ログイン"Tenang ya, Tan. Aku udah ada di sini," ucap Andini. Ia menggenggam lembut tangan Cinta. Jemarinya terasa dingin dan sedikit kaku."Tadi dia seneng banget An. Dia pengen banget dateng ke acara wisuda kamu..," tutur Cinta. Air matanya semakin deras jatuh di pipi. "Iya, Tan… tenang ya. Om orang yang kuat. Aku yakin Om akan kembali sehat seperti sebelumnya," ucap Andini pelan. Ia berusaha agar suaranya tetap terdengar stabil, meski dadanya sendiri terasa sangat sesak dan nyeri. Siska ikut duduk di samping Cinta. Ia mengusap punggung wanita itu perlahan."Tante tarik napas dulu ya, pelan-pelan aja," ucap Siska.Cinta menganggukkan kepalanya. Tapi napasnya tetap tidak beraturan. Air matanya masih terus mengalir tanpa bisa ditahan."Tante.. Tante nggak tau harus gimana…" ucapnya terbata. "Tadi dia belum lama ngomong sama Tante dan Tante bilang bakal nunggu Om di ruang tamu. Tapi Om nggak dateng-dateng. Pas Tante dateng, dia udah..,"Kalimatnya terputus. Seolah Cinta tidak lagi sanggup m
"Aku coba telpon lagi," gumam Andini. Ia kembali menekan tombol hijau di ponselnya. Namun sayangnya, tidak ada jawaban. Sama seperti sebelumnya. Waktu terus berjalan. Satu jam yang tadi terasa masih bisa ditunggu, sekarang berubah jadi beban yang sangat menekannya. Andini berdiri dengan ponsel yang masih berada di tangan. Ia kembali mencoba menghubungi Cinta. Nada sambung terdengar, namun tiba-tiba terputus lagi.Ia menutup mata sejenak. "Masih nggak diangkat," ucapnya. Siska yang berdiri di sampingnya langsung mendekat. "Coba Om Agung lagi."Andini mengangguk cepat, lalu mencari nama Agung. Hasilnya sama."Kenapa sih nggak ada yang angkat?" tanyanya seraya bergumam pelan, tapi jelas terdengar panik.Satria yang sejak tadi memperhatikan, akhirnya mengambil keputusan. "Kita jalan sekarang."Andini langsung menoleh. "Ke mana?""Ke rumah mereka dulu," jawab Satria tegas. "Kalau memang mereka nggak ada di sana, kita lanjut cari ke tempat lain.""Selain itu, saya juga bakal minta bantu
"Yey... Akhirnya hari yang kita tungu-tunggu tiba.." ucap Siska. Penantiannya setelah dua bulan, akhirnya terwujud. "Iya, akhirnya.."Pagi itu suasana gedung yang menjadi tempat wisuda Universitas Negeri Omeron terasa sangat ramai dan dipadati banyak orang. Area parkir penuh. Halaman dipadati keluarga yang datang dengan berbagai ekspresi. Entah itu rasa bangga, haru, dan juga tidak sabar untuk segera selesai. Andini berdiri di depan cermin. Ia merapikan toga yang sejak tadi sudah ia kenakan. Tangannya bergerak pelan. Memastikan semuanya terlihat rapi."Gimana, udah pas belum?" tanyanya sambil sedikit menoleh ke arah Siska. Siska yang berdiri tidak jauh dari sana langsung mendekat. Ia memperhatikan sebentar, lalu mengangguk. "Udah oke kok. Tinggal senyumnya aja yang belum maksimal."Andini menghela napas kecil. "Sumpah! Deg degan banget gue, Sis."Siska tertawa pelan. "Apaan sih, kita kan tinggal jalan sama duduk doang. Ngapain coba lo sampe deg degan gitu.""Iya, tapi tetap aja r
"Untuk itu, biar Andini aja yang jelasin, Om," ucap Siska. Ia langsung melirik ke arah Andini sambil tersenyum kecil. Seolah, ia menyerahkan sepenuhnya kepada Andini untuk menjelaskan.Andini menarik napas pelan, lalu menjawab dengan tenang. "Kami berencana mau mulai usaha, Om. Tempat makan kecil dan sederhana, sekalian sama toko kue juga."Agung langsung terlihat tertarik. "Oh ya? Udah kepikiran konsepnya?""Udah. Tapi masih tahap awal," jawab Andini jujur. "Kita mau fokus ke makanan rumahan sama makanan penutupnya. Nggak terlalu banyak menu sih, biar kualitasnya tetep terjaga."Siska mengangguk. "Iya. Kita juga mikirnya bikin yang sederhana dulu dan menarik. Jadi nggak langsung besar."Andini lalu menoleh ke arah Cinta. "Dan soal dapur, masih sama seperti yang aku info kemarin ke Tante. Tante yang akan pegang dapur sama pengendali kualitas makanannya."Cinta tersenyum. Ia kembali mengingat pembicaraan mereka sebelumnya. "Iya, kamu udah bilang waktu itu."Agung langsung mengangguk m
"An?" panggil Siska. Andini menoleh ke arah Siska sambil tersenyum. Suasana pagi di kampus terasa jauh lebih ramai dari biasanya. Beberapa mahasiswa dan mahasiswi masih sibuk dengan berkas. Ada juga yang duduk diam sambil membaca ulang catatan terakhir.Andini sendiri sedang duduk di salah satu kursi tunggu di depan ruang sidang. Tangannya menggenggam map cukup erat. Sementara matanya sesekali melihat ke arah pintu.Siska duduk di sampingnya, terlihat jauh lebih santai dibanding kemarin saat gilirannya sidang."Lo deg-degan ya?" tanya Siska sambil melihat ke arah Andini.Andini menghembuskan napas pelan. "Pasti. Gue takut banget nge-blank pas udah sampe di dalem!" ucap Andini. "Kalo itu terjadi, bisa ancur nilai gue!""Wajar," jawab Siska. "Gue juga kemarin gitu. Tapi pas udah masuk, malah lebih fokus ke jawab pertanyaan."Andini mengangguk pelan. "Kemarin lo dapet A kan?"Siska nyengir. Tapi jelas dari wajahnya terlihat rasa penuh kemenang. "Iya. Keren kan? tanya Siska, bangga."Ke
"Oke sih..," jawab Siska. Siska mengangguk pelan, matanya masih tertuju pada layar laptop di hadapannya. Beberapa detik ia diam, seolah benar-benar mencerna semua yang sudah dijelaskan Andini."Gue setuju," lanjutnya.Andini langsung menoleh. "Serius nih?""Iya," jawab Siska mantap. "Ini jelas, rapi, dan realistis. Nggak muluk-muluk tapi tetap punya value."Andini menghela napas panjang. Ia benar-benar merasa lega sekarang. "Baguslah kalo gitu. Gue cuma takut kalo rencana gue ini terlalu sederhana.""Justru itu yang jadi kekuatannya," balas Siska. "Orang-orang sekarang lebih nyari yang nyaman, bukan yang ribet."Andini tersenyum kecil. "Berarti, kita lanjut nih ya?"Siska mengangguk pelan. "Lanjut dong.."Hening sejenak. Tapi bukan hening yang kosong, melainkan lebih ke arah hening yang penuh pikiran dan perhitungan.Siska menyandarkan tubuhnya ke kursi. "Jujur ya, An…"Andini menoleh. "Apa Sis?""Gue nggak nyangka bakal sampai di titik ini," ucap Siska pelan. "Punya rencana usaha se
"Sempurna!" Zaskia berjalan ke luar kamar menuju tempat parkir dan segera masuk ke dalam mobil. Sesampainya di hotel, ia menuju meja resepsionis, lalu menerima digital key untuk masuk ke dalam kamar presiden suite. "Sat, kamu udah sampai?" tanya Zaskia, saat panggilan telpon sudah terhubung. Sa
"Seneng?" tanya Siska. Ia mengerutkan kening sambil sedikit memiringkan kepala menatap lurus ke arah Bastian. Bastian mengangguk. "Iya. Hidup nyaman seperti kedua Tante kamu, tanpa harus lelah bekerja. Bukannya itu yang kamu inginkan?""Kamu bener, Bas! Cuma pas denger akan ada saingan dalam hidu
"An... "Panggil Agung, setengah berbisik, saat duduk dihadapan Andini. Ia tau saat ini Andini merasa sangat tidak nyaman berasa di sana. Tapi, ia masih belum beranjak karena kehadiran Agung yang baru saja sampai dan duduk dihadapannya. "Iya, Om.." jawab Andini, suaranya sedikit parau. "Kamu uda
"An?"Satria menatap dan menyentuh lembut punggung tangan kekasihnya itu. Sejak tadi, Andini hanya memandang ke luar jendela. Seolah, ia sedang mencari jawaban atas kegamangannya saat ini. "Hem.." jawab Andini, tanpa mengalihkan pandangannya. "Jangan terlalu banyak pikiran, An. Ingat, aku di sini







