Home / Fantasi / Mas Yanto Kuli Idaman / Bab 05: Menaklukkan Sang Tengkulak

Share

Bab 05: Menaklukkan Sang Tengkulak

Author: Nytheria_Blue
last update publish date: 2026-07-15 17:57:00

"Ayo, Yanto! Berpikir! Pikirkan ide yang bisa membantu Bu Ningsih dan Mbak Dewi!" gumam Yanto pada dirinya sendiri.

Ia memejamkan mata rapat-rapat. Napasnya ditarik dalam, lalu diembuskan perlahan.

Di tengah kebuntuan itu, pikirannya mulai menyusuri serpihan-serpihan ingatan yang terasa asing sekaligus familiar. Memori yang bukan sepenuhnya milik raga kuli panggul ini.

Perlahan, bayangan masa lalu bermunculan.

Yanto menyaksikan sosok lelaki gagah berpakaian khas Istana Jawa Kuno. Kedua tangannya bergerak luwes, menelusuri tiap lekuk dan titik meridian seorang wanita bangsawan. Setiap usapan hangatnya bukan sekadar menghilangkan rasa sakit, melainkan juga mengalirkan kenikmatan tiada tara.

Lelaki itu adalah Sang Gawok—pewaris keahlian pijat sensual legendaris yang sangat disegani.

Konon, sentuhan magisnya sanggup menaklukkan hati para selir dan putri keraton hingga mereka berlutut dan selalu mendambakan kehangatan jemarinya.

Semakin dalam Yanto menyusuri lorong ingatan itu, kepingan memori lain mendadak menyengat otaknya.

Tampak sosok selir berparas jelita yang dulu paling angkuh dan sering meremehkannya. Namun begitu merasakan racikan pijatan meridian Sang Gawok, keangkuhan wanita itu leleh seketika, berganti menjadi candu dan desahan pasrah yang memohon untuk dipijat lagi.

Yang membuat Yanto tersentak bukan cuma memori sensual itu, melainkan raut wajah sang selir.

'Lho? Kenapa wajah selir keraton itu mirip banget sama Bu Broto, tengkulak kaya desa ini?' batin Yanto keheranan. Temuan itu mendadak menyulut ide cemerlang di kepala Yanto. Seringai tipis penuh percaya diri perlahan terukir di bibirnya. Keahlian Gawok-nya bukan cuma bisa menyembuhkan, tapi juga jadi mesin pencetak uang dari wanita-wanita kaya.

Namun, kontras dengan Yanto yang baru menemukan titik terang, kepanikan mendalam justru masih mencengkeram Bu Ningsih dan Dewi.

"Gimana ini, Bu?" Dewi mengguncang pelan lengan sang ibu, air mata kekhawatiran kembali menggenang di pelupuk matanya. Bayangan mengerikan ketika Pak Karto menyerahkannya pada juragan kota berbadan tambun membuat napas gadis polos itu tersengal ketakutan. "Kita benar-benar nggak ada uang."

Bu Ningsih hanya bisa mengelus dadanya yang terasa sesak. Wajah janda itu pucat pasi, tak sanggup memberikan jawaban pasti pada putrinya.

"Ibu juga bingung, Nduk. Ibu nggak tahu harus cari pinjaman ke mana lagi," lirih Bu Ningsih pasrah.

Di saat kedua wanita itu diliputi keputusasaan, Yanto perlahan membuka matanya. Kepalanya terangkat tegap, menatap ibu dan anak yang bersimpuh panik di hadapannya.

"Benar juga!" cetus Yanto refleks. Suaranya lantang dan mantap, memecah kesunyian ruangan. "Kenapa aku nggak buka jasa pijat aja?"

"Apa, To?" sahut Bu Ningsih dan Dewi bersamaan. Kedua wanita itu mendongak kaget, menatap Yanto dengan dahi berkerut bingung.

Yanto membusungkan dada, melangkah mendekat dengan tatapan mata yang memancarkan aura wibawa.

"Aku tahu cara untuk membantu kalian," tegas Yanto sambil menatap kedua ibu dan anak itu secara bergantian.

Yanto mengangguk mantap. "Aku mendadak ingat rahasia keahlian pijat penyembuhan dari leluhurku. Setelah kejadian kemarin, semua ilmu itu seperti menyatu di kepalaku, dan aku yakin sanggup menyembuhkan berbagai penyakit," ujar Yanto penuh karisma. 'Dengan keahlian meridian Gawok, aku bisa memijat wanita-wanita berduit di desa ini untuk melunasi hutang Mbak Dewi dan Bu Ningsih.'

Dewi masih tampak ragu. Pandangannya menyusuri postur Yanto yang kini tampak lebih tegap, padat, dan tidak seruntang-ranting dulu.

"Apa kamu benar-benar yakin, Mas?" tanya Dewi ragu, menatap Yanto dengan mata polosnya.

Yanto tersenyum tipis. Tatapannya beralih menatap Bu Ningsih yang berdiri di sebelah Dewi.

"Tentu saja, Mbak. Pijatanku bukan pijat biasa. Bu Ningsih sendiri sudah merasakannya kemarin, kan?" pancing Yanto dengan nada tenang namun sarat akan makna rahasia.

"E-eh? I-iya, Nduk..." Bu Ningsih tersentak kaget. Wajah janda itu seketika memerah padam. Bayangan jemari hangat Yanto yang merayap di pinggulnya kemarin sore mendadak berputar liar di kepalanya, membuat napasnya sedikit tertahan.

"P-pijatan Yanto memang beda banget. Encok Ibu langsung sembuh total dalam sekejap," tambah Bu Ningsih terbata-bata seraya mengalihkan pandangan, tak berani menatap mata Yanto yang penuh percaya diri.

Yanto tersenyum dominan melihat respons Bu Ningsih.

"Dan targetku bukan sembarang orang," lanjut Yanto bernada protektif. "Aku cuma mau mijat wanita-wanita kaya yang punya masalah kesehatan kronis. Kalau mereka sembuh, bayarannya pasti besar. Mbak Dewi, apa kamu kenal orang kaya yang lagi sakit di desa ini?"

Dewi memiringkan kepalanya, mengernyitkan dahi berusaha mengingat-ingat. Tak lama, mata bulatnya berbinar terang.

"Aku ingat, Mas!" seru Dewi bersemangat. "Majikanku, Bu Broto! Dia tengkulak paling kaya di desa ini yang bertahun-tahun menderita migrain kronis. Katanya sudah berobat sampai ke spesialis kota, tapi penyakitnya nggak pernah sembuh."

Seringai puas perlahan terukir di bibir Yanto. 'Paten! Muka Bu Broto yang mirip persis sama selir angkuh di ingatanku itu ternyata kuncinya!'

"Tapi ada satu kendala, Mbak," tutur Yanto seraya mengusap pelan dagunya. "Bu Broto itu kan terkenal sombong dan pemilih. Gimana caranya kuli biasa kaya aku bisa masuk ke rumah mewahnya?"

Dewi sempat menghela napas panjang. Wajahnya menunjukkan sedikit rasa cemas mengingat betapa galak dan judesnya sang majikan sehari-hari.

Namun, begitu melihat tatapan tegap Yanto yang memancarkan aura keyakinan luar biasa, keraguan Dewi menguap seketika.

"Kalau soal itu, Mas Yanto tenang aja," ujar Dewi mantap. Gadis polos itu memberanikan diri menyentuh lengan berotot Yanto, menatap pemuda itu dengan binar kagum yang tak bisa ia sembunyikan. "Aku kan kerja di sana. Besok pagi aku yang bakal bujuk Bu Broto supaya mau ngasih Mas Yanto kesempatan."

Yanto menatap jemari halus Dewi di lengannya, lalu mengusap pelan kepala gadis itu hingga pipi Dewi memerah padam.

"Terima kasih, Mbak," ucap Yanto lembut namun penuh keintiman. Tatapannya beralih menatap lurus ke depan dengan sorot mata yang makin tajam. "Kita punya waktu tiga hari buat bikin tengkulak sombong itu berlutut dan bayar mahal keahlianku."

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Mas Yanto Kuli Idaman   Bab 150

    Dewi duduk di tepi tempat tidur kayu berseprai halus. Wajah ayunya memancarkan rona kelelahan yang manis usai seharian penuh mengawasi administrasi dan melayani rombongan ibu-ibu pejabat yang berobat di ruang pendaftaran depan. Pintu kamar berderit pelan lalu terkunci dengan suara klek yang halus. Yanto melangkah masuk dengan postur tubuhnya yang tinggi tegap. Pemuda mantan kuli panggul pasar itu membawa mangkuk kecil berisi minyak zaitun racikan herbal Gawok yang beraroma wangi melati. "Mbak Dewi capek ya hari ini?" tegur Yanto rendah, suaranya bernada bass dalam yang amat menenangkan batin sang istri. Dewi mendongak, menyunggingkan senyum manisnya walau mata jernihnya tampak agak sayu. "Lumayan, Mas..." cicit Dewi halus seraya merapikan daster batik sutranya. "Bahuku agak pegal-pegal gara-gara duduk lama mengurus buku pendaftaran tadi." Yanto mendudukkan diri di atas tempat tidur, meletakkan mangkuk minyak herbal di atas meja rias. "Sini... membelakangi saya," perintah Yanto

  • Mas Yanto Kuli Idaman   Bab 149: Hari Hari Damai

    "Mas Yanto!" panggil Dewi lembut seraya melangkah mendekati pagar balkon lantai dua. "Ibu sama Mbak Sari sudah menunggu di meja makan!" Yanto memalingkan pandangannya dari lanskap gemerlap kota yang membentang luas. Pemuda mantan kuli panggul itu menyunggingkan senyum miring berkarisma maskulin, membusungkan dadanya yang bidang berbalut kemeja batik rapi. "Iya, Mbak Dewi... Saya langsung ke dalam," sahut Yanto rendah, suaranya bernada bass berat yang bergema hangat di udara pagi. Dewi tersenyum manis, menyusupkan jemari lentiknya yang berhiaskan cincin emas pernikahan ke dalam genggaman tegap Yanto. Pendar halus energi murni Gawok mengalir tipis dari telapak tangan Yanto, menyebarkan kehangatan dan kebahagiaan mutlak di dada sang kembang desa. Sinar mentari pagi yang memancar keemasan menembus kaca balkon, menyinari seluruh sudut gedung ruko dua lantai yang megah. Di sepanjang pekarangan marmer luar, deretan karangan bunga papan ucapan selamat dari para pejabat provinsi, Pak Wal

  • Mas Yanto Kuli Idaman   Bab 148: Pesta Syukuran

    "Ayo, Mbak Dewi... Semua barang perbekalan dari desa sudah siap di bagasi SUV," panggil Yanto seraya membetulkan kancing kemeja batiknya di pelataran teras. Dewi melangkah keluar dari pintu kayu rumah Bu Ningsih, membetulkan letak selendang batik cantiknya dengan binar mata bahagia. "Sebentar, Mas Yanto!" sahut Dewi manis. "Ini aku lagi pamitan sama Bu RT sama ibu-ibu pengajian yang ikut mengantar di teras." Bu Ningsih dan Bu RT tersenyum haru, mengusap pelan bahu mungil kembang desa yang kini telah resmi disunting oleh pemuda paling berwibawa di kabupaten tersebut. "Hati-hati di kota ya, Dewi, Bu Ningsih..." bisik Bu RT penuh rasa hormat. "Jaga baik-baik Mas Yanto, kebanggaan desa kita." Yanto membusungkan dadanya yang bidang, membukakan pintu depan SUV hitam berkilat untuk sang istri. "Nggih, matur nuwun semuanya... Kami pamit kembali ke tempat praktik di kota." SUV hitam itu pun perlahan meluncur mulus membelah keheningan desa, melintasi hamparan sawah hijau menuju Jala

  • Mas Yanto Kuli Idaman   Bab 147: Bisikan Panas

    "Mas Yanto... kunci pintunya sudah di-slot belum?" bisik Dewi pelan seraya membetulkan tali gaun tidur sutra merah mudanya di tepi tempat tidur kayu. Yanto berbalik dari arah pintu kamar. Pemuda itu menyunggingkan senyum miring berkarisma maskulin, membusungkan dadanya yang bidang berbalut sarung tenun tanpa kemeja. "Sudah rapat, Mbak Dewi," jawab Yanto rendah, suaranya bernada bass berat yang bergema hangat di dalam kamar beraroma melati. "Ndak bakal ada yang mengganggu kita malam ini." Pipi mulus Dewi seketika membara merah merona. Gadis kembang desa yang kini resmi menjadi istri sah Sang Master Terapi itu menunduk malu, meremas ujung selimut dengan jemari lentiknya yang gemetar halus. Yanto memangkas jarak, melangkah tegap hingga lututnya menyentuh tepi kasur busa. Tanpa ragu, telapak tangan besarnya yang hangat terulur merengkuh lembut pinggul mungil Dewi, menarik tubuh molek sang istri merapat ke dalam dekapannya. Deg. Tubuh Dewi bergetar halus sewaktu dadanya yang s

  • Mas Yanto Kuli Idaman   Bab 146: Hari-Hari Pengantin Baru

    Sinar mentari pagi yang hangat menembus celah-celah jendela kayu rumah Bu Ningsih di Desa Karanganyar. Aroma harum rebusan nasi tiwul, sayur lodeh, dan jahe rempah menyelimuti seluruh area dapur belakang yang bersih. Dewi berdiri anggun di tepi meja kayu, menyeduh teh hangat ke dalam beberapa cangkir seng. Langkah kakinya kini tampak amat tegap dan mantap, memancarkan pendar kebahagiaan murni seorang wanita yang telah resmi menjadi istri sah Sang Master Terapi. Bu Ningsih melangkah mendekat seraya membawa piring penganan tiwul manis, menatap putri tunggalnya dengan mata berbinar haru. "Pripun rasane dadi bojone Mas Yanto, Nduk?" goda Bu Ningsih manis dengan binar mata bahagia. "Wis bahagia toh atimu?" Pipi mulus Dewi seketika membara merah merona bagai buah tomat matang. Gadis itu menunduk malu, merapatkan cangkir tehnya. "I-Ibu ini..." cicit Dewi parau nan manis. "Mas Yanto itu beneran pria sejati, Bu... Sangat lembut, pengertian, dan selalu bikin aku ngerasa aman." Yanto

  • Mas Yanto Kuli Idaman   Bab 145: Ijab Kabul

    "Pripun, Mas Yanto? Sudah siap?" tanya Penghulu ramah seraya membuka kitab catatan nikah resmi.Yanto duduk bersila tegap di pelaminan kayu jati rumah Bu Ningsih, membusungkan dadanya yang bidang berbalut beskap batik keemasan."Inggih, Pak Penghulu," jawab Yanto rendah, suaranya bernada bass berat yang bergema mantap. "Saya siap."Dewi melangkah keluar dari kamar dalam dituntun oleh Bu Ningsih dan Mbak Sari. Gadis kembang desa itu tampil amat cantik berbalut kebaya pengantin putih keemasan dengan paes dan ronce melati segar.Dewi mendudukkan diri secara anggun di samping Yanto, meremas pelan kain jariknya dengan jemari yang gemetar halus oleh keharuan mendalam.Penghulu menjabat erat cengkeraman tangan tegap Yanto. Suasana terop janur kuning pekarangan seketika hening mencekik, seluruh warga menahan napas khidmat."Saudara Yanto bin Ahmad," ucap Penghulu dengan suara tegas nan mantap. "Saya nikahkan dan saya kawinkan engkau dengan Dewi Novitasari binti Sukardi, dengan mas kawin seper

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status