Share

5. Dia?

Author: Sal.Sal
last update publish date: 2025-11-12 21:02:18

Mendengar bisikan Rey, Aina menatap Rey sejenak. Tanpa sadar ia justru menganggukkan kepalanya.

Rey yang mendapatkan lampu hijau dari Aina itu langsung tersenyum dan mulai memposisikan dirinya.

“Ah… sakit Rey," teriak Aina saat merasakan sesuatu yang asing menerobos tubuhnya.

Dengan mencium lembut kening Aina,  Rey berkata, “Maaf, tapi setelah ini aku pastiin kamu hanya akan mengalami kenikmatan yang ga pernah kamu rasakan.”

Dan benar saja, setelah ucapannya itu. Rey mulai bergerak pelan. Aina yang awalnya merasakan sakit yang tiada tandingannya. Kelama-lamaan rasa sakitnya itu berubah menjadi suatu kenikmatan yang dahsyat yang memang tidak pernah dirinya rasakan sebelumnya.

Di tengah pergulatan yang semakin panas itu, Aina hanya bisa menggigit bibirnya, menahan desahan yang ingin kembali keluar dari mulutnya. 

Setelah  satu jam pergulatan panas itu berlangsung, Aina yang merasakan akan mengalami pelepasan untuk ketiga kalinya. Tidak bisa lagi menahan desahannya. “Nghhh—Rey…Ahhhh.”

Namun, saat sudah lemas seperti itu. Rey yang menggaulinya tidak kunjung juga memperlihatkan tanda-tanda ingin mengalami pelepasannya. Bahkan saat satu jam kembali berlalu, Rey masih tetap bergerak di atas tubuhnya.

’Mungkin karena masih muda, jadi staminanya masih sangat kuat,’ pikir Aina. Tapi, saat setengah jam lagi berlalu dan Rey belum juga mengalami pelepasannya.

Aina yang sudah tidak tahan lagi, Akhirnya berkata,  “Rey, a—aku cape.”

Rey yang sebenarnya belum ingin mengalami pelepasan. Namun, saat melihat wajah Aina yang sudah sangat letih. Akhirnya mengalah juga.

“Ahh…Aina,” desah Rey yang menjadi akhirnya kegiatan panas mereka.

***

Paginya, Aina yang bangun lebih awal. Langsung menyambar pakaiannya yang berserakan di lantai dan memakainya kembali.

Setelah selesai berpakaian, dengan menatap dalam wajah Rey yang masih tertidur pulas. Aina mulai mengeluarkan uang yang lumayan besar di dalam tasnya dan meletakkannya di atas meja samping tempat tidur. 

Dengan mencium kening Rey yang masih tertidur. Aina bergumam. “Selamat tinggal Rey.”

Dengan langkah pasti, Aina  mulai meninggalkan kamar hotel yang menjadi saksi bisu percintaan panas dirinya dan pria muda yang disewanya semalam. Tak ada rasa penyesalan di hatinya, yang ada malah rasa puas. Karena dirinya berpikir, mungkin ini akan menjadi pengalaman pertama dan terakhirnya dalam berhubungan badan bersama seorang pria.

“Dari mana saja kamu Aina?” tanya Hans, saat melihat Aina melangkah masuk ke dalam rumah besar mereka.

Aina mendengus, namun tak lama senyum tipis terpasang di wajahnya. “Dari mana lagi? tentu saja aku habis menuruti suruhan kamu.”

Hans hanya bisa  mengernyitkan dahi dengan raut wajah herannya. “Maksudnya?”

“Menyewa seorang pria dan bersenang-senang semalaman,” ucap Aina dengan suaranya yang sangat datar, namun penuh tekanan.

Hans tampak mengerutkan dahinya. “Apa kamu benar-benar melakukannya?

Aina tersenyum kecil lalu menyibak sedikit rambutnya. “Tentu saja. Kamu nggak lihat beberapa tanda merah di leherku?”

Tanda-tanda itu jelas terlihat begitu rambutnya tersingkap. Hans melihatnya sekilas, tatapannya tetap kosong, tak ada sedikit pun perubahan ekspresi.

“Ya sudah,” ucapnya ringan, seperti baru diberi tahu hal sepele. “Kalau itu bikin kamu berhenti nuntut aku buat nyentuh kamu, bagus.”

Aina terdiam. Ada sedikit jeda menunggu, berharap mungkin ada secuil reaksi, sedikit rasa tidak suka, atau sekadar tanda bahwa suaminya peduli.

Tapi Hans hanya menarik napas pendek, mengambil tas kerjanya, dan mengatur jam tangannya. “Aku berangkat dulu.”

“Itu aja reaksimu? Kamu nggak marah?” tanya Aina pelan, meski ia tahu jawabannya mungkin menyakitkan.

Hans hanya menoleh sebentar. “Kenapa harus marah? Kamu lakukan apa yang kamu mau. Itu urusanmu.”

Hans sudah melangkah menuju pintu kamar, tangannya hampir menyentuh gagang ketika suara Aina yang pelan namun penuh sindiran terdengar jelas di belakangnya.

“Kayaknya … emang beneran kamu gay,” cibir Aina lirih,

Langkah Hans langsung berhenti. Ia menoleh perlahan, ekspresinya tetap datar namun matanya jelas menegang.

“Apa katamu?” suaranya rendah, tidak sekaku tadi.

Aina menyilangkan tangan, pura-pura santai. “Ya… apa lagi alasannya kamu gak pernah mau sentuh istrimu sendiri? Bahkan waktu aku bilang sewa pria, kamu setuju duluan. Normalnya, laki-laki mana yang kayak gitu?”

Hans mengecap bibir, menahan diri. “Itu tidak ada hubungannya dengan orientasi seksualku.”

Aina mendengus, tersenyum pahit. “Masa? Karena normalnya, laki-laki mana yang nolak istrinya sendiri? Bahkan waktu aku bilang aku sewa pria, kamu bukan marah… malah keliatan lega.”

Wajah Hans mengeras. Ia menurunkan sedikit tas kerjanya, seperti tidak nyaman dengan arah pembicaraan ini. “Aku tidak marah bukan berarti aku gay, Aina. Jangan asal ngomong.”

Setelah itu, Hans kembali melangkah dan meninggalkan Aina yang masih kesal.

***

Seminggu berlalu sejak malam panas itu. Aina perlahan bisa bernapas normal lagi meski bayangan tubuh Rey tetap sesekali muncul tanpa permisi. Hari ini pun ia berusaha fokus pada rutinitas seperti biasa.

Aina telah mengambil tasnya, hari ini ia akan menghadiri pesta ulang tahun temannya. Namun, sejak tadi ia tak melihat Pak Samsul, sopir pribadinya.

Ketika Aina ingin pergi ke ruang belakang untuk mencari Pak Samsul, Hans muncul dari arah ruang kerja dengan wajah datarnya.

“Aina,” panggil Hans. “Ada yang mau aku omongin.”

Aina berhenti, menoleh. “Tumben. Ada apa?”

Hans menghela napas pendek, menatap Aina seolah ingin memastikan reaksinya. “Soal Pak Samsul.”

Aina langsung menegang sedikit. “Kenapa? Oh iya, dia kemana ya? Aku mau pergi ke ulang tahun temanku sekarang.”

Hans memasukkan satu tangan ke saku celananya. “Dia berhenti.”

Aina mengerjap, tidak percaya. “Berhenti? Kok nggak bilang apa-apa ke aku?”

“Dia tadi pagi telepon aku,” jawab Hans santai. “Istrinya di kampung kena stroke. Nggak ada yang jaga. Dan dia bilang usianya juga sudah tua. Kayaknya dia udah nggak kuat lagi kalau harus nyetir jauh-jauh setiap hari.”

Aina terdiam. Ia tahu Pak Samsul memang sudah lama bekerja pada keluarga Hans, bahkan sebelum ia menikah. Usianya pun sudah mendekati enam puluh.

“…Ya Tuhan,” gumam Aina pelan. “Pantesan dari kemarin nggak masuk.”

Aina ingat, sejak kemarin sopirnya memang tidak ada di rumah itu. Kata Mbok Sum, ART di rumah mereka, Pak Samsul tidak enak badan, tapi ternyata istrinya juga sakit parah.

Aina menarik napas dalam. Ada rasa kehilangan. Pak Samsul selalu ramah, sopan, dan baik.

“Tapi aku kan ada janji sama Amel sore ini,” ucap Aina sambil memijat pelipisnya. “Kamu tahu sendiri aku nggak bisa nyetir, Hans. Masa aku naik taksi online?”

Hans menatapnya singkat. “Udah aku gantiin.”

Aina mengerjap. “Maksudnya?”

“Ada sopir baru. Rekomendasi dari Pak Samsul. Katanya bisa mulai hari ini. Dia ponakan Pak Samsul juga, jadi pasti aman.”

Aina sedikit lega. “Oh… syukurlah kalau gitu—”

Tiba-tiba, bel pintu berbunyi.

“Kayaknya itu sopir penggantinya.” Hans langsung bergerak tanpa banyak bicara, ia berjalan ke pintu dan langsung membukanya tanpa menunggu.

Begitu pintu terbuka, pria di luar langsung memberi salam sopan. “Pagi, Pak. Saya keponakan Pak Samsul yang akan jadi sopir pengganti.”

Aina, yang baru sampai di belakang Hans, terangkat wajahnya secara refleks.

Dan saat melihat siapa yang berdiri di ambang pintu—

Dadanya langsung berhenti bergerak.

Rey.

Pria yang membuatnya dibanjiri kenikmatan di ranjang seminggu lalu… kini akan jadi sopir pribadinya?!

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Sentuhan Berondong Sewaanku   TAMAT

    Setelah tiga puluh menit kepergian Hans. Aina yang masih terdiam termenung di mejanya, seketika mengalihkan perhatiannya saat mendengar bunyi notif ponsel. “Key.” Keningnya berkerut saat melihat nama Key adalah orang yang mengirimi pesan. Aina berdiri dari duduknya dengan raut wajah yang sangat tegang, karena melihat isi pesan dari Key yang mengatakan bahwa Rey sudah sadar. Tanpa berlama-lama dan memperdulikan dirinya yang sedang hamil, Aina berlari lumayan kencang menuju keluar. Setelah menempuh perjalanan kurang lebih lima belas menit, akhirnya Aina sampai juga di depan ruang rawat Rey. Dengan dada berdetak tak karuan, Aina pelan-pelan membuka pintu di depannya dan tampaklah Key serta putranya berdiri di samping ranjang yang di isi oleh sosok Rey yang kedua bola matanya sudah terbuka lebar. “Rey!” Panggilnya yang langsung berlari dan memeluk tubuh Rey dengan erat. “Siapa?” Tiba-tiba saja pertanyaan tak terduga muncul dari mulut Rey. Jantung Aina seketika seperti berhenti b

  • Sentuhan Berondong Sewaanku   Aku Harap Kamu Juga Bahagia

    ‎Di dalam Cafe yang lokasinya dekat dengan rumah sakit tempat Rey dirawat, terlihat Aina sedang duduk dengan Hans yang berada di depannya. “Jadi apa yang mau kamu bicarain?” Tanyanya karena tadi saat dirinya sedang menjaga Rey tiba-tiba saja Hans mengirim pesan yang memintanya untuk bertemu.‎Hans menghela napas pelan. Sorot mata saat melihat Aina, tampak sangat dalam. “Aina, ayo bercerai!”‎Aina terkejut. Bagaimana pun setelah kejadian dua Minggu lalu, tak pernah lagi ada yang menyinggung soal perceraian mereka. Itu dikarenakan dirinya terlalu fokus mengurusi Rey yang sedang koma sedangkan Hani tiba-tiba pindah ke kota kelahirannya karena rasa bersalahnya atas penculikan Arya serta ingin menghabiskan masa tua di sana. “Kenapa tiba-tiba? Apa Mamah yang nyuruh?”‎Hans menggelengkan kepalanya cepat. “Kamu kan tau setelah penculikan Arya, seberapa besar rasa bersalah Mamah sama kamu. Bahkan dia baru sadar, kalo rasa sayangnya sama Arya itu sangatlah besar walaupun sudah tau anak itu buka

  • Sentuhan Berondong Sewaanku   Koma

    ‎Dua menit Aina menutup kedua matanya dan tak berani melihat apa yang terjadi. “Aku bilang jangan gila, Dini!” Tiba-tiba saja terdengar suara Rey yang menggema dan membuat Aina dengan refleks membuka kedua matanya. “Rey!” Panggilnya, melihat dengan jelas Rey sedang mencengkram tangan Dini yang memegang pistol ke arah atas. Dialihkanlah pandangan Aina pada putranya, yang tampak masih bernyawa namun mengeluarkan air mata yang deras dengan tubuh yang gemetar hebat. “Kak Rey, lepas!” Terdengar suara Dini berteriak meminta Rey melepaskan tangannya. “Ga akan.” Rey dengan tegas menjawab dan berusaha mengambil alih pistol di tangan Dini. Dini dengan sekuat tenaga, tak membiarkan Rey mengambil alih pistolnya. Tampak dirinya dengan susah payah melepaskan tangan Rey yang berusaha merebut pistolnya itu. Saat aksi rebut-rebutan itu terjadi. Aina yang dari tadi menangis, mulai memanfaatkan situasi untuk melepaskan Arya. Di saat Arya sudah terlepas, Aina langsung memeluk tubuh kecil itu d

  • Sentuhan Berondong Sewaanku   Ucapkan Selamat Tinggal

    ‎Walaupun Rey merasa terkejut, namun ia yang sudah menduga Dini akan meminta hal seperti itu setelah dirinya memecat Dini dan mengetahui betapa obsesinya wanita itu padanya. Tentu membuatnya hanya bisa menghela napas dengan berat. “Oke, aku setuju. Jadi sekarang, lepaskan anakku Dini.”‎Bukannya merasa senang setelah mendengar persetujuan Rey, Dini malah tertawa sinis. “Apa Kak Rey pikir aku bodoh?!” ‎Rey tentu tak mengerti, kenapa Dini tiba-tiba mengatakan hal itu. “Maksud kamu?”‎Dini menatap tajam wajah Rey. “Kak Rey menyetujui itu cuma sekedar formalitas kan?! Sebenarnya Kakak udah merencanakan hal lain, seperti menyerahkan Dini pada polisi yang udah Kakak hubungi dan suruh ke lokasi ini.”‎Rey tentu terkejut mendengar Dini yang tau rencananya. “Kenapa kamu bisa tau?”‎Dini tersenyum miris. ”Hanya tebakan, tapi ternyata memang benar.” ‎Rey tentu merasa bodoh, karena secara tidak langsung mengiyakan apa yang Dini yakini. “Aku akan hubungi polisi untuk memintanya tak jadi kesini.

  • Sentuhan Berondong Sewaanku   Hidup Bersama

    Aina tentu kaget mendengar ucapan Rey barusan. “Apa, jadi ini maksudnya...”‎Belum sempat ucapan Aina selesai, tiba-tiba terdengar suara Hans yang memotong ucapannya.‎“Sialan!” Umpat Hans dengan marah. “Jadi wanita yang culik Arya itu Dini." Gumamnya entah pada siapa, namun tetap saja terdengar oleh Aina dan Rey.‎Rey tentu saja bisa menyimpulkan apa yang terjadi pada putranya dari ucapan Hans barusan. “Jadi Arya bener-bener ga ada sama kalian?” Tanyanya memastikan. ‎Hans tak menjawab, ia malah tampak mulai fokus lagi pada ponselnya seperti sedang mengetik pesan pada seseorang.‎Rey tentu kesal atas sikap pria di depannya. Namun, karena ia tak mau bertengkar saat ada permasalahan yang sangat genting mengenai sang putra. Tentu membuatnya dengan sekuat tenaga, menahan kekesalannya itu.‎Di sis lain, Aina yang berusaha mencerna apa yang terjadi. Akhirnya mengeluarkan suara. “Jadi yang pasti, ini ada apa? Kenapa bisa Arya diculik dan penculiknya itu Dini?” ‎Hans yang sudah berbalas pes

  • Sentuhan Berondong Sewaanku   Penculikan Arya

    ‎Hans menghela napas. Sorot mata yang tak bisa di artikan, ia alihkan pada Rey yang masih terdiam di sampingnya. “Sebaiknya kamu keluar, saya ingin berbicara berdua bersama Istri saya tentang anak kami.”‎Rey yang tak terima, bergegas menjawab. “Maaf, tapi Arya anak saya bukan anak anda. Jadi sudah sepantasnya, saya juga tau apa yang terjadi pada putra saya.”‎Senyum sinis di wajah Hans, terpancar jelas. “Anak kamu? Mungkin secara biologis, iya! Tapi ingat, orang yang Arya yakini sebagai Ayah dan selalu ada di sampingnya itu saya bukan kamu ataupun orang lain.”‎Rey tentu merasa marah atas ucapan Hans yang sebenarnya adalah fakta. “Ya saya tau itu, tapi anda juga tetap tak bisa menyangkal bahwa Arya adalah putra saya.”‎Hans mulai memperlihatkan raut wajah yang mengejek. “Saya tau itu, tapi...”‎“Cukup!” Bukan suara Rey, tapi suara Aina lah yang seketika menghentikan ucapan Hans yang belum selesai.‎Hans menatap Aina dengan raut wajah yang tak terima. ‎Aina tak mengindahkan tatapan

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status