Share

Bab 165

Penulis: Saggyryes
last update Tanggal publikasi: 2026-03-08 13:40:44

"An... "

"Uhm... "

Satria duduk di tepi tempat tidur sambil merapikan kemejanya. Ia menoleh ke arah Andini yang masih berbaring. Ia terlihat sedikit lelah, namun tetap tersenyum saat melihat wajah Satria.

Satria mengusap lembut dan merapihkan rambut Andini yang sedikit berantakan.

"Capek?" tanyanya.

Andini menggelengkan kepalanya perlahan. "Dikit..."

Satria tersenyum tipis, lalu bangkit dari duduknya.

"Baju kamu tadi masih di luar, saya ambilin dulu ya!"

Andini menganggukkan kepala. Senyuman
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Sentuhan Panas Ayah Sahabatku   Bab 351

    "Terima kasih, Jon," ucap Satria, sambil tersenyum dan menganggukkan kepalanya.Jonathan menggelengkan kepalanya perlahan."Nggak usah berterima kasih terus, Yah. Kalian kan udah jauh-jauh datang ke sini. Jadi memang sudah tugas kami untuk memastikan semuanya nyaman."Rania ikut tersenyum mendengarnya. "Terima kasih itu memang sudah seharusnya diucapkan sebagai bentuk sopan santun, Jon. Khususnya untuk orang timur seperti kami."Jonathan tertawa pelan. "Kalo begitu, saya juga ucapkan terima kasih, karena sudah menerima saya sebagai menantu kalian."Semua orang ikut tersenyum.Jonathan kemudian melihat jam tangannya sekilas. "Sekarang istirahat dulu aja. Perjalanan tadi pasti sangat panjang dan melelahkan.""Iya, itu memang sudah menjadi salah satu rencana kami, Jon," jawab Satria.Jonathan tersenyum. "Baiklah. Nanti jam tujuh malam, kami tunggu di restoran yang ada di lantai paling atas.""Sky Garden?" tanya Siska.Jonathan mengangguk pelan. "Iya."Andini langsung menoleh. "Itu yang

  • Sentuhan Panas Ayah Sahabatku   Bab 350

    "Gimana? Udah semua?" tanya Siska. Ia baru turun dari lantai atas langsung melihat sekeliling dan tersenyum tipis. Suasana rumah memang sudah cukup ramai sejak pagi tadi. Beberapa koper berjejer rapi di ruang keluarga. Imah dan Oty sibuk memastikan seluruh kebutuhan Arka dan Rosa sudah masuk ke dalam tas. Andini beberapa kali memeriksa perlengkapan si kembar dengan teliti, sementara Satria membantu para staf rumah membawa koper-koper yang akan dibawa."Ini kita mau liburan apa pindahan sih?" tanya Siska lagi, sambil duduk di sofa.Andini yang baru sadar akan kehadiran Siska, langsung menoleh ke arahnya. "Coba aja nanti kalo lo udah punya anak kembar. Baru deh bisa ngerasain apa yang gue rasain sekarang."Siska tertawa kecil. "Kan di sana juga udah disiapin semuanya, An.""Iya. Tapi tetep aja. Gue lebih tenang kalo bawa sendiri. Apalagi kalo urusan kebutuhan si kembar.""Iya juga sih."Tak lama kemudian, Rania keluar dari kamarnya.Kondisinya sudah jauh lebih baik dibanding beberapa

  • Sentuhan Panas Ayah Sahabatku   Bab 349

    "Selesai juga," gumam Siska, pelan. Ia akhirnya memasukkan ponselnya ke dalam saku celana, bangkit dari duduknya, dan berjalan kembali menuju ruang keluarga.Di sana, Rania, Satria, dan Andini masih duduk santai sambil mengobrol ringan."Gimana?" tanya Andini begitu melihatnya datang.Siska langsung duduk kembali di sofa."Katanya nggak perlu siapin apa-apa.""Hah? Serius?" tanya Andini, dengan alis yang saling bertaut."Iya. Katanya, semua kebutuhan selama di Joguar udah disiapkan sama keluarga Jonathan."Satria menganggukkan kepalanya perlahan. "Berarti, mereka emang udah pikirin banyak kemungkinan dari awal.""Iya, sepertinya begitu, Yah."Rania yang sejak tadi mendengarkan tersenyum tipis. "Kalian emang nggak salah memilih Jonathan dan keluarganya."Siska hanya tersenyum kecil.Sedangkan Rania melanjutkan, "Nggak semua orang bisa mempersiapkan segala sesuatu dengan baik seperti itu. Apalagi dalam kondisi seperti sekarang. Dan mereka, sama sekali nggak mau membuat kita cemas dan

  • Sentuhan Panas Ayah Sahabatku   Bab 348

    "Hah..," gumam Siska, sambil menghembuskan nafas perlahan. Ruangan menjadi hening beberapa saat.Siska menundukkan pandangannya. Ia mengerti apa yang dimaksud Rania. Hanya saja, setelah beberapa hari terakhir yang begitu melelahkan, rasanya sulit baginya untuk tidak merasa khawatir.Satria yang sejak tadi mendengarkan akhirnya ikut angkat bicara. "Nenek benar, Sis."Siska menoleh ke arah Ayahnya. "Kamu atur aja semuanya sesuai rencana kalian.""Tapi, Yah...""Nggak apa-apa," potong Satria pelan. "Sekarang yang penting justru kita memanfaatkan waktu yang ada dengan baik. Kalo emang tinggal dua hari lagi, ya mulai disiapkan dari sekarang."Siska terdiam sesaat sebelum akhirnya menganggukkan kepalanya perlahan.Satria lalu melanjutkan, "Nanti kamu tanya Jonathan apa saja yang perlu kita siapkan di sini. Biar semuanya bisa berjalan lebih cepat. Soalnya, waktu untuk persiapannya kan juga nggak banyak.""Iya, Yah."Andini yang duduk di samping Rania ikut mengangguk setuju. "Iya, Sis. Lo

  • Sentuhan Panas Ayah Sahabatku   Bab 347

    "Hah..," gumam Siska, pelan. "Kenapa hidup ada aja sih masalahnya, belum selesai satu udah ada lagi yang lainnya. Dosa apa sih aku Tuhan... Kok kayaknya masalah datang terus ga berenti-berenti," lanjutnya, dengan rasa lelah yang tiba-tiba saja datang lebih besar dari sebelumnya. ***Pagi hari datang lebih cepat daripada yang Siska sadari. Ia bahkan tidak benar-benar tidur semalaman. Hanya beberapa kali memejamkan mata sebelum kembali terbangun dan melihat ke arah pintu ICU.Sekitar pukul enam pagi, seorang perawat keluar dari ruangan tersebut."Bu Siska?"Siska yang matanya masih terpejam, langsung membuka mata dan bangkit dari duduknya. "Iya."Perawat tersenyum tipis. "Ibu Rania sudah sadar, Bu."Mendengar kabar itu, membuat beban besar yang ada di pundak Siska terangkat seketika."Beneran, Sus?" tanya Siska, memastikan. "Iya, Bu. Tapi beliau masih lemas. Nanti Ibu bisa masuk sebentar.""Baik, terima kasih, Sus," ucap Siska, sambil mengangguk cepat dan berjalan menuju ruang ICU.

  • Sentuhan Panas Ayah Sahabatku   Bab 346

    "Aamiin," ucap Andini dan Satria, hampir bersamaan. Operasi yang berjalan dengan baik itu memang membuat mereka sedikit lebih tenang. Namun bukan berarti semuanya telah selesai. Masih ada masa pemulihan yang harus dilewati.Masih ada hasil patologi yang harus ditunggu. Dan yang paling penting, masih ada Rania yang harus berjuang untuk benar-benar pulih.Beberapa saat setelah dokter pergi, seorang perawat datang menghampiri mereka."Kalau ingin melihat pasien, nanti bisa bergantian ya, Pak, Bu."Satria menganggukkan kepalanya perlahan. "Saya duluan, ya.""Iya, Yah," jawab Siska. Perawat itu langsung mempersilakan Satria untuk masuk. Dan ia segera mengikuti perawat menuju area ICU.Begitu masuk ke dalam ruangan, langkahnya otomatis melambat. Rania sedang terbaring di atas ranjang dengan berbagai alat medis yang terpasang di tubuhnya. Wajah perempuan yang selama ini selalu terlihat tegar itu tampak jauh lebih pucat.Satria berdiri cukup lama di samping ranjang. Ia tidak banyak bicara.

  • Sentuhan Panas Ayah Sahabatku   Bab 111

    "Ayah..." panggil Siska, saat ia masuk ke dalam ruangan Satria. Satria bangkit dari tempat duduknya dan berjalan ke arah Siska. Ia merentangkan tangan seperti biasa, bersiap menyambut Siska masuk ke dalam pelukkannya. Sesuai dugaan, Siska berlari kecil dan masuk ke dalam pelukkan Satria. Satria

    last updateTerakhir Diperbarui : 2026-03-28
  • Sentuhan Panas Ayah Sahabatku   Bab 107

    "Ayok!" ajak Siska. Siska dan Andini langsung naik ke kamar untuk bersiap.Andini selesai lebih dulu. Ia memutuskan turun dan menunggu Siska di ruang tamu. Karena khawatir ia akan membuat Siska curiga jika terlalu sering berdekatan. Terlebih, saat ini ia masih sering ke kamar mandi untuk mengelua

    last updateTerakhir Diperbarui : 2026-03-28
  • Sentuhan Panas Ayah Sahabatku   Bab 109

    "Ah.. " ucap Andini. Pintu kamar tertutup pelan di belakang Andini.Ia bersandar sebentar, punggungnya menempel di daun pintu, seolah baru saja menyelesaikan sesuatu yang jauh lebih melelahkan daripada makan malam. Sepatunya dilepas asal, tas diletakkan di meja kecil dekat pintu.“Capek juga,” gu

    last updateTerakhir Diperbarui : 2026-03-28
  • Sentuhan Panas Ayah Sahabatku   Bab 113

    "Ah... " renguh Siska ketika ia mengeluarkan cairan kenikmatan untuk kesekian kalinya. Bastian tersenyum melihat sang kekasih dan mencium sekilas bibir mungil Siska. "Makasih ya beb.. " ucap Siska. Ia mulai memejamkan mata karena kelelahan. "Sama-sama, Beb.. Aku langsung jalan ya.." ucap Bastian

    last updateTerakhir Diperbarui : 2026-03-28
Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status