LOGIN"Aku mendapatkannya. Dia ada di alamat ini. Bisa ke sana. Dan aku tidak lihat seperti apa dia. Katanya dia kerja hanya ayahnya saja yang sakit. Ayahnya polisi dan ada nenek juga kakeknya yang tinggal di sana." Marcel akhirnya menemukan siapa anak kecil yang menjadi teman kesayangan dari Cakra. Cakra tersenyum karena dia bisa menemukan Arum. Senyumnya tiba-tiba terbit begitu saja. Dan tentu itu membuat Marcel lega. Tidak disangka dengan menemukan alamat dari gadis kecil di masa lalu Cakra bisa membuat mood Cakra kembali. "Bagus. Aku akan ke sana pulang kerja. Aku akan menemui dia. Aku harap kalungnya masih dia pakai," sahut Cakra yang senang karena Arum teman masa kecilnya sudah kembali. "Cakra, itu laporan sudah aku cek. Apa tidak sebaiknya kamu tanda tangani. Kamu tidak lihat dia. Dia mencari kesalahan di laporan itu. Padahal, laporan itu sudah benar. Kenapa kamu meminta dia koreksi. Ada apa denganmu?" tanya Marcel menoleh ke arah Arum. Dia kasihan dengan Arum. Arum terlihat sepe
"Dia menyukaiku," jawab Cakra yang langsung ditanggapi oleh keduanya dengan teriakan bersamaan. "Apa suka?!" Baik Arum dan juga Marcel saling memandang satu sama lain. Arum menggelengkan kepala dia menyangkal tuduhan itu. Dan dia tidak pernah mengatakan suka dengan Cakra bosnya ini. Tapi kenapa Cakra mengatakan itu. Marcel langsung memandang ke arah Cakra yang terlihat sombong dan angkuhnya juga arogannya keluar. Entah kenapa wanita ini begitu unik dimatanya. Dan juga ada keinginan dia untuk dekat dengan Arum. Dan juga ada sesuatu yang membuatnya nyaman dengan Arum.Entahlah. Padahal dia baru bertemu dengan sekretarisnya ini. Dulu dia pernah bersama dengan wanita lain tapi tidak seperti saat dia dekat dengan Arum. Ada wanita yang pernah jadi kekasihnya tapi dia tidak perlakuan dia tidak pernah seperti ini. Hingga dia berpisah karena dirinya tidak menemukan kenyaman. "Cakra, kamu jangan menjatuhkan harga dirimu dan juga harga diriku. Bagaimana bisa kamu katakan dia menyukaimu. Ap
"Kenapa denganku?" tanya Cakra pada dirinya yang saat ini menatap ke arah Arum. Cakra bangun dari tubuh Arum dan membiarkan Arum pergi. Dia melihat Arum berlalu meninggalkan ruangannya. Arum keluar membanting pintu dan berlari ke arah kamar mandi yang ada di lantai tersebut. Dia menangis sendirian di sana. "Kenapa pria itu jahat sekali. Apa dia pikir banyak uang jadi sikapnya seperti itu ke wanita yang tidak ada uang?" tanya Arum pada dirinya sendiri. Arum terus menangis sesenggukan. Cukup lama dia di kamar mandi. Selesai menumpahkan semuanya dia membasuh wajahnya dan kembali ke meja kerjanya. Tapi, saat dirinya kembali ke meja yang terjadi diluar dugaan. "Loh, mana mejaku? Apa aku dipecat?" tanya Arum panik karena dia tidak menemukan mejanya. Arum pergi ke ruangan Marcel untuk bertanya. Saat dirinya mengetuk pintu tidak ada sedikitpun menyahut."Kemana dia? Apa dia tidak mau bertemu aku lagi. Tapi, kalau aku dipecat aku mau ambil tasku dan ponselku. Tapi, kenapa tasku tidak ada
Marcel melihat Cakra yang tersenyum menyeringai. Dia tahu senyum itu punya arti dan artinya sangat berbeda. "Jangan buat masalah kamu. Ingat, ayah dan ibumu akan murka. Kamu akan jadi dendeng nantinya." Peringatan Marcel cukup keras ke Cakra dan dia tidak mau sampai Cakra dapat masalah. Cakra memandang ke arah Marcel yang sedari tadi mengomel tanpa arah dan tentunya dia tidak mau Cakra dapat masalah. Terutama masalah hati. "Apa lagi? Kenapa diam saja di sana. Ayo pergi. Aku mau kerja. Kamu mau aku potong gajinya? Dan cepat cari orang yang aku minta ayo cepat," perintah Cakra ke Marcel sambil mengibaskan tangannya. Marcel pun keluar dari ruangan dan sampai di luar terlihat Arum di bawah kolong meja. Marcel menaikkan alisnya melihat kelakuan sekretaris baru Cakra. "Hmm, cari apa kamu di bawah, Arum?" tanya Marcel yang sontak membuat Arum terkejut. Hingga kepalanya membentur meja sehingga meja bergetar hebat. Dan terdengar suara rintihan dari sana. Marcel ingin tersenyum tapi dia
"Pagi, Pak," sapa salah satu karyawan kepada pria gagah, tampan, berwajah ketat dan tidak ada senyum sedikitpun. Di belakang pria tersebut seorang pria tampan yang ikut dengan wajah yang sama dengan pria yang satunya. "Marcel, apakah hari ini aku sudah dapat sekretaris baru? Kamu harus ingat Marcel aku ingin sekretaris yang gesit dan sekretaris yang tidak membuatku darah tinggi. Apa kamu sudah mendapatkan apa yang aku inginkan itu?" tanya pria tampan tersebut yang tidak lain adalah Cakra. Cakra kembali ke Indonesia untuk membangun perusahaan milik ayahnya Lintang. Sedangkan Lintang dan Hana sudah tidak lagi bekerja. Mereka menikmati waktu mereka berdua perusahaan biar Cakra yang urus. Cakra baru saja pulang dari luar negeri. Hampir 25 tahun Cakra berada di luar negeri dan kini saatnya dia kembali. Tujuannya satu untuk mencari anak kecil yang waktu itu. Anak kecil yang bisa membuatnya tersenyum. "Sudah saya temukan dan dia saat ini sudah berada di mejanya," jawab Marcel dengan teg
Paman Bob menganggukkan kepala. Mengambil apa yang Cakra berikan padanya. Arum masih diingat oleh anak kecil ini pikir Paman Bob kepadanya. Paman Bob mengiyakan apa yang dikatakan oleh Cakra. "Baik, paman akan kasih ini. Jangan khawatir ya. Paman harap kamu jangan sedih masih bisa ketemu lagi nanti."Paman Bob tahu anak majikannya ini baru kenal dekat dengan wanita. Walaupun masih kecil tapi anak majikannya ini sudah mau dekat dengan wanita tidak ada yang tahu hanya dia saja. "Kasihan dia. Baru juga dekat dengan wanita itu eh sudah harus pergi dari sini. Semoga kalian bisa ditemukan kembali," gumam Paman Bob melihat Cakra berjalan masuk dengan aura dingin. Sejak hari itu, Cakra tidak pernah lagi senyum. Dan dia pergi jauh dari Indonesia ke negara luar untuk mengikuti ayah dan ibunya. Paman Bob melakukan apa yang Cakra minta. Dia menemui anak kecil yang dikatakan oleh Cakra. Dan benar saja anak kecil berbaju tk duduk sambil membawa bekal. Beberapa hari ini dia tidak masuk dan sekar
"Apa harus seperti itu, ya ? Aku dan dia itu sahabatan dan tidak ada perasaan apapun di antara kami. Kamu harus percaya denganku. Tapi, kalau kamu memaksa dan tidak percaya ya sudah aku akan mengatakan kepada dia.""Kalau aku sudah menikah dan kamu juga harus mengatakannya kepada kekasihmu itu baga
"Apa kamu tidak dengar yang aku katakan Hana?" tanya Lintang dengan suara yang berat dan juga sorot mata Lintang begitu tajam.Hana terdiam saat menatap Lintang yang terlihat sangat marah kepada dirinya. Hana bingung apa yang harus dia lakukan dan akhirnya dia memutuskan untuk kembali masuk ke dala
"Anda kenapa Pak Lintang? Bukannya kerja ini kenapa pulang-pulang seperti ini ? Anda sakit?" tanya Hana yang duduk di ruang tamu keluarga dan tanpa dia duga Lintang langsung duduk dan rebahan di pangkuannya. Padahal tadi Hana sedang menikmati makanan yang dia buat sendiri tapi tiba-tiba saja Lint
Hana menganggukkan kepala mengiyakan apa yang ditanyakan oleh Lintang padanya. Lintang pun segera memberikan perintah kepada Mario untuk ke tempat penjual. "Pinggirkan mobil di tempat penjual itu. Ayo cepat," perintah Lintang. Mario pun menganggukkan kepala. Mobil harus berbelok terlebih dahulu b







