Beranda / Zaman Kuno / Sentuh Aku, Renshu! / 11. Air Hangat dan Runtuhnya Tembok Es

Share

11. Air Hangat dan Runtuhnya Tembok Es

Penulis: Donat Mblondo
last update Tanggal publikasi: 2026-05-26 04:29:22

Ujung pedang kayu yang berlumuran darah itu bergetar di depan dada Renshu. Liying masih berdiri dengan sisa-sisa tenaga yang ia miliki, napasnya tersengal, menolak untuk menundukkan pandangannya.

​Keheningan yang pekat mengambil alih taman bambu. Angin malam seolah menahan napasnya. Hawa membunuh dan tekanan intimidasi yang sedari tadi dipancarkan oleh Renshu menguap tak berbekas, digantikan oleh keheningan yang menyesakkan dada.

​Perlahan, Renshu mengangkat tangan kanannya. Bukannya membalas s
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Sentuh Aku, Renshu!   12. Candu di Balik Perban

    Renshu membuka tutup cepuk porselen kecil itu dengan satu tangan. Aroma herbal yang menyejukkan, perpaduan antara ekstrak daun mint dan getah damar, langsung menguar ke udara malam, mengusir bau anyir darah yang sempat tertinggal.​Dengan ibu jarinya yang besar dan dipenuhi kapalan tebal, Renshu mengambil sedikit salep berwarna putih bening tersebut.​"Ini akan terasa sedikit menyengat di awal, lalu mendingin," gumam Renshu pelan, matanya sama sekali tidak berani menatap wajah Liying. Pria itu terlalu fokus mengendalikan detak jantungnya sendiri.​"Lakukanlah," bisik Liying.​Sentuhan pertama kulit Renshu di atas lukanya membuat Liying refleks menahan napas. Salep ajaib buatan Meilin itu memang langsung meredam rasa perih yang membakar dagingnya, namun sensasi gesekan pelan dari ibu jari Renshu di telapak tangannya justru memicu kobaran api yang sama sekali berbeda.​Ibu jari pria itu mengusap lembut, memutar pelan untuk memastikan salepnya meresap ke dalam luka robek di telapak tanga

  • Sentuh Aku, Renshu!   11. Air Hangat dan Runtuhnya Tembok Es

    Ujung pedang kayu yang berlumuran darah itu bergetar di depan dada Renshu. Liying masih berdiri dengan sisa-sisa tenaga yang ia miliki, napasnya tersengal, menolak untuk menundukkan pandangannya.​Keheningan yang pekat mengambil alih taman bambu. Angin malam seolah menahan napasnya. Hawa membunuh dan tekanan intimidasi yang sedari tadi dipancarkan oleh Renshu menguap tak berbekas, digantikan oleh keheningan yang menyesakkan dada.​Perlahan, Renshu mengangkat tangan kanannya. Bukannya membalas serangan atau membentak seperti sebelumnya, jemari besar yang dipenuhi kapalan itu dengan sangat lembut menggenggam bilah pedang kayu Liying. Ia menurunkannya perlahan, menjauhkan beban berat itu dari cengkeraman tangan sang Putri yang sudah hancur.​"Latihan malam ini selesai," ucap Renshu pelan. Suara baritonnya kini terdengar sangat serak dan dalam.​Liying mengerjap. Begitu pedang kayu itu terlepas dari tangannya, seluruh sisa tenaga di kakinya seolah menguap. Tubuhnya terhuyung ke depan. Nam

  • Sentuh Aku, Renshu!   10. Air Mata Darah Sang Teratai

    ​Hitungan ke-seratus akhirnya terlampaui. Napas Liying memburu, terdengar kasar dan menyakitkan memecah kesunyian malam. Keringat membasahi pelipis dan punggungnya, membuat helaian rambutnya menempel berantakan di wajah pucatnya.​Kedua lengannya terasa seperti terbuat dari timah panas. Pedang kayu di genggamannya bergetar hebat. Namun, belum sempat gadis itu mengambil napas panjang, bayangan Renshu tiba-tiba melesat ke arahnya.​"Angkat pedangmu! Musuh tidak akan menunggu napasmu teratur!" bentak Renshu.​Prajurit itu tidak lagi menggunakan ranting bambu. Kali ini, ia memegang pedang kayunya sendiri dan mengayunkannya lurus ke arah bahu Liying. Meski Renshu sudah menahan sembilan puluh persen tenaganya, tekanan angin dari ayunan pedang pria bertubuh besar itu tetap terasa mengerikan bagi seorang pemula.​Mata Liying membelalak panik. Insting bertahannya mengambil alih, namun karena kelelahan yang ekstrem, otaknya gagal memproses posisi kuda-kuda yang benar. Ia mengangkat pedang kayun

  • Sentuh Aku, Renshu!   9. Kejamnya Sang Instruktur Bayangan

    ​Angin malam berembus dingin menyapu taman bambu yang tersembunyi di sudut Istana Yanze. Suara gemerisik daun yang bergesekan seolah menjadi satu-satunya saksi bisu dari transformasi yang akan mengubah sejarah kekaisaran.​Liying melangkah keluar dari bayang-bayang. Ia telah menanggalkan jubah sutra mewahnya, menggantinya dengan setelan kain katun gelap yang ringkas dan mengikat rambut panjangnya tinggi-tinggi. Di dadanya, tekad menyala begitu terang. Dalam imajinasi naifnya, latihan malam ini akan dipenuhi oleh gerakan-gerakan pedang yang elegan, indah layaknya tarian, didampingi oleh Renshu yang akan memandunya dengan penuh kelembutan.​Namun, imajinasi itu hancur berkeping-keping di detik pertama ia menginjakkan kaki di tanah lapang.​Renshu berdiri membelakanginya, menyatu dengan kegelapan. Postur pria itu tak lagi menunduk hormat seperti seorang pelayan, apalagi memancarkan kehangatan gairah seperti semalam. Hawa di sekitarnya terasa membekukan tulang. Saat pria itu berbalik, sep

  • Sentuh Aku, Renshu!   8. Tamu Tak Diundang di Taman Bambu

    Tangan Renshu baru saja menyusup lebih jauh ke balik sutra jubah Liying. Napas mereka memburu, berpadu dalam gairah yang nyaris meledak di bawah bayangan pohon bambu raksasa. Bibir Renshu turun, bersiap untuk memberikan tanda kepemilikan baru di atas tulang selangka sang Putri.KRAK!Bunyi ranting patah yang sangat keras memecah keheningan malam, disusul oleh suara bisikan panik yang berdesis dari balik semak-semak lebat tak jauh dari mereka."Aduh, Xiaoxiao! Jangan dorong-dorong! Nanti kita ketahuan, bodoh!""Ssst! Kak Meilin yang menginjak rantingnya! Mundur sedikit, aku mau lihat Kak Renshu—"Seketika, atmosfer gairah yang pekat itu menguap tanpa sisa. Dalam sepersekian detik, otot-otot Renshu yang tadinya menegang karena hasrat berubah menjadi baja pelindung. Insting pembunuhnya menyala terang. Pria itu menyentakkan tubuh Liying ke balik punggung lebarnya untuk melindunginya, sementara tangan kanannya mencabut pedang dari sarungnya dengan suara desingan logam yang mematikan."Siap

  • Sentuh Aku, Renshu!   7. Candu di bawah cahaya bulan

    Malam telah larut menyelimuti ibu kota Kekaisaran Yanze. Di dalam Paviliun Kaca Kusam yang mewah, keheningan justru terasa mencekik.​Yan Liying duduk meringkuk di sudut ranjang besarnya, memeluk kedua lutut dengan tubuh yang bergetar tak terkendali. Sensasi dingin dari ujung jari Putra Mahkota Bojing yang menyentuh kerahnya siang tadi terus merayap di kulitnya, seolah ada ribuan lipan berbisa yang menggerayangi lehernya. Rasa mual yang pekat mengaduk-aduk isi perutnya hingga ia sulit bernapas. Ia telah mandi menggunakan kembang tujuh rupa dan menggosok kulitnya dengan kain kasar hingga memerah, namun ia tetap merasa kotor. Sangat kotor.​Sentuhan Bojing siang tadi telah merobek paksa sebuah kotak pandora di dalam kepalanya, melepaskan kembali ingatan paling mengerikan yang selama lima tahun ini ia kubur dalam-dalam.​Ingatan Liying terlempar mundur ke sebuah malam musim dingin saat ia masih berusia lima belas tahun.​Saat itu, ia nekat menyelinap keluar mencari anak kucingnya yang hi

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status