LOGINHana hanya bisa tersenyum mendengar apa yang dikatakan oleh Ibu Ami. Dia juga bingung harus berkata apa. Apakah dia harus katakan dari hati atau dia katakan kalau dirinya diancam oleh Lintang.
Hana menggelengkan kepala menandakan kalau semuanya bukan dari hatinya. "Maaf sebelumnya. Kalau ibu tanya apakah dari hati tentu jawabannya tidak. Tapi saya bersyukur karena Pak Lintang mau bertanggung jawab dengan saya. Saya ini sudah kotor, Bu." "Dan mungkin para pria lain tidak mau menikahi saya karena saya tidak perawan lagi. Tapi, untungnya Pak Lintang mau menikahi saya. Anggap saja saya bisa mengangkat kepala saya di depan semua orang," jawab Hana dengan suara yang lirih dan bergetar menahan air matanya yang hampir jatuh. Ibu Ami memeluk Hana dia tahu bagaimana sedihnya Hana dan dia tidak menyalahkan Hana sama sekali. "Maafkanlah Ibu karena tidak bisa membuat Lintang menjadi sosok pria yang bertanggung jawab. Dia sudah melukaimu dan menghancurkan masa depanmu dan ibu yakin kata-kata Lintang kepadamu pasti menyakitkan hatimu. Ibu minta maaf ya, nak," ucap Ibu Ami kepada Hana sambil mengusap punggung Hana dengan cukup lembut. Ibu Ami melepaskan pelukannya dan menatap Hana sambil mengusap air mata Hana. Dia tahu kalau saat ini Hana pasti tertekan dengan anaknya dan dia merasa kalau Hana terpaksa menerima pernikahan ini. Sejak saat itu Hana menjaga Ibu Ami di rumah sakit. Dan pernikahan keduanya pun berlangsung di rumah sakit tepat di depan Pak Irwandi yang masih belum sadarkan diri. Di saksikan oleh wali hakim dan Ibu Ami. Ibu Ami menjadi saksi Lintang dan tidak ketinggalan Mario sang asisten. Serta beberapa orang dari kantor urusan agama menjadi saksi dari Hana karena kedua orang tuanya sudah meninggal jadi merekalah yang jadi saksi. Pernikahan pun berlangsung dengan cukup hikmat. "Sah!" Ijab kabul terjadi semua saksi mensahkan pernikahan Hana dan Lintang. Hana kini menjadi istri dari Lintang sang CEO arogan. Hana menggunakan kebaya yang dibuat khusus oleh ibu Ami dia ingin Hana memakai pakaian yang cukup cantik dan mewah. Semuanya dipersiapkan disaksikan oleh Pak Irwandi yang masih terbaring di ranjang. Pernikahan keduanya sah dimata hukum dan agama semua surat-menyurat ditandatangani oleh keduanya. Ibu Ami memeluk Hana sekarang wanita itu sudah menjadi menantunya. "Selamat, Sayang. Karena kamu sudah menjadi anakku. Maaf ya karena pernikahanmu seperti ini nanti setelah suamiku sadar kita akan buat pesta yang besar dan aku akan memperkenalkanmu kepada semua orang kalau kamu itu adalah istri dari Lintang Irwandi Kusuma," ucap Ibu Ami yang menjanjikan kepada Hana untuk pesta pernikahan yang cukup mewah dan memperkenalkannya sebagai istri dari Lintang anak satu-satunya dari pengusaha yang cukup terkenal. Mendengar perkataan ibunya, Lintang ingin protes namun tatapan mata Ibu Ami yang tajam ke arah Lintang membuat dirinya mengurungkan niatnya untuk protes. "Sekarang kamu bawa Hana pulang ke rumah dan ingat satu hal kamu jangan menyakitinya sudah cukup kamu menyakiti Hana jika sampai aku mendengarnya maka sudah kupastikan kamu bukan lagi anakku." pernyataan tegas dari ibu Ami membuat Lintang tidak bisa berkata apa-apa. Dia pun mengikuti apa yang dikatakan oleh ibunya membawa Hana pulang. "Ma, Hana pulang dulu nanti Hana ke sini lagi. Hana akan temani Mama jagain Papa." Hana pamitan dengan ibu mertuanya. Dia juga berjanji akan datang untuk menemani ibu mertuanya itu menjaga Ayah mertuanya yang sakit. "Iya. Kamu istirahat saja di rumah. Nanti kalau kamu sudah istirahat yang penuh datanglah ke sini mama yakin papa akan sadar setelah ini. Ayo pulanglah istirahat," jawab ibu Ami dengan lembut sambil memeluk menantunya. Hana mengganggukkan kepala dan pergi bersama dengan Mario dan juga Lintang. Dengan memakai kebaya Hana berjalan cukup pelan hingga dia tertinggal di belakang. "Tuan. Jangan cepat-cepat kasihan Nona Hana coba lihat dia kesulitan untuk jalan." Mario memberitahukan Lintang untuk tidak berjalan cepat. Karena saat ini dia melihat Hana sedikit kesulitan untuk berjalan dikarenakan roknya yang terlalu sempit sehingga dia harus berjalan pelan. Mendengar apa yang dikatakan oleh Mario tentu saja Lintang marah dia menatap ke arah Mario yang malah perhatian dengan Hana. "Suaminya itu saya. Bukan kamu. Jadi biarkan saja dia. Siapa yang memintanya memakai pakaian seperti itu. Aku tidak pernah memintanya," jawab Lintang yang ketus hingga membuat Mario terdiam. Dia tidak berkata apa-apa lagi. Saat masuk lift Hana ketinggalan di belakang. Dia mencoba untuk mengejar namun sayangnya lift tersebut sudah tertutup meninggalkan Hana sendiri. Hana tidak marah dia memilih masuk ke lift sebelahnya. "Dasar laki-laki egois tidak tahu diri dia pikir aku akan marah? Jawaban, ya tidak. Aku tidak marah suka hati dia," gumam Hana yang sebenarnya sedikit kesal dengan Lintang namun dia tidak menunjukkannya. Hana tidak sedikitpun ambil pusing dengan Lintang yang meninggalkannya. Saat pintu lift terbuka masuk seorang pria tampan. Dia terkejut melihat Hana. "Kamu Hana bukan ?" tanya pria tersebut yang membuat Hana terdiam dan menganggukkan kepala. "Wah, lama tidak bertemu Hana. Kamu tidak kenal dengan aku. Aku temanmu. Teman masa SMA. Sebenarnya SMP, SD juga kita bersama kamu masih ingat. Aku si gendut yang lucu itu. Ingat" tanya pria tampan tersebut yang membuat Hana mencoba berpikir siapa yang dikatakan oleh pria tampan ini si gendut yang lucu teman SMAnya. "Teman gendut yang lucu. Hmm, siapa ya ?" tanya Hana pada dirinya sendiri. Hana mencoba berpikir siapa kira-kira temannya yang dulu gendut dan dekat dengannya. Tiba-tiba, Hana mendapat clue. Dia menutup mulutnya dan menatap ke arah pria tampan berkacamata dan terlihat memakai jas hitam sangat gagah tersenyum ke arah dirinya. Hidung mancung, berlesung pipit, belah dagu benar-benar wujud dari dewa Yunani ada di dalam diri si pria tersebut. "Arya ya? Kamu Arya si gendut itu?" tanya Hana yang membuat pria tersebut tersenyum dan menganggukkan kepala. "Yes, akhirnya kamu tahu juga. Benar aku Arya, Hana. Kenapa kamu melupakanku Hana. Apa aku begitu berubah hingga kamu tidak mengenaliku, ya?" tanya Arya yang tersenyum sambil mengusap kepala Hana. Arya menatap Hana dari atas sampai bawah. Arya heran dengan penampilan Hana yang memakai kebaya putih dan dia sangat cantik riasannya juga alami. Wajah Hana tidak pernah berubah sama sekali. Wajahnya seperti dulu imut dan menggemaskan. Wajah yang sangat dia sukai, dia kagumi dan tentunya dia cintai tapi dalam diam. Tidak ada satupun yang tahu kalau dia mencintai Hana hanya dia saja yang tahu. "Aku tidak tahu sama sekali kalau itu kamu. Kamu benar-benar berubah, Arya. Lama tidak bertemu kamu makin tampan. Kenapa kamu tiba-tiba pergi harusnya kamu menemuiku di tempat itu. Kamu 'kan sudah janji kalau kamu akan mengajakku ke taman bermain tapi kenapa kamu tiba-tiba menghilang?" tanya Hana dengan mata yang berkaca-kaca. Hana bener-bener tidak menyangka kalau sahabat baiknya Arya pergi begitu saja tanpa pamit dan sekarang dia muncul dengan versi yang berbeda. Begitu juga dengan dirinya yang sekarang sudah menjadi istri dari pria galak dan arogan. "Maafkan aku Hana. Aku tidak tahu kalau kepergianku membuat dirimu menungguku. Aku mengikuti ayahku ke luar negeri dan sekarang aku sudah kembali kita bisa bersama lagi. Kamu tidak boleh lari dariku, Hana," ucap Arya mencubit pipi Hana. Hana menganggukkan kepala dia sekarang tidak perlu kesepian lagi karena ada Arya teman bicaranya yang selama ini menjadi tempat curhatan hatinya. Saat pintu lift terbuka Hana pun keluar bersama dengan Arya. "Oh, iya Hana. Aku ingin bertanya maaf jika aku lancang. Kenapa kamu berpakaian seperti ini di rumah sakit. Apa ada keluargamu yang menikah hingga kamu memakai pakaian ini?" tanya Arya dengan sangat hati-hati. Sebenarnya dia punya firasat kalau Hana memakai pakaian ini bukan untuk mengunjungi pasien atau menghadiri pernikahan orang lain tapi mungkin pernikahan dia dan bisa jadi kalau suaminya sakit dan dia menikah di sini dan sebagainya. Pikiran-pikiran negatif tersebut berkeliaran di pikirannya. Dia tidak ingin jika Hana menikah dengan pria lain. Karena Hana itu miliknya hanya miliknya. Jadi, agar hatinya tenang dia bertanya. Hana tersenyum kecut mendengar pertanyaan dari Arya dia bingung harus berkata apa. Apakah dia mengakui kalau dia menikah hari ini tapi kalau dia katakan apakah Arya masih mau jadi temannya. "A ...." Hana terdiam melihat Mario muncul. "Permisi Nona. Anda sudah ditunggu silahkan," jawab Mario yang membuat raut wajah Hana berubah dan menatap ke arah Mario yang sudah membungkuk ke arahnya dan memintanya untuk segera pergi. Arya menatap ke arah Mario dengan tatapan yang tajam dia tidak suka jika Mario mengganggunya. "Kamu siapa? Kenapa kamu mengganggu percakapan kami. Apa kamu tahu itu tidak sopan." Arya menunjukkan ketidaksukaannya terhadap Mario yang mengganggu dirinya yang ingin berbicara dengan Hana. Mario yang melihat sikap dari Arya yang ketus dengannya mulai berubah wajahnya. Dia pun tidak suka jika Arya mengganggu istri tuannya. "Anda mau apa?" tanya Mario yang sama-sama memandang ke arah Arya dengan tatapan yang tajam dan juga datar.Pak Candra tidak menjawabnya karena dia bingung mau katakan apa. Sebab jika dia katakan ke istrinya maka istrinya akan koleps. Bu Rasti yang melihat Pak Candra suaminya hanya diam saja jadi kesal. "Pa, kenapa diam saja. Ayo katakan ada apa. Kenapa diam. Apa benar Arya sudah punya kekasih? Apa benar kekasihnya di bawah Hana?" tanya Bu Rasti. Pak Candra menatap ke arah Bu Rasti dan dia menjawab dengan geleng-geleng. Karena dia belum pasti kalau Arya seperti itu. "Tidak. Kekasihnya pasti lebih dari Hana. Di atas Hana. Kamu jangan khawatir. Ayo pulang istirahat. Papa mau ke kantor. Mau bicara masalah kerjaan dengan Arya," jawab Pak Candra lagi. Mendengar apa yang dikatakan oleh suaminya Bu Rasti menganggukkan kepala. Keduanya pulang tanpa ada banyak bicara tapi Pak Candra yang berpikir keras apakah benar Arya membawa wanita ke kantor kalau iya siapa? "Aku harus selidiki semuanya," jawab Pak Candra. Mala mendapatkan kabar kalau Lintang sekarang ada di ruang ICU dan dia juga tahu di
Ibu Rasti menatap Ibu Ami dengan tajam dia tidak menyangka kalau ibu Ami berkata seperti itu. Bagaimana bisa Ibu Ami membela Hana. "Ibu tidak salah bela wanita ini. Ibu itu wanita yang terhormat dan banyak yang tahu ibu itu siapa. Apa tidak malu nanti orang-orang akan merendahkan ibu karena dia?" tanya Ibu Rasti menunjuk ke arah Hana dan dia mulai memprovokasi Ibu Ami. Hana geram dengan ibunya Arya. Bagaimana mungkin Ibu Arya bisa berkata seperti ini. "Saya sudah banyak bersabar dengan tante selama ini. Saya sudah katakan kalau saya dan Arya tidak ada hubungan apapun. Saya dan Arya dulunya berteman hanya berteman baik. Tidak ada satu pun perasaan yang hadir di dalamnya. Kenapa tante marah dan kenapa tante menuduh saya yang tidak-tidak. Apa salah saya dengan tante hingga tante berkata seperti itu. Saya diminta jauhi sudah saya jauhi. Tapi, kenapa sekarang malah saya yang disalahkan terus, kenapa?" tanya Hana dengan penuh amarah meluapkan semuanya. Hana tidak mau disalahkan lagi. Di
Pak Candra marah besar karena pintu kantor milik Arya tidak bisa dibuka olehnya. Asisten dari Arya segera mendekati Bos besarnya sambil menundukkan kepala memberi hormat. "Kenapa pintu ini dikunci dari dalam. Apa yang dia lakukan?" tanya Pak Candra kepada asisten Arya. "Maaf, Pak Candra. Pak Arya tidak bisa diganggu dia ingin tidur sebentar. Katanya, kepalanya pusing dan dia tidak enak badan jadi dia ingin menenangkan diri," jawab asisten tersebut yang memberitahukan kalau Arya sedang istirahat dan tidak enak badan.Pak Candra terdiam dia tidak bisa berkata apa-apa. Dia tidak ingin membahasnya lagi dan langsung pergi meninggalkan kantor. Asisten Arya hanya bisa menghela nafas saat dirinya harus berbohong dengan ayah dari atasannya itu. "Untung saja dia percaya jika tidak maka akan ada masalah yang lebih besar lagi," jawab sang asisten yang langsung pergi masuk ke dalam ruangannya. Sedangkan Arya dan juga Mala terus memberikan permainan-permainan panas mereka. Suara-suara teriakan
"Kamu jangan berbohong kepadaku, Arya. Kamu pasti yang sudah mencelakai Lintang. Ayo katakan saja kamu yang melakukannya kan. Kamu jangan berbohong kepadaku, Arya. Kamu tidak bisa membodohiku lagi, Arya. Aku tahu semuanya. Tega kamu lakukan itu. Apa mau kamu, Arya. Apa," teriak Mala dengan cukup kencang. Dia benar-benar marah dan murka dengan Arya yang sudah membuat Lintang celaka. Ini bukan seperti ini rencana mereka sebelumnya. Tapi Arya malah membuat Lontang celaka. Arya yang tidak terima dibentak oleh Mala segera berdiri dan dia mendekati Mala. Dengan cepat Mala diseret ke ruangannya. Ruang pribadi miliknya yang ada di kantor tersebut. Pintu semuanya dikunci.Arya memberikan pesan kepada asistennya untuk tidak masuk ke dalam ruangan ini. Setelah itu dia masuk menemui Mala. Mala menatap Arya dengan nanar. Dia tidak percaya dengan apa yang akan dilakukan oleh Arya padanya. "Apa yang mau kamu lakukan. Lepaskan aku. Aku ingin pergi ke rumah sakit. Aku ingin melihat Lintang dia me
Pak Irwandi segera membawa Hana ke ruangannya. Dia ikutan panik karena anaknya dan asistennya kecelakaan apalagi setelah mendengar kalau Lintang kecelakaan karena mencari keinginan untuk Hana. "Kamu jaga dia. Saya mau ke rumah sakit dan nanti setelah dia sadar langsung hubungi saya dan saya akan kasih tahu dimana rumah sakitnya," ujar Pak Irwandi ke Azizah. Azizah menganggukkan kepala dia akan menjaga Hana dengan sangat baik. Dan dia akan menunggu kabar dari Pak Irwandi nantinya. "Hana, bangun, Han. Kenapa kamu pingsan. Aduh kamu menakuti aku, Han," rengek Azizah yang benar-benar takut jika terjadi sesuatu dengan Hana. Azizah mengambil minyak angin dia mengusap hidung Hana dengan minyak angin. Berharap Hana bangun. Setengah jam berusaha membangunkan Hana, akhirnya Hana terbangun. "Lintang. Mana dia? Apa yang terjadi. Azizah, suamiku kecelakaan. Aku tidak mau dia kenapa-napa," tangis Hana mengadu ke Azizah kalau Lintang kecelakaan. "Iya, sabar dulu. Tenangkan dirimu. Ingat kamu h
"Hahh! Semutnya masuk. Aku harus apa sekarang," teriak Lintang yang langsung turun dari tangga dan berteriak kencang karena semut yang dikatakan oleh pak Kumis masuk ke bajunya. Mario ikutan panik karena Lintang digigit semut. Mario membantu Lintang untuk mengeluarkan semut dan akhirnya Lintang bisa selamat dari semut yang sudah keluar dari dalam pakaiannya. "Semut tidak tahu diri. Kenapa dia masuk. Aku hanya ambil satu. Awas kalian aku bakar kalian," rutuk Lintang dengan wajah kesal. Lintang kesal karena dia digigit semut padahal dia sudah hati-hati tapi tetap saja dia digigit oleh semut. Pak kumis melihat Lintang marah-marah geleng kepala. "Kamu itu disukai dia makanya kamu digigit. Sudahlah, jangan banyak bicara kamu. Diam saja. Sana pulang sudah dapatkan mangganya?" tanya Pak kumis membawa kembali tangga dan pergi dari hadapan Lintang. "Eh, Pak. Tunggu dulu. Saya mau tanya dimana pohon cermai. Istri saya ingin pohon cermai dia. Apakah bapak tahu di sekitar sini ada pohon cerm
"Mau apa kamu ke sini? Apa masih ingin mengejar istriku ya?" tanya Lintang kepada Arya.Arya mengikuti Lintang dan juga Hana sedari di kantor. Dia masih belum bisa menerima Hana menikah dengan Lintang. Dia masih terus mengejar Hana karena dia sudah bertekad kalau dia ingin mendapatkan Hana. Apapun
"Dengar ya apa yang aku katakan ini," ucap Lintang ke Hana. "Ok, Sayang. Tapi, kamu jangan jahil ya mereka itu orang yang kita kenal. Termasuk Azizah. Dia sahabat baikku dan sudahku anggap sebagai keluarga jangan sampai kamu membuat dia membenciku karena idemu itu," ucap Hana yang membuat Lintang
"Atas dasar kemanusiaan yang adil dan beradab," jawab Azizah spontan hingga membuat Mario terdiam. Ia tidak menyangka kalau teman dari istri atasannya bisa berkata seperti itu dan itu sangat menggemaskan juga konyol menurutnya. Azizah mengedipkan matanya dan Mario yang melihatnya terpesona semaki
"Saya tidak tahu, Pak. Coba Anda tanya saja dengan Nona Hana. Kenapa dia seperti itu," jawab Mario yang membuat Lintang membolakan mata. "Kalau kamu minta saya bertanya dengan istri saya buat apa saya bertanya dengan kamu," jawab Lintang yang segera masuk ke dalam lift dan menuju ke ruangannya. S







