MasukHana yang melihat situasi semakin tidak kondusif langsung menengahi keduanya.
"Maaf, Arya. Saya pulang dulu ya nanti kita bicarakan lagi. Oh, ya berikan nomormu nanti aku hubungi." Hana meminta nomor telepon dari Arya karena dia ingin berbicara dengan Arya nantinya. "Hmm, baiklah. Mana ponselmu aku akan memberikan nomorku dan ingat beritahukan aku di mana kamu tinggal dan juga kalau kamu sudah sampai rumah kabari aku," jawab Arya yang dianggukan oleh Hana. Hana memberikan ponselnya kepada Arya dan Arya segera memberikan nomornya sekaligus menghubungi nomornya sendiri dari ponsel Hana. Setelah masuk barulah dia berikan ponsel Hana kembali. "Arya, aku pergi dulu ya salam dari aku untuk orang tuamu sampai ketemu lagi," ucap Hana. Hana melambaikan tangan ke arah Arya sambil tersenyum. Hana berjalan lebih dulu di depan sedangkan Mario berjalan di belakangnya sambil memandang ke arah Arya. Terlihat Mario tidak menyukai Arya begitu sebaliknya. Arya juga tidak menyukai Mario. Keduanya sama-sama menunjukkan ketidaksukaan mereka. Sedangkan Lintang yang berada di mobil bisa melihat dari kejauhan interaksi Hana, Mario dan juga Arya dan dia juga bisa melihat kalau Hana tersenyum ke arah pria itu. "Ck, baru saja menikah dia sudah menunjukkan sisi liarnya. Itu yang dikatakan wanita baik-baik? Dasar munafik," ucap Lintang yang tidak suka melihat Hana dekat dengan pria lain. Padahal dia baru saja menikah tapi Hana sudah menunjukkan kalau dia bukan wanita baik-baik seperti yang dikatakan oleh ibunya. Kalau Hana itu wanita baik. Hana segera masuk ke dalam mobil dan duduk di depan bersama dengan Mario. Lintang yang melihatnya langsung angkat suara. "Kenapa kamu duduk di depan ?" tanya Lintang. Hana tidak menjawab. Dia langsung keluar dan pindah ke belakang. Melihat Hana tidak menjawab pertanyaannya Lintang hanya bisa diam menahan amarah. Dia tahu kalau saat ini Hana terlihat cuek dengan dirinya. Lintang tidak lagi bertanya apapun. Dirinya lebih memilih diam sampai di rumah Lintang hanya memberitahukan kepada kepala pelayan Pak Koko untuk mengantar Hana ke dalam kamarnya dan sejak saat itu Hana tidak melihat lagi keberadaan dari Lintang. Di rumah sakit juga dia tidak melihat keberadaan Lintang dan Pak Irwandi yang sudah sadar dari komanya pun tersenyum karena Hana sudah menjadi menantunya. Di kantor Hana juga tidak melihat keberadaan dari Lintang bukan hanya Lintang tapi asistennya juga tidak terlihat. "Hana. Tolong berikan ini kepada Pak Lintang ya. Sudah hampir sebulan dia tidak terlihat ke mana dia dan pekerjaan juga cukup banyak. Dan belum disetujui oleh dia. Saya sudah kabari Pak Irwandi dan katakannya serahkan saja semuanya kepada kamu karena katanya Pak Lintang lagi ke luar negeri." "Apakah benar ?" tanya salah satu Manager kepada Hana yang menyerahkan laporan keuangan kepada dirinya untuk ditandatangani oleh Lintang. "Saya tidak tahu keberadaan dia saat ini di mana. Saya juga baru tahu dari Bapak karena memang dia tidak ada konfirmasi ke saya." "Ya sudah laporan ini saya ambil dan saya simpan dulu. Nanti kalau Pak Lintang datang saya berikan. Setelah itu, saya akan kabari Bapak, ya," jawab Hana dengan sopan. "Baiklah kalau begitu saya permisi dulu, ya Hana. Kabari saya segera karena ini menyangkut masalah komisi dari karyawan penjualan." "Mereka sudah mendapatkan target dan kita harus berikan komisi untuk mereka agar mereka semangat untuk bekerja," jawab Manager. "Iya, Pak. Saya akan segera konfirmasi lagi nanti setelah ada tanda tangannya saya akan kabari," jawab Hana yang dianggukan oleh sang Manager. Hana mengumpulkan beberapa berkas yang sudah menumpuk untuk ditandatangani oleh Lintang. Hana baru tahu kalau suami arogannya itu ada di luar negeri padahal mertuanya tidak mengatakan apapun ke dia malah bertanya ke mana Lintang. Hana mengerjakan pekerjaan yang ditinggalkan Lintang dengan cukup banyak. Semuanya dia menghandle. Sampailah malam tiba Hana yang sudah kelelahan bergegas untuk pulang ke rumah. "Lelah, pulang dan tidur." Namun tanpa diduga oleh Hana dia melihat Lintang berjalan sempoyongan ke arah dirinya. Keduanya saling memandang satu sama lain dan saat Lintang sampai di meja kerja Hana tatapan mata Lintang sangat tajam ke arah Hana. "Mau ke mana kamu, Hana ?" tanya Lintang dengan suara yang dingin. "Saya mau pulang, pak Lintang. Berkas-berkasnya akan saya berikan besok pagi," jawab Hana. Hana mengambil tas dan bersiap pergi meninggalkan Lintang. Akan tetapi, tangan Hana ditahan oleh Lintang. "Saya sudah sampai di sini berikan berkas-berkas itu kepada saya. Bawa masuk. Saya ingin memeriksanya," jawab Lintang dengan tegas meminta Hana untuk membawa berkas yang tadi Hana katakan padanya. Hana sebenarnya takut kejadian malam itu terulang lagi. Namun balik lagi saat ini dia sudah menjadi istrinya Lintang. Mampukah dia menolak jika Lintang menginginkannya. Tapi, bukankah Lintang sudah mengatakan kalau dia tidak ingin menyentuh dirinya. Jadi, apa yang dia takuti karena sebulan ini memang Lintang tidak pernah menyentuhnya. Mereka tidur juga terpisah kamar benar-benar tidak seperti pasangan suami istri yang seharusnya. Hana menganggukkan kepala dan menepis tangan Lintang dari tangannya dengan kasar. Hana segera mengambil berkas-berkas yang menumpuk karena tidak ada satupun yang dikerjakan oleh Lintang selama sebulan ini jadi semua berkas dari seluruh divisi ada di mejanya. Hana membawa satu persatu ke dalam ruangan Lintang. Dan Lintang mengikuti Hana masuk dan Lintang duduk di kursi sambil melihat Hana bolak-balik ke ruangannya. "Banyak sekali. Hah! Pantas papa marah," gumam Lintang yang terus menatap ke arah Hana. Rambut di cepol, riasan yang masih terlihat natural walaupun bisa dia lihat Hana lelah tapi walaupun Hana terlihat lelah dia masih terlihat sangat cantik. Lintang menggelengkan kepala. Dia memalingkan wajahnya ke arah jendela. "Pak Lintang, sudah saya bawa semuanya kalau tidak ada yang diperlukan saya pergi dulu. Selamat malam, Pak Lintang," jawab Hana yang segera pergi meninggalkan Lintang di ruangan kerjanya. Namun lagi-lagi langkah kaki Hana terhenti mendengar suara Lintang. "Buatkan saya kopi," perintah Lintang ke Hana untuk dibuatkan kopi. Hana pun menganggukkan kepala tanpa membantahnya dan dia pergi membuatkan Lintang kopi. "Sebanyak ini. Apakah aku bisa mengerjakan malam ini juga?" tanya Lintang yang melihat berkas yang harus dia kerjakan. Lintang mendapatkan telepon dari ayahnya untuk segera pulang. Lintang yang kecewa memilih liburan menghabiskan waktunya dengan sang kekasih namun saat telepon dari ayahnya dia terima Lintang memutuskan untuk kembali dan sekarang dia harus berhadapan dengan pekerjaan yang menumpuk. Lintang satu persatu mengerjakan tugasnya dia dengan serius memeriksa semua file yang dikirimkan dari seluruh divisi. Hana masuk kembali ke dalam ruangan Lintang. Dia melihat Lintang begitu serius memeriksa semua file. "Permisi, Pak Lintang. Ini kopi yang Anda minta saya taruh di sini," jawab Hana. "Jangan, letakkan di sana. Jangan di sini nanti berkasnya kena kopi. Sana di meja itu," perintah Lintang lagi. Hana segera membawa kopi ke meja yang tepat di depan meja kerja Lintang. "Pak Lintang. Saya pergi dulu jika sudah tidak ada lagi yang dikerjakan saya pulang." Hana sekali lagi pamit dengan Lintang dan sekali lagi Lintang melarangnya. "Tidak perlu pulang. Di sini saja sudah malam tidak ada yang mengantarmu. Lagi pula mau naik apa kamu pulang?" tanya Lintang yang masih serius mengerjakan pekerjaannya tapi dia bisa berinteraksi dengan Hana. "Saya naik sepeda motor. Anda jangan khawatir," jawab Hana. Lintang mengangkat kepalanya memandang ke arah Hana. "Kamu tidak dengar apa yang saya katakan tadi. Kamu ingin membantah saya ? Saya ini bos kamu. Jadi, kamu jangan membangkang sekarang bantu saya kerjakan ini. Bawa sebagian berkas ini dan kerjakan di sana." Lintang melarang Hana untuk pulang dan dia malah menyuruh Hana untuk mengerjakan pekerjaan yang menumpuk di meja kerjanya. Hana hanya bisa menghela nafas. Dirinya hari ini ada janji dengan Arya untuk makan malam bersama di tempat biasa mereka sering datangi. Tapi kali ini dia harus gagal untuk makan bersama dengan Arya karena Lintang memintanya untuk membantu memeriksa berkas. Padahal itu adalah kerjaan dia tapi malah dirinya dilimpahkan. Hana pun mengambil beberapa berkas dan mengerjakannya sesekali matanya tertutup karena memang dia lelah dan ngantuk. Hana juga menyampaikan kepada Arya permohonan maaf karena dia masih berada di kantor. Lintang melirik ke arah Hana yang terlihat tersenyum saat mengetik ponselnya dia tahu kalau Hana saat ini pasti tengah berkomunikasi dengan pria yang waktu itu. Namun Lintang tidak peduli dia mengerjakan pekerjaannya akan tetapi hati kecilnya berkata lain. Lintang semakin emosi mendengar tawa kecil dari Hana tapi lagi-lagi Lintang mencoba untuk tenang. "Kenapa dia bisa tertawa. Apa yang dia bicarakan." Kesal Lintang. Cukup lama Lintang mengerjakan pekerjaan dan akhirnya selesai. Lintang merenggangkan pinggangnya dan saat dia melihat ke arah sofa Hana sudah tertidur sambil memeluk bantal sofa perlahan Lintang mendekati Hana dan sampai di sofa, Lintang duduk tepat di sebelah Hana. Perlahan Lintang mengusap rambut Hana terlihatlah wajah cantik Hana yang menawan dan bibir Hana yang mungil dan alis mata Hana yang tersusun sangat rapi menambah kecantikan Hana. Entah angin dari mana yang membuat Lintang mendekatkan dirinya dan mencium bibir kecil Hana. Awalnya biasa saja tapi lama kelamaan Lintang mulai kecanduan dengan bibir mungil Hana Hana yang merasakan bibirnya ditarik perlahan membuka mata dia terkejut melihat Lintang ada di depan matanya dan menciumnya. "Apa yang Anda lakukan." Hana mencoba untuk mendorong Lintang namun tenaganya kalah dari Lintang. Lintang malah sudah berada di atasnya. Hana ketakutan dia mengingat kejadian malam itu air matanya mulai mengalir. Lintang yang sudah terbawa gairah membuka pakaiannya. "Tolong jangan lakukan ini, Pak Lintang. Anda sudah berjanji kalau Anda tidak melakukannya tapi kenapa Anda melakukannya. Tolong lepaskan saya, Pak Lintang. Tolong jangan seperti ini, pak." Hana menangis memohon kepada Lintang untuk tidak menyentuhnya. Namun, Lintang tidak peduli dia yang kesal dengan ayahnya melampiaskannya kepada Hana. "Kamu tidak berhak untuk menolak Hana karena kamu ...." Lintang sejenak berhenti dia menatap Hana dengan penuh perasaan yang campur aduk dia tidak tahu apa yang ada di dalam hatinya saat ini melihat Hana. "Karena aku apa?" tanya Hana memberanikan diri bertanya kata yang bergantung itu.Lintang terdiam, dia tidak bisa mengatakan apa yang Hana tanyakan kepada dia. Gairahnya yang tadi sudah di ubun-ubun kini hilang mendengar perkataan dari Hana. Dia tidak mungkin mengatakan Hana istrinya. Sedangkan dia sudah mengatakan di awal kalau dia tidak menganggap Hana itu istrinya. Tapi sekarang dia mau berhubungan suami istri dengan Hana. Mana mungkin dia menganggap Hana istrinya. Yang ada Hana akan marah dan menuduhnya tidak menepati janji.Lintang ingin turun namun kaki Hana menyentuh pusaka milik Lintang dan secara tidak langsung pusaka tersebut langsung berdiri. Lintang langsung terdiam dia memandang ke arah Hana begitu sebaliknya Hana juga memandang ke arah dirinya. "Ma-maaf aku tidak sengaja," jawab Hana dengan suara pelan dan bergetar takut jika Lintang melakukannya lagi. Namun perbuatan Hana tadi sudah membuat gairahnya kembali naik dan dia tidak peduli Hana marah atau tidak dengan dirinya. Lintang langsung merobek baju Hana. Hana mencoba untuk memberontak namun sek
Hana yang melihat situasi semakin tidak kondusif langsung menengahi keduanya."Maaf, Arya. Saya pulang dulu ya nanti kita bicarakan lagi. Oh, ya berikan nomormu nanti aku hubungi." Hana meminta nomor telepon dari Arya karena dia ingin berbicara dengan Arya nantinya. "Hmm, baiklah. Mana ponselmu aku akan memberikan nomorku dan ingat beritahukan aku di mana kamu tinggal dan juga kalau kamu sudah sampai rumah kabari aku," jawab Arya yang dianggukan oleh Hana. Hana memberikan ponselnya kepada Arya dan Arya segera memberikan nomornya sekaligus menghubungi nomornya sendiri dari ponsel Hana. Setelah masuk barulah dia berikan ponsel Hana kembali. "Arya, aku pergi dulu ya salam dari aku untuk orang tuamu sampai ketemu lagi," ucap Hana. Hana melambaikan tangan ke arah Arya sambil tersenyum. Hana berjalan lebih dulu di depan sedangkan Mario berjalan di belakangnya sambil memandang ke arah Arya. Terlihat Mario tidak menyukai Arya begitu sebaliknya. Arya juga tidak menyukai Mario. Keduanya sa
Hana hanya bisa tersenyum mendengar apa yang dikatakan oleh Ibu Ami. Dia juga bingung harus berkata apa. Apakah dia harus katakan dari hati atau dia katakan kalau dirinya diancam oleh Lintang.Hana menggelengkan kepala menandakan kalau semuanya bukan dari hatinya."Maaf sebelumnya. Kalau ibu tanya apakah dari hati tentu jawabannya tidak. Tapi saya bersyukur karena Pak Lintang mau bertanggung jawab dengan saya. Saya ini sudah kotor, Bu.""Dan mungkin para pria lain tidak mau menikahi saya karena saya tidak perawan lagi. Tapi, untungnya Pak Lintang mau menikahi saya. Anggap saja saya bisa mengangkat kepala saya di depan semua orang," jawab Hana dengan suara yang lirih dan bergetar menahan air matanya yang hampir jatuh. Ibu Ami memeluk Hana dia tahu bagaimana sedihnya Hana dan dia tidak menyalahkan Hana sama sekali."Maafkanlah Ibu karena tidak bisa membuat Lintang menjadi sosok pria yang bertanggung jawab. Dia sudah melukaimu dan menghancurkan masa depanmu dan ibu yakin kata-kata Lint
Lintang berdecih mendengar apa yang dikatakan oleh Hana. Wanita ini benar-benar sombong dan angkuh. Lintang tidak menyangka dirinya berhadapan dengan wanita sombong seperti Hana. Biasanya para wanita yang lain berlutut di kakinya tapi Hana tidak. Dia malah terlihat arogan dan angkuh. "Jangan terlalu sombong nanti kamu jatuh dan ingat baik-baik satu hal yang harus kamu lakukan bersikaplah baik di depan orang tuaku. Aku tidak ingin sampai orang tuaku curiga dengan apa yang kita lakukan dan juga kalau kamu hamil itu bukan anakku.""Aku tidak akan mengakuinya. Kamu dengar itu jangan menyusahkanku kalau perlu menjauh dariku jangan tinggal satu atap denganku. Aku tidak mau sampai ada orang yang mengetahui di rumahku ada wanita hamil dengar itu," tegas Lintang yang membuat Hana makin sakit hati dengan Lintang.Akan tetapi, dia bisa apa. Saat ini dia hanya bisa patuh jika tidak patuh maka penjara akan menantinya. Walaupun hatinya terluka dengan perkataan Lintang dia harus menerimanya. Hana m
Lintang terdiam mendengar apa yang ayahnya katakan. Terlebih lagi sorot mata ayahnya sangat berbeda. Biasanya sorot mata ayahnya penuh dengan kelembutan, kasih sayang tapi kali ini dia bisa melihat amarah dari ayahnya. Lintang berdiri dan dia meninggalkan ayahnya seorang diri. Pak Irwandi terduduk dan matanya berkaca-kaca. "apa salahku Tuhan hingga aku memiliki anak seperti dia. Bagaimana nasib anak itu. Apa yang dia lakukan saat ini. Kemana dia perginya?" tanya pak Irwandi yang berdiri kembali untuk mencari Hana.Namun, Pak Irwandi langsung roboh dia tidak kuat menahan serangan jantung. Perbuatan dari Lintang sudah di luar batas. Berkali-kali Lintang melakukan ini tapi Lintang masih saja tetap tidak berubah dan makin arogan. Dan tidak ada sedikitpun penyesalan di hatinya. "Kenapa aku disalahkan. Wanita murahan itu yang harusnya disalahkan." Lintang tidak terima dengan ayahnya. Lintang yang berada di ruangan pribadi untuk berganti pakaian mendengar suara benda jatuh. Tanpa pikir p
"Hana, mulai besok kerja di perusahaan cabang ya. Kamu harus bantu anak saya. Apa kamu bisa?" tanya Pak Irwandi."Siap, Pak," jawab Hana. Hana yang bekerja sebagai sekretaris Pak Irwandi kini dia berpindah di perusahaan milik Pak Irwandi yang lain. Di sana Ceo-nya adalah anak dari Pak Irwandi seorang CEO yang sangat kejam, dingin arogan dan juga perfectonis. Hana yang baru pertama kali bekerja dengan anak pak Irwandi sedikit merasa canggung terlebih lagi dia belum melihat wajahnya. Sebulan Hana bekerja akan tetapi tidak pernah menunjukkan batang hidungnya hingga dia harus bekerja sendirian. Karena pekerjaan yang cukup banyak membuat dirinya harus lembur. "Lelah," cicit Hana. Karena kelelahan Hana tertidur di meja kerjanya saat tengah terlelap Hana merasakan ada sentuhan di kepalanya, bibirnya. Dan sontak saja Hana terbangun dan melihat siapa yang sudah menyentuhnya. "Eh, siapa kamu? Berani-beraninya kamu sentuh aku." Hana tidak terima dengan apa yang sudah dilakukan oleh pria







