LOGINPak Candra terdiam mendengar apa yang ditanyakan oleh anaknya. Dia bingung mau berkata apa saat pertanyaan Arya kenapa dia dan istrinya sangat membenci Hana. Padahal sudah jelas dari zaman dulu kalau dia dan istrinya tidak menyukai Hana karena Hana miskin, yatim piatu dan dari kalangan rendah dia tidak mau itu. Dia maunya anaknya Arya mendapatkan wanita yang high class, kaya raya, cantik. "Kamu tidak perlu bertanya lagi Arya. Papamu sudah menjelaskan dari awal alasannya apa. Kenapa kamu tidak boleh dekat dengan wanita miskin itu. Jadi, kamu tidak perlu bertanya kenapa kami membenci dia harusnya kamu sadar kamu itu pewaris kamu itu akan mendapatkan semua harta dari papamu. Kami tidak ingin mempunyai menantu yang matre, meminta ini dan itu ke kamu. Kami tidak mau. Dan dia harus dari keluarga yang kaya raya, pewaris tunggal jadi hartanya bisa untuk kita nantinya atau digabungkan. Kalau dia apa ? Kamu jangan memikirkan cinta terus makan tuh cinta. Kalau tidak ada uang tidak akan perna
"Aku benar-benar tidak tahu," balas Lintang. Mario berbisik ke Lintang maksud dari ayahnya itu apa. Lintang menaikkan alisnya dia baru tahu kalau ayahnya bertanya mengenai Mala. "Tidak ada wanita itu dalam hidupku. Aku sekarang sudah bahagia dengan istriku dan juga ... Rahasia nanti aku sampaikan kepadamu. Ayo naik nanti ditinggalkan oleh istrimu," ucap Lintang. "Istrimu itu ibumu. Anak durhaka kamu. Ya Tuhan kenapa aku memiliki anak seperti dia," balas Pak Irwandi kesal dengan kelakuan Lintang. Lintang hanya tersenyum mendengar ayahnya berkata seperti itu. Lintang ingin memeluk ayahnya karena ayahnya sudah memberikan dia Hana di dalam hidupnya. Lintang membawa orang tuanya ke vila untuk istirahat. Sesampainya di Vila Hana mengajak mertuanya untuk istirahat. "Sayang, kamu duduklah, aku mau masak untuk mereka. Kamu jangan ganggu ya. Aku dan Azizah yang akan mengurusnya," ucap Hana ke Lintang. "Kamu yakin? Aku tidak mau kamu lelah. Ingat, kamu hamil muda takutnya kamu lelah, Say
Lintang langsung memeluk Hana. Dia begitu bersalah dengan Hana. Cukup lama mereka berpelukan. Hingga akhirnya, Lintang melepaskan pelukannya dan menatap ke arah Hana. Mengusap pipi Hana dengan lembut. "Aku baik, Sayang. Kamu jangan khawatir. Semuanya akan baik. Kamu jangan dengarkan apa yang mereka katakan ya. Aku percaya kamu," ucap Lintang meyakinkan Hana kalau semuanya akan baik dan dia percaya dengan Hana. Orang tuanya tidak mungkin salah memilih orang. Mana ada orang tua salah memilih jodoh anaknya. "Iya, Sayang. Aku percaya padamu. Sekarang, kita makan yuk. Itu makanan sudah datang," tunjuk Hana ke pelayan yang membawakan makanan untuk mereka. Lintang mengangguk dan melepaskan pelukannya. Mereka makan dengan tenang sambil berbincang kecil. Hana berbicara dengan Azizah sedangkan Lintang dengan Mario membahas pekerjaan. "Han, keterlaluan sekali si Arya dan keluarganya itu. Bisa-bisanya mereka mengataimu seperti itu. Apa salah kamu pada mereka. Kamu tidak berpacaran dengan ana
Lintang menoleh ke arah orang yang lagi-lagi menghina istrinya. Lintang tidak suka istrinya dihina oleh orang lain.Dengan wajah datar dan penuh amarah Lintang menatap penuh kebencian ke arah orang tersebut. Tangannya terkepal dengan erat hingga buku-buku di punggung tangan Lintang terlihat jelas. "Ah, sakit," cicit Hana merasakan sakit di tangannya karena Lintang mengeratkan tangannya tanpa tahu dia sedang menggenggam tangan Hana. Lintang yang sadar langsung melepaskan tangannya dan raut wajahnya berubah lembut. "Maaf, Sayang. Aku tidak sengaja. Kamu tidak apa-apa mana yang sakit?" tanya Lintang meraih tangan Hana dan melihat apakah tangan Hana sakit atau patah. Karena tadi genggaman tangan dia begitu kuat. Hingga Hana kesakitan. "Tidak apa, Sayang. Aku baik-baik saja," jawab Hana. "Yakin?" tanya Lintang meyakinkan Hana kalau dia baik. Lintang merasa bersalah karena amarahnya dia menyakiti Hana. Semua karena orang ini. Siapa lagi kalau buka ayah Arya, Pak Candra. Hana menatap
"Ih, kamu Arya. Kenapa kamu di sini. Bukannya kamu mau menunggu ibumu dan ayahmu. Kenapa sudah di sini, hah?" tanya Mala dengan wajah kesal karena orang yang menepuk pundaknya itu Arya. "Aku hanya menepuk pundakmu kenapa kamu terkejut. Aneh, kamu seperti orang yang mengintai suaminya selingkuh. Padahal, bukan suami juga," cicit Arya kesal dengan Mala yang malah mengatakan kenapa di sini. "Bukan aku yang aneh. Kamu yang aneh. Kamu mengejutkan aku. Bagaimana kalau dia tahu kalau aku di sini. Aku mau buat kejutan dan juga dia memang calon suamiku. Wanita sialan itu sudah jadi pelakor jadi wajar aku seperti ini." Sela Mala tidak terima dengan perkataan Arya. "Jaga ucapamu. Siapa yang kamu katakan wanita sialan. Kamu tidak perlu berkata seperti itu aku tidak suka. Sekarang, fokus jauhkan pria pencuri itu dari sisi wanitaku. Bukan malah mengumpat wanitaku," kesal Arya mendengar Mala mengatakan Hana wanita sialan. "Hei, sabar. Kenapa marah aku mengatai dia bukan dirimu. Lagian, kamu juga
"Aku suka," jawab Azizah dengan lantang yang membuat Mario terdiam dan tiba-tiba saja ada perasaan yang berbeda saat Azizah mengatakan kalau dia suka. Mario mengecup punggung tangan Azizah dan dia bertanya apakah Azizah suka atau dia keberatan, karena dia takut Azizah akan seperti waktu itu. Jadi dia bertanya terlebih dahulu. Ternyata Azizah suka. Perkataan Azizah yang suka dia mengecup punggung tangannya langsung membuat perasaan Mario campur aduk. Mario tersenyum lebar dia benar-benar merasakan sesuatu yang berbeda dengan dirinya seperti ada kupu-kupu terbang di dalam tubuhnya. Mario semakin mempererat tangannya menggenggam tangan Azizah."Terima kasih," ucap Mario dengan malu-malu."Untuk apa?" tanya Azizah dengan wajah yang tersipu malu. "Semuanya," jawab Mario dengan senyum termanisnya.Suasananya yang tadinya canggung kini mulai mencair. Mario nyaman jalan dengan Azizah dia seperti mendapatkan angin segar. Hana yang tidak sengaja menoleh ke arah belakang terkejut melihat Aziz







