LOGINSetelah tiga puluh menit kepergian Hans. Aina yang masih terdiam termenung di mejanya, seketika mengalihkan perhatiannya saat mendengar bunyi notif ponsel. “Key.” Keningnya berkerut saat melihat nama Key adalah orang yang mengirimi pesan. Aina berdiri dari duduknya dengan raut wajah yang sangat tegang, karena melihat isi pesan dari Key yang mengatakan bahwa Rey sudah sadar. Tanpa berlama-lama dan memperdulikan dirinya yang sedang hamil, Aina berlari lumayan kencang menuju keluar. Setelah menempuh perjalanan kurang lebih lima belas menit, akhirnya Aina sampai juga di depan ruang rawat Rey. Dengan dada berdetak tak karuan, Aina pelan-pelan membuka pintu di depannya dan tampaklah Key serta putranya berdiri di samping ranjang yang di isi oleh sosok Rey yang kedua bola matanya sudah terbuka lebar. “Rey!” Panggilnya yang langsung berlari dan memeluk tubuh Rey dengan erat. “Siapa?” Tiba-tiba saja pertanyaan tak terduga muncul dari mulut Rey. Jantung Aina seketika seperti berhenti b
Di dalam Cafe yang lokasinya dekat dengan rumah sakit tempat Rey dirawat, terlihat Aina sedang duduk dengan Hans yang berada di depannya. “Jadi apa yang mau kamu bicarain?” Tanyanya karena tadi saat dirinya sedang menjaga Rey tiba-tiba saja Hans mengirim pesan yang memintanya untuk bertemu.Hans menghela napas pelan. Sorot mata saat melihat Aina, tampak sangat dalam. “Aina, ayo bercerai!”Aina terkejut. Bagaimana pun setelah kejadian dua Minggu lalu, tak pernah lagi ada yang menyinggung soal perceraian mereka. Itu dikarenakan dirinya terlalu fokus mengurusi Rey yang sedang koma sedangkan Hani tiba-tiba pindah ke kota kelahirannya karena rasa bersalahnya atas penculikan Arya serta ingin menghabiskan masa tua di sana. “Kenapa tiba-tiba? Apa Mamah yang nyuruh?”Hans menggelengkan kepalanya cepat. “Kamu kan tau setelah penculikan Arya, seberapa besar rasa bersalah Mamah sama kamu. Bahkan dia baru sadar, kalo rasa sayangnya sama Arya itu sangatlah besar walaupun sudah tau anak itu buka
Dua menit Aina menutup kedua matanya dan tak berani melihat apa yang terjadi. “Aku bilang jangan gila, Dini!” Tiba-tiba saja terdengar suara Rey yang menggema dan membuat Aina dengan refleks membuka kedua matanya. “Rey!” Panggilnya, melihat dengan jelas Rey sedang mencengkram tangan Dini yang memegang pistol ke arah atas. Dialihkanlah pandangan Aina pada putranya, yang tampak masih bernyawa namun mengeluarkan air mata yang deras dengan tubuh yang gemetar hebat. “Kak Rey, lepas!” Terdengar suara Dini berteriak meminta Rey melepaskan tangannya. “Ga akan.” Rey dengan tegas menjawab dan berusaha mengambil alih pistol di tangan Dini. Dini dengan sekuat tenaga, tak membiarkan Rey mengambil alih pistolnya. Tampak dirinya dengan susah payah melepaskan tangan Rey yang berusaha merebut pistolnya itu. Saat aksi rebut-rebutan itu terjadi. Aina yang dari tadi menangis, mulai memanfaatkan situasi untuk melepaskan Arya. Di saat Arya sudah terlepas, Aina langsung memeluk tubuh kecil itu d
Walaupun Rey merasa terkejut, namun ia yang sudah menduga Dini akan meminta hal seperti itu setelah dirinya memecat Dini dan mengetahui betapa obsesinya wanita itu padanya. Tentu membuatnya hanya bisa menghela napas dengan berat. “Oke, aku setuju. Jadi sekarang, lepaskan anakku Dini.”Bukannya merasa senang setelah mendengar persetujuan Rey, Dini malah tertawa sinis. “Apa Kak Rey pikir aku bodoh?!” Rey tentu tak mengerti, kenapa Dini tiba-tiba mengatakan hal itu. “Maksud kamu?”Dini menatap tajam wajah Rey. “Kak Rey menyetujui itu cuma sekedar formalitas kan?! Sebenarnya Kakak udah merencanakan hal lain, seperti menyerahkan Dini pada polisi yang udah Kakak hubungi dan suruh ke lokasi ini.”Rey tentu terkejut mendengar Dini yang tau rencananya. “Kenapa kamu bisa tau?”Dini tersenyum miris. ”Hanya tebakan, tapi ternyata memang benar.” Rey tentu merasa bodoh, karena secara tidak langsung mengiyakan apa yang Dini yakini. “Aku akan hubungi polisi untuk memintanya tak jadi kesini.
Aina tentu kaget mendengar ucapan Rey barusan. “Apa, jadi ini maksudnya...”Belum sempat ucapan Aina selesai, tiba-tiba terdengar suara Hans yang memotong ucapannya.“Sialan!” Umpat Hans dengan marah. “Jadi wanita yang culik Arya itu Dini." Gumamnya entah pada siapa, namun tetap saja terdengar oleh Aina dan Rey.Rey tentu saja bisa menyimpulkan apa yang terjadi pada putranya dari ucapan Hans barusan. “Jadi Arya bener-bener ga ada sama kalian?” Tanyanya memastikan. Hans tak menjawab, ia malah tampak mulai fokus lagi pada ponselnya seperti sedang mengetik pesan pada seseorang.Rey tentu kesal atas sikap pria di depannya. Namun, karena ia tak mau bertengkar saat ada permasalahan yang sangat genting mengenai sang putra. Tentu membuatnya dengan sekuat tenaga, menahan kekesalannya itu.Di sis lain, Aina yang berusaha mencerna apa yang terjadi. Akhirnya mengeluarkan suara. “Jadi yang pasti, ini ada apa? Kenapa bisa Arya diculik dan penculiknya itu Dini?” Hans yang sudah berbalas pes
Hans menghela napas. Sorot mata yang tak bisa di artikan, ia alihkan pada Rey yang masih terdiam di sampingnya. “Sebaiknya kamu keluar, saya ingin berbicara berdua bersama Istri saya tentang anak kami.”Rey yang tak terima, bergegas menjawab. “Maaf, tapi Arya anak saya bukan anak anda. Jadi sudah sepantasnya, saya juga tau apa yang terjadi pada putra saya.”Senyum sinis di wajah Hans, terpancar jelas. “Anak kamu? Mungkin secara biologis, iya! Tapi ingat, orang yang Arya yakini sebagai Ayah dan selalu ada di sampingnya itu saya bukan kamu ataupun orang lain.”Rey tentu merasa marah atas ucapan Hans yang sebenarnya adalah fakta. “Ya saya tau itu, tapi anda juga tetap tak bisa menyangkal bahwa Arya adalah putra saya.”Hans mulai memperlihatkan raut wajah yang mengejek. “Saya tau itu, tapi...”“Cukup!” Bukan suara Rey, tapi suara Aina lah yang seketika menghentikan ucapan Hans yang belum selesai.Hans menatap Aina dengan raut wajah yang tak terima. Aina tak mengindahkan tatapan
Mendapati ciuman secara tiba-tiba. Rey yang merasa terkejut, hanya bisa terdiam dengan bola mata yang membulat sempurna. Bahkan setelah beberapa menit berlalu, Saat Aina yang menempelkan bibir tipisnya pada bibir tebalnya mulai melepaskannya dan menundukkan kepalanya dalam-dalam. Rey tetap diam, tan
Rey yang mendengar ucapan Aina itu, hanya terdiam dengan raut wajahnya yang tampak semakin terkejut.Sedangkan Aina yang tidak kunjung mendengar Rey berbicara, akhirnya hanya bisa menghela napas. Lalu dengan tetap tidak menatap wajah Rey, ia berkata. “Kamu tidur di sini saja, saya akan kembali ke
Aina yang mendengar panggilan itu, dengan refleks mulai membalikan badannya, ke belakang. “Mbak Ayu.” Ucapnya dengan bola mata yang membulat sempurna.Mendengar panggilan Ainan itu, tampak Ayu mulai menghela napasnya. Lalu dengan wajah yang kaku seperti biasanya, ia berkata. “Bisakah kita bicara?”
Cukup lama mereka dalam posisi itu, tampak Aina maupun Rey. Seperti memang enggan untuk melepaskan pelukan yang tidak di sengaja itu.Namun di tengah mereka yang masih berpelukan itu, terdengar suara Pak Andi, supir sewaan Aina menggema. “Maaf Pak, Bu. Apa kita bisa berangkat sekarang?”Aina yang t







