Share

Sentuhan Panas Ayah Sahabatku
Sentuhan Panas Ayah Sahabatku
Author: Saggyryes

Bab 1

Author: Saggyryes
last update publish date: 2025-11-03 13:19:15

"Ah ...."

Desahan rendah dan berat memenuhi seisi ruangan. Gemuruh di dalam dada Andini pun seolah menyambutnya. 

Hari ini, Andini, genap 2 bulan bekerja di perusahaan RA Company. Dengan bantuan dari sahabatnya—Siska, ia berhasil menjadi pegawai magang di divisi sekretariat direksi.

Semua itu adalah demi mengejar lelaki yang kini tengah menikmati sentuhannya. 

Berusaha tetap tenang, Andini bertanya, “Gimana? Enak kan, Om?”

"Ah … ya." Lelaki yang dipanggil dengan sebutan ‘Om’ mendesah pelan sambil mengernyit. "Tapi Andini, kita sedang di kantor. Kamu jangan panggil saya Om!"

Gadis bermata kecoklatan itu terkekeh jahil. "Oh iya! Andini lupa, Om!"

"Andini!” tegur pria yang dipanggil Om itu. "Kamu lagi-lagi panggil saya Om!" 

"Oh iya!" Andini terkikik.

Gadis berusia 22 tahun itu memang sengaja. Ia hanya ingin menggoda atasannya, yang notabene adalah Satria Hasan. Presiden Direktur RA Company. 

Pria yang telah mengisi hari-harinya sejak kecil dan telah membuat Andini jatuh cinta sejak SMA. Dia juga adalah ayah dari Siska. 

“Kamu pintar juga, An,” puji Satria sambil memejamkan mata. “Belajar dari mana?”

“Siska kan sering pingsan kalau upacara, Om—eh, Pak. Saya suka pijetin dia.”

Bibir Satria membentuk huruf O tanpa suara. Andini yang memang sudah berhasrat terhadapnya pun merasa tergoda untuk menyentuh bibir itu. 

Namun, ia tidak punya keberanian sampai ke sana. Demi menurunkan ketegangan yang ia buat sendiri, Andini berpikir kalau ia harus segera membuat jarak dengan Satria. 

"Sudah apa belum Pak?" tanya Andini yang masih menekan ibu jarinya di leher Satria.

Sebenarnya tadi malam, Siska cerita kalau ayahnya sedang kurang enak badan. Sekejap, Andini langsung belajar teknik pijat kilat dan mempraktekkannya pada Satria pagi ini.

"Saya rasa sudah!” Satria melepaskan diri dari pijatan Andini. “Thanks, An!” 

Kemudian Satria menambahkan, “Tapi, sepertinya saya tetap harus minum obat. Tolong ambilkan di laci meja sana, Andini!”

"Oke, Pak."

Dengan sigap Andini menuju laci yang ditunjuk Satria barusan. 

Andini memperhatikan obat itu sambil berkata dalam hati, ‘Kalau mau menikah dengan Om Satria, aku harus tau obat-obatan aaaayang dia perlukan. Ini untuk darah rendah. Ternyata penyakitnya sama seperti Siska.’

“Ada nggak, An?” tanya Satria yang melihat Andini dari kejauhan tak kunjung kembali. “Apa saya lupa beli lagi?”

Sadar dari lamunannya, Andini segera menutup laci dan berbalik untuk menyerahkan obat yang ia temukan. “Ada, Pak!”

"Harusnya Pak Satria banyak istirahat! Kalau ada apa-apa sama Bapak, gimana nasib perusahaan ini?" ucap Andini sambil menyerahkan obat tersebut. 

Kaget dengan ucapannya sendiri, Andini langsung menutup mulut lancangnya dengan kedua tangan, "Astaga! Maaf, Pak. Saya nggak bermaksud sok pintar. Maksud saya, Bapak jangan terlalu keras bekerja!" 

"Nggak apa-apa, An. Kamu benar.” Satria tersenyum tipis. “Terima kasih sudah ngingetin saya." 

Satria baru saja akan meminum obatnya, tetapi air di gelas yang ada di tangannya sudah dingin. Dia kembali melihat ke arah Andini. ”Tolong ganti dengan air hangat, An! Yang ini sudah dingin.”

“Siap Pak!” 

Dengan cekatan, Andini segera berlari menuju pantry kecil yang ada di sudut ruangan untuk mengambilkan air hangat.

Dari tempatnya, Andini melirik Satria. 

‘Astaga! Andai dia jadi suamiku, mungkin tidak berakhir hanya pijat kepala!’ Andini nyengir. 

Merasa mulai membayangkan yang tidak-tidak, Andini langsung menggelengkan kepala. Menghapus semua bayangan menggoda itu. 

‘Aku semakin gila karenanya!’ Andini terkekeh kecil. 

Sementara itu, Satria jadi menimbang teguran Andini tadi. 

Sang presdir bahkan tidak ingat, kapan terakhir kali ia mendapat waktu istirahat yang berkualitas. Sejak perceraiannya, Satria memilih untuk menenggelamkan diri dalam pekerjaan. Ia bahkan berhasil membuka cabang di luar negeri dan sukses setelah 3 tahun fokus di sana.

‘Ah … Benar kata Andini. Kurasa, aku harus liburan. Siska juga pasti merasa kesepian selama ini,’ batin Satria berniat memperbaiki keseimbangan hidupnya.

Tanpa sadar, netra Satria berkelana menatap Andini. Ia tidak menyangka gadis kecil yang dulu sering sekali datang ke rumahnya untuk bermain dengan Siska, kini sudah menjadi perempuan dewasa dan mulai bekerja. 

Dulu, Andini kecil sering sekali minta dipangku dan dibacakan buku cerita olehnya. 

‘5 tahun nggak ketemu, Andini jadi berbeda,’ batin Satria. ‘Well, setidaknya dia tumbuh dewasa dengan baik.’ 

Satria tersenyum lega. Namun, tiba-tiba kepalanya kembali terasa sakit. Ia pun tak sengaja mengerang pelan. “Ah ….”

Mendengar erang kesakitan dari Satria, Andini kaget. Diapun tidak sengaja menumpahkan air dan segera berlari kembali untuk menyerahkan gelas berisi air hangat. 

"Maaf, Pak! Saya kelamaan! Ini airnya!" Wajahnya pucat, takut kalau sakit Satria semakin parah. 

Stok air panas kosong. Jadi Andini harus menunggu air matang dulu di dalam teko pemanas. Makanya ia jadi terlalu lama menyerahkan air hangat untuk Satria.

‘Aku harus memperhatikan stok air panas untuk selanjutnya!’ batin Andini, mengoreksi diri.

Karena Satria tengah memejamkan mata menahan sakit, ia menjulurkan tangan kanannya tanpa melihat. Maksud hati mengambil gelas yang diberikan Andini, tangan Satria ternyata berakhir tidak tepat pada sasarannya. 

‘Apa ini? Kenapa terasa empuk ... dan … kenyal?’

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Sentuhan Panas Ayah Sahabatku   Bab 274

    "Uhm.." renguh Siska. Setelah cukup lama menatap Johan dari depan kaca, Siska berbalik dan kini menghadapnya. Ia mulai mendekat dan memegang lembut wajah Johan dengan jari-jari tangannya. Tidak ada niat sedikitpun bagi Johan untuk menjauh dari Siska. Ia justru melihat lurus ke arah Siska dan sengaja membiarkan Siska melakukan apapun padanya. Siska mulai mendekatkan wajahnya ke wajah Johan dan mencium lembut bibirnya. Johan menerimanya dengan baik. Ia malah memegangi kepala Siska dengan tangan kanannya dan menarik pinggang Siska dengan tangan kirinya agar tubuhnya semakin mendekat. Lalu ia menggiring tubuh Siska ke bawah pancuran air dan mengaturnya agar mengeluarkan air hangat yang pas di kulit mereka berdua. "Ahh.." ucap Siska saat air hangat menyentuh kulitnya yang dingin sejak tadi. Air hangat itu, kini mulai memenuhi ruangan, uap tipis perlahan naik dan memburamkan cermin besar di din

  • Sentuhan Panas Ayah Sahabatku   Bab 273

    "Hah..," Siska menghela nafas pelan. Ia memandang lurus ke depan. Lampu-lampu jalan memantul samar di kaca depan mobil, bergerak perlahan mengikuti laju kendaraan yang cukup stabil. Wajahnya terlihat tenang, tapi jelas bukan karena semuanya baik-baik saja. Tapi lebih seperti seseorang yang sedang menahan banyak tekanan sekaligus.Johan tidak berkata apa-apa. Tangannya tetap di kemudi, matanya fokus ke jalan. Tapi sesekali, ia melirik ke arah Siska. Ia sadar kapan harus diam. Dan malam ini, jelas bukan waktunya untuk bertanya.Mobil terus melaju tanpa arah yang jelas.Beberapa menit berlalu dalam keheningan. Siska akhirnya menoleh sedikit ke arah Johan. "Jo..""Hm?" tanya Johan. Ia langsung merespon, dengan suara yang dijaga untuk tetap tenang.Siska diam sebentar, seolah memilih kata yang cocok. "Kamu.. mau nggak nemenin aku malam ini?"Tidak ada nada manja dan juga tidak terdengar rapuh. Tapi cukup jelas kalau itu bukanlah permintaan biasa.Johan menoleh sekilas, lalu tersenyum ti

  • Sentuhan Panas Ayah Sahabatku   Bab 272

    "Udah," potong Siska.Ia bangkit dari duduknya. Tidak terburu-buru, tapi jelas ia tidak ingin tinggal lebih lama di sana. Ia mengambil tasnya."Aku rasa semua udah cukup jelas," ucap Siska. Bastian langsung ikut bangkit dari duduknya. "Beb, tolong jangan kayak gini. Kita masih bisa bicarain baik-baik.""Enggak perlu," jawab Siska singkat.Ia tidak menatap Alya lagi. Tidak juga menunggu tanggapan dari Bastian. Ia berjalan ke luar dari kafe. Dan Bastian menyusulnya. "Beb!" panggilnya.Pintu terbuka cukup lebar. Udara malam yang dingin langsung terasa masuk menembus kulit. Siska tetap berjalan tanpa memperdulikan panggilan Bastian. "Beb, tunggu dulu!" suara Bastian terdengar lebih keras sekarang.Namun langkah Siska tidak melambat.Sampai akhirnya, ia berhenti. Bukan karena Bastian. Tapi karena seseorang yang kini berdiri di hadapannya.Johan. Pria itu tampak sedikit terkejut melihat Siska, tapi tidak menunjukkannya."Kamu udah selesai?" tanyanya singkat.Siska menatapnya beberapa de

  • Sentuhan Panas Ayah Sahabatku   Bab 271

    "Aku..," jawab Siska, ragu. Ia memutar gelas di tangannya pelan sambil menatap cairan di dalamnya. Seolah, sedang mencari sesuatu di sana."Untuk sekarang, aku nggak tau, Bas," ucapnya akhirnya.Suaranya datar. Tidak tinggi, tidak juga bergetar. Dan justru itu yang membuatnya terasa semakin jauh.Bastian mengernyit tipis. "Nggak tau gimana maksud kamu, Beb?"Siska menggedikkan bahunya pelan. "Ya nggak tau aja, Bas. Aku nggak bisa langsung bilang iya atau nggak. Karena jujur perasaan aku masih kayak gini."Ia menunjuk dadanya sendiri, singkat. Terlihat jelas rasa nyeri yang tersirat di dalam diri Siska. Namun, ia sengaja tidak mengatakannya. Beberapa lama, hening sejenak. Tidak ada satupun dari mereka yang berbicara. Tapi, ada sesuatu yang tersirat di wajah Bastian. bukan marah, tapi lebih ke arah tidak puas."Ya tapi aku juga manusia, Beb. Aku laki-laki. Dan kadang hal kayak gitu.," ucap Bastian. Ia berhenti sejenak, menahan napas. Masih mencoba menimbang semua ucapan yang akan ke

  • Sentuhan Panas Ayah Sahabatku   Bab 270

    "Gila! Kok bisa sih?" ucap Siska.Ia menggeleng pelan sambil menatap layar ponselnya. Jari-jarinya bergerak cepat membuka notifikasi. Ada puluhan pesan dan beberapa panggilan tidak terjawab dari Putri.Waktu pengirimannya dari semalam. Bahkan ada yang dini hari tadi. Siska mengernyit. "Kenapa gue baru liat sekarang sih?! Astaga!" gumamnya pelan.Tanpa pikir panjang, Siska langsung menekan tombol panggil. Tidak menunggu lama, Putri langsung mengangkatnya."Siska!" teriak Putri. Suaranya langsung terdengar cepat dan jelas. Tidak ada basa-basi. "Akhirnya lo telpon juga!" lanjutnya. Siska sedikit menahan napas. "Iya, Put. Maaf. Ponsel gue ketinggalan.""Ya, gue tau!" balas Putri, terdengar kesal. "Makanya dari semalem gue teleponin terus! Lo nggak baca chat juga ya?"Siska melirik lagi ke layar. "Belum. Baru sekarang gue liat."Putri menghela napas panjang, tapi nadanya masih terdengar tinggi. "Ya ampun Sis, lo tau nggak orang gue udah nunggu lama di hotel! Lo kenapa sih, nggak dateng-

  • Sentuhan Panas Ayah Sahabatku   Bab 269

    "Siapa?" tanya Andini pelan, hampir seperti memastikan ulang.Siska menarik napas, lalu menjawab tanpa menatap Andini. "Alya. Model yang kemarin datang ke sini," ucap Siska. Andini benar-benar terdiam. Wajahnya kosong beberapa detik, lalu alisnya perlahan mengernyit."Alya? Kok bisa sih?" tanyanya, lagi. Ia benar-benar belum bisa sepenuhnya percaya dengan apa yang diucapkan Siska.Siska mengangguk kecil, ia sangat yakin apa yang udah dilihatnya semalam. Andini menarik napas panjang dan menghembuskannya perlahan. Lalu menatap ke arah lain sebentar. "Jujur, gue nggak nyangka sih, Sis."Siska tidak menanggapi. Tangannya kembali bergerak, tapi pelan. Seperti sekadar mengisi jeda.Andini melirik lagi. Kali ini lebih serius."Lo yakin?" tanyanya, memastikan. "Yakin," jawab Siska singkat. "Dia sendiri bahkan udah hampir ngaku. Dan situasinya juga emang udah jelas," lanjut Siska. Nada suaranya terdengar datar. Dan justru itu yang membuat Andini semakin khawatir.Tanpa banyak komentar, A

  • Sentuhan Panas Ayah Sahabatku   Bab 104

    "Di mana?" tanya Satria. "Oke." Pintu klinik terbuka otomatis ketika Satria melangkah masuk.Jas kerjanya masih rapi. Rambutnya sedikit basah oleh keringat tipis. Ia memindai ruangan dengan cepat. Matanya langsung menangkap sosok Andini yang duduk di bangku tunggu, diapit oleh Cinta dan Agung.Lan

    last updateLast Updated : 2026-03-27
  • Sentuhan Panas Ayah Sahabatku   Bab 102

    "Ah... " desah Andini. Menjelang sore, ia terbangun dengan dahi berkeringat.Rasa mual kali ini tidak datang pelan seperti pagi tadi. Ia muncul tiba-tiba, membuat Andini langsung duduk dan menutup mulut. Napasnya sedikit terengah. Tangannya refleks menekan perut.“Aduh…” desisnya lirih.Ia bangkit

    last updateLast Updated : 2026-03-27
  • Sentuhan Panas Ayah Sahabatku   Bab 103

    "Andini..," gumam Satria.Malam itu, Satria berdiri cukup lama di bawah pancuran.Air dingin mengalir di kepalanya, tapi pikirannya sama sekali tidak tenang. Bayangan Andini dengan wajah pucat, tangan menekan perut, dan pesan-pesan singkat yang ia baca berulang kali terus berputar di kepalanya.Be

    last updateLast Updated : 2026-03-27
  • Sentuhan Panas Ayah Sahabatku   Bab 94

    "Andini!" tegas Satria. Rania mengerutkan kening. "Andini? Kenapa dengan dia?" tanya Rania berpura-pura tidak tau. Sebelah alis Satria terangkat dan matanya menyipit. "Kenapa, kata Bunda?!""Iya, kenapa, Sat? Bunda kan nggak punya indra keenam atau kemampuan lainnya" tanya Rania lagi. "Jadi, kala

    last updateLast Updated : 2026-03-26
More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status