تسجيل الدخولHani tidak bisa tidur lagi.Sejak kepergian Jefri dan Rara, ia tidak bisa tenang. Hatinya terus diliputi kegelisahan. Bahkan kata-kata menenangkan Merphilus sebelum pergi tadi rasanya tidak mampu menghilangkan kegundahannya.Hani menghela napas. Untuk kesekian kalinya, dia mengubah posisi tidurnya. Itulah yang Hani lakukan dari tadi. Mengubah-ubah posisinya di atas kasur, di dalam kamarnya yang gelap.Ia begitu penasaran dengan diskusi yang dilakukan Jefri dan Rara. Keputusan apa yang akan mereka ambil? Apakah Rara akan membantunya untuk menenangkan hati Jefri atau patuh mengikuti keputusan ayahnya?Jika ayahnya memang tidak setuju, lalu apa yang harus dia lakukan?
Rara menaruh gelasnya di atas bar dapur. Ia menutup mulut, berusaha menahan agar minuman itu tidak keluar meski sekarang perutnya bergejolak tidak enak.Rara baru menyelesaikan gelas kedua. Tapi, ia rasanya sudah tidak ingin bersentuhan dengan minuman itu. Meski rasanya enak, tapi efeknya terlalu dahsyat. Rara tidak tahu masih bisa bertahan lebih lama atau tidak karena ia sekarang mulai merasa kepalanya berputar-putar.Berbeda dengan Rara yang kesusahan, Jefri justru terlihat menikmatinya. Ia menyesap minumannya dengan tenang. Habis dalam satu teguk sebelum menambah lagi minumannya.Itu sudah gelas keenamnya. Dan masih belum ada tanda-tanda Jefri akan tumbang. Rara melenguh dalam hati.“Apa mau Mas tuangkan ju
Rara tersedak. Wajahnya memerah, mengerti hal yang diminta Jefri sekarang. Ia berusaha menjaga jarak, tapi lengan kekar Jefri justru menahannya dengan kuat.Rara menelan ludah. “M-mas … Aku rasa itu terlalu …”“Kenapa? Kamu tidak yakin bisa?” Jefri mencondongkan wajahnya. Menyeringai lebih lebar.“Bukannya kita sudah juga sering bermain sampai pagi? Ada kemungkinan kamu bisa menang, Ra.”Rara refleks memukul bahu Jefri. Wajahnya mengerut kesal. “Bukan itu masalahnya!” sungut Rara, “Memangnya tidak bisa melakukan hal lain saja selain ‘itu’?”Jefri menaikkan satu alisnya, “Contohnya?”Tidak ada jawaban yang bisa Rara berikan. Karena pada dasarnya, ia memang tidak memikirkan hal ini akan terjadi.Wanita itu dengan cepat mengedarkan pandangannya ke sekeliling. Mencari hal yang bisa dijadikan permainan taruhan mereka. Matanya kemudian terpaku pada botol-botol alkohol di lemari kaca. “Taruhan minum alkohol!” seru Rara, “Yang paling kuat minum sampai akhir, dia pemenangnya!”Jefri memerhatik
Tidak ada percakapan antara Jefri dan Rara selama perjalanan menuju kamar. Bahkan saat mereka sudah di kamar, keduanya tetap berdiam diri.Rara melirik Jefri yang ada di depannya. Ia ingin memulai percakapan, tapi aura di sekeliling Jefri masih tidak mengenakkan. Wajah pria itu juga masih mengeras, menambah segan Rara untuk mendekatinya.Kali ini, mood pria itu sepertinya benar-benar hancur.Rara menghela napas pelan. Tentu saja ia paham alasannya. Ia juga mengerti kalau Jefri tidak mau merestui hubungan Hani dengan Merphilus.Tapi, melihat Hani sekarang, mengingatkannya dengan dirinya sendiri dulu. Bahkan, situasi sekarang seperti kebalikannya dulu.Di man
Entah bagaimana situasi yang hangat tadi berubah menjadi menegangkan begini.Hani duduk mengkerut. Kepalanya tertunduk, tidak berani melihat Jefri duduk bersedekap di depannya. Aura tidak mengenakkan menguar dari dirinya, bersamaan dengan tatapan tajamnya yang terus menghujam.Di sebelahnya, Merphilus justru duduk tegak. Posturnya terlihat begitu meyakinkan. Meski nyatanya ia juga tegang seperti Hani. Setelah kejadian terpergok tadi, Jefri dengan cepat menjadikan kamar Hani sebagai ruang interogasi. Hani lagi-lagi harus duduk sebagai pesakitan di depannya. Dipikir-pikir, ini sudah kesekian kalinya ia mengalami hal seperti ini.Tapi, tidak seperti biasanya yang langsung dimulai, dari tadi belum ada sepatah kata pun keluar baik dari Jefri maupun Rara. Keheningan yang menyesakkan menggantung di langit-langit kamar. Hani awalnya menduga kalau ia perlu menunggu sampai Jefri berbicara. Tapi, setelah beberapa saat berlalu, Hani mulai berpikir
Merphilus mengerjapkan mata. Alisnya terangkat, terlihat terkejut dengan ucapan perempuan di hadapannya.“Sekarang?” ulang Merphilus, “Sepertinya ini bukan waktu yang tepat. Sebaiknya kamu beristirahat lagi—”“Saya ingin mengetahuinya sekarang,” potong Hani tegas. Merphilus menatap Hani sejenak. Memerhatikan kesungguhan di wajah perempuan itu. Seulas senyum geli kemudian terukir di wajahnya. “Sepertinya saya memang tidak bisa mengalahkanmu,” kekeh Merphilus membuat Hani memerah samar.Tangan Merphilus yang bebas masuk ke bagian dalam jasnya. Merogoh sesuatu di saku dalam. “Hani, kamu masih ingat dengan percakapan kita waktu itu, kan?” buka Merphilus, “Sebagai balasan rahasia kita di bar, kamu bersedia memenuhi permintaan saya apa pun itu.”Hani mengangguk, “Saya masih ingat.”Bagaimana mungkin ia lupa? Pertemuan itu saja masih sangat membekas bagi Hani. Baginya, permintaan Merphilus adalah teka-teki terbesar
“Pokoknya jangan salahkan aku kalau kakimu keinjek, ya!”“Aku tinggal injek kakimu balik,” balas Septa sambil tertawa. Rara mendengus dengan senyum geli di wajahnya. Ia memerhatikan tangannya yang berpegangan dengan tangan Septa. Ia tiba-tiba teringat dengan latihan d
Rara dan Septa ikut menolehkan kepala ketika mendengar suara riuh para tamu ke pintu aula hotel. Napas Rara tercekat ketika melihat Jefri melangkah masuk bersama Rachel dan Hani. Ketiganya berpegangan tangan dengan posisi Hani berada di tengah.Warna busana mereka adalah merah maroon. Je
“Hahh?” alis Rara mengerut semakin dalam, “Jangan ngomong aneh-aneh!” dengusnya. Septa tertawa, “Harusnya di momen kayak gini kamu langsung salah tingkah, Ra!”Rara menggeleng-geleng. Bagaimana bisa ia salah tingkah ketika ia tahu Septa adalah orang yang suka bercanda?Apalagi, ajakannya tadi sang
‘Apa ini?’ batin Rara resah. Percakapan di meja sudah beralih ke topik lain, tapi Rara tidak ikut menimbrung. Pikirannya penuh. Entah kenapa, perkataan Jefri barusan tidak terdengar seperti sebuah guyonan. Terasa ada implikasi di dalamnya. Seolah ia tengah memperjelas hubungannya dengan Rachel







