แชร์

Bab 164

ผู้เขียน: Saggyryes
last update วันที่เผยแพร่: 2026-03-08 01:33:50

"Masuk!"

Andini membuka pintu dan melangkah masuk ke dalam ruang presdir. Lalu ia menutup pintu di belakangnya sebelum berjalan mendekat ke arah meja Satria.

"Sayang, laporannya udah aku kirim ya..."

Satria yang tadi sedang melihat layar laptop, langsung mengalihkan pandangannya. Ia menggerakkan mouse sebentar, membuka emailnya, lalu mengangguk kecil.

"Sudah masuk, makasih ya!" ucap Satria.

Andini berhenti di depan meja, memperhatikan Satria beberapa detik.

"Syukurlah. Tadi aku sampe cek ulang
อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป
บทที่ถูกล็อก

บทล่าสุด

  • Sentuhan Panas Ayah Sahabatku   Bab 210

    "Oke sih..," jawab Siska. Siska mengangguk pelan, matanya masih tertuju pada layar laptop di hadapannya. Beberapa detik ia diam, seolah benar-benar mencerna semua yang sudah dijelaskan Andini."Gue setuju," lanjutnya.Andini langsung menoleh. "Serius nih?""Iya," jawab Siska mantap. "Ini jelas, rapi, dan realistis. Nggak muluk-muluk tapi tetap punya value."Andini menghela napas panjang. Ia benar-benar merasa lega sekarang. "Baguslah kalo gitu. Gue cuma takut kalo rencana gue ini terlalu sederhana.""Justru itu yang jadi kekuatannya," balas Siska. "Orang-orang sekarang lebih nyari yang nyaman, bukan yang ribet."Andini tersenyum kecil. "Berarti, kita lanjut nih ya?"Siska mengangguk pelan. "Lanjut dong.."Hening sejenak. Tapi bukan hening yang kosong, melainkan lebih ke arah hening yang penuh pikiran dan perhitungan.Siska menyandarkan tubuhnya ke kursi. "Jujur ya, An…"Andini menoleh. "Apa Sis?""Gue nggak nyangka bakal sampai di titik ini," ucap Siska pelan. "Punya rencana usaha se

  • Sentuhan Panas Ayah Sahabatku   Bab 209

    "Kok belum pulang juga sih..," gumam Andini.Malam sudah semakin larut ketika mobil Satria memasuki halaman rumah.Lampu-lampu taman sudah menyala, memberikan kesan hangat yang langsung terasa begitu ia turun dari mobil. Dua hari di luar kota bukan waktu yang lama, tapi cukup untuk membuatnya merasakan perbedaan. Terutama saat ia tidak bersama dengan Andini di sana.Langkahnya mantap menuju pintu utama.Begitu pintu terbuka, Andini sudah ada di sana. Ia berdiri di ruang tengah, mengenakan pakaian mini yang cukup menggoda. Rambutnya dibiarkan tergerai, dan wajahnya terlihat cantik dan menggemaskan seperti biasa. "Hmm..," gumam Satria. Ia berhenti sejenak. Tatapannya langsung tertuju pada Andini, seolah memastikan bahwa ia benar-benar ada di sana."Kamu udah pulang ternyata," ucapnya pelan.Andini mengangguk. "Iya. Dari tadi, aku udah nungguin kamu. Kamu lama banget sih," ucap Andini. Nada suaranya terdengar lembut dan manja.Satria menghela napas pelan. Ada kelegaan yang tidak ia

  • Sentuhan Panas Ayah Sahabatku   Bab 208

    "Kamu masih kesel?" tanya Satria. Ia menoleh ke arah Andini dan menggenggam lembut tangan kanannya. "Sedikit," jawab Andini, tanpa mengalihkan pandangannya dari jendela. Satria tidak lagi bicara. Ia tidak mau membuat mood Andini semakin kurang baik. ***Keesokan paginya, suasana rumah masih tenang. Andini sengaja bangun lebih pagi dan mandi lebih dulu. Ia mengenakan pakaian rumah dan berjalan ke dapur dengan langkah pelan, untuk menyiapkan sarapan sederhana.Ia mengambil beberapa bahan makanan di kulkas dan bersiap untuk memasak. "Loh, Nyonya Andini ngapain? Udah, biar saya aja yang masak, Nya.""Nggak apa-apa, Bi. Aku cuma mau bikin masi goreng, kok. Nggak bakal nyita banyak tenaga," ucap Andini, sambil tersenyum. "Tapi, Nya.. Saya takut Tuan marah. Nanti kalo saya dipecat gimana?"Andini menggelengkan kepalanya. "Nggak bakal, Bi. Masa gara-gara aku masak aja Bi Sarmi sampe di pecat."Bi Sarmi terdiam. Wajahnya masih menyiratkan rasa takut yang teramat dalam. Ia sangat khawatir

  • Sentuhan Panas Ayah Sahabatku   Bab 207

    "Gimana An, udah kelar?" tanya Dila, sambil melihat ke arah Andini. "Belum. Sebentar lagi, Mbak," jawab Andini tanpa mengalihkan pandangannya. Waktu berjalan dengan cepat. Dan, saat menjelang sore, pekerjaan Andini dan Dila sudah hampir selesai. Beberapa berkas juga sudah tersusun rapi di meja kerja masing-masing. Sebagian untuk di simpan dan sebagian lagi ditaruh di meja Satria untuk direview dan ditandatangani. Beberapa softcopy dokumen juga sudah tersimpan di folder laptop.Andini meregangkan bahunya perlahan."Kamu capek, An?" tanya Dila. Ia kembali melihat ke arah Andini."Lumayan," jawab Andini jujur. "Tapi masih aman kok, Mbak."Dila mengangguk. "Ingat jangan terlalu dipaksain ya, An. Takutnya nanti Pak Satria marah sama aku kalo kamu terlalu capek.""Iya, Mbak. Tenang aja. Lagian, aku tetap profesional kerja kok. Meski sekarang status udah beda, tapi kerjaan kan tetap sama," jawab Andini. Tak lama, ponsel Andini kembali bergetar. Ia melirik dan mengambil ponsel yang tergel

  • Sentuhan Panas Ayah Sahabatku   Bab 206

    Andini langsung melirik. "Ih."Tak lama, Roland kembali dengan kantong plastik berisi mangga yang sudah dipotong."Sudah, Pak," ucapnya sambil menyerahkan ke belakang.Satria menerimanya terlebih dahulu, lalu membuka sedikit plastiknya. "Nih, kamu coba," pintanya, sambil menyerahkan kantong plastik tersebut kepada Andini. Andini mengambil satu potong kecil, lalu memasukkannya ke dalam mulut. Wajahnya langsung berubah."Hmm…" gumamnya."Gimana?" tanya Satria."Seger… manis juga," jawab Andini, lalu mengambil lagi satu potong.Satria tersenyum tipis melihat reaksinya. "Ya udah, berarti cocok."Mobil kembali melaju. Andini sesekali memakan mangga itu, sementara Satria kembali fokus ke tablet-nya.Beberapa menit kemudian, mobil berhenti di depan gedung kantor.Andini menoleh. "Aku duluan ya.""Iya. Hati-hati," jawab Satria singkat.Andini mengangguk, lalu membuka pintu dan turun. Sebelum menutup pintu, ia sempat melirik."Kamu juga hati-hati, dan jangan lupa makan siang."Satria hanya m

  • Sentuhan Panas Ayah Sahabatku   Bab 205

    "Hah?!""Kenapa? Kamu kaget saya tau kebiasaan Siska?" tanya Satria dengan senyum samar di sudut bibirnya. Andini masih terdiam. Ia tidak menjawab ataupun bergerak sedikitpun. Ia paham apapun tanggapannya saat ini, bisa menjadi boomerang baginya. Meski begitu, sebenarnya ia sadar kalau merupakan hal yang wajar apabila Satria tau semua tentang anak semata wayangnya. Semua itu karena dia adalah seorang pebisnis kelas kakap yang ditakuti dan sangat dihormati di negara mereka. Justru jika Satria tidak tau apapun tentang anaknya, akan sangat aneh. Apalagi Satria sangat menyayangi Siska. "Nggak! Aku nggak kaget kok! Aku cuma terkesan!""Terkesan apanya, kamu nih ada-ada aja. Oh ya, kapan kita akan cek kandungan kamu lagi?"Andini mencoba mengingat. "Kayaknya sih minggu ini.""Terus untuk sidang kamu gimana? Waktunya sama kan kayak Siska?""Nggak! Kayaknya duluan aku daripada Siska. Cuma wisuda aja yang samaan.""Uhm.. Ya udah, kita sarapan sekarang?"Andini menganggukkan kepalanya. "Ayo

  • Sentuhan Panas Ayah Sahabatku   Bab 87

    "Istri?!" Andini membulatkan matanya. Satria terkekeh. "Saya cuma becanda. Tapi, kalau kamu udah siap sih, aku seneng banget.""Apaan sih, bikin kaget aja.." ucap Andini, sambil mengerucutkan mulutkan. Ia takut Satria menagih janjinya waktu itu. Jujur, saat ini ia masih belum siap untuk menjalani

    last updateปรับปรุงล่าสุด : 2026-03-26
  • Sentuhan Panas Ayah Sahabatku   Bab 90

    "An.. " panggil Satria, ketika Andini berjalan semakin menjauh. "Tolong berhenti, An! Saya mau bicara!" pekik Satria. Ia mengambil dan bergegas mengenakan celana yang tergeletak di lantai dan mengenakannya. Lalu berjalan dengan langkah cepat dan panjang untuk bisa mengejar Andini. Ia menahan And

    last updateปรับปรุงล่าสุด : 2026-03-26
  • Sentuhan Panas Ayah Sahabatku   Bab 95

    Satria menoleh ke belakang. "Apalagi, Bun?" tanyanya. Jujur, ia sudah malas melanjutkan pembicaraan. Ia tau sifat Rania. Mau sebanyak apapun bukti yang Satria berikan, Rania tidak mau disalahkan. Dengan mudahnya ia akan berkelit, sama seperti sebelumnya. "Duduk dulu, Sat. Kita bicarakan baik-baik

    last updateปรับปรุงล่าสุด : 2026-03-26
  • Sentuhan Panas Ayah Sahabatku   Bab 91

    "Uhm.. " gumam Andini. "Saya ke luar kantor lagi ya, An!" ucap Satria. Ia berjalan ke luar ruangan dan melewati Andini yang masih menatap lurus ke arahnya. Tidak ada sedikitpun gerakkan kepala Satria untuk melihat kembali ke arah Andini. Mata Satria justru fokus melihat dokumen yang saat ini ia p

    last updateปรับปรุงล่าสุด : 2026-03-26
บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status