Share

Gombal

Author: Nofriza Rahma
last update publish date: 2026-09-13 16:05:45

Matahari pagi menyusup malu-malu lewat celah tirai beludru tebal di kamar utama, membawa pendar keemasan yang menimpa permukaan lantai marmer putih. Udara dingin sisa hujan semalam tertahan di balik kaca jendela besar, kontras dengan kehangatan di dalam ruangan tempat Citra perlahan membuka kelopak matanya.

Untuk pertama kalinya dalam kurun waktu yang lama, ia terbangun tanpa dihantui rasa sesak di dada atau kecemasan impulsif yang biasanya menyergap begitu fajar menyingsing. Sisi ranjang di se
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Sentuhan Nona Membuat Presdir Dingin Tergoda    Dimata-matai

    Malam di mansion Maheswara merayap perlahan dalam dekapan sunyi yang menenteramkan. Selepas kepulangan mereka dari galeri seni Om Baskoro, suasana di dalam rumah besar itu terasa jauh lebih cair. Tidak ada lagi kecanggungan kaku yang mendikte setiap gerak-gerik mereka. Citra meregangkan otot-otot bahunya yang sempat tegang, merasakan sisa-sisa ketenangan sore tadi masih mengalir di dalam aliran darahnya.Di ruang kerja pribadinya, Adipati masih tampak berkutat dengan beberapa berkas fisik dan layar laptop yang menyala redup. Cahaya lampu meja berwarna kuning hangat menyoroti rahang tegas pria itu yang tengah serius membaca laporan akhir kuartal. Ketukan pelan pada daun pintu kayu mahoni membuat Adipati mendongak. Citra berdiri di ambang pintu dengan membawa nampan kecil berisi dua cangkir teh chamomile hangat dan sepiring kecil biskuit gandum."Belum tidur?" tanya Adipati lembut, menutup dokumen di hadapannya lalu merapikan letak pena di atas meja."Belum terlalu mengantuk," jawab Cit

  • Sentuhan Nona Membuat Presdir Dingin Tergoda    Tempat Rahasia

    Langit sore di atas Jakarta perlahan merona jingga ketika mobil SUV hitam yang dikemudikan oleh sopir pribadi Adipati membelah jalanan menuju pinggiran kota. Tidak ada deru kemacetan ibu kota yang menyesakkan karena Adipati memilih jalur alternatif yang lebih lengang. Di dalam kabin, alunan instrumen piano yang lembut mengalir pelan, berpadu harmonis dengan keheningan yang menenangkan di antara mereka berdua.Citra menyandarkan kepalanya pada kaca jendela, menatap deretan pohon pelindung yang berkelebat cepat. Selama perjalanan, Adipati lebih banyak diam, membiarkan istrinya menikmati transisi pemandangan dari lanskap beton pencakar langit menuju kawasan pinggiran yang lebih hijau dan asri. Pria itu sesekali melirik sekilas, memastikan kenyamanan Citra tanpa melontarkan pertanyaan interogatif yang berlebihan."Kita hampir sampai," ucap Adipati pelan ketika kendaraan mulai memasuki gerbang besi bergaya klasik yang dikelilingi pagar tanaman rambat hijau.Mobil itu menepi di sebuah pelat

  • Sentuhan Nona Membuat Presdir Dingin Tergoda    Gombal

    Matahari pagi menyusup malu-malu lewat celah tirai beludru tebal di kamar utama, membawa pendar keemasan yang menimpa permukaan lantai marmer putih. Udara dingin sisa hujan semalam tertahan di balik kaca jendela besar, kontras dengan kehangatan di dalam ruangan tempat Citra perlahan membuka kelopak matanya.Untuk pertama kalinya dalam kurun waktu yang lama, ia terbangun tanpa dihantui rasa sesak di dada atau kecemasan impulsif yang biasanya menyergap begitu fajar menyingsing. Sisi ranjang di sebelahnya sudah kosong, menyisakan jejak kehangatan dan samar aroma parfum kayu gaharu milik Adipati.Citra bangkit perlahan, merapikan selimut sutra yang menutupi tubuhnya sebelum melangkah menuju kamar mandi untuk membersihkan diri.Setengah jam kemudian, ia menuruni anak tangga utama mansion Maheswara yang megah. Suasana pagi di kediaman itu terasa tenang namun teratur. Para pelayan bergerak sigap dalam diam, memastikan setiap sudut rumah besar ini berfungsi sempurna tanpa menimbulkan kebising

  • Sentuhan Nona Membuat Presdir Dingin Tergoda    Ayahmu adalah mertuaku, Citra

    Keheningan malam di kamar utama mansion Maheswara perlahan berubah wujud menjadi ruang perlindungan yang paling aman bagi Citra. Dekapan erat Adipati seolah menjadi benteng kokoh yang menahan seluruh terpaan badai ketakutan yang selama ini menghantui benaknya. Di dalam kehangatan itu, sisa-sisa isak tangis Citra berangsur mereda, menyisakan deru napas yang mulai seirama dengan detak jantung sang suami.Adipati tidak langsung melepaskan pelukannya. Pria itu terus membiarkan wajah Citra terbenam di ceruk lehernya, sementara jemarinya dengan sabar menyisir helaian rambut hitam panjang istrinya. Bagi seorang Adipati Maheswara yang terbiasa hidup di tengah rimba korporasi penuh intrik dan topeng kepalsuan, kejujuran rapuh yang baru saja ditunjukkan Citra adalah sebuah ketulusan langka. Ia tahu betul bahwa menyembuhkan luka batin akibat rasa rendah diri tidak cukup hanya dengan kata-kata manis sekali ucap."Sudah lebih baik?" tanya Adipati pelan ketika merasakan tubuh Citra tidak lagi berge

  • Sentuhan Nona Membuat Presdir Dingin Tergoda    Kamu Adalah Istriku, Citra

    Malam menyelimuti kota metropolitan dengan pendar lampu jalanan yang berkilauan bagai taburan berlian tiruan. Di dalam kamar utama mansion Maheswara, keheningan terasa begitu kontras dengan badai batin yang tengah berkecamuk di dalam dada Citra. Gaun malam berwarna champagne berpotongan klasik yang tadi sore dicobanya kini telah digantikan oleh baju tidur longgar berbahan katun lembut. Namun, bayangan saat ia berdiri di hadapan cermin besar bersama Adipati masih berputar jelas di kepalanya, memicu ingatan-ingatan lama yang terkubur rapat di dasar hatinya.Citra duduk bersimpuh di tepi ranjang, menatap kosong ke arah meja rias kayu jati di seberang ruangan. Di atas meja itu, sebuah bingkai foto sederhana yang dibawanya dari kampung tampak berdiri sunyi. Foto mendiang ibunya yang tersenyum lembut dengan kebaya usang, bersanding dengan potret sang ayah yang tampak letih namun memancarkan ketulusan luar biasa semasa hidupnya.Bagi Citra, dunia kemewahan yang kini ia huni adalah sebuah par

  • Sentuhan Nona Membuat Presdir Dingin Tergoda    Sempurna

    Sinar matahari sore menyusup melalui jendela kaca patri di sayap barat mansion Maheswara, memantulkan pendar warna-warni ke atas lantai marmer putih yang bersih. Ruangan khusus berukuran luas itu telah disulap menjadi butik privat sementara. Rak-rak beroda besi tampak berjajar rapi, menggantungkan puluhan gaun malam adi karya dari desainer ternama ibu kota yang didatangkan khusus atas perintah Adipati. Suasana di dalam ruangan terasa senyap, hanya diisi oleh suara desau lembut pendingin ruangan dan langkah kaki berhati-hati dari para staf butik yang sibuk menyiapkan perlengkapan mereka.Citra duduk di atas kursi beludru berlapis emas dengan postur kaku, jemarinya saling meremas erat di atas pangkuan gaun rumahannya. Jantungnya berdegup lebih kencang dari biasanya. Ia tidak pernah terbiasa dikelilingi oleh pakaian-pakaian mewah bernilai fantastis, apalagi menjadi pusat perhatian dari para profesional mode terkenal yang memandangnya dengan tatapan penuh kekaguman."Nyonya Citra, silakan

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status