分享

Operasi Berjalan Lancar

作者: Nofriza Rahma
last update publish date: 2026-07-24 22:23:09

Ruangan itu membeku, Tak seorang pun bergerak setelah tubuh Adipati roboh ke dalam pelukan Citra.

Raka menjadi orang pertama yang tersadar, "Dokter!"

Tak lama kemudian, suara langkah kaki memenuhi lorong. Seorang dokter bersama dua perawat memasuki kamar dengan tergesa-gesa. Namun begitu melihat posisi Adipati, langkah mereka mendadak melambat, "Tolong baringkan Tuan."

Raka segera mengangguk. Ia dan salah seorang petugas keamanan berjongkok untuk mengangkat tubuh Adipati. Baru saja tangan mereka menyentuh bahu pria itu, dokter mengangkat telapak tangannya, "Tunggu."

Semua menoleh, Tatapan dokter jatuh pada tangan kanan Adipati yang masih menggenggam jemari Citra begitu erat.

"Paksa melepaskannya justru bisa membangunkan refleks tubuh Tuan," ujar dokter pelan.

Raka mengangguk tipis, dengan sangat hati-hati, ia mencoba melonggarkan jemari Adipati, tetap tidak bergerak, genggaman itu justru semakin mengencang. Dokter mengembuskan napas pelan sebelum mengalihkan pandangan kepada Citra, "Nyonya... coba bicara kepada beliau."

Citra tampak ragu, "Apa yang harus ku katakan?"

"Seperti tadi." Jawab dokter pelan namun penuh ketegasan.

Beberapa detik berlalu dalam keheningan. Perlahan, Citra kembali menatap wajah Adipati yang pucat, Garis-garis tegang di wajah pria itu memang sudah menghilang, tetapi alisnya masih sedikit berkerut, seolah mimpi buruk itu belum benar-benar melepaskannya.

Dengan gerakan hati-hati, Citra mengusap pelan punggung tangan yang menggenggam jemarinya.

"Sudah tidak apa-apa." Suaranya sangat pelan. "Hanya mimpi."

Entah karena suara itu, atau sentuhan yang sama. Jemari Adipati perlahan melemas, Raka dan petugas keamanan segera mengangkat tubuh pria itu ke atas ranjang.

Dokter langsung melakukan pemeriksaan singkat, beberapa saat kemudian, ia menutup stetoskopnya, "Beliau hanya kelelahan."

Kalimat sederhana itu membuat seluruh penghuni ruangan mengembuskan napas lega. Bu Ratih merapatkan kedua tangannya di depan dada, "Syukurlah."

Dokter menuliskan beberapa catatan sebelum menyerahkannya kepada Raka, "Pastikan Tuan beristirahat. Jangan ada yang mengganggu sampai beliau bangun sendirinya nanti."

Raka menerima kertas itu sambil mengangguk, "Baik, Dok."

Satu per satu orang mulai meninggalkan kamar, Citra ikut melangkah menuju pintu, namun baru dua langkah… "Akh."

Ia menoleh, ujung jarinya kembali tertahan. Adipati belum membuka mata, tetapi jemari pria itu sekali lagi menggenggam tangannya, tidak seerat sebelumnya, namun cukup membuat langkah Citra terhenti.

Raka yang menyaksikan pemandangan itu hanya terdiam, tatapannya beralih kepada dokter, dokter tidak mengatakan apa pun. Ia hanya menatap tangan yang saling bertaut itu beberapa detik, lalu berbalik meninggalkan kamar.

Raka mengejarnya hingga ke Lorong, "Dok... Apakah kondisi Tuan benar-benar baik-baik saja?"

Dokter tidak langsung menjawab, ia menoleh sekilas ke arah pintu kamar yang kini tertutup rapat, "Luka di tubuh Tuan tidak ada, tapi …" Dokter menarik napas pelan. "Sepertinya...mulai malam ini, ada sesuatu yang berubah."

Raka mengikuti arah pandang dokter, di balik pintu itu, Citra masih berdiri di sisi ranjang, sementara jemari Adipati belum juga melepaskan tangannya.

Pagi datang bersama cahaya matahari yang menyelinap di balik tirai kamar, Adipati membuka mata perlahan, langit-langit kamar yang familiar menyambut pandangannya. Aroma obat masih samar tercium di udara. Ia memejamkan mata beberapa detik, berusaha mengingat apa yang terjadi semalam, jeritan, mimpi buruk, lalu... sentuhan hangat.

Refleks, Adipati menoleh ke sisi ranjang. Di sana, Citra tertidur dalam posisi duduk, kepalanya bersandar di tepi ranjang, sementara salah satu tangannya masih berada di atas kasur.

Adipati mengernyit bingung, beberapa detik ia hanya memandang wajah wanita itu tanpa berkedip. Semalam, wanita inikah yang masuk ke kamarnya? tatapan Adipati perlahan bergeser pada jemarinya sendiri, tidak lagi menggenggam tangan Citra. Namun, bekas kehangatan itu seolah masih tertinggal.

Ceklek.

Pintu kamar terbuka pelan, Raka masuk sambil membawa map hitam, begitu melihat Adipati sudah terbangun, ia langsung menghentikan langkah,"Tuan."

Adipati mengalihkan pandangan, "Sudah pukul berapa sekarang?"

"Pukul tujuh, Tuan." Raka sempat melirik Citra yang masih tertidur, lalu kembali menatap Adipati, "Dokter mengatakan kondisi Tuan sudah stabil."

Adipati tidak menanggapi, tatapannya kembali jatuh kepada Citra, "Bangunkan dia."

Raka sedikit ragu. "Maaf, Tuan... semalam Nyonya menjaga Tuan sampai pagi."

Hening, Adipati tetap tidak berkata apa-apa. Beberapa saat kemudian, Citra bergerak pelan. Matanya terbuka perlahan sebelum refleks berdiri saat menyadari Adipati sudah sadar, "Maaf... aku ketiduran."

Adipati menatapnya datar, "Kenapa kamu masih di sini?"

Citra belum sempat menjawab, Raka lebih dulu angkat bicara, "Tadi malam Tuan kembali menggenggam tangan Nyonya setelah dokter selesai memeriksa."

Tatapan Adipati langsung beralih kepada Raka, sorot matanya tajam, "Aku bertanya padamu?"

Raka seketika terdiam, ruangan kembali sunyi, Citra menundukkan kepala pelan, "permisi." Ia melangkah menuju pintu tanpa menunggu jawaban, baru saja tangannya menyentuh gagang pintu—

"Bagaimana keadaan ayahmu?"

Langkah Citra terhenti, pertanyaan itu terdengar begitu tiba-tiba hingga ia sempat mengira salah dengar, "Operasinya... berjalan lancar."

Adipati mengangguk tipis, "Bagus."

Hanya satu kata, namun cukup membuat Citra memahami satu hal, pria itu mengingat janjinya. Tanpa menoleh lagi, Citra keluar dari kamar, pintu menutup pelan. Raka masih berdiri di tempatnya.

Beberapa detik kemudian, Adipati membuka suara, "Apa yang terjadi semalam?"

Raka menarik napas pelan, ia menceritakan semuanya, tentang jeritan, tentang Citra yang nekat masuk, tentang bagaimana sentuhan wanita itu perlahan menenangkan serangan trauma yang selama bertahun-tahun tak pernah bisa dikendalikan siapa pun, tak satu pun ekspresi berubah di wajah Adipati.

Semakin Raka bercerita, sorot mata pria itu justru semakin dalam. Setelah Raka selesai, ruangan kembali diliputi keheningan. Adipati bangkit dari ranjang, lalu berjalan menuju jendela besar.

Di luar, embun masih menggantung di atas taman, "Nanti siang." Suara Adipati memecah sunyi, "Siapkan mobil, kita ke rumah sakit."

Raka mengangguk. Namun sebelum keluar, ia mendengar kalimat berikutnya, pelan, hampir seperti gumaman.

"...Aku ingin memastikan sendiri."

Raka berhenti sesaat, ia tahu, kalimat itu bukan hanya tentang kondisi ayah Citra. Adipati sedang mencari jawaban atas sesuatu yang bahkan dirinya sendiri belum mampu mengerti.

在 APP 繼續免費閱讀本書
掃碼下載 APP

最新章節

  • Sentuhan Nona Membuat Presdir Dingin Tergoda    Hasutan Vanessa

    Kesunyian yang mencekam menggantung di koridor rumah sakit saat Nyonya BesarMaheswara mengangkat stopmap merah itu di udara, tatapan matanya yang tajam danberwibawa menembus langsung ke arah Adipati dan Citra yang membeku di ambang pintu.“Ternyata ini alasanmu menolak Vanessa dan menyembunyikan wanita ini, Adipati?”suara Nyonya Besar menggema dingin, memecah hening. “Pernikahan yang serbamendadak... dan berkas bantuan medis untuk ayah kandungnya?”Jantung Citra mencelos, rasa dingin menjalar dari telapak kakinya hingga ke ujung kepala, Iamemejamkan mata rapat-rapat, bersiap menghadapi penghakiman dan kemarahan sang pemilik takhta keluarga Maheswara. Rahasia kontrak perjanjian mereka rasanya tinggal menghitung detik untuk hancur berantakan. Namun, Adipati melangkah maju tanpa ragu satu sentimeter pun. Pria itu menyembunyikan Citra sedikit di balik punggungnya yang tegap, menatapsang nenek dengan pandangan tak tergoyahkan.“Nenek,” panggil Adipati rendah. “Ini urusan pri

  • Sentuhan Nona Membuat Presdir Dingin Tergoda    Kamu lebih memilih dia dari pada Vanessa?

    Udara di dalam kafe eksklusif itu terasa kian menghimpit, bertolak belakang dengankehangatan cangkir porselen yang mengepul samar. Vanessa menarik napas tipis,melemparkan senyum elegan yang dipaksakan untuk menutupi riak amarah di matanya.Tanpa mengacuhkan Citra yang duduk di sisi Adipati, wanita itu menggeser posisi duduknyalebih mendekat ke meja Adipati, menyadarkan lengannya yang mulus dengan keanggunanyang sengaja diatur.“Adipati,” suara Vanessa mengalun begitu lembut, penuh intonasi manja yang saratgodaan terselubung. “Kamu tahu betul seberapa banyak waktu yang sudah kita lewatibersama, apakah kamu benar-benar bermaksud mengabaikanku demi... formalitas ini?”Jemari berselimut perhiasan mahal itu terulur pelan, mencoba menyentuh lengan jas Adipatidi atas meja. Namun sebelum jemari itu sempat membelai kain berkualitas tinggi tersebut, Adipatimenarik tangannya menjauh. Gerakannya begitu tenang, datar, tanpa jeda emosi sekecil apapun. Pria itu menyilangkan tangan di dada,

  • Sentuhan Nona Membuat Presdir Dingin Tergoda    Berapa Harga yang kamu tawarkan ke cucu saya!

    Udara di dalam ruang baca itu serasa membeku, terhimpit oleh aroma kayu cendana tua danderetan jilid buku bersepuh emas. Nyonya Besar Maheswara duduk tenang di kursi berukir,jemarinya yang dihiasi cincin giok menopang tongkat kayu hitam. Tatapannya menembusCitra bagai sembilu—tajam, menelanjangi, dan tak menyisakan ruang untuk bernapas. Citraberdiri mematung di tengah ruangan, meremas jemarinya sendiri hingga memutih.Keheningan di antara mereka begitu berat, seolah kebasahan air hujan di luar tak sanggupmendinginkan gesekan intimidasi yang tak tersurat.“Jadi, berapa harga yang disepakati cucuku untuk membawa wanita sepertimu kemansion ini?” suara sang nenek memecah sunyi, tidak ada nada tinggi, namun kedinginanyang terkandung di dalamnya cukup untuk merontokkan ketahanan diri Citra.Citra menelan ludah yang terasa bagai duri. Ia menunduk pelan, menyembunyikan getardi kelopak matanya “Saya tidak menjual diri saya, Nyonya.” Bisikan itu lirih, namun ada sisaketegaran terakhir

  • Sentuhan Nona Membuat Presdir Dingin Tergoda    Nyonya Besar Datang

    Ruang rapat itu hening, belasan pasang mata bergantian memandang Adipati, lalu beralih kepada Citra yang berdiri satu langkah di belakangnya, sebagian tampak bingung, sebagian lainnya saling bertukar pandang, tak ada seorang pun yang mengenali alasan Presdir mereka membawa seorang staf divisi keuangan ke ruang direksi.Adipati berjalan menuju kursi utama di ujung meja, "Mulai rapatnya."Seluruh direksi segera membuka dokumen masing-masing, seorang pria berkacamata berdiri lebih dulu, "Pak Adipati, terkait proyek akuisisi di Surabaya, pihak investor meminta kepastian mengenai isu yang beredar di media."Kening Adipati berkerut "Apa isunya?"Pria itu tampak ragu sebelum menjawab, "Mereka mempertanyakan kabar mengenai isu pernikahan Tuan."Ruangan kembali sunyi, beberapa direksi diam-diam memperhatikan ekspresi Adipati, pria itu tetap tenang, "Tidak ada yang perlu dipertanyakan."Jawaban singkat itu justru membuat semua orang semakin penasaran, pria berkacamata kembali membuka mulut, "Ma

  • Sentuhan Nona Membuat Presdir Dingin Tergoda    Vanessa

    Mobil hitam itu berhenti tepat di depan pintu utama rumah sakit. Begitu turun, Citra menatap bangunan di hadapannya dengan napas yang terasa lebih ringan. Sejak semalam, pikirannya tak pernah lepas dari sang ayah. Raka membukakan pintu, "Silakan, Nyonya." Citra mengangguk pelan. Namun baru beberapa langkah, ia menyadari Adipati masih berdiri di samping mobil, pria itu tidak ikut berjalan. "Tuan?" tanya Citra ragu. "Aku menunggu di sini." Sahut Adipati. Citra sempat terdiam, lalu mengangguk. Baginya, itu jauh lebih baik. Kehadiran Adipati di ruang rawat mungkin justru akan membuat ayahnya terkejut. Tanpa membuang waktu, ia berlari kecil menuju ruang perawatan. --- Pintu kamar dibuka perlahan, "Ayah..." Pria paruh baya di atas ranjang menoleh. Wajahnya memang masih pucat, tetapi senyum hangat langsung merekah begitu melihat putrinya, "Citra." Air mata yang sejak tadi ditahan akhirnya jatuh, Citra menghampiri ranjang dan menggenggam tangan ayahnya erat, "Operasinya berhasil, Ya

  • Sentuhan Nona Membuat Presdir Dingin Tergoda    Operasi Berjalan Lancar

    Ruangan itu membeku, Tak seorang pun bergerak setelah tubuh Adipati roboh ke dalam pelukan Citra.Raka menjadi orang pertama yang tersadar, "Dokter!"Tak lama kemudian, suara langkah kaki memenuhi lorong. Seorang dokter bersama dua perawat memasuki kamar dengan tergesa-gesa. Namun begitu melihat posisi Adipati, langkah mereka mendadak melambat, "Tolong baringkan Tuan."Raka segera mengangguk. Ia dan salah seorang petugas keamanan berjongkok untuk mengangkat tubuh Adipati. Baru saja tangan mereka menyentuh bahu pria itu, dokter mengangkat telapak tangannya, "Tunggu."Semua menoleh, Tatapan dokter jatuh pada tangan kanan Adipati yang masih menggenggam jemari Citra begitu erat."Paksa melepaskannya justru bisa membangunkan refleks tubuh Tuan," ujar dokter pelan.Raka mengangguk tipis, dengan sangat hati-hati, ia mencoba melonggarkan jemari Adipati, tetap tidak bergerak, genggaman itu justru semakin mengencang. Dokter mengembuskan napas pelan sebelum mengalihkan pandangan kepada Citra, "N

更多章節
探索並免費閱讀 優質小說
GoodNovel APP 免費暢讀海量優秀小說,下載喜歡的書籍,隨時隨地閱讀。
在 APP 免費閱讀書籍
掃碼在 APP 閱讀
DMCA.com Protection Status