Share

Bab 4. Sah

Author: ZeeHyung
last update publish date: 2026-02-04 08:10:38

Hana hanya bisa tersenyum mendengar apa yang dikatakan oleh Ibu Ami. Dia juga bingung harus berkata apa. Apakah dia harus katakan dari hati atau dia katakan kalau dirinya diancam oleh Lintang.

Hana menggelengkan kepala menandakan kalau semuanya bukan dari hatinya.

"Maaf sebelumnya. Kalau ibu tanya apakah dari hati tentu jawabannya tidak. Tapi saya bersyukur karena Pak Lintang mau bertanggung jawab dengan saya. Saya ini sudah kotor, Bu."

"Dan mungkin para pria lain tidak mau menikahi saya karena saya tidak perawan lagi. Tapi, untungnya Pak Lintang mau menikahi saya. Anggap saja saya bisa mengangkat kepala saya di depan semua orang," jawab Hana dengan suara yang lirih dan bergetar menahan air matanya yang hampir jatuh.

Ibu Ami memeluk Hana dia tahu bagaimana sedihnya Hana dan dia tidak menyalahkan Hana sama sekali.

"Maafkanlah Ibu karena tidak bisa membuat Lintang menjadi sosok pria yang bertanggung jawab. Dia sudah melukaimu dan menghancurkan masa depanmu dan ibu yakin kata-kata Lintang kepadamu pasti menyakitkan hatimu. Ibu minta maaf ya, nak," ucap Ibu Ami kepada Hana sambil mengusap punggung Hana dengan cukup lembut.

Ibu Ami melepaskan pelukannya dan menatap Hana sambil mengusap air mata Hana. Dia tahu kalau saat ini Hana pasti tertekan dengan anaknya dan dia merasa kalau Hana terpaksa menerima pernikahan ini.

Sejak saat itu Hana menjaga Ibu Ami di rumah sakit. Dan pernikahan keduanya pun berlangsung di rumah sakit tepat di depan Pak Irwandi yang masih belum sadarkan diri. Di saksikan oleh wali hakim dan Ibu Ami.

Ibu Ami menjadi saksi Lintang dan tidak ketinggalan Mario sang asisten. Serta beberapa orang dari kantor urusan agama menjadi saksi dari Hana karena kedua orang tuanya sudah meninggal jadi merekalah yang jadi saksi. Pernikahan pun berlangsung dengan cukup hikmat.

"Sah!"

Ijab kabul terjadi semua saksi mensahkan pernikahan Hana dan Lintang. Hana kini menjadi istri dari Lintang sang CEO arogan. Hana menggunakan kebaya yang dibuat khusus oleh ibu Ami dia ingin Hana memakai pakaian yang cukup cantik dan mewah. Semuanya dipersiapkan disaksikan oleh Pak Irwandi yang masih terbaring di ranjang.

Pernikahan keduanya sah dimata hukum dan agama semua surat-menyurat ditandatangani oleh keduanya. Ibu Ami memeluk Hana sekarang wanita itu sudah menjadi menantunya.

"Selamat, Sayang. Karena kamu sudah menjadi anakku. Maaf ya karena pernikahanmu seperti ini nanti setelah suamiku sadar kita akan buat pesta yang besar dan aku akan memperkenalkanmu kepada semua orang kalau kamu itu adalah istri dari Lintang Irwandi Kusuma," ucap Ibu Ami yang menjanjikan kepada Hana untuk pesta pernikahan yang cukup mewah dan memperkenalkannya sebagai istri dari Lintang anak satu-satunya dari pengusaha yang cukup terkenal.

Mendengar perkataan ibunya, Lintang ingin protes namun tatapan mata Ibu Ami yang tajam ke arah Lintang membuat dirinya mengurungkan niatnya untuk protes.

"Sekarang kamu bawa Hana pulang ke rumah dan ingat satu hal kamu jangan menyakitinya sudah cukup kamu menyakiti Hana jika sampai aku mendengarnya maka sudah kupastikan kamu bukan lagi anakku." pernyataan tegas dari ibu Ami membuat Lintang tidak bisa berkata apa-apa.

Dia pun mengikuti apa yang dikatakan oleh ibunya membawa Hana pulang.

"Ma, Hana pulang dulu nanti Hana ke sini lagi. Hana akan temani Mama jagain Papa." Hana pamitan dengan ibu mertuanya.

Dia juga berjanji akan datang untuk menemani ibu mertuanya itu menjaga Ayah mertuanya yang sakit.

"Iya. Kamu istirahat saja di rumah. Nanti kalau kamu sudah istirahat yang penuh datanglah ke sini mama yakin papa akan sadar setelah ini. Ayo pulanglah istirahat," jawab ibu Ami dengan lembut sambil memeluk menantunya.

Hana mengganggukkan kepala dan pergi bersama dengan Mario dan juga Lintang. Dengan memakai kebaya Hana berjalan cukup pelan hingga dia tertinggal di belakang.

"Tuan. Jangan cepat-cepat kasihan Nona Hana coba lihat dia kesulitan untuk jalan." Mario memberitahukan Lintang untuk tidak berjalan cepat.

Karena saat ini dia melihat Hana sedikit kesulitan untuk berjalan dikarenakan roknya yang terlalu sempit sehingga dia harus berjalan pelan.

Mendengar apa yang dikatakan oleh Mario tentu saja Lintang marah dia menatap ke arah Mario yang malah perhatian dengan Hana.

"Suaminya itu saya. Bukan kamu. Jadi biarkan saja dia. Siapa yang memintanya memakai pakaian seperti itu. Aku tidak pernah memintanya," jawab Lintang yang ketus hingga membuat Mario terdiam. Dia tidak berkata apa-apa lagi.

Saat masuk lift Hana ketinggalan di belakang. Dia mencoba untuk mengejar namun sayangnya lift tersebut sudah tertutup meninggalkan Hana sendiri.

Hana tidak marah dia memilih masuk ke lift sebelahnya.

"Dasar laki-laki egois tidak tahu diri dia pikir aku akan marah? Jawaban, ya tidak. Aku tidak marah suka hati dia," gumam Hana yang sebenarnya sedikit kesal dengan Lintang namun dia tidak menunjukkannya.

Hana tidak sedikitpun ambil pusing dengan Lintang yang meninggalkannya. Saat pintu lift terbuka masuk seorang pria tampan. Dia terkejut melihat Hana.

"Kamu Hana bukan ?" tanya pria tersebut yang membuat Hana terdiam dan menganggukkan kepala.

"Wah, lama tidak bertemu Hana. Kamu tidak kenal dengan aku. Aku temanmu. Teman masa SMA. Sebenarnya SMP, SD juga kita bersama kamu masih ingat. Aku si gendut yang lucu itu. Ingat" tanya pria tampan tersebut yang membuat Hana mencoba berpikir siapa yang dikatakan oleh pria tampan ini si gendut yang lucu teman SMAnya.

"Teman gendut yang lucu. Hmm, siapa ya ?" tanya Hana pada dirinya sendiri.

Hana mencoba berpikir siapa kira-kira temannya yang dulu gendut dan dekat dengannya. Tiba-tiba, Hana mendapat clue. Dia menutup mulutnya dan menatap ke arah pria tampan berkacamata dan terlihat memakai jas hitam sangat gagah tersenyum ke arah dirinya.

Hidung mancung, berlesung pipit, belah dagu benar-benar wujud dari dewa Yunani ada di dalam diri si pria tersebut.

"Arya ya? Kamu Arya si gendut itu?" tanya Hana yang membuat pria tersebut tersenyum dan menganggukkan kepala.

"Yes, akhirnya kamu tahu juga. Benar aku Arya, Hana. Kenapa kamu melupakanku Hana. Apa aku begitu berubah hingga kamu tidak mengenaliku, ya?" tanya Arya yang tersenyum sambil mengusap kepala Hana.

Arya menatap Hana dari atas sampai bawah. Arya heran dengan penampilan Hana yang memakai kebaya putih dan dia sangat cantik riasannya juga alami. Wajah Hana tidak pernah berubah sama sekali. Wajahnya seperti dulu imut dan menggemaskan.

Wajah yang sangat dia sukai, dia kagumi dan tentunya dia cintai tapi dalam diam. Tidak ada satupun yang tahu kalau dia mencintai Hana hanya dia saja yang tahu.

"Aku tidak tahu sama sekali kalau itu kamu. Kamu benar-benar berubah, Arya. Lama tidak bertemu kamu makin tampan. Kenapa kamu tiba-tiba pergi harusnya kamu menemuiku di tempat itu. Kamu 'kan sudah janji kalau kamu akan mengajakku ke taman bermain tapi kenapa kamu tiba-tiba menghilang?" tanya Hana dengan mata yang berkaca-kaca.

Hana bener-bener tidak menyangka kalau sahabat baiknya Arya pergi begitu saja tanpa pamit dan sekarang dia muncul dengan versi yang berbeda. Begitu juga dengan dirinya yang sekarang sudah menjadi istri dari pria galak dan arogan.

"Maafkan aku Hana. Aku tidak tahu kalau kepergianku membuat dirimu menungguku. Aku mengikuti ayahku ke luar negeri dan sekarang aku sudah kembali kita bisa bersama lagi. Kamu tidak boleh lari dariku, Hana," ucap Arya mencubit pipi Hana.

Hana menganggukkan kepala dia sekarang tidak perlu kesepian lagi karena ada Arya teman bicaranya yang selama ini menjadi tempat curhatan hatinya.

Saat pintu lift terbuka Hana pun keluar bersama dengan Arya.

"Oh, iya Hana. Aku ingin bertanya maaf jika aku lancang. Kenapa kamu berpakaian seperti ini di rumah sakit. Apa ada keluargamu yang menikah hingga kamu memakai pakaian ini?" tanya Arya dengan sangat hati-hati.

Sebenarnya dia punya firasat kalau Hana memakai pakaian ini bukan untuk mengunjungi pasien atau menghadiri pernikahan orang lain tapi mungkin pernikahan dia dan bisa jadi kalau suaminya sakit dan dia menikah di sini dan sebagainya.

Pikiran-pikiran negatif tersebut berkeliaran di pikirannya. Dia tidak ingin jika Hana menikah dengan pria lain. Karena Hana itu miliknya hanya miliknya. Jadi, agar hatinya tenang dia bertanya.

Hana tersenyum kecut mendengar pertanyaan dari Arya dia bingung harus berkata apa. Apakah dia mengakui kalau dia menikah hari ini tapi kalau dia katakan apakah Arya masih mau jadi temannya.

"A ...." Hana terdiam melihat Mario muncul.

"Permisi Nona. Anda sudah ditunggu silahkan," jawab Mario yang membuat raut wajah Hana berubah dan menatap ke arah Mario yang sudah membungkuk ke arahnya dan memintanya untuk segera pergi.

Arya menatap ke arah Mario dengan tatapan yang tajam dia tidak suka jika Mario mengganggunya.

"Kamu siapa? Kenapa kamu mengganggu percakapan kami. Apa kamu tahu itu tidak sopan." Arya menunjukkan ketidaksukaannya terhadap Mario yang mengganggu dirinya yang ingin berbicara dengan Hana.

Mario yang melihat sikap dari Arya yang ketus dengannya mulai berubah wajahnya. Dia pun tidak suka jika Arya mengganggu istri tuannya.

"Anda mau apa?" tanya Mario yang sama-sama memandang ke arah Arya dengan tatapan yang tajam dan juga datar.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Sentuhan Manja Sang CEO Arogan   Bab 85. Kebahagiaan Yang Sempurna (Tamat)

    Persiapan pernikahan Cakra dan Arum dikerjakan berdua. Keduanya mewujudkan impian pernikahan yang mereka inginkan. Walaupun ada cekcok sedikit tapi semuanya tidak sampai bubar. "Sayang, tidak lama lagi kita akan menikah. Aku sudah tidak sabar. Kamu tahu aku semangat sekali untuk menikah dengan kamu. Apa kamu semangat dan bahagia menikah dengan aku?" tanya Cakra yang manja dengan calon istrinya Arum. Arum tertawa mendengar Cakra pria tampan yang manja ini mengatakan itu. "Kalau aku katakan manja kamu marah tidak?" tanya Arum. "Kenapa aku dikatakan manja. Aku tidak manja, aku hanya sedikit ingin memeluk kamu. Aku tidak sabar untuk menjadikan kamu istri. Kamu jangan kerja lagi ya. Eh, kamu kerja saja temani aku di kantor jika aku ingin kamu dan rindu kamu aku bisa langsung peluk kamu. Kamu tidak boleh jauh dari aku." Arum menggelengkan kepala mendengar apa yang dikatakan oleh Cakra. Dia tidak menyangka kalau Cakra berkata seperti itu."Jadi maksudmu kalau aku kerja di kantormu nanti

  • Sentuhan Manja Sang CEO Arogan   Bab 84. Kejutan Yang Manis

    Cakra mendengus kesal dia akhirnya ikut. Ayahnya itu tidak bisa diajak kerja sama dan ayahnya terlalu memaksa dirinya hingga dia mau tidak mau ikut dengan kedua orang tuanya. Cakra diminta memakai pakaian yang sudah disiapin oleh orang tuanya. Sekali lagi, Cakra mau tidak mau melakukannya dan dia memakai pakaian batik yang sangat formal. "Kita ini mau kemana sih? Aku ini seperti dijebak oleh kalian. Apa kalian mau jodohkan aku dengan wanita lain?!" Cakra risau dengan tingkah orang tuanya yang ditanya tidak mau jawab malah mereka terlihat tenang. "Dengar ya, aku sudah punya kekasih jadi jangan nikahin aku dengan gadis lain. Jika itu terjadi maka aku akan pergi dari rumah." Cakra sekali lagi memperingati orang tuanya untuk tidak ikut campur urusan kehidupan dia. "Kamu bisa diam tidak? Kamu ini berisik sekali. Kamu jalankan saja mobil ini dan ikuti arahanku. Kamu tidak perlu banyak bicara." Lintang kesal dengan anaknya sedari di rumah sampai di jalan selalu saja mengomel dan marah hin

  • Sentuhan Manja Sang CEO Arogan   Bab 83. Hari Yang Dinanti

    "Ma. Kenapa diam? Jawab Ma. Benar tidak yang Papa katakan?" tanya Cakra ke Hana. Hana lagi-lagi tidak bisa menjawabnya. Hana menoleh ke arah Lintang yang memalingkan wajahnya dari dirinya. "Kenapa kamu tidak jawab. Ayo jawab. Anakmu bertanya itu. Kamu benar-benar keterlaluan sekali. Kamu yang sudah buka suara kamu malah diam seribu bahasa. Apa-apaan ini." Hana kesal dengan Lintang lepas tangan. "Cakra, kamu jangan dengarkan papamu itu. Dia asal bicara. Kalau memang asisten kamu itu mau lamaran pasti dia beritahukan ke kamu. Sudah lupakan saja," jawab Pak Irwandi mewakili Lintang menjawab pertanyaan cucunya. Cakra menatap kakeknya lekat. Dia mau tahu apakah benar yang kakeknya katakan. Apakah kakeknya tidak bohong. Dan dari sorot matanya kakeknya benar. "Baiklah. Aku mau ke kamar. Kalian benar-benar mencurigakan sekali." Cakra geleng kepala dengan tingkah ayahnya. Dia tahu betul ayahnya itu jahil dan suka menggoda dia dan ibunya. Tapi, biarpun jahil dia sayang pada ayahnya. Pak

  • Sentuhan Manja Sang CEO Arogan   Bab 82. Rahasia

    Lintang geleng kepala. Dia tidak berani untuk mengatakan penolakannya di depan Hana. Bisa bahaya dia nantinya. "Kita pulang saja. Ayo cepat, " cicit Lintang yang segera bergerak menuju mobil. Hana pun ikut pulang tadi dia pamitan dulu dengan keluarga angkat Arum dan mengatakan akan datang lagi hari sabtu malam minggu. Arya terharu karena anaknya diterima oleh Hana. Dia berpikir Hana tidak mau menerima anaknya. Akan tetapi dia menerimanya. Arya pun pulang dan memberitahukan ke ayah dan ibunya. Tanggapan mereka bahagia. Mendengar keluarga Lintang mau menerima cucu mereka. "Arum harus dibawa ke sini. Kita buat acara mewah. Jangan buat keluarga kita malu. Mama mau cucu mama itu bahagia. Oh ya, mama mau ketemu dengan cucu mama. Kamu kapan baw kami ketemu dia. Ayolah, kenalkan mama dan Papa ke cucu satu-satunya itu. Kamu mau kan?" tanya Ibu kandung Aryaberharap anaknya bisa mengajak dia bertemu dengan cucunya. "Benar itu. Kami juga mau bertemu dia. Dan kami mau dia mengenal kami. Kita

  • Sentuhan Manja Sang CEO Arogan   Bab 81 . Melamar

    "Kita nikah saja baru kita ketemu dengan orang tua kita. Bagaimana? Apakah kamu mau menikah denganku?" tanya Cakra membuat Arum melotot. "Tidak. Aku tidak mau. Sudahlah, aku pusing. Kamu jangan buat aku pusing dengan permintaan kamu itu." Arum mengabaikan Cakra yang meminta mereka menikah baru meminta restu dari keluarga. Cakra menghela napas panjang mendengar apa yang dikatakan oleh Arum. Cakra kembali ke mejanya dan duduk di kursi. Cakra menatap Arum dengan penuh cinta. Dirinya tidak mau kehilangan Arum. Jika orang tuanya tidak suka maka dia akan perjuangkan. Lintang yang sudah mendapatkan alamat dari Arum segera pergi ke rumahnya bersama Hana. "Sayang, kamu yakin mau temui orang tua angkat Arum? Apa kamu sudah setuju dengan mereka?" tanya Hana penasaran dengan Lintang yang tiba-tiba saja ingin ke rumah orang tua angkat Arum yang katanya polisi. "Aku hanya ingin tahu apa yang terjadi. Bukan setuju. Bedakan ya." Lintang tidak suka dengan apa yang dikatakan oleh Hana. Hana terse

  • Sentuhan Manja Sang CEO Arogan   Bab 80. Ide Apa

    "Kamu setuju dengan dia? Kamu tidak masalah anakmu menikah dengan orang yang sudah mencelakai kita berdua. Kamu tidak ingat, bagaimana kejamnya mereka, Hana?" tanya Lintang tidak percaya jika Hana malah luluh dengan apa yang anaknya lakukan. Hana menghela napas. Dia tahu kedua orang tua Arum seperti apa dengan dirinya. Tapi, dia tidak bisa berkata-kata banyak karena sosok Arum berbeda dengan orang tuanya. Dia tidak sama dan dia terlihat baik dan sopan. "Dia tidak sama dengan ayah dan ibunya. Dia diasuh dengan orang yang benar. Dia tidak jahat. Kamu tidak lihat bagaimana sederhananya dia tadi. Aku suka dengan dia. Dia manis dan lucu. Cocok dengan menantuku. Kamu coba deh resapi dia maksudnya aku lihat sisi positif dari anak itu eh maksudnya Arum. Coba sekali saja kamu lihat dia. Jangan lihat orang tuanya. Anak kita tidak menikah dengan mereka tapi Arum."Hana kembali mengatakan kesukaan dia ke Arum. Dia bisa merasakan kalau Arum itu jauh dari ibu dan ayahnya. Dia memiliki sesuatu yan

  • Sentuhan Manja Sang CEO Arogan   Bab 1. Kehilangan Kesucian

    "Hana, mulai besok kerja di perusahaan cabang ya. Kamu harus bantu anak saya. Apa kamu bisa?" tanya Pak Irwandi."Siap, Pak," jawab Hana. Hana yang bekerja sebagai sekretaris Pak Irwandi kini dia berpindah di perusahaan milik Pak Irwandi yang lain. Di sana Ceo-nya adalah anak dari Pak Irwandi seo

  • Sentuhan Manja Sang CEO Arogan   Bab 7. Jangan Jatuh Cinta

    "Pak Irwandi. Kenapa Anda ada di sini. Aduh sakit sekali. Dan kenapa Bapak mengejutkan saya. Kalau saya kena serangan jantung bagaimana," cicit Mario yang segera bangun perlahan sambil memegang meja. Mario geleng kepala melihat kelakuan dari ayah bosnya ini. "Lagian kamu kenapa memandang wanita it

  • Sentuhan Manja Sang CEO Arogan   Bab 3. Dia Wanita Penggoda

    Lintang berdecih mendengar apa yang dikatakan oleh Hana. Wanita ini benar-benar sombong dan angkuh. Lintang tidak menyangka dirinya berhadapan dengan wanita sombong seperti Hana. Biasanya para wanita yang lain berlutut di kakinya tapi Hana tidak. Dia malah terlihat arogan dan angkuh. "Jangan terla

  • Sentuhan Manja Sang CEO Arogan   Bab 2. Perjanjian Pernikahan

    Lintang terdiam mendengar apa yang ayahnya katakan. Terlebih lagi sorot mata ayahnya sangat berbeda. Biasanya sorot mata ayahnya penuh dengan kelembutan, kasih sayang tapi kali ini dia bisa melihat amarah dari ayahnya. Lintang berdiri dan dia meninggalkan ayahnya seorang diri. Pak Irwandi terdudu

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status