ログイン"An?" panggil Siska. Andini menoleh ke arah Siska sambil tersenyum. Suasana pagi di kampus terasa jauh lebih ramai dari biasanya. Beberapa mahasiswa dan mahasiswi masih sibuk dengan berkas. Ada juga yang duduk diam sambil membaca ulang catatan terakhir.Andini sendiri sedang duduk di salah satu kursi tunggu di depan ruang sidang. Tangannya menggenggam map cukup erat. Sementara matanya sesekali melihat ke arah pintu.Siska duduk di sampingnya, terlihat jauh lebih santai dibanding kemarin saat gilirannya sidang."Lo deg-degan ya?" tanya Siska sambil melihat ke arah Andini.Andini menghembuskan napas pelan. "Pasti. Gue takut banget nge-blank pas udah sampe di dalem!" ucap Andini. "Kalo itu terjadi, bisa ancur nilai gue!""Wajar," jawab Siska. "Gue juga kemarin gitu. Tapi pas udah masuk, malah lebih fokus ke jawab pertanyaan."Andini mengangguk pelan. "Kemarin lo dapet A kan?"Siska nyengir. Tapi jelas dari wajahnya terlihat rasa penuh kemenang. "Iya. Keren kan? tanya Siska, bangga."Ke
"Oke sih..," jawab Siska. Siska mengangguk pelan, matanya masih tertuju pada layar laptop di hadapannya. Beberapa detik ia diam, seolah benar-benar mencerna semua yang sudah dijelaskan Andini."Gue setuju," lanjutnya.Andini langsung menoleh. "Serius nih?""Iya," jawab Siska mantap. "Ini jelas, rapi, dan realistis. Nggak muluk-muluk tapi tetap punya value."Andini menghela napas panjang. Ia benar-benar merasa lega sekarang. "Baguslah kalo gitu. Gue cuma takut kalo rencana gue ini terlalu sederhana.""Justru itu yang jadi kekuatannya," balas Siska. "Orang-orang sekarang lebih nyari yang nyaman, bukan yang ribet."Andini tersenyum kecil. "Berarti, kita lanjut nih ya?"Siska mengangguk pelan. "Lanjut dong.."Hening sejenak. Tapi bukan hening yang kosong, melainkan lebih ke arah hening yang penuh pikiran dan perhitungan.Siska menyandarkan tubuhnya ke kursi. "Jujur ya, An…"Andini menoleh. "Apa Sis?""Gue nggak nyangka bakal sampai di titik ini," ucap Siska pelan. "Punya rencana usaha se
"Kok belum pulang juga sih..," gumam Andini.Malam sudah semakin larut ketika mobil Satria memasuki halaman rumah.Lampu-lampu taman sudah menyala, memberikan kesan hangat yang langsung terasa begitu ia turun dari mobil. Dua hari di luar kota bukan waktu yang lama, tapi cukup untuk membuatnya merasakan perbedaan. Terutama saat ia tidak bersama dengan Andini di sana.Langkahnya mantap menuju pintu utama.Begitu pintu terbuka, Andini sudah ada di sana. Ia berdiri di ruang tengah, mengenakan pakaian mini yang cukup menggoda. Rambutnya dibiarkan tergerai, dan wajahnya terlihat cantik dan menggemaskan seperti biasa. "Hmm..," gumam Satria. Ia berhenti sejenak. Tatapannya langsung tertuju pada Andini, seolah memastikan bahwa ia benar-benar ada di sana."Kamu udah pulang ternyata," ucapnya pelan.Andini mengangguk. "Iya. Dari tadi, aku udah nungguin kamu. Kamu lama banget sih," ucap Andini. Nada suaranya terdengar lembut dan manja.Satria menghela napas pelan. Ada kelegaan yang tidak ia
"Kamu masih kesel?" tanya Satria. Ia menoleh ke arah Andini dan menggenggam lembut tangan kanannya. "Sedikit," jawab Andini, tanpa mengalihkan pandangannya dari jendela. Satria tidak lagi bicara. Ia tidak mau membuat mood Andini semakin kurang baik. ***Keesokan paginya, suasana rumah masih tenang. Andini sengaja bangun lebih pagi dan mandi lebih dulu. Ia mengenakan pakaian rumah dan berjalan ke dapur dengan langkah pelan, untuk menyiapkan sarapan sederhana.Ia mengambil beberapa bahan makanan di kulkas dan bersiap untuk memasak. "Loh, Nyonya Andini ngapain? Udah, biar saya aja yang masak, Nya.""Nggak apa-apa, Bi. Aku cuma mau bikin masi goreng, kok. Nggak bakal nyita banyak tenaga," ucap Andini, sambil tersenyum. "Tapi, Nya.. Saya takut Tuan marah. Nanti kalo saya dipecat gimana?"Andini menggelengkan kepalanya. "Nggak bakal, Bi. Masa gara-gara aku masak aja Bi Sarmi sampe di pecat."Bi Sarmi terdiam. Wajahnya masih menyiratkan rasa takut yang teramat dalam. Ia sangat khawatir
"Gimana An, udah kelar?" tanya Dila, sambil melihat ke arah Andini. "Belum. Sebentar lagi, Mbak," jawab Andini tanpa mengalihkan pandangannya. Waktu berjalan dengan cepat. Dan, saat menjelang sore, pekerjaan Andini dan Dila sudah hampir selesai. Beberapa berkas juga sudah tersusun rapi di meja kerja masing-masing. Sebagian untuk di simpan dan sebagian lagi ditaruh di meja Satria untuk direview dan ditandatangani. Beberapa softcopy dokumen juga sudah tersimpan di folder laptop.Andini meregangkan bahunya perlahan."Kamu capek, An?" tanya Dila. Ia kembali melihat ke arah Andini."Lumayan," jawab Andini jujur. "Tapi masih aman kok, Mbak."Dila mengangguk. "Ingat jangan terlalu dipaksain ya, An. Takutnya nanti Pak Satria marah sama aku kalo kamu terlalu capek.""Iya, Mbak. Tenang aja. Lagian, aku tetap profesional kerja kok. Meski sekarang status udah beda, tapi kerjaan kan tetap sama," jawab Andini. Tak lama, ponsel Andini kembali bergetar. Ia melirik dan mengambil ponsel yang tergel
Andini langsung melirik. "Ih."Tak lama, Roland kembali dengan kantong plastik berisi mangga yang sudah dipotong."Sudah, Pak," ucapnya sambil menyerahkan ke belakang.Satria menerimanya terlebih dahulu, lalu membuka sedikit plastiknya. "Nih, kamu coba," pintanya, sambil menyerahkan kantong plastik tersebut kepada Andini. Andini mengambil satu potong kecil, lalu memasukkannya ke dalam mulut. Wajahnya langsung berubah."Hmm…" gumamnya."Gimana?" tanya Satria."Seger… manis juga," jawab Andini, lalu mengambil lagi satu potong.Satria tersenyum tipis melihat reaksinya. "Ya udah, berarti cocok."Mobil kembali melaju. Andini sesekali memakan mangga itu, sementara Satria kembali fokus ke tablet-nya.Beberapa menit kemudian, mobil berhenti di depan gedung kantor.Andini menoleh. "Aku duluan ya.""Iya. Hati-hati," jawab Satria singkat.Andini mengangguk, lalu membuka pintu dan turun. Sebelum menutup pintu, ia sempat melirik."Kamu juga hati-hati, dan jangan lupa makan siang."Satria hanya m
"Ayo!"Satria bangkit dari duduknya dan berjalan menghampiri Andini yang sudah berdiri di samping meja. Mereka berjalan beriringan menuju tempat parkir. Saat mereka sudah di dalam mobil, Satria membantu memasangkan sabuk pengaman kepada Andini. Andini tersenyum. 'Apa kemajuan ini aku manfaatkan
"Siap, Mbak!" jawab Andini sambil tersenyum. Dia menaruh parfum yang baru saja ia kenakan ke laci dan berjalan menuju ruangan. Setelah sampai di depan pintu, Andini mengetuk pintu, menekan kenop pintu, dan masuk ke dalam ruangan. "Tadi Bapak cari saya?" tanya Andini. Dia berjalan menghampiri me
"Ambil ini, Pak!"Andini memperlihatkan dokumen yang tadi diserahkan Satria. "Oh, gitu! Nanti pulang bareng yuk?" Dion menawarkan. Andini mengerutkan kening. Lagi-lagi Dion mengatakan sesuatu di luar kendalinya. "Sa-saya hari ini sepertinya akan lembur Pak!" ucap Andini. Berusaha menolak ajakkan
"Uhm …." Andini melenguh, tetapi tak membuka mata. Satria berjalan mendekati Andini dengan dahi berkerut. Tiba di samping tempat tidur, kedua alis Satria naik, kaget. 'Ha?! Dia tidur?!'Heran dengan kelakuan Andini, Satria menggelengkan kepalanya. 'Bagaimana mungkin kami melanjutkannya jika dia t







