LOGINKetukan di pintu kamar utama berbunyi tiga kali secara teratur, memecah kesunyian yang baru saja mengunci kedua insan itu dalam pusaran emosi yang begitu pekat. Genggaman tangan Adipati di pergelangan tangan Citra refleks melonggar. Citra yang terkejut bagaikan disengat listrik segera menarik tangannya kembali dari dada Adipati, melangkah mundur dua langkah hingga tumit sepatunya membentur kaki meja rias. Wajahnya yang tadi sudah merona kini bertambah merah padam, serasa ingin rasanya ia menghilang ditelan bumi saat itu juga. "Presdir, mobil sudah siap di depan. Laporan persiapan jamuan makan siang dengan direksi juga sudah selesai disiapkan." Suara bariton yang sangat familier dari balik pintu itu membuat Citra mengembuskan napas panjang, sebuah helaan penuh lega yang meluncur begitu saja dari bibirnya. Udara segar seolah kembali memenuhi paru-parunya yang sempat terkunci rapat. Sosok di balik pintu itu bukan ancaman dari faksi barat yang menegangkan, melainkan Raka sekretaris pri
Sinar matahari pagi yang menembus celah gorden tebal memantulkan garis-garis cahaya keemasan di atas karpet bulu kamar utama, udara dingin dari pendingin ruangan yang berembus pelan sama sekali tidak mampu mendinginkan ketegangan yang mendadak membeku di dalam ruangan luas itu, pintu kamar mandi terbuka. Adipati melangkah keluar dengan handuk putih kecil yang tergantung pasrah di lehernya, mengeringkan sisa-sisa bulir air yang membasahi rambut hitamnya yang berantakan. Ia sudah mengenakan kemeja putih yang lengannya digulung hingga ke siku, memamerkan garis lengan tegas dan jam tangan kemewahan minimalis yang melingkar di pergelangan tangannya. Namun, langkah kaki Adipati terhenti tepat di tengah ruangan. Di depan meja rias, Citra berdiri mematung dengan gaun dress formal berwarna krem yang dipadukan dengan blazer berwarna senada, pakaian yang sengaja disiapkan untuk jamuan makan siang bersama jajaran direksi faksi barat. Tangan kanan Citra terhenti di udara saat ia hendak mengaitka
Keheningan malam di ruang kerja itu perlahan berganti dengan pendar keemasan dari balik tirai tipis. Fajar telah menyingsing di ufuk timur, tetapi lampu meja kerja Adipati masih menyala terang, memancarkan cahaya kekuningan yang menimpa map hitam di hadapannya. Pria itu belum beranjak seinci pun dari posisinya sejak Citra meninggalkan ruangan beberapa jam lalu.Adipati menyandarkan punggungnya pada kursi kulit premium yang dingin. Jemari tangannya yang panjang memijat pelipis yang berdenyut samar. Pandangannya terpaku kosong pada cangkir teh porselen milik Citra yang kini sudah sepenuhnya dingin dan menyisakan sedikit endapan di dasarnya.Ia mengembuskan napas panjang, sebuah hela berat yang memecah kesunyian ruangan seluas seratus meter persegi itu."Apa yang sebenarnya kamu lakukan, Adipati?" bisik Adipati pada dirinya sendiri, suaranya terdengar amat serak dan asing di telinganya sendiri.Ia memejamkan mata rapat-rapat. Bayangan wajah Citra yang pucat, bibir wanita itu yang bergeta
Aroma teh chamomile yang masih mengepul panas di atas cangkir porselen putih itu memenuhi udara, berbaur dengan wangi kayu manis khas ruang kerja Adipati. Di tengah keheningan malam yang begitu pekat, denting halus saat Adipati meletakkan cangkirnya di atas tatakan terasa gaungnya seperti dentuman keras di telinga Citra.Suasana begitu hening. Hanya ada suara pendingin udara yang mendesis halus dan detak jarum jam dinding yang bergerak monoton. Citra duduk kaku di kursi kulit berdesain ergonomis di hadapan meja kerja Adipati. Kedua tangannya menggenggam erat cangkir teh yang hangat, mencoba mencari tumpuan agar jemarinya tidak terlihat gemetar. Jujur saja, kecanggungan yang membelenggunya saat ini jauh lebih menyiksa daripada ketegangan di koridor tadi.Citra menunduk, pura-pura sangat tertarik pada pusaran uap teh di dalam cangkirnya. Wajahnya terasa panas setiap kali mengingat jarak mereka yang begitu tipis beberapa menit lalu, apalagi senyum tipis Adipati yang sempat membuatnya lup
Cengkeraman tangan Adipati di kedua lengan Citra tidak kunjung mengendur, seolah pria itu lupa bagaimana caranya melepaskan diri dari situasi yang mendadak berubah di luar kendali logika dinginnya. Di bawah pendar temaram lampu koridor, jarak di antara mereka begitu tipis begitu tipis hingga Citra bisa merasakan getaran napas Adipati yang menyapu puncak kepalanya, dan Adipati bisa mendengar dengan sangat jelas degup jantung wanita itu yang bergemuruh liar seperti genderang perang."Kamu..." suara Adipati memecah keheningan, terdengar begitu rendah, serak, dan penuh tuntutan. Pria itu menunduk, menatap manik mata Citra yang membesar karena syok. "Berdiri di depan pintu kamar saya, pada pukul dua pagi, dengan balutan jubah tidur satin yang... entah sejak kapan menjadi standar pakaian patroli malam seorang istri?"Citra meneguk ludahnya dengan kasar. Tenggorokannya terasa kering, tersendat oleh kombinasi antara rasa malu, tertangkap basah, dan aroma maskulin khas Adipati yang terlalu men
Suasana di ruang kerja pribadi Adipati Maheswara pada pukul satu malam seharusnya menjadi tempat paling sunyi dan steril dari segala gangguan emosional. Di ruangan berlapis panel kayu jati tua itu, tumpukan dokumen faksi barat tersusun rapi di atas meja kerja marmer hitam. Namun, keheningan tersebut justru terasa hancur berkeping-keping oleh kehadiran Raka, sang asisten pribadi, yang sejak setengah jam lalu merasa tengah duduk di atas bara api.Adipati tidak fokus.Pria yang biasanya dikenal memiliki tingkat konsentrasi setara baja dan kalkulasi setajam silet itu tampak berulang kali membaca baris kalimat yang sama pada laporan keuangan tanpa menyerap satu pun maknanya. Tatapan mata setajam elangnya terpaku pada kertas, tetapi pikiran bawah sadarnya melayang sejauh beberapa meter ke balik dinding tebal ruang kerja, menembus kamar utama tempat Citra seharusnya beristirahat."Tuan," panggil Raka hati-hati, memecah keheningan sementara jarinya menunjuk sebuah angka di lembar proposal. "U







