LOGINUjung jemari Adipati menggenggam pergelangan tangan Citra dengan cengkeraman yang begitu pas, tidak terlalu longgar untuk lepas, namun tidak pula terlalu erat hingga menyakiti. Namun, di balik sentuhan yang menenangkan itu, rahang pria tersebut mengeras sempurna. Garis-garis ketegangan tercetak jelas di sekitar bibirnya, dan manik mata gelapnya menyapu wajah Citra berkali-kali, seolah memastikan tidak ada satu pun goresan luka atau air mata yang tertinggal di sana akibat insiden di sudut galeri ini. Bagi siapa pun di luar sana, Adipati Maheswara adalah lambang dari kesempurnaan seorang pemimpin puncak: dingin, kalkulatif, tidak tersentuh oleh emosi murah, dan selalu berdiri tegak di atas kepala para pesaingnya. Namun, di balik benteng gengsi yang dibangunnya selama bertahun-tahun, ada api kecemasan yang membakar hebat, mendesak untuk keluar dari balik dinding pertahanannya yang kokoh. "Apa yang kamu pikirkan, Citra?" suara Adipati memecah keheningan galeri. Nada bicaranya tetap rend
Kilau lampu kristal di aula utama Maheswara Group mendadak terasa seperti sorot lampu interogasi yang membakar kulit, sementara aroma parfum mahal dan anggur vintage menguar pekat di udara, bercampur dengan dengung percakapan para elite korporat yang sibuk merajut intrik. Di tengah kemegahan yang menyesakkan itu, Vanessa berdiri terlampau dekat dengan Adipati, tubuhnya condong ke depan seolah gravitasi bumi mendadak berpihak sepenuhnya untuk menariknya jatuh ke dalam pelukan sang CEO muda. Wanita itu tahu betul bagaimana cara memanfaatkan setiap inci keunggulannya. Di hadapan puluhan pasang mata petinggi faksi dan lensa kamera tersembunyi yang mengincar dari balik pilar-pilar marmer, Vanessa dengan sengaja melangkah goyah saat mereka berjalan menuruni anak tangga panggung kehormatan. Suara erangan kecil lolos dari bibirnya yang terpoles gincu merah klasik. Dengan gerakan yang terhitung dramatis namun disembunyikan di balik kepiawaian akting kelas atas, tubuh ramping berbalut gaun eme
Udara malam di galeri sudut itu seolah kehilangan oksigennya, menyisakan dingin yang merayap lambat menembus kain gaun Citra, mendinginkan kulit yang seketika basah oleh keringat dingin. Langkah kaki Pakusadewo telah lama lenyap di balik pintu marmer berat, namun gaung suaranya setiap patah kata, setiap tatapan tajam berbalut uban di pelipis itu masih berdenging nyaring di kepala Citra, menghantam kesadarannya berkali-kali tanpa ampun. Citra mematung, manik matanya menatap kosong ke arah hamparan rumput hijau yang disinari lampu sorot taman di balik dinding kaca tebal. Pertanyaan-pertanyaan keji mulai berbaris rapi di dalam benaknya, mencabik-cabik sisa pertahanan mental yang susah payah ia bangun sejak hari pertama menginjakkan kaki di dunia yang asing ini. 'Apakah aku sudah salah dalam melangkah?' Pikiran itu berkelebat liar, memantul di dinding-dinding kesadarannya yang mulai goyah. Selama ini, ia mengira posisinya di sisi Adipati Maheswara hanyalah bagian dari sebuah sandiwara
suara bariton Pakusadewo memecah keheningan galeri, terdengar tenang namun sarat akan wibawa seorang petinggi faksi yang ditakuti. Citra tersentak kecil, tubuhnya menegang seketika sebelum ia berputar menghadap sumber suara. Manik mata cokelat gadis itu melebar sejenak, memindai wajah pria paruh baya di hadapannya garis rahang yang tegas, uban di pelipis yang menunjukkan puluhan tahun pengalaman di medan perang korporat, serta sepasang mata tajam yang tidak pernah benar-benar tersenyum. Citra mengenali wajah itu dari lembar dokumen profil perusahaan yang sempat ia pelajari sepintas, atau mungkin dari bisik-bisik ketakutan para staf istana. Pakusadewo Tokoh senior faksi barat yang paling disegani sekaligus ditakuti lawan politiknya. "Pak... Pakusadewo," cicit Citra pelan, berusaha keras menegakkan punggungnya agar tidak terlihat ciut di hadapan salah satu musuh terbesar suaminya. "Saya tidak menyangka ada orang lain di sini." Pakusadewo tersenyum tipis sebuah kurva kecil di sudut b
Dari jarak sekian meter, Pakusadewo melihat jemari kokoh Adipati merengkuh tangan Citra di bawah meja. Gerakan itu terlihat begitu rahasia, nyaris seperti pencuri yang menyembunyikan jarahannya, namun sarat akan kepemilikan yang mutlak. Pakusadewo mendengus pelan, nyaris terkekeh, meski matanya tetap awas menangkap setiap detail mikro dari bahasa tubuh mereka. Bagi orang-orang tua di faksi barat, para direktur sepuh yang menghabiskan separuh hidup mereka menghitung margin laba dan mengatur pernikahan demi aliansi bisnis bernilai triliunan kehadiran Citra di sisi Adipati adalah sebuah lelucon yang buruk. Gadis itu tidak memiliki silsilah keluarga konglomerat, tidak dibesarkan di antara jamuan teh sore kaum elite kota metropolitan, dan sama sekali tidak memahami liku-liku intrik hukum dagang internasional yang menjadi makanan sehari-hari dewan direksi. Namun, justru di situlah letak letupan bahayanya. Pakusadewo mengalihkan pandangannya dari tangan mereka ke arah wajah Citra. Gadis i
"Dan berhenti mengingatkan tentang batasan itu seolah-olah kau sedang membaca lembar manual penggunaan. Aku tahu persis apa yang sedang kulakukan!" Citra terperanjat pelan, manik mata cokelatnya melebar mendidih oleh rasa gugup sekaligus protes yang membuncah di tenggorokannya, dekat sekali,.wajah Adipati begitu dekat hingga ia bisa melihat pantulan dirinya sendiri di dalam iris mata hitam pria itu. Sensasi itu begitu mengintimidasi, namun di saat yang sama, ada tarikan magnetik yang luar biasa kuat, menghancurkan benteng pertahanan mental yang susah payah ia bangun sejak pagi. "Kalau kau tahu apa yang kau lakukan, lalu kenapa kau terlihat begitu terusik?" tantang Citra dengan suara bergetar tipis, berusaha keras mempertahankan sisa-sisa harga dirinya di hadapan sang Presdir. "Pak Pakusadewo pasti mengatakan sesuatu yang telak tentang kita, kan? Tentang bagaimana kita terlihat di depan umum... atau tentang bagaimana kita gagal menyembunyikan kecanggungan ini?" Mendengar tebakan itu







