Share

Bab 2

Author: Saggyryes
last update publish date: 2025-11-03 13:21:56

"Astaga!"

Dia terkejut dengan apa yang sudah dipegang dan diremasnya tadi. Ternyata tangannya mendarat mulus di dada Andini.

Spontan Satria menarik tangannya lagi. "Maaf, An! Saya benar-benar tidak sengaja!"

"Nggak apa-apa Pak!" ucap Andini tersipu malu.

Wajahnya memerah. Ada desiran aneh yang menjalar dari tubuh Andini. Remasan lembut tangan Satria masih terasa di dadanya.

Andini pun bergegas menaruh gelas air hangat itu di meja, di samping Satria.

"Terima kasih An." ucap Satria sambil meraih ke arah yang benar.

Sementara Andini kembali ke pantri untuk mengelap air yang ia tumpahkan tadi. Satria kembali mengamati tangan yang tadi menyentuh dada Andini.

Pikirannya berkelana. 'Pertumbuhan anak jaman sekarang, pesat sekali rupanya.'

Tanpa sadar Satria terkekeh singkat.

Walau pelan, Andini menangkap suara itu. Ia menoleh dan bertanya dengan dahi mengernyit, "Kenapa Pak?"

"Nggak apa-apa, An."

Netra Andini tak lepas mengamati Satria.

'Andai dia benar-benar bisa menjadi suamiku seperti bayanganku tadi, aku pasti akan sangat bahagia!' batin Andini penuh harap.

Detik berikutnya, Andini menggelengkan kepalanya cepat.

'Tapi sepertinya itu nggak mungkin terjadi.' Andini seolah dibawa kembali ke kenyataan. 'Sejak dulu, Om Satria selalu menganggapku anak kecil. Dia nggak akan pernah tertarik padaku.'

Lagi-lagi Andini menggelengkan kepala, menampar diri sendiri dalam pikirannya. 'Sadarlah Andini! Satria hanya tidak sengaja meremas ... dada!'

Melihat Andini masih di ruangannya, Satria bingung. 'Apa harus kuberitahu kalau tugasnya sudah selesai?'

Dengan pikiran itu, Satria pun berkata, "Kamu sudah bisa kembali ke mejamu, An! Terima kasih, untuk pijatannya."

Karena canggung tetapi belum ingin pergi dari ruangan, Andini berjalan menghampiri Satria. Ia mencari alasan untuk berada di sana sedikit lebih lama lagi.

Jadi, ia bermaksud membersihkan sampah plastik bekas obat yang masih berserakan di atas meja. Ia juga mengambil gelas bekas air hangat tadi dan mengembalikannya ke meja pantri.

"Erm... sa-saya beresin ini dulu, Pak!" Andini beralasan.

Dahi Satria berkerut heran, tapi ia tidak menolak gestur baik dari Andini. "Boleh. Terima kasih!"

Padahal Satria sendiri juga bisa melakukannya. Atau ada office boy yang nanti membereskan ruangannya.

Diam-diam Andini mengepalkan tangan sambil berteriak dalam hati, 'Yes!'

Mulailah Andini merapikan meja Satria. Sepelan mungkin. Ia masih ingin menatap wajah pria yang semakin tua semakin membuat hatinya bergelora.

Karena sibuk mencuri pandang ke arah Satria, Andini tidak lihat ada tempat sampah di depannya.

Maksud hati ingin berjalan di samping Satria duduk dan mengambil gelas yang ada di sana, kaki Andini malah terserimpet tempat sampah itu.

"Oh! Astaga!"

Pekikan Andini membuat Satria memutar kursinya dan malah menjadi tempat mendarat yang empuk bagi sang sekretaris magang.

Andini kini hampir berpelukan dengan Satria.

"Astaga, An! Kamu nggak apa-apa?" tanya Satria.

Tangan Satria reflek menahan pinggul Andini, agar gadis itu tidak sampai bersentuhan dengannya.

Karena terjadi begitu tiba-tiba, Satria jadi tidak tahu harus melakukan apa. Ia takut kalau dilepas, Andini akan jatuh. "An, kamu bisa pegangan meja, nggak?"

Andini menatap meja di depannya dan bermaksud menuruti ucapan Satria. Namun, pikirannya menimbang ulang. 'Aku pura-pura jatuh aja ah!' Andini tersenyum licik. Senyumnya benar-benar tak terlihat oleh Satria.

Andini mengulurkan tangannya seolah bergerak untuk berpegangan pada meja kerja, kemudian berpura-pura kehilangan keseimbangannya lagi.

Rencananya sukses! Kini Andini sudah berada tepat di pangkuan Satria.

"Aduduh! Kaki aku kayaknya keseleo!" gumam Andini, pura-pura kesakitan. "Aduh, Om-eh Pak-"

"Astaga! Kamu bisa jalan nggak?!" tanya Satria panik.

Andini menggeleng, kemudian merengek, "Kayaknya musti dikompres deh Pak...."

Satria mengangguk, setuju. "Biar saya papah kamu jalan ke sofa."

Agak kesulitan, Satria berpikir sejenak. Bagian mana yang boleh dan tidak boleh ia sentuh. Kedewasaan Andini membuatnya tak bisa lagi sembarang memegang.

Melihat Satria yang kebingungan, Andini pun memberi saran. "Om-eh! Pak, saya pegangan di pundak Pak Satria aja."

Satria membayangkan ucapan Andini dan mengangguk lagi. "Benar juga. Sebentar saya berdiri."

Dengan perlahan Satria mendorong tubuh Andini untuk ikut berdiri. Sementara Andini, mencari celah untuk melingkarkan tangannya di leher Satria. Setidaknya itulah yang dia maksud dengan berpegangan pada pundak Satria.

Kali ini Andini benar-benar hampir terjatuh. Ia terlalu fokus mencari celah sampai tak sadar kalau ia harus segera menapak di lantai.

Hasilnya, Satria harus menahan tubuh Andini, seperti pasangan yang sedang mengakhiri sebuah gerakan dansa.

"Oh my!"

Andini tak sengaja bergumam. Ia kembali terpesona dengan kegagahan Satria. Ditambah lagi, menatap wajah Satria dari bawah memiliki pesonanya sendiri.

"Saya rasa kamu harus digendong, An." Satria memutuskan. "Saya izin ya."

"Ah!"

Dengan sekali gerakan, Satria sudah menempatkan Andini di atas lengannya. Segera ia menurunkan Andini di sofa terdekat dan berjalan menuju lemari es pribadinya.

Namun, baru saja Satria berniat kembali ke sofa, pintu ruangannya terbuka begitu saja.

Seorang gadis muda berparas mirip seperti Satria berseru bahagia. "Aku datang!"

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Sentuhan Panas Ayah Sahabatku   Bab 267

    "Ah, iya!" ucap Siska, saat kedua matanya telah terbuka sempurna. Ia bangun saat cahaya pagi baru mulai masuk dari sela tirai. Beberapa detik ia hanya diam, menatap langit-langit kamar hotel dan memastikan tubuhnya sudah cukup stabil untuk bergerak.Ia menoleh. Johan masih tertidur pulas di sampingnya, napasnya teratur, wajahnya terlihat lebih tenang dibanding semalam.Tanpa suara, Siska bangkit dari tempat tidur. Ia merapikan rambut sekadarnya dan mengenakan kembali pakaiannya satu per satu. Karena ia dan Johan sempat melanjutkan pertempuran saat Siska memutuskan untuk tinggal di sana lebih lama. Gerakannya pelan, terlatih, seolah ini bukan pertama kalinya ia pergi lebih dulu. Ia melirik jam sebentar."Masih aman," gumamnya pelan.Siska mengambil tasnya, lalu berhenti sejenak di dekat nakas. Tangannya merogoh dompet, mengeluarkan beberapa lembar uang, dan meletakkannya rapi di atas meja. Ia tidak menulis atau meninggalkan pesan apa pun. Hanya uang saja, dan bagi Siska itu lebih da

  • Sentuhan Panas Ayah Sahabatku   Bab 266

    "Uhm.." renguh Siska. Di kamar hotel, lampu redup masih menyala. Seprai sudah berantakan. Siska terbaring, napasnya perlahan mulai kembali teratur. Sedangkan Johan duduk di tepi ranjang, menyandarkan siku di lututnya.Tidak ada satupun dari mereka yang berbicara."Kamu bsik-baik aja, Sis?" tanya Johan akhirnya, suaranya lebih rendah dari sebelumnya.Siska menganggukkan kepalanya perlahan. Ia menatap langit-langit sebentar sebelum akhirnya menjawab."Iya. Aku cuma sedikit… capek."Johan mengangguk pelan. Ia tidak bertanya lebih jauh. Dari raut wajah Siska, ia tahu ini bukan sekadar soal malam ini.Siska bangkit perlahan, meraih gaun malamnya yang tergeletak di samping tempat tidur."Aku balik ya, " ucapnya datar.Johan menoleh, matanya sedikit membulat. "Kamu, nggak perlu buru-buru juga, Sis."Siska menggelengkan kepalanya perlahan. "Aku datang ke sini bukan buat tinggal, Jo."Nada suaranya tegas, tanpa emosi berlebih. Johan hanya tersenyum tipis, seolah sudah menduga."Oke."Beberap

  • Sentuhan Panas Ayah Sahabatku   Bab 265

    "Akhirnya..," ucap Siska, saat ponselnya kembali bergetar.Ia melirik sekilas, lalu bergegas mengambilnya.Putri :Hotel Griya Dots, VIP Room 101. Tadi dia info, dia udah standby.Siska membaca pesan tanpa membalasnya. Ia bangkit dari duduknya tanpa banyak berpikir. Setelah itu, ia mengambil tas kecil. Memasukkan dompet dan ponsel. Tidak lupa ia mengambil kunci mobil.Ia keluar dari kamar dan menutup pintu seperti biasa. Pelan, tanpa suara.Perjalanan menuju hotel sangat lancar. Kini, Siska berdiri di depan kamar VIP nomor 110. Ia terdiam beberapa detik, namun ia yakin tadi pesan yang di kirim Putri 110. Iapun tidak ingin repot dan memastikannya kembali.Akhirnya, ia mengetuk pintu perlahan. Lalu, pintu sedikit terbuka.Siska langsung mengernyit. "Johan?"Pria di depannya sama terkejutnya. Hanya saja, Johan adalah orang yang dingin dan pendiam. Ia sangat pintar dan terbiasa mengatur ekspresinya tanpa sadar. Sehingga, hal itu tidak terlihat dari raut wajahnya yang terkesan tenang. "Iy

  • Sentuhan Panas Ayah Sahabatku   Bab 264

    "Hah.."Siska menghela napas, lalu bangkit dari duduknya. Ia berjalan menuju kamar mandi dan membersihkan diri. Tanpa berpikir panjang, keran air dibuka. Suara air mengalir memenuhi ruangan, memecah keheningan yang sejak tadi seolah menekan."Mungkin perasaanku akan lebih baik setelah mandi nanti," ucap Siska pelan. Ia berdiri beberapa detik. Lalu, tangannya bergerak membuka laci kecil di samping wastafel. Ia mengambil botol aromaterapi yang biasa ia pakai dengan aroma lavender. Tutupnya dibuka, lalu beberapa tetes ia tuangkan ke dalam air yang mulai memenuhi bathtub.Aroma lembut itu perlahan menyebar.Ia menghirupnya dalam-dalam. Bahunya yang sejak tadi tegang, kini sedikit turun.Air terus mengalir. Siska akhirnya mulai membuka pakaiannya satu per satu secara perlahan. Seolah, setiap gerakan butuh waktu lebih lama dari biasanya. Setelah air di dalam bathtub cukup penuh, ia mematikan keran."Aku rasa cukup," ucapnya Beberapa detik ia hanya berdiri di pinggir, menatap air yang sed

  • Sentuhan Panas Ayah Sahabatku   Bab 263

    "Apa?" tanya Bastian. Ia jelas kaget dengan nada dan pilihan kata Siska. Itu bukan sekadar marah. Tapi itu adalah campuran dari rasa kecewa, terluka, dan kehilangan kepercayaan dalam waktu bersamaan."Beb, tenang dulu," jawabnya cepat, suaranya sedikit tertahan. "Nggak kayak gitu. Aku sama Alya nggak ada apa-apa sebelumnya. Kita baru kenal hari ini dan itupun karena project Keluarga An. Kejadian barusan itu cuma..."Siska tertawa kecil. Bukan karena lucu, tapi justru sebaliknya. Tawa yang tipis dan hambar."Barusan?" ulangnya pelan. "Dan kamu pikir itu bikin apa yang udah kamu lakuin sama Alya jadi lebih baik?"Bastian terdiam sesaat. Ia tahu, penjelasan seperti itu tidak akan terdengar meringankan di telinga siapa pun."Aku emang salah dan aku akui itu. Tapi bukan berarti aku main di belakang kamu, Beb. Aku nggak pernah berfikir jauh sampe seperti itu. Kamu yang paling tau gimana besarnya rasa cinta dan sayang aku ke kamu.""Cukup, Bas," ucap Siska. Ia kembali mengangkat tangan ka

  • Sentuhan Panas Ayah Sahabatku   Bab 262

    "Kamu benar-benar menarik," gumam Alya. Ia tidak benar-benar berhenti. Jarak yang sudah semakin tipis itu, perlahan mulai menghilang. Napas mereka saling bersentuhan lebih dulu. Hangat dan teratur. Tapi anehnya terasa semakin berat.Bastian masih diam sesaat. Tangannya tetap berada di bahu Alya. Seolah, ia ingin menahan atau mungkin justru memastikan jarak itu tidak berubah sama sekali. Dan saat Alya sedikit memiringkan wajahnya, bibir mereka akhirnya saling bersentuhan. Singkat, sangat singkat.Namun cukup untuk membuat Bastian membeku sepersekian detik.Melihat reaksi Bastian, Alya tidak langsung mundur. Justru sebaliknya. Ia kembali mendekat. Semakin dekat. Dan kali ini lebih pelan dan yakin. Yakin kalau Bastian tidak menolaknya. "Uhm..," renguh Alya. Bastian menarik napas dalam, tapi entah kenapa ia tidak langsung menjauh. Sebagai laki-laki normal, reaksi itu datang begitu saja. Ada dorongan halus yang sulit diabaikan. Apalagi dengan Alya yang berdiri sedekat itu, tanpa ragu,

  • Sentuhan Panas Ayah Sahabatku   Bab 68

    "Satria!" panggil Zaskia saat batang hidungnya baru memasuki ruang tamu. 'Ah! Dia sudah ada di sini ternyata!' batin Satria. Wajah Satria yang tadinya sumringah karena baru selesai ganti oli, berubah masam seketika ketika mendengar suara Zaskia. Ia terus berjalan tanpa memperdulikan Zaskia yang

    last updateLast Updated : 2026-03-23
  • Sentuhan Panas Ayah Sahabatku   Bab 62

    "Nikah?" tanya Siska dengan kening berkerut. Ia tidak menyangka Ayahnya akan berfikir sejauh itu. Padahal baginya, saat ini pacaran adalah salah satu kegiatan yang sangat menyenangkan. Tidak ada terbesit sedikitpun niat baginya untuk melakukan hubungan lebih dari ini. Satria mengangguk pelan. Ia

    last updateLast Updated : 2026-03-23
  • Sentuhan Panas Ayah Sahabatku   Bab 60

    "Lepas!" bentak Andini. Tidak seperti biasanya. Kali ini, ia meronta dan berusaha melepaskan diri dari pelukkan Satria. Melihat sikap Andini, membuat kening Satria berkerut. Ia melepaskan pelukkan perlahan. Karena khawatir Andini akan jatuh jika ia melepas pelukkan begitu saja. "Ada apa, An?! Ke

    last updateLast Updated : 2026-03-23
  • Sentuhan Panas Ayah Sahabatku   Bab 54

    "Hah? A-aku?!"Andini membulatkan mata dan menunjuk dirinya sendiri untuk memastikan. Dila mengangguk pelan. "Iya. Nih kamu lihat sendiri!"Dia memberikan ponselnya kepada Andini agar ia bisa melihatnya secara langsung. "Itu, kamu kan?" tanya pelan. Berharap Andini tidak tersinggung dengan ucapan

    last updateLast Updated : 2026-03-22
More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status