Masuk"Okaeriii~"Benji menghela napas berat sambil memandangi ruang tengah dari ambang pintu utama. Begitu sampai rumah, bayangan suara Lily yang menyambutnya sepulang kerja sontak menyapa telinga.Lengkap dengan kosakata bahasa Jepang baru yang istrinya selalu pelajari karena terobsesi dengan negara kelahiran sang suami. Perempuan itu bilang, dia ingin anaknya bisa bahasa Jepang juga seperti ayahnya saat besar nanti. Oleh karena itu Lily ingin bisa lebih dulu sebelum mengajari sang anak yang bahkan belum lahir."Mas pasti lelah, yaa? Mau minum teh?" Sesaat Benji melangkah dan duduk di sofa panjang ruang tengah--tempat favorit istrinya di rumah, bayangan Lily yang menggelayut manja pada lengan Benji bahkan kembali melintas di benak.Membuat pria itu menghela kian berat. Apalagi begitu menyadari semua itu hanyalah khayalan belaka. Karena kenyataannya ... sang istri tidak ada di sini.Lily-nya belum juga ingin kembali."Hhh ... aku bisa gila," gumam Benji sambil memijat pelipisnya yang perl
Sudah satu minggu.Hanya butuh satu minggu untuk Lily meninggalkan Benji sendirian di rumah mereka. Dan selama itu pula Benjamin Kaisar tenggelam dalam pikiran dan kesehariannya yang terasa kacau."Tuan ... minum obatmu dulu." Pagi ini, Benji yang sudah rapi dalam setelan pakaian kerjanya, dicegat oleh Bu Anin yang menatapnya dengan khawatir. Pria itu pun menerima beberapa butir pil dan menenggak segelas air dengan cepat."Malam ini tidak usah masak makan malam, Bi. Aku sepertinya akan lembur saja di kantor." Benji memberi perintah yang sontak membuat kening Bu Anin mengernyit tidak setuju."Lembur bagaimana maksudmu, Tuan? Kau sedang sakit. Jangan membuat kondisimu bertambah parah dengan bekerja tanpa kenal waktu!" tegur Bu Anin kali ini tidak tampak sungkan memarahi majikan yang sudah terasa seperti putranya."Untuk apa aku pulang juga, Bibi? Aku sudah tidak bisa beristirahat di sini." Benji menyahut sambil terkekeh getir."Tetap saja! Jangan melampiaskan kesedihanmu dengan menyiks
"Kenapa dia makan malam di sini?" Lily langsung melempar tanya sesaat sampai di ruang makan. Semua penghuni meja makan sontak menoleh padanya, tak terkecuali Benji yang kini hadir di sana dengan wajah berantakannya."Lily ... ini kan rumah Kak Benji juga. Wajar dia makan di sini bersama kita juga, kan?" tegur Natsuki mewakili tiga pria yang kini bahkan tidak berani membuka mulut mereka."Kenapa tidak ada yang memberitahuku? Aku sudah bilang tidak ingin bertemu dengannya," tanya Lily lagi tanpa mengalihkan pandangan dari sang suami yang kini masih menatapnya takut."Aku akan pergi kalau kau tidak mau makan bersamaku. Asal kau makan ...," ucap Benji berusaha setenang mungkin.Meski sejujurnya dia berharap sang istri mau sedikit berbelas kasih padanya. Syukurnya, Lily tidak mengatakan apa-apa dan bergabung di meja makan. Perempuan itu duduk tepat di hadapan Benji.Hal tersebut tentu saja membuat Benjamin Kaisar tersenyum senang. "Kau mau makan apa, Nak?" tanya Geovano berusaha memecah
"Lily ... Kak Benji masih di bawah."Natsuki masuk ke kamar iparnya kemudian duduk di dekat kaki perempuan itu. Dia pun meletakkan nampan berisi makanan dan minuman di atas nakas samping kepala ranjang.Lily yang sedari tadi hanya berbaring meringkuk, sontak bangkit duduk dan mulai menyantap makanan yang dibawakan Natsuki dalam diam. Perempuan itu tidak tampak ingin bicara."Kau tidak mau bertemu dengannya?" tanya Natsuki lagi tidak mau menyerah membujuk iparnya."Katakan saja padanya aku sudah makan dan istirahat dengan baik di sini. Dia akan pulang setelah itu," jawab Lily masih mengunyah makan siangnya dengan raut sama sekali tidak nafsu.Namun, perempuan itu jelas tidak mau egois dengan menyiksa anak di dalam kandungannya. Jadi, Lily tetap berusaha untuk makan dan istirahat dengan baik demi kesehatan si adik bayi yang beberapa minggu lagi akan hadir di antara mereka.Lily sudah nyaris mencelakainya beberapa hari lalu karena terlalu banyak berpikir. Dia tidak mau mengulangi kesala
"Sayang ... maaf Mas baru datang."Lily menoleh sejenak pada pria yang berdiri di ambang pintu ruang rawat. Sebelum beberapa saat kemudian, perempuan itu kembali sibuk menatap kosong jendela yang tertutup tirai.Seolah perempuan itu memang enggan menatap Benji lagi."Mas Benji dari mana saja?" tanya perempuan itu lirih masih sambil memalingkan wajah dari suaminya yang kini duduk di sisi brankar dekat kakinya."Lily ... maafkan aku." Pertanyaan Lily bahkan malah dihadiahi sebuah permohonan maaf. Permintaan yang terdengar begitu bersalah dan sarat akan sesal. Hal yang justru menambah sesak di dasar hati Lily.Kenapa Benji meminta maaf? Seolah pria itu sedang membenarkan setiap hal buruk yang ada di kepala Lily. Kenapa dia tidak meyakinkan dan menjelaskan apa yang terjadi padanya?"Tadi aku meneleponmu. Tapi Anyelir yang mengangkat ...." Lily pun tidak merasa perlu menerima permohonan maaf itu. Perempuan itu malah mengungkit kejadian beberapa saat lalu sebelum ia jatuh pingsan.Di mana
"Kau dari kelab malam, Kak?!"Kiello langsung melempar tanya begitu Benji berdiri di depannya dengan raut panik. Pria itu pun segera mengangguk dan balik melempar tanya."Bagaimana istriku?" tanya Benji cepat."Kalau tahu kau habis bersenang-senang, seharusnya aku tidak memberitahumu keadaan Lily." Kiello mendecih sinis sambil melengos malas.Enggan menanggapi pria sipit yang kini tampak begitu penasaran dan khawatir akan kondisi istrinya. Natsuki yang menyadari kekhawatiran pria itu, sontak menepuk bahu kakak iparnya pelan."Lily mengalami pendarahan, Kak. Katanya kemungkinan besar karena faktor stress. Tapi syukurnya ... anak kalian masih selamat."Informasi dari Natsuki bahkan tidak mampu membuat Benji merasa lega. Justru, kebingunganlah yang muncul di kepalanya."Bagaimana dia bisa terkena stress? Kami tidak sedang bertengkar," gumam pria itu heran.Apa ada sikap atau perlakuan Benji yang tanpa sadar membuat pikiran istrinya terbebani? Tapi kenapa Lily tidak pernah mengutarakannya
"Maaf yaa, kau harus ke sini tengah malam?" Natsuki berucap tidak enak hati sambil memandang Lily yang kini berkutat di dapur kediaman Galendra. Ini pukul dua malam, namun yang dilakukan perempuan pendek itu jauh-jauh ke sini adalah membuat soto."Tidak apa-apa, Mbak. Aku jadi alasan menginap di r
"Mas ... bagaimana menurutmu rumah ini?"Lily bertanya sambil menyandarkan kepala di dada bidang suaminya yang berbaring setengah duduk di kepala ranjang. Benji pun melingkarkan lengan di leher istrinya sambil setengah terpejam karena mengantuk.Mereka sudah bermain cukup lama. Keduanya bahkan bera
"Ayah harus siapkan apa lagi?" Geovano bertanya pada menantunya yang kini menyiapkan barang-barang untuk iparnya. Sedangkan Lily hanya sibuk memasukkan beberapa pakaian ke dalam tas sambil sesekali melirik ayah mertuanya."Tolong ambil dokumen rekam medis Mbak Nana selama kehamilan di dalam lemari
“Itu banyak sekali. Natsuki tidak akan bisa makan sebanyak itu saat sedang sakit.” Benji berkomentar pada istrinya yang kini sibuk memilih biskuit di supermarket. Namun, Lily tidak menghiraukan ucapan suaminya dan malah mengambil makanan yang lain. Membuat Benji dengan pasrah mendorong







