Mag-log inPagi itu hujan turun tipis, meninggalkan genangan air yang memantulkan cahaya pucat dari langit berawan kota Wellington. Udara membawa aroma tanah basah, bercampur wangi samar bunga yang mulai mekar di sudut taman.
Tangannya yang ramping menggenggam cangkir kopi kertas yang sudah mulai kehilangan panasnya, namun ia tak berniat menyesapnya lagi. Pandangannya terarah pada gerbang kecil berwarna biru di ujung halaman, tempat anak-anak berlarian dengan seragam kuning cerah, tertawa dan men
Morgan Lowell.Nama lengkap pengawal pribadi Valeriah Collinds Maximoff.Usianya tiga puluh tiga tahun, dengan tubuh tinggi tegap yang sudah terbiasa ditempa latihan fisik dan disiplin militer. Pria itu memiliki paras tampan, rahang tegas, hidung lurus, dan sorot mata kecoklatan dingin yang sering kali membuat orang segan menatap terlalu lama.Namun di balik ketegasan itu, ada sisi lain yang jarang terlihat yaitu sebuah kesabaran tak terbatas untuk satu orang: Valeriah.Ia bukan sekadar majikan.Bagi Morgan, gadis itu sudah lebih dari sekadar “tugas.” Sejak menerima kontrak kerja sebagai pengawal pribadi, Morgan tahu risikonya. Melindungi Valeriah dari ancaman luar, dari keluarga yang berbahaya, bahkan dari para pria. Namun ia tidak pernah membayangkan kalau “risiko terbesar” justru adalah perasaannya sendiri.Hari itu, saat mobil hitam melaju membelah jalanan Edinburgh yang lengang, Morgan menangkap bayangan Valeriah
Infimary Hospital, Edinburgh Skotlandia“Semuanya tampak normal, Nona. Tidak ada tanda-tanda penyakit menular atau infeksi serius” ucap Dr. Alice sembari menatap layar monitor.Valeriah menghela napas lega, namun senyum tipis itu langsung memudar saat dokter menambahkan dengan nada hati-hati“Hanya… ada bekas lecet di dinding rahim. Sepertinya ini dari aktivitas seksual sebelumnya. Tidak ada yang membahayakan kesehatan Anda secara keseluruhan, tapi memang cukup signifikan sehingga perlu istirahat dan perhatian.”Wajah Valeriah langsung memerah, bukan hanya karena malu, tapi juga karena semua yang baru saja terjadi kembali menghantam pikirannya. Napasnya tercekat, dan tangannya menggenggam bawahn dress di pangkuannya lebih erat, seolah ingin menutupi rasa malu dan frustasi yang menderanya.“Terima kasih dokter” Ucap ValeriahValeriah keluar dari ruang periksa dengan langkah pelan, masih memegangi dre
Sosok lelaki dengan tampang rupawan itu menyodorkan tumpukan chip ke dealer dengan tangan tegas, matanya hijau menatap tajam ke atas meja judi. Cahaya lampu temaram memantul di permukaan gelas kristal dan meja hijau, menambah atmosfer ketegangan di ruangan. Setiap gerakan Kaelmore Roderic terlihat penuh kendali, presisi, dan sedikit misterius.“All In” Suara Kaelmore terdengar datar, tapi tegas, menembus riuh musik dan percakapan di klub. Dealer mengangkat alis, sedikit terkejut dengan taruhan yang begitu besar.Di sekeliling meja, tiga perempuan seksi dengan pakaian minim dan wangi parfum yang memikat. Mereka berdiri dekat Kaelmore, tahu jika pria itulah yang paling memikat disana.Tubuh mereka menempel lembut, tangan mereka sesekali menyentuh lengannya, mengusap bahu atau lengan, seolah ingin menggoda sekaligus menunjukkan kekuasaan dunia malam di sekitar pria itu. Tapi Kaelmore tetap tenang. Sorot matanya tetap dingin, menatap kartu dengan fokus t
“Pergilah Larisa” usir KaelPerempuan bergaun merah itu merengut. Bibir tebalnya yang dibalut dengan lipstik merah mengerucut “Aku Melisa bukan Larisa”Valeriah menahan napas, hampir tersedak menahan tawa di balik sorot matanya yang masih menatap Kaelmore. Ia tak bisa menahan bayangan dalam kepalanya: lelaki itu berdiri tegap, tatapan hijau menusuk, tapi dengan mudahnya mengusir perempuan yang jelas ingin mendekatinya.Dalam hatinya, Valeriah bergumam sinis: “Tentu saja. Lelaki ini pasti punya banyak wanita yang bermain-main di sekitarnya. Tampan, kaya, dan penuh wibawa… siapa yang tidak ingin?”Tanpa aba-aba, Valeriah mengambil langkah disisi kanan perempuan itu. Mengabaikan tatapan Kael yang terus mengikutinyaDi ujung koridor, di dekat pintu keluar utama, Morgan sudah berdiri menunggunya. Pengawal setia itu tetap tenang, ekspresinya datar tapi waspada, memindai setiap sudut seolah bisa merasakan bahaya
Langkah-langkah Valeriah terdengar tergesa di sepanjang koridor marmer. Ia meninggalkan ruang lelang yang masih bergemuruh dengan sorak dan tepuk tangan, berusaha menyingkir dari tatapan penasaran para tamu.Nafasnya masih tersengal, pikiran campur aduk antara kagum dan cemas. Semua lukisan yang Valeriah ciptakan kini berada di tangan satu orang. Kaelmore Roderic, lelaki itu.“Pergi tanpa menyapaku, kitten?”Tubuh Valeriah membeku. Perlahan ia menoleh. Di ujung koridor yang diterangi cahaya lampu gantung, Kaelmore berdiri. Tinggi, tegap, dingin, dengan jas hitam sempurna yang seakan menelan seluruh cahaya di sekitarnya. Tatapan hijaunya, menusuk langsung ke dalam diri Valeriah.“Kenapa kau disini?”Kaelmore melangkah mendekat, langkahnya tenang tapi penuh kepastian, membuat marmer di bawah kakinya seakan bergetar halus di telinga Valeriah.“Aku mengikutimu, tentu saja.” Bisik Kaelmore, suara dalam dan ding
Edinburgh, SkotlandiaSuasana sore di Edinburgh dipenuhi cahaya keemasan yang jatuh dari jendela kaca besar galeri tua yang berdiri anggun di jantung kota. Dari luar, bangunan itu tampak megah, dengan pilar-pilar batu abu-abu yang kokoh, menyimpan sejarah panjang seni dan kebudayaan. Begitu pintu kaca besar dibuka, aroma khas cat minyak, kayu tua, dan anggur mahal segera menyergap hidung para tamu yang hadir.Ruangan utama galeri itu dipenuhi percakapan berbahasa Inggris dengan berbagai aksen Eropa. Gaun-gaun mahal bergoyang anggun, jas hitam dengan dasi kupu-kupu berkilau, serta sepatu kulit yang berderap ringan di lantai marmer. Para tamu melangkah perlahan, sebagian berhenti di depan lukisan, sebagian lain berfoto dengan sampanye di tangan.Di salah satu sudut ruangan, Valeriah berdiri. Gaun panjang satin berwarna biru gelap membungkus tubuhnya, kontras dengan kulitnya yang pucat dan rambut hitam panjang yang digelung rendah. Ada sesuatu dalam tatapannya mala
“Valeriah... anak pria itu kan?” Suara Franco terdengar rendah, nyaris seperti bisikan ditelinga LeahMata coklat itu menatap Franco lalu senyum tipis terulas dibibir Leah “Aku tak perlu menjawabnya” ucap LeahFranco menatap Leah dalam diam cukup lama, seakan
Pagi itu langit masih basah oleh sisa hujan malam, udara lembap menempel di kulit Leah saat ia melangkah menuju klinik. Ia mencoba menata napas, membangun kembali rutinitas yang selama ini menjadi satu-satunya pelarian dari kekacauan hidupnya.Tapi ketika pintu klinik diketuk, Leah sedikit
Alesco membuka kemejanya perlahan, gerakannya tenang, terkontrol, seperti setiap detil sudah diperhitungkan. Kainnya jatuh rapi, bahunya menegaskan postur tinggi dan tegasnya. Cahaya dari jendela memantul di rambutnya yang gelap, membuat sorot matanya terlihat lebih dalam dan menusuk.Leah
Hujan menggantung di langit sore, menetes pelan di balik kaca besar ruang praktik Leah Caldwell. Aroma kopi hitam yang sudah mendingin bercampur dengan wangi antiseptik yang menenangkan namun sejak kemarin, aroma itu tak terasa menenangkan lagi.Pikirannya Leah dipenuhi potongan-potongan y







