LOGINRara melirik Jefri yang sedang menyetir. Wajah pria itu masih mengeras sejak mereka pergi dari penthouse Septa. Genggamannya di kemudi juga sangat erat. Rara menelan ludah. Apa suasana hatinya masih buruk karena tadi?“Mas, masih marah, ya?” tanya Rara hati-hati. Jefri hanya ber-hm pelan. Sama sekali tidak berniat untuk menjawab. Hani yang memerhatikan dari belakang, mendengus pelan. “Ayah, nih, malu-maluin aja. Masa marah gara-gara itu doang?”“Ayah tidak marah,” jawab Jefri datar. “Cemburu?”Wajah Jefri bertambah masam, “Tidak.”Hani menghela napas malas. Ayahnya itu pasti bohong. Lihat saja, ekspresi wajahnya itu!“Biarkan saja, Ra. Nanti juga baik sendiri,” ucap Hani tak acuh. Rara meringis mendengarnya.Apa benar tidak apa-apa?Sisa perjalanan itu akhirnya diisi oleh percakapan Rara dan Hani. Sementara Jefri terus diam, tidak mengikuti pembicaraan mereka. Ia tetap seperti itu hingga mereka sampai di rumah. Hani segera membuka pintu mobil begitu mereka berhenti. Rara mengikut
Septa menatap undangan pernikahan di tangannya. Lalu, mengalihkan pandangannya kembali ke tiga orang di depannya, tepatnya ke Rara. Ini semua begitu mendadak. Septa sebelumnya memang sudah yakin ada sesuatu saat menyambut Rara, Jefri, dan Hani di penthousenya. Tapi, ia tak menyangka kalau mereka ingin menyampaikan tentang informasi pernikahan Jefri dengan Rara, orang yang disukainya dulu. Septa bisa merasakan nyeri di dadanya. Meski beberapa bulan ini dia yakin sudah tidak menyukai Rara lagi, nyatanya perasaan itu mungkin belum benar-benar terhapus. “Ternyata kamu dan Jefri akan menikah, Ra?” ucap Kamelia, ibu Septa, yang duduk di sebelah putranya itu.Anggota keluarga Septa memang sedang berada di penthousenya. Minus kehadiran ayah Septa saja. Mario yang duduk di sisi lain Septa, ikut menatap undangan di tangan pria itu. “Benar, ini sangat mendadak,” timbrung Mario. Rara meringis pelan. Itu ucapan yang sama seperti anggota keluarga Nickelson lainnya. Dia masih tidak tahu apakah
“Kamu yakin tidak masalah mengundang anggota keluarga Nickelson?” Rara mengangguk atas pertanyaan Hani. Sambil mengecek nama-nama tamu di undangan, dia berkata, “Om Jefri bilang mereka sudah tidak marah lagi denganku. Jadi, kurasa tidak ada masalah,”“Tapi, tetap saja,” Hani mendesah, “Siapa tau ada yang masih menaruh dendam padamu, kan?”Rara tersenyum. “Tidak apa. Justru itu hal wajar,” ucapnya, “Bagaimana pun, aku telah berhubungan gelap dengan salah satu orang penting di keluargamu. Jadi, aku bisa memahami hal itu,”Hani mendengus. Sahabatnya ini terlalu baik atau mungkin terlalu pasrah tentang dirinya. Tapi, ia paham kalau Rara tidak bisa diprotes lagi. “Omong-omong, apakah Septa sudah tahu aku kembali kesini?” tanya Rara mendadak. Ia kini menatap Hani. “Aku belum memberitahunya, sih,” ucap Hani, “Aku juga sudah lama tidak bertemu dia,”“Oh, kenapa?” kaget Rara. Hani tak segera menjawab. Ia tidak bisa bilang kalau terakhir kali marah dengan Septa karena pria itu menyuruhnya un
“Kerja bagus untuk pertemuan kemarin,” puji Jefri sambil menyodorkan kembali kertas hasil diskusi Hani dan Merphilus kemarin ke putrinya. “Kamu bisa langsung bilang pada tuan Merphilus untuk mengeksekusi bagiannya,” ucap Jefri. Hani mengangguk, “Kalau begitu, aku kosong sampai tuan Merphilus menyelesaikan bagiannya, kan?”“Iya. Kamu bisa membantu mengurus pernikahan ayah dan Rara,” Jefri tersenyum melihat Hani berbinar-binar. Padahal wajahnya tadi sangat terlipat. Sepertinya putrinya itu masih merasa keberatan mengerjakan proyek ini. “Bagaimana kabar Rara?” tanya Jefri. Jefri belum sempat pulang hingga pagi ini. Ada banyak pekerjaan yang harus dituntaskan agar ia tidak diganggu saat hari pernikahannya.“Dia baik-baik saja. Pagi ini sedang mengurus tempat pernikahan bersama WO,” jelas Hani, “Ayah nanya gini kayak nggak ketemu setahun aja,”Jefri tertawa mendengar celetukan Hani. Ia menyandarkan badannya ke kursi dan menyedekapkan tangan. “Kamu akan tahu setelah punya pasangan nant
“Kamu terlihat cantik, Ra!” seru Hani dengan mata berbinar-binar saat melihat Rara memakai gaun pengantin yang dipilihnya. “Kamu pintar memilih gaunnya!”“Terima kasih,” ringis Rara, “Sebenarnya ini pilihan dari staf butik tadi karena aku terlalu bingung memilihnya,”“Memang harusnya aku ikut kesana!” dengus Hani sambil bersedekap, “Padahal sahabatku mau menikah, tapi ayah malah kasih proyek gede yang bikin aku sibuk. Benar-benar menyebalkan!”Rara tertawa. Kalau Jefri di sini, keduanya mungkin akan bertengkar lagi.Pria itu sekarang memang sedang tidak di rumah. Setelah mengantarkan Rara pulang tadi, ia langsung pergi ke kantor untuk mengurus kerjaannya. “Tapi, aku masih nggak nyangka kamu nikah sama ayah,”Rara tersentak saat Hani tertawa geli. “Kalau begitu, kamu jadi ibu aku?” kekeh Hani. Rara tersenyum canggung. Hani ringan sekali berkata seperti itu. Padahal, mereka dulu sempat bertengkar karena masalah
“Kamu tidak apa-apa?” tanya Jefri saat tengah menyetir. Mereka hendak pulang ke rumah setelah urusan di butik selesai.Ia melirik Rara yang duduk di sebelahnya. Sejak Jefri mencoba setelan pakaiannya, perempuan itu jadi agak pendiam. Seolah-olah dia tengah memikirkan sesuatu. Melihat Rara hanya terdiam, Jefri lanjut berkata, “Kamu tidak memikirkan untuk membatalkan pernikahan kita, kan?”Rara seketika menoleh, “Apa? Tentu saja tidak!”Jefri tersenyum, “Baguslah. Karena kalau memang benar begitu,”Sorot wajah Jefri terlihat menggelap. “Mas mungkin akan mengurungmu hingga hari pernikahan kita,”Rara menelan ludah. Tidak mungkin ucapannya serius, kan?“Jadi? Apa yang kamu pikirkan?” Jefri kembali melirik Rara, “Pasti terjadi sesuatu saat di butik tadi, kan?”Rara mengusap-usap belakang kepalanya gusar. Ucapan para staf tadi memang masih mengganggunya, tapi seharusnya ia tidak terlalu memikirkannya, kan?
“Apa Septa baik-baik saja?” “Dia baik-baik saja,” ucap Jefri sambil mematikan ponselnya. Ia baru saja menelepon Septa untuk menanyakan keadaannya setelah artikel tentang perundungan Rachel ke Rara dirilis. “Dia sedang menyiapkan diri untuk menghadapi reporter yang mulai datang,” lanjut Jefri.
“Tidak!” seru Jefri, “Keputusan om sudah final. Tidak ada lagi perubahan!” “Kalau begitu, aku akan tetap memaksa sampai om berubah pikiran,” balas Rara tenang. “Rara!” “Ayah, tenanglah!” seru Hani yang segera memegang pundak Jefri, “Rara pasti punya alasannya sendiri makanya berkata begitu. Kita
Percakapan Hani dan Rara berakhir menggantung. Hani tidak lagi melanjutkan pembicaraan mereka setelah melihat raut wajah sahabatnya.Mereka akhirnya saling berdiam diri hingga siang hari sebelum pergi ke tempat pertemuan mereka dengan Mario.“Kamu tidak bilang kalau Septa juga datang!” sungut Hani
“Apa?” Hani kembali mencerna ucapan Jefri di otaknya yang lambat, “Mengungkap … kenapa tiba-tiba ..?”Bukan berarti Hani tidak menyetujuinya. Ia sangat setuju jika ayahnya ingin mencari keadilan atas kasusnya itu. Tapi, ayahnya tadi bilang apa? Ia ingin mengungkap kasus itu agar semua or







