Home / Romansa / Sentuhan Manja Sang CEO Arogan / Bab 5. Jangan Sentuh Saya, Pak Lintang

Share

Bab 5. Jangan Sentuh Saya, Pak Lintang

Author: ZeeHyung
last update publish date: 2026-02-04 08:22:26

Hana yang melihat situasi semakin tidak kondusif langsung menengahi keduanya.

"Maaf, Arya. Saya pulang dulu ya nanti kita bicarakan lagi. Oh, ya berikan nomormu nanti aku hubungi." Hana meminta nomor telepon dari Arya karena dia ingin berbicara dengan Arya nantinya.

"Hmm, baiklah. Mana ponselmu aku akan memberikan nomorku dan ingat beritahukan aku di mana kamu tinggal dan juga kalau kamu sudah sampai rumah kabari aku," jawab Arya yang dianggukan oleh Hana.

Hana memberikan ponselnya kepada Arya dan Arya segera memberikan nomornya sekaligus menghubungi nomornya sendiri dari ponsel Hana. Setelah masuk barulah dia berikan ponsel Hana kembali.

"Arya, aku pergi dulu ya salam dari aku untuk orang tuamu sampai ketemu lagi," ucap Hana.

Hana melambaikan tangan ke arah Arya sambil tersenyum. Hana berjalan lebih dulu di depan sedangkan Mario berjalan di belakangnya sambil memandang ke arah Arya.

Terlihat Mario tidak menyukai Arya begitu sebaliknya. Arya juga tidak menyukai Mario. Keduanya sama-sama menunjukkan ketidaksukaan mereka.

Sedangkan Lintang yang berada di mobil bisa melihat dari kejauhan interaksi Hana, Mario dan juga Arya dan dia juga bisa melihat kalau Hana tersenyum ke arah pria itu.

"Ck, baru saja menikah dia sudah menunjukkan sisi liarnya. Itu yang dikatakan wanita baik-baik? Dasar munafik," ucap Lintang yang tidak suka melihat Hana dekat dengan pria lain.

Padahal dia baru saja menikah tapi Hana sudah menunjukkan kalau dia bukan wanita baik-baik seperti yang dikatakan oleh ibunya. Kalau Hana itu wanita baik.

Hana segera masuk ke dalam mobil dan duduk di depan bersama dengan Mario. Lintang yang melihatnya langsung angkat suara.

"Kenapa kamu duduk di depan ?" tanya Lintang.

Hana tidak menjawab. Dia langsung keluar dan pindah ke belakang. Melihat Hana tidak menjawab pertanyaannya Lintang hanya bisa diam menahan amarah. Dia tahu kalau saat ini Hana terlihat cuek dengan dirinya.

Lintang tidak lagi bertanya apapun. Dirinya lebih memilih diam sampai di rumah Lintang hanya memberitahukan kepada kepala pelayan Pak Koko untuk mengantar Hana ke dalam kamarnya dan sejak saat itu Hana tidak melihat lagi keberadaan dari Lintang.

Di rumah sakit juga dia tidak melihat keberadaan Lintang dan Pak Irwandi yang sudah sadar dari komanya pun tersenyum karena Hana sudah menjadi menantunya.

Di kantor Hana juga tidak melihat keberadaan dari Lintang bukan hanya Lintang tapi asistennya juga tidak terlihat.

"Hana. Tolong berikan ini kepada Pak Lintang ya. Sudah hampir sebulan dia tidak terlihat ke mana dia dan pekerjaan juga cukup banyak. Dan belum disetujui oleh dia. Saya sudah kabari Pak Irwandi dan katakannya serahkan saja semuanya kepada kamu karena katanya Pak Lintang lagi ke luar negeri."

"Apakah benar ?" tanya salah satu Manager kepada Hana yang menyerahkan laporan keuangan kepada dirinya untuk ditandatangani oleh Lintang.

"Saya tidak tahu keberadaan dia saat ini di mana. Saya juga baru tahu dari Bapak karena memang dia tidak ada konfirmasi ke saya."

"Ya sudah laporan ini saya ambil dan saya simpan dulu. Nanti kalau Pak Lintang datang saya berikan. Setelah itu, saya akan kabari Bapak, ya," jawab Hana dengan sopan.

"Baiklah kalau begitu saya permisi dulu, ya Hana. Kabari saya segera karena ini menyangkut masalah komisi dari karyawan penjualan."

"Mereka sudah mendapatkan target dan kita harus berikan komisi untuk mereka agar mereka semangat untuk bekerja," jawab Manager.

"Iya, Pak. Saya akan segera konfirmasi lagi nanti setelah ada tanda tangannya saya akan kabari," jawab Hana yang dianggukan oleh sang Manager.

Hana mengumpulkan beberapa berkas yang sudah menumpuk untuk ditandatangani oleh Lintang. Hana baru tahu kalau suami arogannya itu ada di luar negeri padahal mertuanya tidak mengatakan apapun ke dia malah bertanya ke mana Lintang.

Hana mengerjakan pekerjaan yang ditinggalkan Lintang dengan cukup banyak. Semuanya dia menghandle. Sampailah malam tiba Hana yang sudah kelelahan bergegas untuk pulang ke rumah.

"Lelah, pulang dan tidur."

Namun tanpa diduga oleh Hana dia melihat Lintang berjalan sempoyongan ke arah dirinya. Keduanya saling memandang satu sama lain dan saat Lintang sampai di meja kerja Hana tatapan mata Lintang sangat tajam ke arah Hana.

"Mau ke mana kamu, Hana ?" tanya Lintang dengan suara yang dingin.

"Saya mau pulang, pak Lintang. Berkas-berkasnya akan saya berikan besok pagi," jawab Hana.

Hana mengambil tas dan bersiap pergi meninggalkan Lintang. Akan tetapi, tangan Hana ditahan oleh Lintang.

"Saya sudah sampai di sini berikan berkas-berkas itu kepada saya. Bawa masuk. Saya ingin memeriksanya," jawab Lintang dengan tegas meminta Hana untuk membawa berkas yang tadi Hana katakan padanya.

Hana sebenarnya takut kejadian malam itu terulang lagi. Namun balik lagi saat ini dia sudah menjadi istrinya Lintang. Mampukah dia menolak jika Lintang menginginkannya.

Tapi, bukankah Lintang sudah mengatakan kalau dia tidak ingin menyentuh dirinya. Jadi, apa yang dia takuti karena sebulan ini memang Lintang tidak pernah menyentuhnya. Mereka tidur juga terpisah kamar benar-benar tidak seperti pasangan suami istri yang seharusnya.

Hana menganggukkan kepala dan menepis tangan Lintang dari tangannya dengan kasar. Hana segera mengambil berkas-berkas yang menumpuk karena tidak ada satupun yang dikerjakan oleh Lintang selama sebulan ini jadi semua berkas dari seluruh divisi ada di mejanya.

Hana membawa satu persatu ke dalam ruangan Lintang. Dan Lintang mengikuti Hana masuk dan Lintang duduk di kursi sambil melihat Hana bolak-balik ke ruangannya.

"Banyak sekali. Hah! Pantas papa marah," gumam Lintang yang terus menatap ke arah Hana.

Rambut di cepol, riasan yang masih terlihat natural walaupun bisa dia lihat Hana lelah tapi walaupun Hana terlihat lelah dia masih terlihat sangat cantik. Lintang menggelengkan kepala. Dia memalingkan wajahnya ke arah jendela.

"Pak Lintang, sudah saya bawa semuanya kalau tidak ada yang diperlukan saya pergi dulu. Selamat malam, Pak Lintang," jawab Hana yang segera pergi meninggalkan Lintang di ruangan kerjanya.

Namun lagi-lagi langkah kaki Hana terhenti mendengar suara Lintang.

"Buatkan saya kopi," perintah Lintang ke Hana untuk dibuatkan kopi.

Hana pun menganggukkan kepala tanpa membantahnya dan dia pergi membuatkan Lintang kopi.

"Sebanyak ini. Apakah aku bisa mengerjakan malam ini juga?" tanya Lintang yang melihat berkas yang harus dia kerjakan.

Lintang mendapatkan telepon dari ayahnya untuk segera pulang. Lintang yang kecewa memilih liburan menghabiskan waktunya dengan sang kekasih namun saat telepon dari ayahnya dia terima Lintang memutuskan untuk kembali dan sekarang dia harus berhadapan dengan pekerjaan yang menumpuk.

Lintang satu persatu mengerjakan tugasnya dia dengan serius memeriksa semua file yang dikirimkan dari seluruh divisi.

Hana masuk kembali ke dalam ruangan Lintang. Dia melihat Lintang begitu serius memeriksa semua file.

"Permisi, Pak Lintang. Ini kopi yang Anda minta saya taruh di sini," jawab Hana.

"Jangan, letakkan di sana. Jangan di sini nanti berkasnya kena kopi. Sana di meja itu," perintah Lintang lagi.

Hana segera membawa kopi ke meja yang tepat di depan meja kerja Lintang.

"Pak Lintang. Saya pergi dulu jika sudah tidak ada lagi yang dikerjakan saya pulang." Hana sekali lagi pamit dengan Lintang dan sekali lagi Lintang melarangnya.

"Tidak perlu pulang. Di sini saja sudah malam tidak ada yang mengantarmu. Lagi pula mau naik apa kamu pulang?" tanya Lintang yang masih serius mengerjakan pekerjaannya tapi dia bisa berinteraksi dengan Hana.

"Saya naik sepeda motor. Anda jangan khawatir," jawab Hana.

Lintang mengangkat kepalanya memandang ke arah Hana.

"Kamu tidak dengar apa yang saya katakan tadi. Kamu ingin membantah saya ? Saya ini bos kamu. Jadi, kamu jangan membangkang sekarang bantu saya kerjakan ini. Bawa sebagian berkas ini dan kerjakan di sana." Lintang melarang Hana untuk pulang dan dia malah menyuruh Hana untuk mengerjakan pekerjaan yang menumpuk di meja kerjanya.

Hana hanya bisa menghela nafas. Dirinya hari ini ada janji dengan Arya untuk makan malam bersama di tempat biasa mereka sering datangi. Tapi kali ini dia harus gagal untuk makan bersama dengan Arya karena Lintang memintanya untuk membantu memeriksa berkas.

Padahal itu adalah kerjaan dia tapi malah dirinya dilimpahkan. Hana pun mengambil beberapa berkas dan mengerjakannya sesekali matanya tertutup karena memang dia lelah dan ngantuk. Hana juga menyampaikan kepada Arya permohonan maaf karena dia masih berada di kantor.

Lintang melirik ke arah Hana yang terlihat tersenyum saat mengetik ponselnya dia tahu kalau Hana saat ini pasti tengah berkomunikasi dengan pria yang waktu itu. Namun Lintang tidak peduli dia mengerjakan pekerjaannya akan tetapi hati kecilnya berkata lain. Lintang semakin emosi mendengar tawa kecil dari Hana tapi lagi-lagi Lintang mencoba untuk tenang.

"Kenapa dia bisa tertawa. Apa yang dia bicarakan." Kesal Lintang.

Cukup lama Lintang mengerjakan pekerjaan dan akhirnya selesai. Lintang merenggangkan pinggangnya dan saat dia melihat ke arah sofa Hana sudah tertidur sambil memeluk bantal sofa perlahan Lintang mendekati Hana dan sampai di sofa, Lintang duduk tepat di sebelah Hana.

Perlahan Lintang mengusap rambut Hana terlihatlah wajah cantik Hana yang menawan dan bibir Hana yang mungil dan alis mata Hana yang tersusun sangat rapi menambah kecantikan Hana. Entah angin dari mana yang membuat Lintang mendekatkan dirinya dan mencium bibir kecil Hana.

Awalnya biasa saja tapi lama kelamaan Lintang mulai kecanduan dengan bibir mungil Hana Hana yang merasakan bibirnya ditarik perlahan membuka mata dia terkejut melihat Lintang ada di depan matanya dan menciumnya.

"Apa yang Anda lakukan." Hana mencoba untuk mendorong Lintang namun tenaganya kalah dari Lintang.

Lintang malah sudah berada di atasnya. Hana ketakutan dia mengingat kejadian malam itu air matanya mulai mengalir.

Lintang yang sudah terbawa gairah membuka pakaiannya.

"Tolong jangan lakukan ini, Pak Lintang. Anda sudah berjanji kalau Anda tidak melakukannya tapi kenapa Anda melakukannya. Tolong lepaskan saya, Pak Lintang. Tolong jangan seperti ini, pak." Hana menangis memohon kepada Lintang untuk tidak menyentuhnya.

Namun, Lintang tidak peduli dia yang kesal dengan ayahnya melampiaskannya kepada Hana.

"Kamu tidak berhak untuk menolak Hana karena kamu ...." Lintang sejenak berhenti dia menatap Hana dengan penuh perasaan yang campur aduk dia tidak tahu apa yang ada di dalam hatinya saat ini melihat Hana.

"Karena aku apa?" tanya Hana memberanikan diri bertanya kata yang bergantung itu.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Sentuhan Manja Sang CEO Arogan   Bab 85. Kebahagiaan Yang Sempurna (Tamat)

    Persiapan pernikahan Cakra dan Arum dikerjakan berdua. Keduanya mewujudkan impian pernikahan yang mereka inginkan. Walaupun ada cekcok sedikit tapi semuanya tidak sampai bubar. "Sayang, tidak lama lagi kita akan menikah. Aku sudah tidak sabar. Kamu tahu aku semangat sekali untuk menikah dengan kamu. Apa kamu semangat dan bahagia menikah dengan aku?" tanya Cakra yang manja dengan calon istrinya Arum. Arum tertawa mendengar Cakra pria tampan yang manja ini mengatakan itu. "Kalau aku katakan manja kamu marah tidak?" tanya Arum. "Kenapa aku dikatakan manja. Aku tidak manja, aku hanya sedikit ingin memeluk kamu. Aku tidak sabar untuk menjadikan kamu istri. Kamu jangan kerja lagi ya. Eh, kamu kerja saja temani aku di kantor jika aku ingin kamu dan rindu kamu aku bisa langsung peluk kamu. Kamu tidak boleh jauh dari aku." Arum menggelengkan kepala mendengar apa yang dikatakan oleh Cakra. Dia tidak menyangka kalau Cakra berkata seperti itu."Jadi maksudmu kalau aku kerja di kantormu nanti

  • Sentuhan Manja Sang CEO Arogan   Bab 84. Kejutan Yang Manis

    Cakra mendengus kesal dia akhirnya ikut. Ayahnya itu tidak bisa diajak kerja sama dan ayahnya terlalu memaksa dirinya hingga dia mau tidak mau ikut dengan kedua orang tuanya. Cakra diminta memakai pakaian yang sudah disiapin oleh orang tuanya. Sekali lagi, Cakra mau tidak mau melakukannya dan dia memakai pakaian batik yang sangat formal. "Kita ini mau kemana sih? Aku ini seperti dijebak oleh kalian. Apa kalian mau jodohkan aku dengan wanita lain?!" Cakra risau dengan tingkah orang tuanya yang ditanya tidak mau jawab malah mereka terlihat tenang. "Dengar ya, aku sudah punya kekasih jadi jangan nikahin aku dengan gadis lain. Jika itu terjadi maka aku akan pergi dari rumah." Cakra sekali lagi memperingati orang tuanya untuk tidak ikut campur urusan kehidupan dia. "Kamu bisa diam tidak? Kamu ini berisik sekali. Kamu jalankan saja mobil ini dan ikuti arahanku. Kamu tidak perlu banyak bicara." Lintang kesal dengan anaknya sedari di rumah sampai di jalan selalu saja mengomel dan marah hin

  • Sentuhan Manja Sang CEO Arogan   Bab 83. Hari Yang Dinanti

    "Ma. Kenapa diam? Jawab Ma. Benar tidak yang Papa katakan?" tanya Cakra ke Hana. Hana lagi-lagi tidak bisa menjawabnya. Hana menoleh ke arah Lintang yang memalingkan wajahnya dari dirinya. "Kenapa kamu tidak jawab. Ayo jawab. Anakmu bertanya itu. Kamu benar-benar keterlaluan sekali. Kamu yang sudah buka suara kamu malah diam seribu bahasa. Apa-apaan ini." Hana kesal dengan Lintang lepas tangan. "Cakra, kamu jangan dengarkan papamu itu. Dia asal bicara. Kalau memang asisten kamu itu mau lamaran pasti dia beritahukan ke kamu. Sudah lupakan saja," jawab Pak Irwandi mewakili Lintang menjawab pertanyaan cucunya. Cakra menatap kakeknya lekat. Dia mau tahu apakah benar yang kakeknya katakan. Apakah kakeknya tidak bohong. Dan dari sorot matanya kakeknya benar. "Baiklah. Aku mau ke kamar. Kalian benar-benar mencurigakan sekali." Cakra geleng kepala dengan tingkah ayahnya. Dia tahu betul ayahnya itu jahil dan suka menggoda dia dan ibunya. Tapi, biarpun jahil dia sayang pada ayahnya. Pak

  • Sentuhan Manja Sang CEO Arogan   Bab 82. Rahasia

    Lintang geleng kepala. Dia tidak berani untuk mengatakan penolakannya di depan Hana. Bisa bahaya dia nantinya. "Kita pulang saja. Ayo cepat, " cicit Lintang yang segera bergerak menuju mobil. Hana pun ikut pulang tadi dia pamitan dulu dengan keluarga angkat Arum dan mengatakan akan datang lagi hari sabtu malam minggu. Arya terharu karena anaknya diterima oleh Hana. Dia berpikir Hana tidak mau menerima anaknya. Akan tetapi dia menerimanya. Arya pun pulang dan memberitahukan ke ayah dan ibunya. Tanggapan mereka bahagia. Mendengar keluarga Lintang mau menerima cucu mereka. "Arum harus dibawa ke sini. Kita buat acara mewah. Jangan buat keluarga kita malu. Mama mau cucu mama itu bahagia. Oh ya, mama mau ketemu dengan cucu mama. Kamu kapan baw kami ketemu dia. Ayolah, kenalkan mama dan Papa ke cucu satu-satunya itu. Kamu mau kan?" tanya Ibu kandung Aryaberharap anaknya bisa mengajak dia bertemu dengan cucunya. "Benar itu. Kami juga mau bertemu dia. Dan kami mau dia mengenal kami. Kita

  • Sentuhan Manja Sang CEO Arogan   Bab 81 . Melamar

    "Kita nikah saja baru kita ketemu dengan orang tua kita. Bagaimana? Apakah kamu mau menikah denganku?" tanya Cakra membuat Arum melotot. "Tidak. Aku tidak mau. Sudahlah, aku pusing. Kamu jangan buat aku pusing dengan permintaan kamu itu." Arum mengabaikan Cakra yang meminta mereka menikah baru meminta restu dari keluarga. Cakra menghela napas panjang mendengar apa yang dikatakan oleh Arum. Cakra kembali ke mejanya dan duduk di kursi. Cakra menatap Arum dengan penuh cinta. Dirinya tidak mau kehilangan Arum. Jika orang tuanya tidak suka maka dia akan perjuangkan. Lintang yang sudah mendapatkan alamat dari Arum segera pergi ke rumahnya bersama Hana. "Sayang, kamu yakin mau temui orang tua angkat Arum? Apa kamu sudah setuju dengan mereka?" tanya Hana penasaran dengan Lintang yang tiba-tiba saja ingin ke rumah orang tua angkat Arum yang katanya polisi. "Aku hanya ingin tahu apa yang terjadi. Bukan setuju. Bedakan ya." Lintang tidak suka dengan apa yang dikatakan oleh Hana. Hana terse

  • Sentuhan Manja Sang CEO Arogan   Bab 80. Ide Apa

    "Kamu setuju dengan dia? Kamu tidak masalah anakmu menikah dengan orang yang sudah mencelakai kita berdua. Kamu tidak ingat, bagaimana kejamnya mereka, Hana?" tanya Lintang tidak percaya jika Hana malah luluh dengan apa yang anaknya lakukan. Hana menghela napas. Dia tahu kedua orang tua Arum seperti apa dengan dirinya. Tapi, dia tidak bisa berkata-kata banyak karena sosok Arum berbeda dengan orang tuanya. Dia tidak sama dan dia terlihat baik dan sopan. "Dia tidak sama dengan ayah dan ibunya. Dia diasuh dengan orang yang benar. Dia tidak jahat. Kamu tidak lihat bagaimana sederhananya dia tadi. Aku suka dengan dia. Dia manis dan lucu. Cocok dengan menantuku. Kamu coba deh resapi dia maksudnya aku lihat sisi positif dari anak itu eh maksudnya Arum. Coba sekali saja kamu lihat dia. Jangan lihat orang tuanya. Anak kita tidak menikah dengan mereka tapi Arum."Hana kembali mengatakan kesukaan dia ke Arum. Dia bisa merasakan kalau Arum itu jauh dari ibu dan ayahnya. Dia memiliki sesuatu yan

  • Sentuhan Manja Sang CEO Arogan   Bab 7. Jangan Jatuh Cinta

    "Pak Irwandi. Kenapa Anda ada di sini. Aduh sakit sekali. Dan kenapa Bapak mengejutkan saya. Kalau saya kena serangan jantung bagaimana," cicit Mario yang segera bangun perlahan sambil memegang meja. Mario geleng kepala melihat kelakuan dari ayah bosnya ini. "Lagian kamu kenapa memandang wanita it

  • Sentuhan Manja Sang CEO Arogan   Bab 6. Sensasi Yang Berbeda (21+)

    Lintang terdiam, dia tidak bisa mengatakan apa yang Hana tanyakan kepada dia. Gairahnya yang tadi sudah di ubun-ubun kini hilang mendengar perkataan dari Hana. Dia tidak mungkin mengatakan Hana istrinya. Sedangkan dia sudah mengatakan di awal kalau dia tidak menganggap Hana itu istrinya. Tapi seka

  • Sentuhan Manja Sang CEO Arogan   Bab 4. Sah

    Hana hanya bisa tersenyum mendengar apa yang dikatakan oleh Ibu Ami. Dia juga bingung harus berkata apa. Apakah dia harus katakan dari hati atau dia katakan kalau dirinya diancam oleh Lintang.Hana menggelengkan kepala menandakan kalau semuanya bukan dari hatinya."Maaf sebelumnya. Kalau ibu tanya

  • Sentuhan Manja Sang CEO Arogan   Bab 3. Dia Wanita Penggoda

    Lintang berdecih mendengar apa yang dikatakan oleh Hana. Wanita ini benar-benar sombong dan angkuh. Lintang tidak menyangka dirinya berhadapan dengan wanita sombong seperti Hana. Biasanya para wanita yang lain berlutut di kakinya tapi Hana tidak. Dia malah terlihat arogan dan angkuh. "Jangan terla

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status