Masuk"Ssst! Pelankan suaramu, Xiaoxiao! Kau mau tetangga dengar dan melaporkan kita ke prajurit patroli?!" desis Meilin panik. Ia segera berlari menembus keremangan, menutup pintu kayu itu rapat-rapat, lalu menggeser palang besinya dengan tangan gemetar.
Di tengah kepanikan luar biasa kedua adiknya, Chu Renshu tetap berwajah datar, seolah ia baru saja membawa pulang sekarung beras alih-alih sebuah sumber bencana pembawa maut. Tanpa mengucap sepatah kata pun, pria bertubuh besar itu melangkah mengabaikan Xiaoxiao. Ia menurunkan Liying dengan sangat hati-hati di atas satu-satunya kursi bambu berlapis anyaman jerami di ruangan itu.
"Kak Renshu!" Xiaoxiao menghampiri kakaknya dengan mata berkaca-kaca, menarik-narik lengan zirah pria itu. "Katakan kalau kau menemukannya pingsan di jalan. Jangan bilang kau... kau..."
Tatapan Xiaoxiao meluncur ngeri ke arah jejak kemerahan yang tercetak jelas di leher porselen sang Putri. Gadis remaja itu menelan ludahnya susah payah. "Kepala kita benar-benar akan menggelinding besok..."
Sebelum Renshu sempat membuka mulut untuk menerima omelan adiknya, sebuah suara serak dan bergetar memecah kepanikan di gubuk reot itu.
"Jangan salahkan kakak kalian."
Ketiga kakak beradik itu serempak menoleh. Liying, yang masih memeluk erat jubah kebesaran Renshu, menatap Meilin dan Xiaoxiao dengan mata sembab. Namun, di balik sisa air matanya, ada sorot ketegasan yang tak terbantahkan.
"Dia tidak menculikku. Aku... aku yang memaksanya," ucap Liying pelan. Ia menundukkan wajahnya, meremas ujung jubah hitam yang menenggelamkan tubuh mungilnya. "Aku yang menyeretnya ke dalam masalah ini."
Pernyataan itu sukses membuat Meilin dan Xiaoxiao mematung seperti tersambar petir. Sang Putri Kekaisaran... memaksa kakak mereka yang sedingin balok es ini?!
Namun, melihat bibir Liying yang mulai membiru karena kedinginan, insting tabib di dalam diri Meilin langsung mengambil alih. Ia menyingkirkan semua keterkejutan dan perbedaan kasta yang membentang di antara mereka. Dengan sigap, Meilin menyalakan kembali tungku tanah liatnya dan menyeduh teh herbal pereda syok.
Tak lama, Meilin menyodorkan sebuah mangkuk tanah liat yang pinggirannya sedikit gompal kepada Liying.
Liying menatap mangkuk itu ragu. Seumur hidupnya di istana, tehnya selalu disajikan dalam cawan giok berlapis emas. Namun, saat ia memaksakan diri menyesap cairan cokelat itu, rasa hangat yang luar biasa menenangkan langsung menjalar hingga ke ujung jari kakinya, mengusir dinginnya badai malam dan ketakutan di hatinya.
"Minumlah perlahan, Nona. Itu akan menenangkan saraf Anda," ucap Meilin dengan nada keibuan yang lembut.
Xiaoxiao, yang sudah mulai tenang, perlahan mendekat membawa setelan kain katun kasar berwarna abu-abu pudar. "Tuan Putri... eh, Nona, gaun Anda sudah terlalu robek dan basah. Jika Anda tidak keberatan, pakailah baju ini. Ini memang kain kasar, tapi sudah saya cuci bersih."
Liying menerima pakaian itu. Saat jarinya menyentuh kain katun murah tersebut, matanya sedikit melebar. Jahitannya... luar biasa presisi, rapat, dan kuat. Bahkan penjahit khusus kekaisaran yang membuat gaun sutranya pun tidak memiliki teknik jahitan sekokoh ini. Liying menatap Xiaoxiao dengan pandangan baru, menyadari ada bakat luar biasa yang tersembunyi di balik wajah polos gadis remaja dari permukiman kumuh ini.
Setelah Liying berganti pakaian di balik sekat kain, Meilin dan Xiaoxiao menyingkir ke dapur kecil. Mereka sengaja memberi ruang, meski diam-diam masih berbisik heboh sambil mencuri pandang ke arah Renshu.
Renshu mengambil sebaskom kecil air hangat dan secarik kain bersih. Prajurit buas yang beberapa jam lalu menaklukkannya tanpa ampun di dalam kereta itu, kini kembali berlutut dengan satu kaki di depan Liying. Tanpa ragu apalagi rasa jijik, tangan besarnya yang kapalan mengangkat kaki telanjang sang Putri, lalu membersihkan sisa lumpur dan darah dari betis Liying yang tergores ranting hutan.
Liying menahan napas. "Renshu... kau tidak perlu—"
"Diamlah," potong Renshu pelan, nadanya sangat mutlak namun teramat lembut. Ia mengambil salep herbal buatan Meilin dan mengoleskannya ke luka-luka kecil itu.
Liying menunduk, menatap puncak kepala Renshu. Pandangannya perlahan turun ke bekas-bekas luka mematikan di leher dan lengan pria itu. Entah mengapa, di dalam gubuk reot berlantai tanah yang atapnya sesekali meneteskan air hujan ini, Liying justru merasa ribuan kali lipat lebih aman dan dihormati daripada di Paviliun Kaca Kusam yang bergelimang kemewahan namun penuh bisa mematikan.
Rasa hangat menyelimuti dadanya. Tak lama kemudian, kelelahan fisik dan mental yang mendera akhirnya memaksa sang Putri tertidur lelap di atas ranjang sempit milik adik-adik Renshu.
Fajar menyingsing, melukis langit ufuk timur dengan warna ungu kelabu. Hujan telah sepenuhnya berhenti, menyisakan embun dan hawa dingin yang menusuk tulang.
Renshu, yang semalaman duduk berjaga dengan pedang tersarung di pangkuannya, membangunkan Liying. Realita kembali menghantam mereka tanpa ampun. Badai gairah dan kehangatan semalam telah usai; kini saatnya Liying kembali menghadapi hukum istana yang kejam. Ia harus segera diselundupkan kembali sebelum ketidakhadirannya disadari oleh dayang-dayang.
Perjalanan kembali ke istana dilakukan dalam keheningan yang menegangkan.
Dengan keahlian dan koneksi Renshu yang menyuap beberapa penjaga gerbang bawah, kereta kuda itu berhasil masuk melalui jalur pelayan pengantar bahan makanan. Liying turun di balik rimbunnya semak-semak taman teratai. Ia menatap Renshu dan mengangguk sekilas, sebuah perpisahan bisu yang sarat makna, sebelum akhirnya gadis itu mengendap-endap menyusuri lorong sepi menuju paviliunnya.
Jantung Liying berdebar kencang. Sedikit lagi. Selama ibunya masih tertidur, ia bisa beralasan sedang berjalan-jalan pagi menikmati embun.
Namun, baru saja sepatunya menginjak undakan teras, langkah Liying terhenti mendadak. Darahnya seakan membeku seketika.
Pintu ganda Paviliun Kaca Kusam telah terbuka lebar. Di tengah ruangan yang diterangi oleh sisa lilin semalam, duduk sesosok wanita dalam balutan gaun sutra ungu yang kaku. Wanita itu tengah memutar-mutar cangkir teh porselen di tangannya dengan raut wajah yang menggelap sebuah percampuran antara murka dan ketakutan yang absolut.
Itu Selir Lan, ibunya.
Cangkir teh di tangan Selir Lan dibanting keras ke atas meja. Matanya yang setajam elang menatap langsung ke arah pakaian katun kasar milik Xiaoxiao yang kini melekat di tubuh putrinya.
"Dari mana saja kau, anak sialan?" Suara Selir Lan mendesis tajam membelah keheningan pagi, menyerupai desisan ular berbisa yang siap mematuk. "Apakah kau baru saja menjual nyawaku dan nyawamu pada malaikat maut?!"
Kegelapan pekat menyelimuti kesadaran Chu Renshu, namun genggaman tangan kanannya tetap mengunci erat. Di tengah halusinasi rasa sakit yang membakar sekujur tubuh, bayangan wajah Liying yang membeku di atas ranjang kapal menjadi satu-satunya jangkar yang menahan jiwa sang Kaisar agar tidak tercerabut.Ketika kelopak matanya perlahan terbuka, aroma belerang dan bau daging yang terbakar menyengat indra penciumannya. Renshu mendapati dirinya terbaring di atas lantai batu di dekat mulut terowongan kawah. Di sisinya, Lu Kang dan Xiaoxiao tengah berlutut dengan wajah cemas luar biasa."Yang Mulia! Anda sadar?!" seru Lu Kang, nyaris menjatuhkan kapaknya karena terlalu terkejut.Renshu tidak menjawab. Ia menggerakkan rahangnya yang kaku, lalu memaksa tubuhnya yang penuh luka bakar parah untuk bangkit. Kulit di dada, lengan, dan telapak tangan kanannya melepuh mengerikan, terkelupas dan memperlihatkan daging yang memerah. Namun, di tengah kepedihan luar biasa itu, tangan kanannya tetap ter
Pemimpin Sekte Batu Hitam menjatuhkan godam raksasanya. Harga diri dan kesombongannya hancur lebur di bawah tatapan mata sang Kaisar Zixiao. Pria fana di hadapannya ini bukanlah manusia; ia adalah inkarnasi dari algojo kematian itu sendiri."K-Kau menginginkannya?" suara Pemimpin Sekte itu bergetar saat ia melangkah mundur, menunjuk ke sebuah terowongan batu besar di belakang takhtanya. Hawa panas yang ekstrem menguar dari lorong tersebut, membuat udara beriak. "Silakan ambil sendiri. Inti Batu Kumala adalah jantung dari gunung ini. Benda itu tumbuh di tengah danau magma di dasar kawah suci. Tidak ada seorang pun, bahkan dari sekte kami, yang mampu turun ke sana tanpa terbakar menjadi abu."Renshu tidak menjawab. Ia memungut pedangnya, memasukkannya ke dalam sarung di punggung, dan berjalan melewati sang Pemimpin Sekte tanpa sedikit pun keraguan, melangkah lurus masuk ke dalam terowongan neraka tersebut.Xiaoxiao berlari menyusul hingga ke ambang terowongan, namun hawa panas yang
Kepulan debu vulkanik dari hancurnya gerbang utama perlahan tersapu oleh angin panas. Di balik ambang pintu yang telah menjadi puing-puing, ratusan murid Sekte Batu Hitam telah berkumpul dengan senjata terhunus. Mereka mematung, menatap dengan mata terbelalak ke arah pria berpakaian gelap yang baru saja menendang hancur gerbang baja dan basal yang mereka banggakan selama berabad-abad.Di tengah pelataran benteng yang luas, berdiri sebuah altar batu. Di atasnya, duduk Pemimpin Sekte Batu Hitam. Pria itu bertubuh raksasa, jauh lebih besar dari Renshu. Hampir seluruh tubuhnya, dari leher hingga kaki, tertutup oleh kalus tebal berwarna hitam mengilat, hasil dari latihan penyiksaan diri menanamkan mineral obsidian ke dalam jaringan kulitnya. Ia tampak seperti patung iblis yang dihidupkan."Kau meruntuhkan pintuku, Manusia Fana," geram sang Pemimpin Sekte, suaranya berderak seperti bebatuan yang saling bergesekan. Ia berdiri, mengambil sebuah godam raksasa berlapis paku besi dari samping
Pendakian itu adalah siksaan fisik yang menguji batas toleransi manusia. Tanah yang mereka pijak bukanlah tanah berlumpur atau rerumputan, melainkan lautan batu obsidian yang luar biasa tajam dan bersuhu mendidih. Setiap hembusan angin membawa debu vulkanik yang menggores tenggorokan layaknya pecahan kaca.Xiaoxiao terbatuk pelan, menyeka keringat yang membanjiri dahinya. Sepatu bot kulitnya mulai berbau sangit akibat menahan panas bebatuan. "Tempat ini mengerikan," keluhnya serak. "Pantas saja Sekte Sen Luo Mu, para bajingan pecinta tanaman itu, sangat membenci wilayah ini. Tidak ada satu pun tumbuhan beracun yang bisa hidup di atas wajan raksasa ini.""Simpan napasmu, bocah. Kita belum melihat ujungnya," tegur Lu Kang, menggunakan gagang kapaknya sebagai tongkat pendaki.Di depan mereka, Chu Renshu memanjat tanpa satu patah kata pun. Pria itu tidak terlihat seperti manusia yang sedang kepanasan; ia bergerak seperti mesin yang diprogram untuk satu tujuan mutlak. Keringat membasahi
Fajar kelabu akhirnya menyingsing, mengusir kegelapan absolut yang telah menyiksa mereka semalaman. Angin topan telah mereda, menyisakan riak ombak yang panjang dan melelahkan. Di ufuk timur, kabut tebal perlahan terbelah, seolah lautan itu sendiri menyingkir untuk memperlihatkan rahasia tergelapnya.Berdiri di haluan kapal Hei Sha, Kapten Lu Kang menurunkan teropong kuningan miliknya. Mata tunggalnya membelalak. Di depan mereka, menjulang dari dasar lautan, terhampar sebuah daratan raksasa yang tidak ada di dalam peta fana mana pun. Langit di atas benua itu tidak berwarna biru, melainkan diwarnai merah pekat oleh awan abu dan asap tebal yang terus mengepul dari belasan puncak gunung berapi aktif."Kita sampai, Yang Mulia," serak Lu Kang, suaranya bercampur antara kelegaan dan kengerian. "Benua Seberang. Daratan Abu."Bahkan dari jarak beberapa mil laut, hawa panas sudah mulai terasa menyapu wajah mereka, membawa serta aroma tajam belerang dan sulfur yang menyesakkan dada. Ini adal
Badai di luar mungkin telah berlalu, namun badai yang sesungguhnya tengah mengamuk di dalam kabin sempit tersebut.Saat Renshu mendorong pintu kabin yang macet akibat embun beku, pemandangan yang menyambutnya membuat jantung sang tiran seakan berhenti berdetak. Suhu di dalam ruangan itu kini sepuluh kali lipat lebih dingin dari sebelumnya. Bunga es menjalar hingga menutupi lentera, memadamkan cahayanya.Di lantai, Tabib Meilin duduk meringkuk sambil menangis tanpa suara, tangannya yang memegang pergelangan tangan Liying bergetar hebat, nyaris membiru karena radang dingin."Menjauh," titah Renshu dengan suara yang sangat parau. Ia melangkah cepat, nyaris tersandung kakinya sendiri yang masih kelelahan, dan langsung meraup tubuh Liying ke dalam pelukannya.Liying terasa seperti sebuah patung porselen yang dibiarkan membeku di puncak gunung es. Wajah cantiknya kini sepucat kertas transparan, bibirnya kehilangan seluruh warnanya. Rambut hitamnya yang panjang saling menempel karena bu
Mendengar tuntutan berani yang meluncur dari bibir merah Liying, sisa-sisa kewarasan Chu Renshu hancur lebur berkeping-keping.Permintaan itu ibarat melepaskan gembok baja terakhir dari kandang seekor binatang buas yang telah lama menahan rasa lapar. Rantai status, hukum istana, hingga batas kesop
Malam telah larut menyelimuti ibu kota Kekaisaran Yanze. Namun di dalam Paviliun Kaca Kusam yang mewah, keheningan justru terasa mencekik leher.Yan Liying duduk meringkuk di sudut ranjang besarnya, memeluk kedua lutut dengan tubuh yang bergetar tak terkendali. Sensasi dingin dari ujung jari Putra
Kehadiran Putra Mahkota Bojing seolah menyedot habis seluruh pasokan udara di dalam Paviliun Kaca Kusam. Aura dominasi yang memancar dari jubah bersulam naga emasnya begitu pekat dan mencekik, membuat para dayang yang berjaga di luar segera menunduk ketakutan hingga dahi mereka nyaris mencium dingin
Udara pagi di Paviliun Kaca Kusam mendadak terasa jauh lebih mencekik daripada badai petir semalam.Liying melangkah masuk dengan langkah kaku, menutup pintu ganda paviliun rapat-rapat di belakangnya. Di tengah ruangan, Selir Lan, ibunya sendiri, berdiri dengan mata menyalang. Tatapan wanita paruh b







