. Gelombang kenikmatan yang menyilaukan akhirnya meledak tanpa ampun, membuat tubuh mungilnya menegang hebat dan bergetar liar di bawah dominasi mutlak sang prajurit.
Di tengah gemuruh hujan yang menghapus jejak mereka, Liying merengkuh erat kutukan manis itu, membiarkan dirinya ditarik jatuh bersama Chu Renshu ke dasar jurang dosa yang tak berdasar.
Kegelapan pekat menyelimuti kesadaran Chu Renshu, namun genggaman tangan kanannya tetap mengunci erat. Di tengah halusinasi rasa sakit yang membakar sekujur tubuh, bayangan wajah Liying yang membeku di atas ranjang kapal menjadi satu-satunya jangkar yang menahan jiwa sang Kaisar agar tidak tercerabut.Ketika kelopak matanya perlahan terbuka, aroma belerang dan bau daging yang terbakar menyengat indra penciumannya. Renshu mendapati dirinya terbaring di atas lantai batu di dekat mulut terowongan kawah. Di sisinya, Lu Kang dan Xiaoxiao tengah berlutut dengan wajah cemas luar biasa."Yang Mulia! Anda sadar?!" seru Lu Kang, nyaris menjatuhkan kapaknya karena terlalu terkejut.Renshu tidak menjawab. Ia menggerakkan rahangnya yang kaku, lalu memaksa tubuhnya yang penuh luka bakar parah untuk bangkit. Kulit di dada, lengan, dan telapak tangan kanannya melepuh mengerikan, terkelupas dan memperlihatkan daging yang memerah. Namun, di tengah kepedihan luar biasa itu, tangan kanannya tetap ter
Pemimpin Sekte Batu Hitam menjatuhkan godam raksasanya. Harga diri dan kesombongannya hancur lebur di bawah tatapan mata sang Kaisar Zixiao. Pria fana di hadapannya ini bukanlah manusia; ia adalah inkarnasi dari algojo kematian itu sendiri."K-Kau menginginkannya?" suara Pemimpin Sekte itu bergetar saat ia melangkah mundur, menunjuk ke sebuah terowongan batu besar di belakang takhtanya. Hawa panas yang ekstrem menguar dari lorong tersebut, membuat udara beriak. "Silakan ambil sendiri. Inti Batu Kumala adalah jantung dari gunung ini. Benda itu tumbuh di tengah danau magma di dasar kawah suci. Tidak ada seorang pun, bahkan dari sekte kami, yang mampu turun ke sana tanpa terbakar menjadi abu."Renshu tidak menjawab. Ia memungut pedangnya, memasukkannya ke dalam sarung di punggung, dan berjalan melewati sang Pemimpin Sekte tanpa sedikit pun keraguan, melangkah lurus masuk ke dalam terowongan neraka tersebut.Xiaoxiao berlari menyusul hingga ke ambang terowongan, namun hawa panas yang
Kepulan debu vulkanik dari hancurnya gerbang utama perlahan tersapu oleh angin panas. Di balik ambang pintu yang telah menjadi puing-puing, ratusan murid Sekte Batu Hitam telah berkumpul dengan senjata terhunus. Mereka mematung, menatap dengan mata terbelalak ke arah pria berpakaian gelap yang baru saja menendang hancur gerbang baja dan basal yang mereka banggakan selama berabad-abad.Di tengah pelataran benteng yang luas, berdiri sebuah altar batu. Di atasnya, duduk Pemimpin Sekte Batu Hitam. Pria itu bertubuh raksasa, jauh lebih besar dari Renshu. Hampir seluruh tubuhnya, dari leher hingga kaki, tertutup oleh kalus tebal berwarna hitam mengilat, hasil dari latihan penyiksaan diri menanamkan mineral obsidian ke dalam jaringan kulitnya. Ia tampak seperti patung iblis yang dihidupkan."Kau meruntuhkan pintuku, Manusia Fana," geram sang Pemimpin Sekte, suaranya berderak seperti bebatuan yang saling bergesekan. Ia berdiri, mengambil sebuah godam raksasa berlapis paku besi dari samping
Pendakian itu adalah siksaan fisik yang menguji batas toleransi manusia. Tanah yang mereka pijak bukanlah tanah berlumpur atau rerumputan, melainkan lautan batu obsidian yang luar biasa tajam dan bersuhu mendidih. Setiap hembusan angin membawa debu vulkanik yang menggores tenggorokan layaknya pecahan kaca.Xiaoxiao terbatuk pelan, menyeka keringat yang membanjiri dahinya. Sepatu bot kulitnya mulai berbau sangit akibat menahan panas bebatuan. "Tempat ini mengerikan," keluhnya serak. "Pantas saja Sekte Sen Luo Mu, para bajingan pecinta tanaman itu, sangat membenci wilayah ini. Tidak ada satu pun tumbuhan beracun yang bisa hidup di atas wajan raksasa ini.""Simpan napasmu, bocah. Kita belum melihat ujungnya," tegur Lu Kang, menggunakan gagang kapaknya sebagai tongkat pendaki.Di depan mereka, Chu Renshu memanjat tanpa satu patah kata pun. Pria itu tidak terlihat seperti manusia yang sedang kepanasan; ia bergerak seperti mesin yang diprogram untuk satu tujuan mutlak. Keringat membasahi
Fajar kelabu akhirnya menyingsing, mengusir kegelapan absolut yang telah menyiksa mereka semalaman. Angin topan telah mereda, menyisakan riak ombak yang panjang dan melelahkan. Di ufuk timur, kabut tebal perlahan terbelah, seolah lautan itu sendiri menyingkir untuk memperlihatkan rahasia tergelapnya.Berdiri di haluan kapal Hei Sha, Kapten Lu Kang menurunkan teropong kuningan miliknya. Mata tunggalnya membelalak. Di depan mereka, menjulang dari dasar lautan, terhampar sebuah daratan raksasa yang tidak ada di dalam peta fana mana pun. Langit di atas benua itu tidak berwarna biru, melainkan diwarnai merah pekat oleh awan abu dan asap tebal yang terus mengepul dari belasan puncak gunung berapi aktif."Kita sampai, Yang Mulia," serak Lu Kang, suaranya bercampur antara kelegaan dan kengerian. "Benua Seberang. Daratan Abu."Bahkan dari jarak beberapa mil laut, hawa panas sudah mulai terasa menyapu wajah mereka, membawa serta aroma tajam belerang dan sulfur yang menyesakkan dada. Ini adal
Badai di luar mungkin telah berlalu, namun badai yang sesungguhnya tengah mengamuk di dalam kabin sempit tersebut.Saat Renshu mendorong pintu kabin yang macet akibat embun beku, pemandangan yang menyambutnya membuat jantung sang tiran seakan berhenti berdetak. Suhu di dalam ruangan itu kini sepuluh kali lipat lebih dingin dari sebelumnya. Bunga es menjalar hingga menutupi lentera, memadamkan cahayanya.Di lantai, Tabib Meilin duduk meringkuk sambil menangis tanpa suara, tangannya yang memegang pergelangan tangan Liying bergetar hebat, nyaris membiru karena radang dingin."Menjauh," titah Renshu dengan suara yang sangat parau. Ia melangkah cepat, nyaris tersandung kakinya sendiri yang masih kelelahan, dan langsung meraup tubuh Liying ke dalam pelukannya.Liying terasa seperti sebuah patung porselen yang dibiarkan membeku di puncak gunung es. Wajah cantiknya kini sepucat kertas transparan, bibirnya kehilangan seluruh warnanya. Rambut hitamnya yang panjang saling menempel karena bu
Mendengar tuntutan berani yang meluncur dari bibir merah Liying, sisa-sisa kewarasan Chu Renshu hancur lebur berkeping-keping.Permintaan itu ibarat melepaskan gembok baja terakhir dari kandang seekor binatang buas yang telah lama menahan rasa lapar. Rantai status, hukum istana, hingga batas kesop
Malam telah larut menyelimuti ibu kota Kekaisaran Yanze. Namun di dalam Paviliun Kaca Kusam yang mewah, keheningan justru terasa mencekik leher.Yan Liying duduk meringkuk di sudut ranjang besarnya, memeluk kedua lutut dengan tubuh yang bergetar tak terkendali. Sensasi dingin dari ujung jari Putra
Kehadiran Putra Mahkota Bojing seolah menyedot habis seluruh pasokan udara di dalam Paviliun Kaca Kusam. Aura dominasi yang memancar dari jubah bersulam naga emasnya begitu pekat dan mencekik, membuat para dayang yang berjaga di luar segera menunduk ketakutan hingga dahi mereka nyaris mencium dingin
Udara pagi di Paviliun Kaca Kusam mendadak terasa jauh lebih mencekik daripada badai petir semalam.Liying melangkah masuk dengan langkah kaku, menutup pintu ganda paviliun rapat-rapat di belakangnya. Di tengah ruangan, Selir Lan, ibunya sendiri, berdiri dengan mata menyalang. Tatapan wanita paruh b






