LOGIN"Gila kamu Cakra." Pria itu langsung keluar dari kamar. Yang masuk ke kamar adalah Marcel. Dia ingin mengajak Cakra untuk makan tapi yang terjadi malah seperti itu. Cakra malah berada di atas tubuh Arum. Dan Arum sendiri mencoba untuk memberontak agar Cakra lepaskan tapi yang terjadi malah Cakra tidak mau dia makin merapatkan tubuhnya hingga Arum merasakan ada sesuatu yang keras menempel di intinya. "Bagaimana, masih marah padaku?" tanya Cakra dengan senyuman yang begitu tampan. Arum begitu malu karena dilihat oleh Marcel. Wajahnya memerah dia ingin menjelaskan ke Marcel kalau dia tidak melakukan apa-apa dengan Cakra tapi sayangnya Marcel asisten dari Cakra sudah keluar. "Turun dari atas tubuhku, Pak. Cepat turun. Kenapa Anda berada di sana. Apa Anda tidak malu dilihat oleh asisten Anda tadi. Cepat lepaskan. Kenapa dengan Anda?" tanya Arum mendorong Aksa untuk pergi dari atas tubuhnya. "Saya tidak mau turun. Saya tetap mau buat anak. Saya konsisten dengan apa yang saya ucapkan.
Arum tidak berhenti dia terus berjalan tanpa peduli teriakkan dari Cakra yang memanggilnya. Arum kesal dengan semua orang dja tidak tahu harus percaya dengan siapa saat ini. Cakra mengambil kalung Arum dan mengejarnya. Cakra tidak mau kehilangan Arum untuk kedua kalinya. "Sial, kenapa dia lari. Kenapa dia tidak percaya padaku. Arumi. Tunggu Arumi. Arumi," teriak Cakra lagi. Arumi masih terus berjalan tanpa henti. Arumi nyebrang ke jalan tapi saat dia hendak menyebrang mobil boks lewat. Suara klakson terdengar jelas. Cakra melihat Arum mau ketabrak teriak kencang. "Arum, awas," pekik Cakra dengan cepat berlari dan mengejar Arum. Cakra berhasil menarik tangan Arum yang terkejut karena suara klakson. Arum berhenti di jalan dan menatap ke mobil tersebut. Tarikkan dari Cakra membuyarkan lamunannya hingga membuat dirinya menjerit histeris. "Kamu selamat. Kamu selamat," Kata itu membuat Arum terdiam dan dia memeluk Cakra. Arum masuk dalam pelukkan Cakra. Dia menangis sejadinya. Semua
Arum mundur dan berbalik ke belakang. Arum yang menangis terkejut melihat bosnya Cakra ada di depannya dan dia menatap Arum dengan tatapan dingin. "Mau apa Anda ke sini. Bukannya Anda sudah pecat saya?" tanya Arum dengan sinis. Cakra terdiam dia sulit untuk mengatakan dia ke sini mau apa? Lidahnya kelu dan sulit dia katakan kalau dia ini teman kecilnya dan dia ingin katakan kalau dia rindu dan mau memeluknya. Tapi, tubuhnya membeku dan tidak bisa mengatakan kalau dia itu teman masa kecilnya. "Pergi. Pergi!!!" teriak Arum dengan kencang. Arum berlari melewati Cakra yang masih membeku ditempatnya dan dia tidak bisa berbuat apapun. Cakra membiarkan Arum pergi begitu saja. "Kenapa tidak dicegah? Bukannya lo mau bicara dan katakan siapa lo sebenarnya bro?" tanya Marcel ke Cakra yang tersentak dan bangun dari lamunannya. Cakra geleng kepala dan menatap Marcel. Marcel yang ditatap oleh Cakra menaikkan alisnya. "Apa?" tanyanya. "Aku harus pergi," jawab Cakra yang berbalik dan mengejar
"Ini makam ibu saya. Anda siapa?" tanya Arum menatap ke arah pria tampan memakai jas dan berkacamata memandang ke arahnya.Mendengar Arum berkata seperti itu pria tersebut terkejut mendengar Arum mengatakan kalau ini makam ibunya. Pria itu adalah Arya. Arya sadar dari koma dan diberitahukan ayahnya kalau orang yang menabraknya sudah meninggal dan dia juga mendengar kenyataan kalau orang tersebut sudah meninggal tetapi dia melahirkan anak. Mendengar hal itu membuat Arya terpaku dan sejak saat itu dia terus mencari kebenarannya. Dan pada akhirnya dia bertemu dengan polisi yang sudah menyelamatkan orang itu yang tidak lain Mala. Saat bertemu orang yang selamatkan Mala membenarkan kalau Mala hamil dan dia sudah menjadi istrinya dan juga melahirkan anak tapi bukan anaknya. Sayangnya saat Arya ingin mencari polisi itu si polisi sudah tidak lagi bekerja dan ia hanya diberitahukan makamnya saja dan sejak saat itulah dia terus datang ke sana berharap bisa menemui anak yang dikatakan oleh pol
Cakra membaca apa yang dibawa oleh Marcel. Dia terkejut melihat apa yang dia baca. Cakra menatap ke arah Marcel. Kamu tidak salah apa ini benar datanya tanya Cakra menatap ke arah Marcel dengan serius. "Iya. Anak kecil yang kamu kasih kalung air mata itu adalah dia. Dan sekarang dia pergi. Bagus. Bagus sekali. Ada apa denganmu? Ada apa, Cakra?" tanya Marcel kesal dengan sahabatnya ini. Klekk! Tiga pria masuk dan melambaikan tangan ke arah Cakra dan Marcel. "Hei, bro. Aku datang. Ini aku ada oleh-oleh untukmu. Dan Dila kirim salam. Katanya dia masih mencintaimu. Apa kamu mau mencintai dia?" tanya sahabat Cakra bernama Deon. Deon meletakkan oleh-oleh darinya. Dia baru pulang dari luar negeri dan langsung bertemu dengan Cakra dan Marcel. "Kenapa ini tegang sekali. Ada apa?" tanya Arman yang heran dengan keduanya. Cakra berdiri dan berlari keluar hingga membuat semuanya terdiam dan memperhatikan Cakra yang lari. "Apa aku seperti hantu kah? Makanya dia lari?" tanya Deon menunjuk ke
"Aku mendapatkannya. Dia ada di alamat ini. Bisa ke sana. Dan aku tidak lihat seperti apa dia. Katanya dia kerja hanya ayahnya saja yang sakit. Ayahnya polisi dan ada nenek juga kakeknya yang tinggal di sana." Marcel akhirnya menemukan siapa anak kecil yang menjadi teman kesayangan dari Cakra. Cakra tersenyum karena dia bisa menemukan Arum. Senyumnya tiba-tiba terbit begitu saja. Dan tentu itu membuat Marcel lega. Tidak disangka dengan menemukan alamat dari gadis kecil di masa lalu Cakra bisa membuat mood Cakra kembali. "Bagus. Aku akan ke sana pulang kerja. Aku akan menemui dia. Aku harap kalungnya masih dia pakai," sahut Cakra yang senang karena Arum teman masa kecilnya sudah kembali. "Cakra, itu laporan sudah aku cek. Apa tidak sebaiknya kamu tanda tangani. Kamu tidak lihat dia. Dia mencari kesalahan di laporan itu. Padahal, laporan itu sudah benar. Kenapa kamu meminta dia koreksi. Ada apa denganmu?" tanya Marcel menoleh ke arah Arum. Dia kasihan dengan Arum. Arum terlihat sepe







